MANAGED BY:
SENIN
16 SEPTEMBER
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | KRIMINAL

RADAR KALTARA

Rabu, 21 Agustus 2019 10:31
Krisis Air Makin Dekat, Diprediksi Sisa 4 Hari

Estimasi PDAM Terhadap Embung Binalatung

SUMBER AIR BAKU: Embung Binalatung atau Kampung Satu Skip mulai mengalami kekeringan. Foto diabadikan Selasa (20/8). IFRANSYAH/RADAR TARAKAN

PROKAL.CO, TARAKAN – Air baku pada Embung Binalatung atau Kampung Satu Skip menipis. Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Alam dibuat pusing agar pelayanan air bersih tetap berjalan.

Distribusi pun dilakukan bergilir. Pada fasilitas tersebut, PDAM telah merampungkan perbaikan pompa baru. Walau demikian, ia mengakui adanya kekurangan air yang disuplai ke pelanggan.

"Saat ini air kembali berjalan normal di wilayah yang tersuplai air dari Embung Kampung Satu. Tapi kami memohon maaf karena air tidak dapat mengalir dengan intesitas normal karena menipisnya sumber air baku pada Embung Binalatung,"  ujar Plt Direktur Utama (Dirut) PDAM Tirta Alam Sudarto saat dikonfirmasi, (20/8).

Pihaknya memprediksi, jika tidak turun hujan maka aliran air hanya mampu bertahan selama 4 hari. PDAM berharap masyarakat memaklumi.

"Kondisi terakhir pinggiran embung sudah mengering dan saat ini kami hanya mengandalkan sedikit air yang berada pada pertengahan embung. Tentu kami berharap adanya hujan, karena kami memprediksi hanya bisa bertahan 4 hari kalau hujan tidak turun," tukasnya.

Aliran air yang keruh yang terdistribusi ke pelanggan, kata dia, lumpur yang tersedot bersama air. Hal itu dikarenakan saat ini permukaan air sudah dekat dengan dasar embung.

"Kalau ada keluhan air keruh, ini karena air pada embung mulai menipis, jadi saat pompa menangkap air, otomatis akan membuat lumpur naik dan masuk ke dalam pompa. Itu sudah disaring dan diproses. Tapi karena warnanya sangat kuat, dan berisiko besar menggunakan bahan kimia berlebihan sehingga air yang disuplai tidak mengalami perubahan warna signifikan," jelasnya.

Odang (26), warga RT 13 Kelurahan Pamusian, Tarakan Tengah mengaku distribusi air belum normal. Ia menegaskan hingga saat ini aliran air masih putus-putus. Sehingga dengan kondisi tersebut, sulit menjalankan aktivitas sehari-hari seperti mencuci.

"Tidak benar kalau nyala terus, ini sekarang mati. Kalau tadi pagi sudah nyala. Terus mengalirnya juga kecil. Jadi, bak tidak sempat penuh airnya mati lagi," tukasnya.

Sementara itu, Ridwansyah (24), warga Kelurahan Gunung Lingkas menerangkan, meski air sudah mengalir, namun air keruh membuatnya merasa tidak nyaman untuk menggunakan air tersebut. Sehingga, untuk menggunakannya secara normal, ia harus mengendapkan air selama beberapa jam lebih dulu.

"Mengalir sejak kemarin (Senin). Tapi airnya ini sangat keruh, jadi saya tidak nyaman memakainya. Mau tidak mau, saya harus mengendapkan di ember supaya airnya bisa dipakai mandi," imbuhnya.

PDAM juga memanfaatkan aliran sungai di sekitar embung untuk diproses airnya.

Kondisi menipisnya air baku di embung, PDAM juga melakukan pengurangan aliran air yang disuplai ke masyarakat sebesar 50 persen. Ia menerangkan, wilayah yang mengalami penghentian aliran air secara bergilir melingkupi wilayah yang menerima suplai air dari Embung Binalatung. Di antaranya, Kelurahan Kampung Satu Skip, Gunung Lingkas, Pamusian, Sebengkok, Kampung Empat dan Kampung Enam.

"Saat ini kami sedang berupaya agar tetap memaksimalkan tangkapan air. Wilayah yang terkena dampak penghentian bergilir ini mencakup wilayah yamg menerima aliran air dari waduk Binalatung seperti wilayah Tarakan Tengah dan sebagian Tarakan Timur," tuturnya.

Ia berharap dengan kurang maksimalnya pelayanan tersebut, masyarakat dapat memaklumi mengingat pihaknya hanya mengharapkan bertambahnya pasokan air dari intensitas hujan.

Rudi Hartono, warga lain di Tarakan Tengah mengeluhkan aliran air yang semakin membingungkan pelanggan.

"Ini air sekarang mati. Memang malam jalan tapi jalannya kecil. Selain itu airnya keruh juga. Sudah seminggu tidak mencuci, mana bisa air sedikit begitu dipakai mencuci. Mana warnanya keruh juga," ujarnya, Senin (19/8).

Lanjutnya, aliran air telah terjadi sejak Senin dini hari. Meski demikian, hanya beberapa jam saja. Sehingga, ia tidak dapat menampung air dengan jumlah yang banyak.

"Sebelumnya sampai 4 hari tidak jalan, baru menyala tadi malam. Itu saya bela-belain begadang untuk jaga air, itu pun cuma dapat 2 ember. Soalnya kecil sekali mengalirnya," terangnya.

Senada, Tamam (30) warga RT 13 Kelurahan Pamusian mengaku juga mengeluhkan aliran air. Meski demikian, ia tetap bersyukur masih bisa memanfaatkan air tersebut untuk mandi dan buang air.

Mengingat sebelumnya, ia mengaku harus menumpang ke rumah kerabat untuk mandi.

"Iya nyala tapi airnya kecil. Tidak apa-apalah, yang penting bisa untuk mandi dan buang air. Karena kemarin susah betul, mau buang air saja susah apalagi mandi," terangnya.

Meski demikian, ia mengaku hingga saat ini tidak dapat melakukan aktivitas mencuci karena air terbatas. Sehingga untuk saat ini ia hanya menggunakan jasa pencucian untuk membersihkan pakaian sehari-hari.

"Mau bagaimana lagi sudah seminggu laundry baju. Daripada baju kerja tidak dicuci. Saya berharap semoga PDAM bisa memperbaiki pelayanannya lah. Karena masyarakat kan membayar normal jadi pelayanan juga mesti normal. Kalau alasannya kemarau saya pikir masyarakat tidak mau tahu soal itu. Mereka juga kan tidak mau tahu, kalau kita belum gajian. Kalau waktunya bayar yang mereka tahu masyarakat harus bayar," tukasnya. (*/zac/lim)

 


BACA JUGA

Senin, 16 September 2019 09:47
Pulau Tarakan merupakan salah satu pulau yang dikenal sebagai penghasil minyak terbaik di Kalimantan. Selain memiliki minyak yang melimpah, kualitas minyak Pulau Tarakan juga pernah disebut-sebut merupakan salah satu minyak kualitas terbaik di Nusant

BUMD Bentukan Pemkot Harus Serius

POTENSI itulah membuat Pulau Tarakan yang saat ini sudah menyandang…

Senin, 16 September 2019 09:33

6 Pasang Peserta dari Utara ke Babak Final

PARA PEMENANG DI KECAMATAN TARAKAN UTARA Juara I         …

Senin, 16 September 2019 09:16
Sejumlah benda bersejarah dan situs bangunan yang ada di Tarakan, sebagai bukti jejak sejarah perang dunia II di Tarakan. Jejak sejarah inipun diabadikan di dua museum yang ada di daerah Kelurahan Kampung Empat. Yakni Museum Perang Dunia II dan Muse

NV Tarakan Mij, Perusahaan Pertama Eksplorasi Minyak

PULAU Tarakan sangat terkenal dengan perminyakannya. Lantas dari catatan sejarah…

Minggu, 15 September 2019 01:06

Maklumat Kapolda, Bakar Lahan Terancam Pasal Berlapis

KEPALA Kepolisian Daerah (Kapolda) Kalimantan Utara (Kaltara) telah mengeluarkan maklumat…

Minggu, 15 September 2019 01:00

APA MAKSUD INI...?? Beredar Spanduk Mantan Bupati Enrekang, Mau Maju Pilgub Kaltara?

 TOKOH lain yang juga menjadi pembicaraan di tengah masyarakat adalah…

Sabtu, 14 September 2019 09:58

Kaltara Juga Diselimuti Kabut Asap, Titik Api Terbanyak di Bulungan

DAMPAK kebakaran lahan yang terjadi di beberapa wilayah hingga ke…

Sabtu, 14 September 2019 09:29

Berawal dari Patungan, hingga Sukses Mencapai Omzet Rp 30 Juta

Roda kehidupan benar adanya. Terkadang status manusia di titik terendah,…

Sabtu, 14 September 2019 09:05

Bagan Roboh, Yunus Ditemukan Selamat, Satu Orang Hilang

TARAKAN - Salah satu warga Pantai Amal yaitu Irhandayani (33)…

Sabtu, 14 September 2019 08:23

Fokus Peningkatan Kebutuhan Dasar Masyarakat

Partai Besutan Megawati Soekarno Putri Presiden ke-5 Repulik Indonesia mencatatkan…

Jumat, 13 September 2019 14:29

Pesan Wakil Ketua BPK, Fasilitas Baru Dipelihara

TARAKAN - Badan Pemeriksaan Keuangan (BPK) Perwakilan Kalimantan Utara (Kaltara) …
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*