MANAGED BY:
MINGGU
18 AGUSTUS
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Senin, 05 Agustus 2019 11:10
Rumah Subsidi Pada Rusak, Rerata Lantai Amblas, Dinding Retak
AMBLAS: Sejumlah rumah subsidi mengalami kerusakan. Seperti salah satu rumah di Persemaian, Kelurahan Karang Harapan, Tarakan Barat yang tegel dan didingnya amblas. JOHANY/RADAR TARAKAN

PROKAL.CO, Mendengar perumahan subsidi, masyarakat pun tertarik. Mendambakan rumah pribadi. Namun sayangnya, kualitas bangunan justru membuat penghuni merasa dirugikan.

 

-----

 

SALAH seorang penghuni perumahan subsidi, Marna (34) mengatakan sekitar satu tahun lebih menghuni rumahnya yang terletak di Kelurahan Karang Harapan, Tarakan Barat. Tetapi kerusakan bangunan rumahnya sudah mencapai 50 persen.

Mulai dari ruang keluarga yang amblas, menjalar ke lantai kamar, dinding rumah retak dan gipsum berjatuhan. Bahkan sebelum pindah ke perumahan, kerusakan di ruang keluarga sudah ada.

“Sebelum pindah, lantainya sudah mulai turun tapi tidak terlalu parah. Setelah ditinggali, keramiknya makin turun,” bebernya kepada Radar Tarakan, pekan lalu.

Tak hanya rumahnya saja. Tetapi perumahan dengan tipe 36 di daerah setempat rerata mengalami kerusakan parah. Lantai amblas, keramik pecah, dinding retak dan miring.

“Di daerahku rata-rata rusak semua. Pasti ada yang pecah dindingnya. Kalau keramiknya ada yang tidak amblas, karena dari awal yang punya rumah sudah tambah biaya sendiri untuk dicor. Jadi yang tidak dicor dan langsung pasang keramik, itu amblas. Rata-rata yang rusak itu lantai dan dindingnya,” bebernya.

Rupanya ia sendiri tidak mengetahui seputar pembangunan, dan menyerahkan kepada pengembang perumahan. Dari yang ia ketahui, justru standar perumahan subsidi tidak ada sistem pengecoran lantai.

“Dan ternyata standar rumah subsidi tidak ada sistem cor di bawahnya. Jadi selesai timbunan, langsung pasang keramik jadi amblas karena tanahnya lembek. Waktu itu kami serahkan saja sama pengembang, karena waktu itu sudah ada bangunan yang jadi. Kami lihat aman saja,” katanya.

Ia mengatakan tanah di daerah perumahan yang ia tinggali ini termasuk tanah gambut. Saat kendaraan berat lewat, tanah bergetar dan goyang seperti gempa.

“Sebelumnya ini kan kebun, dan tanah timbunan belum padat, tapi langsung dipasangi keramik. Kalau ada kendaraan lewat saja, itu goyang seperti gempa,” jelasnya.

Lantas seperti apa bentuk upaya perbaikan? Ia mengatakan sekitar dua minggu lalu pengembang perumahan sudah mendata ulang rumah-rumah yang rusak. Bahkan ada beberapa rumah yang dibongkar total karena miring.

“Sudah didata ulang siapa saja yang rusak. Sudah ada beberapa rumah yang diperbaiki. Ada juga yang dibongkar total karena rumahnya miring. Dari perumahan kasih pilihan, mau dibongkar total atau pindah, jadi mereka pilih dibongkar total dan dibangun ulang. Kalau saya masih menunggu,” katanya.

Nah, sebenarnya apa yang harus diperhatikan sebelum membangun rumah?

Seorang arsitektur, Eros mengatakan, hal utama yang wajib diperhatikan sebelum membangun rumah adalah kontur tanahnya.

Konon kontur tanah yang lembek lebih membutuhkan pengeluaran yang banyak untuk membeli materiel. Paling tidak membutuhkan banyak kayu merah sebagai pancangan. Kayu merah ini pun termasuk jenis pancang yang paling standar.

“Kalau semakin rawa, semakin banyak pengeluaran. Supaya tidak amblas, paling tidak dikasih pancang. Untuk perumahan subsidi, standarnya kayu merah cukup,” jelasnya.

Lebih lanjut dikatakannya, terdapat tiga jenis pancang. Yaitu pancang kayu merah, pancang beton dan pancang bor. Amblasnya lantai atau bangunan biasanya dipengaruhi kekuatan tanah.

Sebenarnya tanah timbunan dibiarkan selama satu bulan agar padat maksimal. Berbeda pula dengan tanah timbunan yang disiram, dua minggu kemudian tanah mengeras.

“Tidak harus kena hujan. Paling tidak di atasnya ada aktivitas, seperti orang lewat atau diinjak hewan. Pengaruh juga kalau disiram. Dua minggu disiram, dan dibangun di atasnya tidak masalah asal tanahnya sudah keras,” lanjutnya.

“Tanah rawa itu sebenarnya tidak layak dibangun rumah tapi dipaksakan. Seharusnya diuji dulu, kalau dipaksakan mau tidak mau kita harus menyesuaikan dengan budget,” tambahnya.

Ia mengatakan sebenarnya pembangunan rumah subisidi sudah memenuhi standar. Namun kontur tanah yang berbeda-beda.

“Menurut saya sudah memenuhi standar, tapi kontur tanah Tarakan banyak yang berbeda-beda,” tutupnya.

 

DEVELOPER BAIK, BERTANGGUNG JAWAB

Pembangunan kawasan rumah bersubsidi memang kian banyak di Kota Tarakan. Pasalnya, penawaran sistem pembayaran kredit, membuat masyarakat jatuh cinta untuk memiliki rumah bersubsidi. Lantas apa saja yang perlu diperhatikan masyarakat ketika hendak membeli rumah bersubsidi?

Direktur Utama PT Martika Abadi Sejahtera Benget Sinaga mengatakan, bahwa pihaknya telah membuka bisnis rumah bersubdisi di tiga daerah Kaltara, seperti Tarakan, Nunukan dan Tanjung Selor. Khusus di Tarakan, pihaknya membangun rumah bersubsidi di kawasan Juata Kerikil.

Benget menjelaskan bahwa ketika membangun rumah bersubsidi, pihaknya menggunakan batako, besi ukuran 10, besi ukuran 8, kusen, pintu, seng dan kayu. Dengan seluruh bahan tersebut, ternyata hanya membuat rumah subsidi bertahan sampai 30 tahun saja.

“Spesifikasinya bangunan itu bisa bertahan sampai 30 tahun. Tapi kalau yang di Persemaian itu bisa bertahan sampai 20 tahun,” bebernya.

Disinggung terkait adanya masyarakat yang mengeluhkan tentang rumah bersubsidi karena dinilai cepat rusak, Benget menyatakan bahwa dirinya selalu berupaya untuk memberikan yang terbaik bagi pemilik rumah bersubsidi yakni dengan memberikan jaminan kepada rumah bersubsidi yang rusak untuk dibenahi.

“Kalau rusak, itu tanggung jawab kami. Seperti yang kami bangun di kawasan Persemaian, ada yang miring karena struktur tanahnya. Kami bersedia untuk membongkar dan mengganti dengan yang baru. Harus ada tanggung jawab,” ucapnya.

Benget menjelaskan, bangunan rumah bersubsidi yang ia miliki rusak lantaran struktur tanah di Persemaian yang lembek. Meski telah diberikan penyangga, namun tetap kurang kuat sehingga tetap membuat bangunan menjadi sedikit rusak.

Pada dasarnya, jika melakukan pembangunan rumah dibutuhkan kondisi tanah yang bertekstur keras. Namun, jika kondisi tanah lembek, maka harus dimatangkan jauh hari sehingga memiliki tekstur keras.

“Makanya kalau saya temukan tanah bertekstur lembek, pasti saya timbun dulu dan dibiarkan setahun atau setengah tahun. Kalau sudah tidak mengalami penurunan, baru boleh dibangun,” jelasnya.

Untuk diketahui, pembuatan satu rumah bersubsidi mencapai harga Rp 142 juta dengan ukuran 6x4 dan tanah 10x12 meter persegi. Sementara itu, sistem pembayaran rumah bersubsidi dilakukan langsung oleh pihak bank.

“Nanti bank yang menentukan angka kreditnya dan diputuskan berapa tahun pembayarannya,” jelasnya.

 

DPUTR TIDAK MENGAWASI

Terkait adanya keluhan masyarakat terhadap rumah murah subsidi yang merupakan program Pemerintah Kota (Pemkot) Tarakan menimbulkan spekulasi. Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR) Tarakan Muhammad Haidir mengungkapkan, pihaknya tidak memiliki wewenang khusus dalam pengawasan maupun pemantauan program tersebut. Hanya, pihaknya tetap melakukan pengawasan perizinan pada lokasi pembangunan.
“Kalau pengawasan secara teknis sepertinya itu bagian Dinas Perumahan, kalau kami hanya pada perizinannya saja seperti lokasinya dan IMB. Tapi sejauh ini kami juga tetap melakukan pemantauan, tapi tidak untuk teknisnya,” ujarnya, kemarin (3/8).
Lanjutnya, meski telah melakukan pengawasan perizinan, pihaknya tidak mengetahui secara pasti terhadap sistem pembayaran yang dikeluhkan sejumlah warga. Menurutnya pengembangan yang paling memahani skema pembiayaannya.

“Memang setiap perizinan IMB, melalui kami ,tapi secara teknis atau sistem yang tidak sesuai yang mungkin dikeluhkan masyarakat, saya pikir itu sudah di luar ranah kami,” terangnya.

Dari segi perizinan, rumah DP 0 persen sudah sesuai dengan laporan yang masuk terkait lokasi dan tipe bangunan. “Pembangunan rumah khusus tipe 36 ini kerja sama antara Pemkot Tarakan dan developer (pengembang). Tapi untuk teknisnya yang jelas itu sudah kebijakan kedua pihak. Kami hanyalah pihak yang mengetahui perizinan, dan sampai saat ini kami juga belum mengetahui secara pasti sistem pembayarannya seperti apa dan apa yang menjadi keluhan,” jelasnya.

Meski demikian ia menuturkan, jika rumah subsidi merupakan rumah yang diperuntukkan bagi masyarakat  yang memenuhi 9 kriteria, di antaranya masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) dan masyarakat yang terdampak terhadap program pemerintah. Namun sejauh ini, ia mengaku belum dapat menyimpulkan apakah pembangunan rumah DP 0 persen ini cukup membantu masyarakat kecil atau tidak.

“Yang jelas, kami belum tahu apakah nanti itu rumah ini akan dijual atau mungkin disewakan. Soalnya harga rumah ini ditentukan oleh kebijakan Wali Kota Tarakan yang tercantum dalam perwali (peraturan wali kota),” pungkasnya. (*/one/shy/*/zac/lim)

 


BACA JUGA

Jumat, 16 Agustus 2019 11:09

Ingatkan Pengelola Tak Tebang Pilih

TARAKAN – Kamis (15/8) pagi, Ombusdman Republik Indonesia (ORI) Perwakilan…

Jumat, 16 Agustus 2019 11:08

Diduga Mesin Mati, Truk Kontainer Terbalik

TARAKAN - Sebuah truk kontainer berukuran 12 meter dengan muatan…

Jumat, 16 Agustus 2019 11:01

BPJS Pastikan Tetap Jamin Persalinan

TARAKAN – Meski tanpa surat rujukan, ibu melahirkan di rumah…

Jumat, 16 Agustus 2019 10:56

Tiga Hari Lagi Bumi Paguntaka Diramaikan Pawai Pembangunan

TARAKAN – Tinggal menghitung hari, masyarakat Kota Tarakan dimeriahkan dengan…

Jumat, 16 Agustus 2019 10:54

Meraup Pundi-Pundi Rupiah dari Balik Jeruji

“Kegiatan ini bisa menjadi wadah kami warga binaan yang ada…

Jumat, 16 Agustus 2019 10:24

Warga Lapas Ikut Pemecahan Rekor Muri

TARAKAN – Dalam rangka menyemarakkan HUT ke-74 Republik Indonesia (RI)…

Jumat, 16 Agustus 2019 10:17

Ratusan Ambal Diamankan Pihak Bea Cukai

TARAKAN – Kantor Bea Cukai Tarakan mengamankan ratusan bal ambal…

Jumat, 16 Agustus 2019 10:02

Jalan Rawan Kecelakaan, Warga Harapkan Pelebaran Jalan

TARAKAN - Sering terjadinya kecelakaan di Jalan Aki Balak, Kelurahan…

Kamis, 15 Agustus 2019 10:18

Kerugian Negara hingga Rp 500 Juta

TARAKAN - Perkara dugaan korupsi anggaran pengadaan lahan fasilitas Kelurahan…

Kamis, 15 Agustus 2019 10:12

WNA Filipina Terdampar di Perairan Tolitoli

TARAKAN – Sempat terombang-ambing di laut selama 5 hari, Antonius…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*