MANAGED BY:
KAMIS
24 OKTOBER
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | KRIMINAL

RADAR KALTARA

Kamis, 01 Agustus 2019 09:17
Siapkan Jurus Gaet Investor Kelas Kakap

Mengukur Besarnya Peluang Investasi di Kaltara

PELUANG BESAR EKONOMI: Iklim investasi di Kaltara sedang bergairah. Namun, pemerintah daerah dituntut lebih jeli dalam menggaet investor yang lebih besar. RADAR TARAKAN

PROKAL.CO, Meski Kalimantan Utara (Kaltara) terbilang provinsi baru, potensi peluang investasi terbilang cukup besar dan bisa berkembang, terutama di Kota Tarakan yang memiliki sumbangan pertumbuhan produk domestik regional bruto (PDRB) tertinggi di Kaltara. Lebih dari 50 persen. Namun, sejauh mana investor melirik hal itu?

----

KOTA Tarakan misalnya, banyak disasar oleh investor dalam maupun luar negeri. Investasi itu dari energi seperti air hingga pengolahan sampah yang menjadi permasalahan kota.

Tigor Nainggolan, mantan direktur utama Perusda Tarakan mengakui di 2011 lalu ia sempat menggaet beberapa investor ke Tarakan. Namun belakangan investor tersebut balik badan.

Salah satunya asal Korea, mengaku saat itu serius terkait pengolahan sampah untuk dijadikan energi alternatif listrik.

“Saya sudah ke Korea sekali, hampir dua kali, namun masalah kebijakan dan perizinan dan segala macamnya, harus disetujui. Setelah kami menghadap ke pemerintahan dinegosiasi, sudah hampir klir. Tetapi masalah angka dividen menghambat. Lahan yang akan dijadikan tempat industri sebagai modal Kota Tarakan,” beber Tigor.

Baik tenaga kerja yang berasal dari daerah akan dilatih di Korea untuk mendapatkan bekal teknis. “Setelah pembangunan proyek itu selesai maka orang daerah yang akan membangun industri tersebut di Tarakan. Selain kebersihan kota terjamin, listrik dapat, keuntungan lain juga kita dapat. Namun kendalanya adalah waktu apraisal lokasi tidak ditentukan berapa nilainya sehingga tidak dapat menghitung berapa formulasi keuntungan kita. Akhirnya lambat, malah pembangunan dialihkan investornya ke Jawa Barat,” lanjutnya.

Lain lagi investor yang menawarkan pengolahan air laut menjadi air tawar. “Ada banyak yang menawarkan mengolah air laut menjadi air tawar karena air laut tidak mudah habis, ada juga pengelolaan sumur tua, hingga ke gas flare atau gas buang. Hingga penyediaan tenaga listrik dari tenaga surya dari Tiongkok. Tidak lanjut. Tapi dulu kami berupaya menggali potensi itu. Mereka sempat ke sini,” kisahnya.

Menurut Tigor pemerintah perlu memudahkan investor sebagai salah satu bentuk pengembangan daerah. “Yang terpenting transparansi, yang mempermudah segala perizinan sehingga para investor ini tertarik untuk berinvestasi.

Investor membatalkan investasinya sudah bukan rahasia lagi. Khususnya yang bergerak di industri. Sebaliknya investasi yang paling banyak dilirik di antaranya sektor perdagangan, jasa dan perikanan.

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Tarakan Ardiansyah mengatakan, perekonomian Tarakan bergerak di sektor perdagangan dan jasa. Investor yang berinvestasi kebanyakan pengusaha lokal.

Pada 2018 lalu, ada ketertarikan investor pembuatan makanan ayam dan peternakan ayam. Namun karena pertimbangan beberapa hal, lantas batal.

2017, adapula perusahaan besar yang ingin membangun pembangkit tenaga listrik surya (PLTS). Lagi-lagi calon investor membatalkan niatnya. “Padahal izinnya sudah diproses, tapi karena harganya tidak sepakat dengan PLN, akhirnya dibatalkan. Sebenarnya banyak yang masuk (berinvestasi), tapi dibatalkan,” kata Ardiansyah, Jumat (26/7).

Lantas apa yang menyebabkan investor mundur? Menurut pengamatan Ardiansyah, selain persoalan harga yang tidak disepakati, adapula permasalahan lahan yang bersengketa. Beberapa tahun lalu, terdapat perusahaan dari luar kota yang ingin membangun pabrik kertas di daerah Sungai Bengawan, Kelurahan Juata Permai.

“Padahal perusahaan siap membayar lahan seluas 40 hektare. Tapi tidak jadi karena lahannya diklaim. Jadi masalah harga dan lahan yang tidak punya kepastian, akhirnya tidak jadi. Ini ada lagi pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa) itu sudah masuk,” katanya.

Diakuinya, investor dari perusahaan-perusahaan besar terbilang jarang. Dalam satu tahun, sedikitnya hanya satu atau dua perusahaan yang tertarik untuk berinvestasi. Itupun belum pasti.

“Tarakan kan hanya kota kecil, bergerak di bidang perdagangan dan jasa. Tidak seperti di kabupaten, yang ada perkebunan dan pertambangan. Tarakan bukan daerah sepenuhnya pertambangan, perkebunan. Industri juga kita tidak punya,” jelasnya.

Kota Tarakan cukup terkenal dengan hasil perikanannya. Pengusaha yang bergerak di sektor perikanan terbilang investor bertahan. Itupun sebatas penampungan atau cold storage.

“Mereka yang menampung, mereka juga yang mengekspor. Seperti PT Mustika Minanusa Aurora dan PT Bonanza Pratama Abadi, itu saja yang besar. Yang usaha kecil-kecil juga banyak,” katanya.

Selain di bidang perdagangan dan jasa, Tarakan termasuk kota penghasil sektor perikanan dan hasil laut, seperti rumput laut. Sebelumnya ada tersiar kabar keseriusan pemerintah dalam medongkrak hasil laut tersebut.

“Rumput laut juga harganya naik dan turun. Kalau pas harganya anjlok, orang-orang juga tidak mau kerja. Jadi kalau buat pabrik, dan orang tidak mau kerja saat harga anjlok, rugi juga kan,” bebernya.

Lantas apa upaya dari pemerintah untuk menarik minat investor? Sebenarnya Pemkot Tarakan terus melakukan upaya, seperti menawarkan revitalisasi Pasar Batu.

“Kemudian kami juga ada menawarkan di bidang industri, seperti di daerah Juata Laut. Semoga ke depan, banyak peluang yang bergerak di bidang perdagangan, jasa dan industri. Investor 2019 ini baru PLTSa yang masuk, perusahaan besar,” lugasnya.

 

PELUANG TERBUKA LEBAR

Kepala Kantor Wilayah (KPw) Bank Indonesia (BI) Kaltara Hendik Sudaryanto mengatakan biasanya penunjang utama dalam perekonomian di daerah-daerah adalah konsumsi. Berbeda di Kaltara, di mana penunjang utama perekonomiannya adalah investasi.

“Dalam PDRB hampir 31 persen merupakan investasi, artinya investasi saat ini masih berkembang dan jauh akan berkembang lagi ke depannya,” bebernya.

Perekonomian yang relatif bagus juga menjadi daya tarik bagi investor, di mana diketahui pada triwulan kedua pertumbuhan perekonomian Kaltara relatif bagus dengan tumbuh 7,13 persen, angka tersebut merupakan tertinggi se-Kalimantan.

“Namun dari share ekonomi, Kaltara masih relatif kecil yang terbesar ada pada Kaltim 51 persen dan Kalbar 17 persen. Tapi jangan salah, potensi kita masih sangat besar menyalip yang lainnya, bahkan bisa di atas 20 persen, karena kita masih memiliki potensi besar dalam pengembangan PDRB,” ungkapnya.

Selain itu, keinginan investor untuk berinvestasi juga melihat perkembangan inflasi di suatu daerah, di mana Tarakan yang menjadi acuan inflasi Kaltara tahun ini dinilai tidak terlalu tinggi.

“Kami memperkirakan akhir tahun ini 3,4 persen hingga 3,8 persen, bila optimis inflasi bisa ditekan hingga di bawah 3,5 persen. Berdasarkan data bulan Juni untuk year on year (yoy) masih 3,1 persen, sementara year on day (yod) masih 2,7 persen, tentu angka ini masih belum tinggi dibandingkan akhir tahun lalu yang menyentuh angka 5 persen,” ujarnya.

Inflasi ditekan melalui Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) yang bekerja sama dengan sektor pangan yang berupaya menekan inflasi. Di mana seperti diketahui ayam pada tahun sebelumnya harganya mendongkrak naik hingga menyentuh angka Rp 65 ribu hingga Rp 80 ribu  per kg.

Tahun ini bisa ditekan tidak melebihi harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan yakni Rp 45 ribu per kg. “Padahal untuk ayam di daerah lain masih tinggi, tapi di Tarakan bisa dikendalikan dengan baik. Saat ini transportasi udara masih menjadi penyumbang tertinggi inflasi,” bebernya.

Dirinya menjelaskan, selain PDRB dan inflasi di suatu daerah, pertimbangan lain investor menanamkan investasi adalah indeks pembangunan manusia (IPM). Di Kaltara IPM dari sisi ekonomi, kesehatan dan pendidikan saat ini sudah tinggi, pengangguran juga relatif sudah berkurang.

“Selain indikator makro itu, ada juga indikator sosial dan politik yang menjadi acuan investor untuk berinvestasi, dengan penyelenggaraan pemilu yang aman beberapa waktu lalu. Itu menjadi daya tarik investor,” ungkapnya.

Ada beberapa komoditas primer yang bisa dimanfaatkan investor untuk berinvestasi di Kaltara, yakni kelapa sawit, rumput laut, udang dan ikan bandeng.

“Khusus ikan bandeng sudah ada rencana kami kerja sama dengan Pemkot Tarakan dalam pengembangan menjadi umpan ikan tuna. Artinya ikan ini diolah lagi untuk menjadi umpan ikan tuna dan diekspor ke luar negeri,” ucapnya.

Peluang terbesar tidak ada pada komoditas primer atau bahan baku, tapi ada pada industri pengolahan bahan baku yang menjadikan bahan yang diolah memiliki nilai tambah untuk dijual.

“Satu loncatan besar yang dicanangkan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kaltara yakni Kawasan Industri dan Pelabuhan Internasional (KIPI) di Tanah Kuning, bila hal tersebut terwujud di mana kawasan tersebut nantinya menjadi kawasan industri pengolahan, industri energi dan industri lainnya, akan membawa pertumbuhan perekonomian Kaltara di atas dua digit,” ujarnya.

Tentu dari semua potensi yang ada perlu juga dukungan infrakstruktur dan sumber daya energi dan sumber daya manusia yang memadai. Bila hal tersebut sudah dipenuhi investor tidak akan ragu untuk berinvestasi.

“Selain itu pemerintah daerah juga harus memiliki peranan membantu para investor menanamkan investasinya, jangan malah membebaninya, investor juga perlu diberikan insentif untuk jangka waktu tertentu sehingga mereka dapat mengembangkan usahanya,” tuturnya.

Pemerintah daerah juga harus memastikan kepada para investor bahwa hambatan-hambatan berkaitan dengan kepastian hukumnya, jangan sampai ada regulasi yang saling berbenturan.

“Pemerintah harus mempermudah berkaitan dengan perizinan serta memastikan investasi proyek yang dilakukan clear dan clean. Jangan sampai timbul permasalahan sosial di kemudian hari yang menghambat atau merugikan investor yang sudah melakukan investasi,” ujarnya.

 

DORONG KEPASTIAN HUKUM

Pengamat ekonomi Margiyono mengungkapkan, belum maksimalnya percepatan pembangunan di Kota Tarakan, dipengaruhi adanya keterikatan investor pada ketersediaan produksi, seperti sumber daya alam, manusia, energi, kondisi sosial, keamanan. "Tarakan memang merupakan kota dengan pembangunan tercepat di Kaltara, namun adanya beberapa faktor sehingga percepatan pembangunan belum berjalan maksimal. Kalau kita lihat secara makro, investasi ini dipengaruhi oleh hal internal dan eksternal karena sekali pun diberikan sesuatu yang terbaik, tetapi kalau di luar sana memberikan yang lebih baik lagi, maka investornya enggak di sini. Investor itu sebelum ia mengambil keputusan ia mempertimbangkan dulu dari segi ekonomi, sosial dan lingkungan. Nah secara konseptual untuk mendeteksi semua itu harus membuat kajian analisa mengenai dampak lingkungan. Terus dari segi ekonomi investor juga melihat ketersediaan daya beli tenaga kerja dan seterusnya. Faktor sosial itu bisa dilihat dari sikap, perilaku dan sosial masyarakat," ujarnya, kemarin (31/7).

Menurutnya, jika suatu daerah memiliki masalah pada  sumber energi, maka hal tersebut menjadi pertimbangan serius investor. Mengingat besarnya risiko untuk memenuhi kebutuhan energi saat produksi.

"Kalau analisa ini menunjukkan keuntungan atau manfaat lebih besar daripada cost, maka wilayah itu layak untuk dimasuki investor. Sekarang dilihat apakah energi dan sumber daya yang tersedia sudah bisa memenuhi kebutuhan investor. Kalau nanti energinya tidak memenuhi tentu ada cost tambahan yang dikeluarkan. Misalnya dalam produksi listrik mati, otomatis perusahaan itu harus menyalakan genset agar produksi tetap berjalan. Akhirnya dia mengeluarkan biaya tambahan karena adanya pemadaman listrik," tuturnya.

Menurutnya lagi, investor juga memiliki tantangan berat dalam memasarkan produksi di sekitar wilayah Tarakan. Mengingat, Kaltara merupakan provinsi berkembang yang tidak pembangunannya belum merata.

Belum lagi kondisi harga tanah. Investor pasti membutuhkan lahan untuk produksinya. “Kalau saya produksi, produksi saya ini siapa yang beli. Penduduk Kaltara itu berapa, konsentrasi pasar di Kaltara itu hanya di Tarakan. Artinya kalau perusahaan memproduksi untuk masyarakat Kaltara, untuk menjangkau semua masyarakat Kaltara yang terisolir itu memerlukan biaya produksi yang tinggi," tukasnya.

Yasser Arafat, akademisi di bidang hukum mengatakan perlu menodorng kepastian hukum bagi dunia investasi. Mengingat, adanya beberapa kasus yang telah bertahun-tahun belum juga terselesaikan. Sehingga menurutnya, hal itu dapat menjadi penghambat masuknya investor.

"Pada dasarnya kita tidak hanya berbicara soal kepastian laba yang mereka peroleh, tapi juga kepastian hukum dan keamanan. Kalau di Tarakan ini saya lihat memang belum jelasnya kepastian hukum. Khususnya persoalan sengketa lahan," ucapnya.

Selain itu, tingginya pajak pada usaha hiburan, menurutnya membuat hal tersebut menjadi salah satu faktor terkendalanya investor masuk ke Kota Tarakan.

“Misalnya GTM, yang disengketakan oleh dua pihak. Padahal mal ini konsepnya sangat bagus. Sekaligus dilengkapi hotel dan akhirnya berhenti. Begitu pun soal pajak," ulasnya.

 

Wali Kota Tarakan dr. Khairul, M.Kes, mengatakan bahwa pihaknya menyiapkan regulasi, seperti menyiapkan kawasan minapolitan, pariwisata, industri yang hingga kini mencapai 200 di daerah timur Kota Tarakan. Selain itu, pihaknya juga berupaya memperbaiki regulasi.

“Regulasi menjadi sangat penting, bagaimana kecepatan orang berinvestasi, itu didukung dari regulasi, termasuk insentif daerah yang diberikan. Oleh sebab itu, peraturan daerah mengenai investasi sudah tergambar, itu belum detail tapi sudah kami arahkan supaya dilakukan perbaikan,” ungkapnya.

Penyiapan infrastruktur dan masalah perizinan juga dinilai penting bagi pihaknya untuk menarik investor. Sementara itu, kekurangan BBM, gas, air dan listrik dikatakan Khairul hal ini akan terus diupayakan pihaknya.

Pada energi air, Pemkot akan menseriusi desalinasi air laut menjadi air tawar. Pada kekurangan energi listrik, pemerintah terus melakukan koordinasi kepada PLN untuk membahas pengembangan kelistrikan di Kota Tarakan. Tahun ini, dikatakan Khairul PLN akan memasukkan 2 x 18 MW yang diharapkan akan ditambah lagi melalui PLTSa sebesar 5 MW.

“Ini sudah dilakukan upaya interkoneksi. Mudah-mudahan tahun 2020, sudah ada interkoneksi dari Kalimantan yang menggunakan batubara PLPU. Harapan kami kondisi ini akan mendukung investasi di Tarakan. Yang paling penting adalah sikap masyarakat untuk tetap welcome supaya dunia investasi tetap berjalan,” jelasnya.

Sementara itu, Wakil Wali Kota Tarakan Effendhi Djuprianto mengatakan, bahwa persoalan mendasar di Kota Tarakan terletak pada lahan. Sebab itu, Pemkot Tarakan mencoba untuk membuat perum maupun pelayanan masyarakat yang berbasis bisnis, sehingga dengan adanya perum dapat menjembatani investor masuk ke Tarakan.

“Kalau peluang investasi itu banyak di Tarakan, karena Tarakan diuntungkan oleh geografis. Tarakan adalah bagian dari Kaltara yang sejak zaman Belanda dijadikan sebagai kota transit dari kabupaten yang lain,” ujarnya.

“Sebaiknya Tarakan dikembangkan menjadi minapolitan, pokoknya yang berbasis perikanan itu ada di Tarakan. Sejelek-jeleknya Tarakan akan pasokan listrik, tapi Tarakan masih lebih baik dibanding daerah lain di Kaltara. Mudah-mudahan dengan PLTSa dapat membantu daya listrik,” sambungnya.

Menurut Effendhi, Tarakan lebih cocok jika bergerak pada basis perikanan. Sebab tidak adanya satu kabupaten pun di Kaltara yang memiliki surplus tempat pelelangan ikan, pendaratan ikan, penyimpanan ikan, industri perikanan dan sebagainya. Sehingga menurutnya Tarakan lebih cocok jika bergerak pada bidang perikanan.

“Kami mendorong agar nanti ada perum untuk membantu bisnis perikanan di Kota Tarakan yang sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Kalau tidak, perum itu ditingkatkan saja menjadi persero, dengan adanya persero, investor bisa masuk,” imbuhnya.

“Nanti diatur misalkan 51 persen itu saham pemerintah, 49 persen itu dari investor. Insyaallah ini akan mendorong pertumbuhan investasi Tarakan. Yang kemudian akan menyerap tenaga kerja dan meningkatkan pendapatan masyarakat, tapi kami masih sedang menunggu RPJMD, dengan anggaran RT itu kami berharap 30 persen digunakan untuk kegiatan ekonomi,” pungkasnya.

 

FOKUS KE PERIKANAN

Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Tarakan Salman Aradeng mengatakan bahwa jika melihat program dua masa pemerintahan, dari masa Wali Kota Tarakan Ir. Sofian Raga hingga dr. Khairul, M.Kes, saat ini, pihaknya optimistis untuk mendatangkan banyak investor.

“Kami optimistis. Makanya kami berencana untuk membuat BUMD supaya ada payung hukum sehingga fokus untuk berusaha. Kalau dilihat dari sisi investasi, tentu banyak aspek dilihat, salah satunya listrik. Mudah-mudahan bisa terwujud tahun depan, sehingga beban listrik semakin bertambah,” ucapnya.

Menurut kacamata Salman, peluang investasi di Kota Tarakan cukup menjanjikan. Hanya usaha untuk menarik investor ke Kota Tarakan menjadi tanggung jawab pemerintah dalam memberikan pelayanan kepada investor.

“Banyak hal yang bisa dikembangkan di Tarakan ini, misalnya dari segi perikanan. Tarakan bisa jadi pelabuhan perikanan, tidak harus dibawa lagi ke Surabaya. Ya langsung saja diimpor karena memang sektor laut, atau rumput laut juga. Tinggal pemerintah yang mencari peluang investornya,” lugasnya. (puu/jnr/shy/*/zac/*/one/lim)


BACA JUGA

Rabu, 23 Oktober 2019 09:41

SPTI Keluhkan Kuota Taksi Online

 TARAKAN – Serikat Pekerja Transportasi Indonesia (SPTI) akhirnya membawa keluhan…

Rabu, 23 Oktober 2019 09:26

SDN 030 Sempat Kesulitan Rekrut Guru Agama

 TARAKAN - Sekolah Dasar Negeri (SDN) 030 di Kelurahan Sebengkok,…

Rabu, 23 Oktober 2019 09:14
Antusias tinggi pada kegiatan kas keliling yang dilaksanakan Bank Indonesia (BI) di wilayah Nunukan dan Sebatik yang masuk tertinggal, terdepan dan terluar wilayah (3T) pada Kamis (17/10) dan Jumat (18/10). Daerah yang dikunjungi tim kas keliling BI

Masyarakat Perbatasan Masih Kekurangan Uang Kecil

 DIKAWAL petugas dari KRI Ajak, tim kas keliling BI yang…

Selasa, 22 Oktober 2019 08:59

Prabowo Akan Kelola Rp 127 Triliun

  LETJEN (Purn) Prabowo Subiantomendekati kenyataan akan bergabung dengan pemerintahan Presiden…

Selasa, 22 Oktober 2019 08:54

Naik Status, Kantor SAR Tarakan Membawahi Se-Kaltara

 TARAKAN – Kantor Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) Tarakan akan naik…

Selasa, 22 Oktober 2019 08:24

Portabilitas Tak Berlaku di Luar Negeri

 WARGA negara Indonesia (WNI), yang sudah menjadi peserta Jaminan Kesehatan…

Senin, 21 Oktober 2019 09:14

Akan Revisi Puluhan Undang-Undang

 JAKARTA – Joko Widodo berkomitmen akan bekerja dengan cepat dan…

Senin, 21 Oktober 2019 08:46

Sampah Plastik Mengganggu Rantai Makanan

 KEBERADAAN sampah plastik di perairan tidak hanya mengancam keberlangsungan biota…

Senin, 21 Oktober 2019 08:28

Ramai Mau Jadi Biduan Liga Dangdut

  TARAKAN - Antusias masyarakat terlihat dalam menyambut ajang pencarian bakat…

Sabtu, 19 Oktober 2019 11:52

Hilang 3 Hari, Penjaga Tambak Ini Akhirnya Ditemukan

TARAKAN - Asmunir (21), penjaga tambak yang dilaporkan hilang sejak…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*