MANAGED BY:
SABTU
17 AGUSTUS
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Senin, 22 Juli 2019 10:33
Perlu Dukungan Infrastruktur Memadai

Kemajuan Transaksi Uang Digital

SIGNIFIKAN: Transaksi non-tunai di Kaltara hampir seluruhnya di Kota Tarakan. JOHANNY/RADAR TARAKAN

PROKAL.CO, Perkembangan pesat tren belanja melalui sistem online secara tidak langsung membuat masyarakat beralih ke digital. Termasuk dalam pelayanan pembayaran. Hadirnya sistem non-tunai dimaksudkan untuk mempermudah masyarakat dalam bertransaki. Meski demikian, sistem ini masih asing pada beberapa wilayah.

 

RADAR Tarakan pun mewawancarai sejumlah warga mengenai kebiasaan mereka bertransaksi. Apakah lebih akrab tunai atau non-tunai?

Salah seorang warga Danau Jempang, Kelurahan Pamusian, Anto (28) mengaku termasuk pengguna uang digital berbasis teknologi. Dalam hal ini ia merasa terbantu. Apalagi saat tidak membawa uang tunai.

“Merasa terbantu. Kadang saya pakai belanja di toko yang sudah memfasilitasi ini. Lupa bawa uang tunai atau tidak cukup uangnya bisa pakai aplikasi uang digital. Kalau naik ojek online juga bayarnya lewat digital, jadi tidak repot lagi bawa uang tunai,” katanya kepada Radar Tarakan.

Ia mengatakan penggunaan uang berbasis teknologi ini terbilang cukup sederhana dan memudahkan. Namun tentu saja ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dan diantisipasi. Misalnya saja adanya gangguan sistem atau eror. Sehingga dapat menghambat pelanggan saat melakukan pembayaran.

“Ini kan menggunakan sistem, misalnya ke depan ada gangguan sistem, maka pemerintah harus mengantisipasi hal ini. Bagaimana solusi jika menggunakan uang digital, kita juga tidak bisa bergantung sepenuhnya pada uang digital ini,” bebernya.

Lain halnya dengan Ani (34), warga Kelurahan Juata Kerikil, Tarakan Utara. Ia mengatakan pembayaran melalui digital ini hanya dapat dilakukan oleh orang tertentu. Yang lebih utama memiliki handphone berbasis Android. “Misalnya yang orang-orang tua, tidak mengerti atau tidak punya handphone Android, pasti merasa kebingungan. Karena tidak semua orang bisa melakukan transaksi lewat aplikasi,” kata ibu dari tiga orang anak ini.

Adanya transaksi atau pembayaran melalui sistem digital, menunjukkan kemajuan dan perkembangan teknologi. “Tapi ini perkembangan zaman. Ada yang menerima, ada juga yang menganggap hal biasa. Artinya kalau yang menerima, pasti dia berusaha mempelajari. Kita juga secara tidak langsung sudah pakai uang digital, misalnya bayar ojek online langsung dari aplikasinya. Pasti lebih memudahkan,” tutupnya.
Di salah satu pusat ritel, Sinar Terang Bersaudara (STB), transaksi masih didominasi tunai. Non-tunai masih kecil.

Manajer STB Hernawan Riandi mengungkapkan, saat ini belum banyak pelanggan yang menggunakan pembayaran non-tunai saat berbelanja. Bagi mereka yang menggunakan non-tunai, kerap kali terganggu kualitas jaringan.

“Mungkin perbandingan 80-20. Misalnya 80 orang bayar cash, 20-nya non-tunai.  Kalau kami melihat tidak stabilnya sistem jaringan membuat orang-orang malas menggunakan non-tunai. Karena kalau sudah gangguan, malah lebih repot lagi. Apalagi di sini cukup sering terjadi,” ujarnya, kemarin (21/7).

Masyarakat pun memilih cara aman dengan pembayaran cash. “Ada juga beberapa pembeli yang bilang, kalau trauma pakai non-tunai karena beberapa kali mengalami gangguan. Jadi mereka malas bolak-balik bank mengurus lagi,” tuturnya.

Menurutnya, ajakan untuk bertransaksi non-tunai sudah lama dijalankan sejumlah bank. “Non-tunai itu juga agar penggunaan uang receh tidak terlalu besar. Tapi kembali lagi pada pembelinya. Kalau pembeli lebih senang uang tunai, kami tidak bisa memakskan,” tukasnya.

Dikatakan, sebagian besar pengguna non-tunai merupakan masyarakat kelas menengah atas. Meski demikian, ia menjelaskan jika pihaknya lebih mudah melayani pembayaran non-tunai.

“Yang menengah ke bawah, itu jarang. Yah, karena itu tadi sudah nyaman karena terbiasa dengan tunai. Dari pertama kali buka pelayanan non-tunai 5 tahun lalu, sepertinya tidak ada peningkatan pengguna secara signifikan yah. Sebenarnya lebih mudah melayani non-tunai, tapi karena jaringan di Tarakan sering gangguan, jadi repot juga mengurusnya. Kalau pakai uang kan, tinggal nyerahin, selesai,” tukasnya.

Syahbudin (31), seorang driver ojek online (ojol) mengaku lebih senang menerima pembayaran non-tunai daripada cash. Menurutnya dengan pembayaran non-tunai membuat bonus yang didapatkan lebih besar. Meski demikian, ia mengakui tidak semua pelanggan mengerti memahami transaksi tersebut.

“Kalau non-tunai, kami lebih cepat dapat bonus daripada langsung. Tapi memang orang terbiasa bayar pakai uang langsung, daripada yang digital,” pungkasnya.

 

94 PERSEN NON-TUNAI ADA DI TARAKAN

Perkembangan penggunaan uang digital atau transaksi non-tunai di Kota Tarakan terus melonjak secara sigfinikan. Sejak Gerakan Nasinonal Non Tunai (GNNT) dicanangkan oleh Bank Indonesia. Termasuk di Kota Tarakan.

Kepala KPw Bank Indonesia Kaltara Hendik Sudaryanto mengungkapkan, dari data yang didapatkan dari Bank Indonesia, transaksi uang elektronik pada periode Januari hingga Mei 2019 sebesar Rp 44,2 triliun. Kemudian volume transaksi mencapai 1,87 miliar.

Angka tersebut dinilai melonjak jauh jika dibandingkan dengan periode yang sama pada 2018 lalu. Diketahui pada periode yang sama pada 2018 lalu, hanya terdapat Rp 17,2 triliun dengan volume transaksi berjumlah 1,04 miliar.

Kemudian terhadap transaksi non-tunai di Kalimantan Utara pada periode Januari hingga Juni 2019 ini, mencapai Rp 11,96 miliar dengan jumlah volume transaksi mencapai 52.340.

“Khusus di Kota Tarakan menyumbang andil Rp 11,28 miliar. Artinya 94,3 persen transaksi non-tunai di Kaltara itu transaksinya ada di Kota Tarakan,” ungkapnya.

Diakui Hendik, untuk transaksi non-tunai di kabupaten lain yang ada di Kaltara memang tergolong sangat kecil. Meski demikian, pihaknya tetap memberikan pemahaman kepada masyarakat untuk selalu bergeser melakukan transaksi dari tunai menjadi non-tunai.

Hendik juga menilai mengubah kebiasaan masyarakat yang dari dulunya sudah sangat terbiasa menggunakan uang tunai dalam bertransaksi membutuhkan waktu.

“Memang harus diciptakan ekosistem itu. Jadi tidak bisa orang dengan sukarela beralih dari tunai ke non-tunai. Contoh sederhana, dulu pembayaran tol menggunakan tunai, namun kita tidak menduga kalau diwajibkan menggunakan electronic money, ternyata setelah diwajibkan bisa juga,” ungkapnya.

Untuk mencapai GNNT, Bank Indonesia dituntut untuk menciptakan infrastruktur industri pembayaran non-tunai. Di antaranya dengan mengajak perbankan untuk memperbanyak uang elektronik.

Kemudian adanya e-wallet (dompet digital) saat ini juga menciptakan ekosistem agar masyarakat agar beralih ke transaksi non-tunai. Tidak hanya fasilitas dalam penggunaan transaksi non-tunai yang terus diciptakan, namun dukungan jaringan internet juga sangat diperlukan dalam melakukan transaksi.

Apalagi semua transaksi non-tunai memerlukan jaringan internet.

Ditambahkan Hendik, pihaknya juga selalu memberi edukasi kepada masyarakat akan pentingnya penggunaan non-tunai. Penggunaan non-tunai yang praktis, transparan dan dapat menghindari beredarnya uang palsu.

Sementara manfaat bagi Bank Indonesia, yaitu tidak mencetak uang tunai dalam jumlah yang banyak lagi.

“Jadi untuk di Kaltara ini kita perlunya mengedukasi kepada masyarakat untuk menggunakan uang tunai. Selain itu memang diperlukan ekosistem yang didukung oleh peraturan, misalnya untuk retail disarankan untuk menyediakan infrastruktur non-tunai,” beber Hendik.

Khusus di Tarakan, ekosistem dalam penggunaan uang tunai jumlahnya sudah cukup signifikan. Beberapa pusat perbelanjaan dan pusat-pusat kuliner di Tarakan juga sudah mulai menyediakan pembayaran non-tunai. Bahkan ojek online (ojol) pun sudah menggunakan e-wallet dalam transaksi.

Potensi pengembangan pembayaran non-tunai di Tarakan sangat besar. Apalagi ada beberapa sarana dan prasarana di Kota Tarakan pembayarannya belum menggunakan non-tunai. Misalnya, penjualan tiket speedboat yang direncanakan akan menggunakan sistem online. Secara tidak langsung akan membuat masyarakat membayar dengan non-tunai juga.

“Dari sisi merchant harusnya bisa, yaitu membuat aturan penyediaan transaksi non-tunai. Dari sisi pemerintahan juga ada, yaitu pendapatan dan retribusi pajak pembayarannya bisa non-tunai. Pembayaran samsat juga bisa dilakukan dengan non-tunai,” imbuhnya.

Untuk di Kota Tarakan, sesuai dengan misi Wali Kota (dr. Khairul), smart city dianggap sangat relevan dengan konteks pemgembangan sistem pembayaran non-tunai. Smart economy. Artinya kegiatan ekonomi ke arah teknologi dan secara tidak langsung akan menciptakan gerakan pembayaran non-tunai juga.

Dengan adanya Bank Indonesia, nantinya akan lebih mendukung program pemerintah dalam menciptakan transaksi non-tunai di pemerintahan atau di masyarakat.

“Kami sendiri sedang melakukan pemetaan, di mana lagi akan dilakukan transaksi non-tunai. Seperti di bandara untuk parkirnya dan pelabuhan akan kami petakan juga,” imbuhnya.

Rencananya lagi, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Kaltara akan membuka pusat kuliner di Kota Tarakan dan akan menggunakan non-tunai. Untuk mencapai langkah tersebut, pihaknya juga akan lebih gencar melakukan sosialisasi.

“Program pemerintah juga saat ini di daerah lain di Kaltara sudah menggunakan non-tunai, misalnya bantuan pangan non-tunai dan bantuan operasional sekolah non-tunai,” terangnya. (*/one/*/zac/zar/lim)


BACA JUGA

Jumat, 16 Agustus 2019 11:08

Diduga Mesin Mati, Truk Kontainer Terbalik

TARAKAN - Sebuah truk kontainer berukuran 12 meter dengan muatan…

Jumat, 16 Agustus 2019 11:01

BPJS Pastikan Tetap Jamin Persalinan

TARAKAN – Meski tanpa surat rujukan, ibu melahirkan di rumah…

Jumat, 16 Agustus 2019 10:56

Tiga Hari Lagi Bumi Paguntaka Diramaikan Pawai Pembangunan

TARAKAN – Tinggal menghitung hari, masyarakat Kota Tarakan dimeriahkan dengan…

Jumat, 16 Agustus 2019 10:54

Meraup Pundi-Pundi Rupiah dari Balik Jeruji

“Kegiatan ini bisa menjadi wadah kami warga binaan yang ada…

Jumat, 16 Agustus 2019 10:24

Warga Lapas Ikut Pemecahan Rekor Muri

TARAKAN – Dalam rangka menyemarakkan HUT ke-74 Republik Indonesia (RI)…

Jumat, 16 Agustus 2019 10:17

Ratusan Ambal Diamankan Pihak Bea Cukai

TARAKAN – Kantor Bea Cukai Tarakan mengamankan ratusan bal ambal…

Jumat, 16 Agustus 2019 10:02

Jalan Rawan Kecelakaan, Warga Harapkan Pelebaran Jalan

TARAKAN - Sering terjadinya kecelakaan di Jalan Aki Balak, Kelurahan…

Kamis, 15 Agustus 2019 10:18

Kerugian Negara hingga Rp 500 Juta

TARAKAN - Perkara dugaan korupsi anggaran pengadaan lahan fasilitas Kelurahan…

Kamis, 15 Agustus 2019 10:12

WNA Filipina Terdampar di Perairan Tolitoli

TARAKAN – Sempat terombang-ambing di laut selama 5 hari, Antonius…

Kamis, 15 Agustus 2019 10:10

Pendaftaran Ditutup, Peserta Capai 5.853 Orang

TARAKAN – Pelaksanaan pawai pembangunan 2019 tersisa empat hari lagi.…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*