MANAGED BY:
SABTU
24 AGUSTUS
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Jumat, 19 Juli 2019 09:45
Kapolri: Keamanan Nomor Satu
RESMIKAN MARKAS POLDA: Kapolri Jenderal Prof. H. Muhammad Tito Karnavian, Ph.D, menggunakan pakaian adat Dayak saat menuju gedung Markas Polda Kaltara, Kilometer 9, Bumi Rahayu, Tanjung Selor, Kamis (18/7) dalam rangka kunjungan kerja meresmikan Markas Polda Kaltara, RS Bhayangkara dan SPN. AGUSSALAM SANIP/RADAR TARAKAN

PROKAL.CO, TANJUNG SELOR – Gedung Mapolda Kaltara yang berada di Jalan Komjen Dr. M.H. Jasin, Desa Bumi Rahayu, Kecamatan Tanjung Selor diresmikan langsung Kapolri Jenderal Muhammad Tito Karnavian. Penerima gelar ‘uyau abeng lihan padan’ ini berharap keberadaan Polda Kaltara memberikan rasa aman.

Menurutnya, jika mampu menghadirkan rasa aman di tengah-tengah masyarakat akan berimbas pada perkembangan daerah. Dikarenakan, investor lebih leluasa untuk berinvestasi. “Jika situasi tidak aman dan terjadi konflik siapa yang mau datang dan mau berinvestasi. Mereka mau berinvestasi jika kondisi aman,” ucap Jenderal Muhammad Tito Karnavian, Kamis (18/7).

Dijelaskan, jika kondisi sudah aman tentunya dapat memberikan kemudahan. Dengan satu instruksi terkait perizinan untuk investor yang masuk ke Kaltara. Apalahi infrastruktur di Kaltara juga mendukung, seperti bandara, pelabuhan, jalan-jalan penghubung antar daerah. “Keamanan nomor satu. Untuk itu, keberadaan Polda Kaltara dapat menjadi unsur yang dapat memperkuat sistem keamaman dan rasa aman di Kaltara,” harapnya.

Ia bercerita adanya Polda Kaltara atas permintaan Gubernur Kaltara Dr. H. Irianto Lambrie saat itu. Tujuan utamanya jaminan keamanan, kemudian memberikan pelayanan lebih baik. Sebab, sebelum Polda Kaltara berdiri, warga di Kaltara harus berkoordinasi ke Polda Kaltim terlebih dahulu. “Pak Gubernur ke kantor dan ke rumah saya. Datang beberapa kali meyakinkan saya. Sehingga saya sempat tertekan juga. Keinginan polda baru jelas karena ada provinsi baru dan memerlukan pelayanan, hal itu wajib,” jelasnya.

Namun, yang menjadi tantangan yakni pembangunan Mapolda Kaltara. Sebab, kebijakan pemerintah pusat begitu jelas pada pengembangan SDM dan infrastruktur dan peningkatan ekonomi. Sementara untuk pembangunan gedung kantor belum prioritas.

“Saya berpikir harus menggunakan dana dari mana, dari pemerintah pusat, Mabes (Mabes Polri), pemda atau pihak ketiga. Kami meyakinkan Bappenas dan Menkeu untuk itu. Namun terbentur kebijakan,” kisahnya. 

Pertemuan kembali digelar untuk persoalan tersebut bersama Gubernur Kaltara, Wakil Gubernur Kaltara H. Udin Hianggio dan Ketua DPRD Kaltara Marten Sablon. Hasilnya, lokasi Mapolda Kaltara sudah disiapkan. Dari situ pertemuan antara Pemprov Kaltara dan Pemkab Bulungan juga dilakukan dan menyepakati menggunakan kantor DPRD Bulungan untuk sementara.

“Kemudian saya datang melihat kantor ini kondisinya miris, karena tidak terpakai. Kondisi sepi, masih banyak hutan, kondisi gedung tidak terawat.  Yang menjadi pertanyaan bagaimana anggota mencari makanan dengan kondisi kantor yang begitu jauh. Saya takut moril anggota jatuh, jika jatuh yang terjadi membuat problem baru. Di tengah rasa kekhawatiran, Gubernur sampaikan, segera dirapikan,” bebernya.

Sehingga, saat hadir untuk kedua kalinya di Tanjung Selor ia menilai jauh berbeda saat Desember 2017 lalu. Kondisi layaknya berbeda di kota.  Untuk itu, adanya Mapolda Kaltara ini merupakan kontribusi dari pemerintah daerah.

“Kebetulan pengalaman memimpin polda baru dan provinsi baru 2012 lalu di Papua dan Papua Barat. Komunikasi sangat sulit, sama kondisinya jika dari Bulungan harus ke Samarinda. Sehingga Gubernur menghadapi persoalan komplit. Dan dari situ kami putusakan membuat Polda baru,” katanya.

Mapolda dibangun hampir semua hibah, baik dari Pemprov Kaltara, pemda dan CSR. Tentunya, apa yang diresmikan dari pemerintah dan masyarakat. Hal ini yang membedakan Polda Kaltara dengan polda lainnya di Indonesia. “Awalnya dipinjamkan, kemudian dihibahkan. Terima kasih kepada seluruh komponen pemerintah daerah di Kaltara yang telah memberikan kontribusi nyata hadirnya Mapolda Kaltara,” imbuhnya.

Sementara Kapolda Kaltara Brigjen Pol Indrajit menyampaikan dengan adanya Polda Kaltara ini dan mendapatkan amanah menjadi Kapolda sejak 2018 mendapatkan apresiasi. Dikarenakan, dalam waktu singkat membangun Mapolda Kaltara.

“Kami juga terima kasih ke masyarakat dan semua pemerintah di Kaltara sehingga Mapolda Kaltara terwujud dalam waktu singkat,” kisahnya.

Selanjutnya, dengan Mapolda ini personel mampu melaksanakan tugas dan meningkatkan pelayanan kepada masyarakat. “Ke depannya seperti biasa melaksanakan tugas,” ujarnya.

 

DIBERI GELAR PANGLIMA PERANG

Kapolri menerima gelar adat dari Masyarakat Adat Kalimantan Utara (Kaltara). Uyau abeng lihan padan dipilih untuk disematkan ke Kapolri berdasarkan hasil musyawarah berdasarkan Surat Keputusan (SK) lembaga adat Dayak Kaltara nomor 04/LAD-PROVKAL/VII/2019. Dengan itu sebagai pertanda diangkatnya Kapolri menjadi sesepuh masyarakat adat Kalimantan Utara.

Dengan gelar tersebut, Kapolri memberikan penghargaan atas penyematan gelar adat terhadap dirinya. “Saya menyampaikan penghargaan dan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada Lembaga Adat Dayak Kaltara yang berkenan memberikan gelar adat kepada saya,” ucap Kapolri Jenderal Polisi Muhammad Tito Karnavian, Kamis (17/8).

Uyau abeng lihan padan merupakan sosok seorang pahlawan, panglima perang dan sekaligus kepala adat besar suku Dayak pada zamannya. Gelar adat tersebut dinilai tepat untuk disematkan ke Kapolri.

“Panglima gagah berani, pahlawan dan pemimpin besar bagi masyarakat. Ini suatu kehormatan bagi saya. Sekaligus juga menjadi beban saya sebagai Kapolri untuk bekerja keras lagi untuk memperhatikan perhatian terhadap Kaltara,” ujar Kapolri saat memberikan sambutan di aula command centre Mapolda Kaltara.

Penyematan tersebut dilakukan Kepala Adat Besar Dayak Kalimantan Utara Henoch Merang. Menurutnya, gelar tersebut merupakan nama pahlawan dan pemimpin Dayak. Sewaktu muda, tokoh uyau abeng lihan padan sangat disegani. “Uyau abeng lihan padan ini merupakan pahlawan yang dihormati dan dari kisah nyata. Bukti nyata adanya makam beliau berada di Sarawak, Malaysia,” jelas Henoch.

Sebelum menerima gelar adat, Kapolri yang tiba di Mapolda Kaltara sekira pukul 08.54 WITA dengan menumpangi helikopter disambut dengan tari perang ulong da'a. Penyambutan ini merupakan tradisi adat dan budaya secara turun temurun.

Prosesi penyambutan ini dilakukan, untuk menyambut kedatangan para kesatria perang atau pemimpin suku Dayak yang disegani dan dihormati pulang dari medan perang. “Menyambut sang kesatria atau sang pemimpin diiringi alunan musik gong dan tarian yang menandakan bahwa sang kesatria, sang pemimpin kehadirannya selalu dinantikan.” ulasnya. (akz/lim)

loading...

BACA JUGA

Rabu, 02 September 2015 10:17

Lagi, Warga Belakang BRI Diciduk

<p><strong>&nbsp;TARAKAN &ndash;</strong> Beberapa kali lolos dari incaran…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*