MANAGED BY:
SABTU
24 AGUSTUS
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Jumat, 19 Juli 2019 09:38
Sajikan ‘Ulong Da’a’, Tradisi suku Dayak Dataran Tinggi Borneo

Melihat Prosesi Penyambutan Kedatangan Kapolri

DISAMBUT: Kapolri Jenderal Polisi Prof.Drs.H.Muhammad Tito Karnavian, M.A.,Ph.D saat disambut tarian perang ‘Ulong Da’a’ tatkala akan meresmikan Mapolda Kaltara, Kamis (18/7) kemarin. RACHMAD RHOMADHANI/RADAR KALTARA

PROKAL.CO, ‘Ulong Da’a’ menjadi salah prosesi penyambutan kedatangan Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Polisi Prof. Drs. H. Muhammad Tito Karnavian, M.A.,Ph.D di Kalimantan, Kamis (18/7) kemarin. Kedatangan orang nomor satu di Polri itu dalam agendanya peresmian Mapolda Kaltara. Lalu seperti apakah jalannya prosesi penyambutan dan makna dari tarian tersebut. Berikut liputannya.

RACHMAD RHOMADHANI

PROSESI penyambutan Kapolri di Ibu Kota, Kaltara, Tanjung Selor, Kalimantan Utara (Kaltara), kali ini terbilang cukup istimewa.

Bagaimana tidak?Saat kali pertama kaki Kapolri melangkah ke Mapolda Kaltara pasca turun dari helikopter sekira pukul 09.00 WITA. Alunan musik khas suku Dayak langsung dimainkan dengan piawainya oleh masyarakat suku Dayak yang tergabung dalam sanggar seni dayak Ulong Da’a.

Tak hanya itu, prosesi “Ulong Da’a” yang di dalamnya terdapat tarian perang dan diperagakan secara langsung di hadapan Kapolri oleh dua orang pun mewarnai prosesi penyambutan tersebut.

Sehingga saat itu terlihat cukup jelas dari raut wajahnya Kapolri terkesima akan sambutan yang luar biasa dari masyarakat asli Kalimantan ini.

Dan sembari terus berjalan, Kapolri yang saat itu didampingi oleh Gubernur Kaltara, Dr. H. Irianto Lambrie, Kapolda Kaltara, Brigjen Pol Indrajit dan Danrem 091/ASN, Brigjen TNI Widi Prasetijono dan pihak lain yang tergabung dalam rombongan menuju ke Kampung Adat Dayak.

Namun, cukup jelas terlihat, meski di tengah terik matahari di langit yang cerah. Langkah kaki Kapolri beserta rombongan cukup lamban dan seraya tak ingin segera menghabiskan momen yang terbilang cukup langka itu. Tentunya, dengan sembari memberikan senyuman kepada seluruh masyarakat dan tamu undangan yang hadir kala itu. Hal itu pun kembali membuat semakin hangatnya prosesi penyambutannya kali ini.

Diketahui, Kapolri saat itu dalam prosesi penyambutan juga dipasangkan baju adat. Ya, itu sebagai tanda bahwa masyarakat adat Kaltara menyambut dan menerima kehadiran sang pemimpin.

Tentu, dengan cara itu pun muncul harapan ke depan Kapolri dapat membawa keadilan, kenyamanan dan kedamaian bagi masyarakat. Kemudian, dapat menjadi teladan dan harapan baru bagi generasi muda serta menanamkan semangat untuk membangun Kaltara yang lebih maju.

Tak sampai di situ, Kapolri saat itu kembali melakukan prosesi lainnya. Yakni proses pemotongan rotan atau “Neteg Wei”. Ini syarat sebelum memasuki Kampung Adat Dayak. Dan diketahui, “Neteg Wei” ini biasanya hanya dilakukan oleh pemimpin suku Dayak pada upacara adat “Ngukab Bawang” atau pada saat suku Dayak memasuki kampung atau permukiman baru.

Alhasil, saat semua prosesi itu dilewati oleh Kapolri. Maka, dalam hal ini, Kapolri telah disambut baik sekaligus sebagai bagian dari masyarakat suku Dayak di Kaltara. Kehadirannya saat itu pun diterima dan disambut oleh tokoh-tokoh adat dari berbagai sub suku Dayak yang ada di Kaltara.

Sementara, Panglima Ulong Da’a, Tirusel STP,SE., M.Si menjelaskan, terkait prosesi penyambutan “Ulong Da’a yang di dalamnya terdapat tarian perang. Itu merupakan tradisi penyambutan adat budaya turun temurun yang terpelihara selama ratusan tahun di dataran tinggi Borneo Kaltara.

Pada zaman dahulu, prosesi penyambutan tersebut dilakukan tatkala menyambut kedatangan para kesatria perang atau pemimpin suku Datang yang disegani dan dihormati pasca pulang dari medan peperangan. Dan kini, proses penyambutan itu tetap terus terjaga dan dilestarikan. Tak lain, ini agar terus abadi dan rasa hormat akan tradisi dan nilai-nilai budaya para leluhur suku Dayak.

“Dulunya, tarian ini sifatnya begitu sakral. Tidak sembarang ditampilkan. Hanya, seiring berjalannya waktu, akhirnya tarian ini dijadikan sebagai penyambut oleh tamu-tamu penting,” katanya kepada awak media Radar Kaltara.

Adapun, lanjutnya, mengenai adanya penyambutan oleh para pemuda nan gagah dengan memperagakan tarian perang. Itu merupakan tanda sebagai penyambutan sang kesatria atau pemimpin dalam hal ini Kapolri yang berlaku demikian.

“Sambutan kedatangan itu dari sosok kesatria atau pemimpin itu memang selalu disambut sukacita. Dan kehadirannya selau dinantikan untuk membawa masyarakat menuju harapan baru yang lebih baik,” ujarnya.

Perlu diketahui juga, mengenai “Ulong Da’a”  ataupun tugu yang berdiri tegak dan terdapat tulang tanduk, tengkorak, rahang-rahang, gigi binatang yang menempel dari bawah ke atas sejatinya memiliki arti mendalam bagi suku Dayak yang ada di dataran tinggi borneo Kaltara.

“Pertama, prosesi itu sejatinya merupakan tanda kebesaran suku Dayak yang dibangun untuk melambangkan kemakmuran dan kesejahteraan bagi suku Dayak,” jelasnya.

“Kedua, itu juga sebagai tanda kebesaran dan kearifan budaya luhur suku Dayak. Di mana pendirian setiap tugu itu adalah sebagai ungkapan syukur atas ketersediaan sumber makanan dan kehidupan bagi keberlangsungan hidup masyarakat Dayak sendiri,” sambungnya.

Lebih lanjut, untuk itu tanpa ketersediaan berbagai jenis kebutuhan hidup yang baik dan cukup dalam ekosistem kehidupan manusia Dayak tersebut. Maka, diyakini manusian Dayak akan punah.

“Melalui “Ulong Da’a” ini sebenarnya menyampaikan pesan moral juga kepada kita semua. Yang mana, tanah, air, hutan, sungai dan udara adalah bagaikan sebuah kulkas besar yang akan menyimpan dan akan siap memberikan berbagai jenis kebutuhan bagi kehidupan,” tuturnya.

“Oleh karenanya, kita wajib menjaga keseimbangan hidup yang baik dan berkualitas. Melindungi dan melestarikan ekosistem dan ketersediaan sumber-sumber kebutuhan hidup di tanah, air, hutan, sungai, udara dan flora faunanya secara berkelanjutan. Ini untuk mewujudkan kemakmuran dan kesejahteraan di Bumi,” jelasnya mengakhiri. (***/eza)

loading...

BACA JUGA

Rabu, 02 September 2015 10:17

Lagi, Warga Belakang BRI Diciduk

<p><strong>&nbsp;TARAKAN &ndash;</strong> Beberapa kali lolos dari incaran…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*