MANAGED BY:
SABTU
24 AGUSTUS
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Jumat, 19 Juli 2019 09:35
Haji via Filipina Berisiko

Dari Segi Dokumen Itu Berbahaya

H. Suriansyah – Kakanwil Kemenag Kaltara. RADAR KALTARA

PROKAL.CO, TANJUNG SELOR – Pelaksanaan ibadah haji tahun ini akan segera dilaksanakan. Jika sesuai jadwal, keberangkatan calon jemaah haji (CJH) asal Kalimantan Utara (Kaltara) kloter pertama ke Jeddah, Arab Saudi pada 3 Agustus mendatang.

Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Kementerian Agama (Kemenag) Kaltara, H. Suriansyah mengatakan, sesuai data yang ada, total keseluruhan CJH Kaltara yang akan berangkat ke tanah suci tahun ini sebanyak 773 jemaah.

“Untuk yang berangkat via negara lain, kita tidak ada. Haji kita jelas semuanya. Ada kepastiannya,” ujar Suriansyah kepada Radar Kaltara saat ditemui di Tanjung Selor, Kamis (18/7).

Disinggung mengenai CJH asal Sebatik yang pernah coba via Filipina, Suriansyah mengatakan, kemungkinan atau bisa jadi saat itu Filipina memiliki kuota yang kosong. Sementara di provinsi termuda Indonesia ini masih ada masa tunggu.

“Misalnya Filipina dapat kuota 1.000, lalu jemaahnya hanya 500. Artinya, masih ada setengahnya yang kosong. Nah, bisa jadi ini yang dimanfaatkan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab,” jelasnya.

Dalam hal ini, kewenangan di daerah hanya membimbing. Artinya, nasib CJH asal Indonesia yang gagal berangkat via Filipina dan sempat ditahan oleh Imigrasi Filipina di Bandara Internasional Ninoy Aquino, Kota Baguio itu ranah kementerian.

“Tapi karena kita di sini sifatnya harus melindungi, maka yang ingin berangkat menunaikan ibadah haji kita minta harus benar-benar berkoordinasi dengan instansi yang berwenang. Jangan sampai di luar dari itu,” sebutnya.

Sebab, dari segi dokumen itu berbahaya. Dalam hal ini, jika dokumen hajinya diambil, dan digantikan kewarganegaraannya, maka jika yang bersangkutan meninggal dunia pasti tidak dapat diketahui.

Untuk menyelesaikan persoalan ini, tentu harus ada duduk bersama antara Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Kementerian Luar Negeri, bahkan dari Kedutaan Filipina dan semua pihak terkait untuk membicarakan seperti apa mestinya.

“Pastinya untuk mengakomodir sejumalah CJH yang gagal berangkat itu menggunakan kuota khusus sementara ini belum ada di kita. Itu belum bisa kita lakukan. Sekarang ini hanya memfasilitas bagaimana jalan keluarnya. Semua sudah disampaikan ke pusat,” jelasnya.

Sebelumnya, haji via Filipina ini sempat menjadi perhatian publik pada 2016 silam. Bahkan, di dalamnya ada sejumlah warga Kaltara yang berujung batal ke Tanah Suci karena diketahui otoritas keamanan Filipina.

YH, jamaah haji yang lolos berangkat ke Tanah Suci pada 2015 kepada Radar Tarakan (Kaltim Post Group) mengaku, berhaji lewat Filipina tidak perlu menunggu bertahun-tahun.

YH menjelaskan, untuk mendapatkan kesempatan ibadah haji melalui Filipina, dia mengganti identitasnya. Menggunakan nama Filipina untuk ditulis di paspor. Kata dia, ada pihak yang mengurus di Filipina agar dimudahkan untuk mendapatkan paspor dan visa berhaji ke Tanah Suci.

Biaya yang dikeluarkan untuk berangkat haji melalui Filipina setara ongkos haji plus di Indonesia. Berkisar Rp 70 juta. Dari nominal tersebut, semua fasilitas sudah disiapkan mulai keberangkatan hingga kembali. Termasuk biaya administrasi untuk mengganti identitas diri. “Biaya hampir sama seperti haji plus, tapi tidak perlu antre dan lebih mudah pengurusannya. Cukup menyiapkan dana saja,” ujar pria asal Kecamatan Sebatik Utara, Kaltara, itu.

Namun, untuk masuk ke Filipina dan mendapatkan data diri, YH harus masuk secara ilegal. Jalurnya, melalui Tawau, Malaysia, atau bisa langsung dari Sebatik ke Filipina. Ketika berada di negaranya Manny Pacqiao itu, identitas warga negara Indonesia (WNI) tidak berlaku lagi karena paspor Filipina sudah diberikan dengan identitas baru. “Ke Filipina tidak perlu menggunakan paspor karena masuknya lewat samping (ilegal). Data WNI tidak perlu dibawa lagi karena paspor Filipina sudah disiapkan semua,” bebernya.

Biaya yang dikeluarkan SH untuk memberangkatkan orangtuanya menunaikan haji mencapai Rp 70 juta untuk satu orang. Karena yang ingin diberangkatkan dua orang, ia harus mengeluarkan duit hingga Rp 140 juta. Untuk biaya-biaya lain tidak dibutuhkan lagi karena semua biaya tersebut sudah termasuk biaya penginapan ketika tiba di Arab Saudi. (iwk/eza)

loading...

BACA JUGA

Rabu, 02 September 2015 10:17

Lagi, Warga Belakang BRI Diciduk

<p><strong>&nbsp;TARAKAN &ndash;</strong> Beberapa kali lolos dari incaran…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*