MANAGED BY:
SABTU
17 AGUSTUS
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Selasa, 16 Juli 2019 09:20
Bangun dari Operasi, Sadar Betapa Berharganya Kesehatan

Cegah Penyakit Jantung Koroner dengan Perilaku Germas

SENAM RUTIN: Suasana saat Klub Senam Jantung Sehat melakukan senam bersama di halaman gedung lama RSUD Tarakan, Minggu (14/7) pagi. LISAWAN/RADAR TARAKAN

PROKAL.CO, Kicauan burung masih terngiang di telinga. Halaman Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tarakan masih lembab. Tepatnya di halaman rumah sakit lama, sebutan orang lokal. Semalaman Kota Tarakan diguyur hujan, tak heran udara saat itu sangat dingin. Tapi tak membekukan semangat peserta Klub Jantung Sehat senam rutin, Minggu (14/7).

 

LISAWAN YOSEPH LOBO

 

SETIAP Minggu, peserta Klub Jantung Sehat ini senam bersama di halaman RSUD lama. Pesertanya sekitar 30 orang, biasa pula lebih dari itu. Pesertanya tak menentu. Meski nama klubnya jantung sehat, bukan berarti kelompok ini khusus penderita penyakit jantung. Sebetulnya siapa saja bisa bergabung dan ikut senam setiap hari Minggu pagi.

Dari jarak 10 meter, alunan musik senam terdengar dari halaman rumah sakit lama. Terlihat pula barisan puluhan orang. Goyang ke kiri dan ke kanan secara bersamaan. Setelah gerakan pemanasan, diikuti senam inti dan diakhiri teknik relaksasi. Senam berakhir sekira pukul 07.30 WITA, durasi senam selama sejam.

Inilah rutinitas mingguan dari Klub Jantung Sehat yang sudah terbentuk sekitar 15 tahun, tepatnya dari 2004 silam. Tak hanya senam pada umumnya. Sesekali instruktur senam melakukan senam tai chi. Yaitu senam melatih koordinasi tubuh dan keseimbangan. Tapi menyesuaikan dengan kemampuan peserta senam.

“Klub ini pertama kali digagas dr. Jajang Sinarja, Sp.JP, dokter jantung pertama di Tarakan. Sekarang dilanjutkan dr. Donny dan dr. Fandi. Setiap tiga bulan kami ada penyuluhan dan pemeriksaan dari dokter jantung,” Hj. Hartini menjelaskan selaku bagian kehumasan Klub Jantung Sehat, kepada Radar Tarakan usai senam bersama.

Terlepas dari kegiatan klub ini, pesertanya pun kerap diingatkan tetap menjaga pola hidup sehat. Paling tidak melakukan gerakan-gerakan kecil di teras rumah, mengonsumsi buah dan sayuran, dan memeriksa kesehatan secara berkala. “Dari dokter sudah menyampaikan, selain senam juga bisa jalan santai atau gerak selama 30 menit di rumah. Alhamdulillahbapak dan ibu-ibu sudah paham,” lanjut wanita murah senyum ini.

Di sela-sela istirahat, terlihat pula seorang peserta yang masih melakukan gerakan-gerakan kecil. Memiliki tinggi sekitar 160 sentimeter, badannya terlihat bugar tapi siapa sangka ia seorang penderita penyakit jantung koroner (PJK). Dia adalah Madjid Syukur.

Sejak tahun 1980 silam, ia sudah memiliki gejala penyakit jantung. Maklum semasa mudanya, sibuk bekerja. Pola makan pun tak karuan. Apalagi olahraga. Mungkin hanya hitungan jari dilakukannya. Berselang puluhan tahun, tepatnya tahun 2010 gejala yang ia rasakan semakin berat. Apalagi saat bernapas, seperti ditekan beban berat tepat di dadanya.

“Waktu kerja di Pertamina kan ada dokternya, diperiksa katanya ada gejala jantung. Setelah pensiun, tepatnya tahun 2010 saya rasa semakin berat. Jadi kontrol ke rumah sakit di Tarakan, kemudian disuruh periksa ke rumah sakit di Samarinda,” kata pria berusia 74 tahun ini mengawali cerita.

Saat dilakukan pemeriksaan oleh dokter di Samarinda, rupanya ada penyumbatan di pembuluh darah. Bukan kepalang, penyumbatan itu sudah 60 persen. Saat itu ia divonis menderita penyakit jantung koroner. Anjuran dokter, harus segera dioperasi. “Saat itu di Samarinda tidak bisa pasang ring, jadi harus operasi di Jakarta. Saat diperiksa di Jakarta, penyumbatannya naik menjadi 85 persen. Jadi harus segera dioperasi,” jelas ayah dari tiga orang anak ini.

Pasrah. Menyesal pun tak ada gunanya. Terekam jelas dalam ingatannya, bagian dadanya dibelah saat 25 Agustus 2010. Ia terbaring di meja operasi selama 7 jam. Apakah ia akan bangun atau tidak? Siapa yang tahu.

“Saya dijelaskan, dada dibelah dan dibuka, jantungnya diambil dan digantikan dengan mesin jantung. Syukurnya saya tidak ada penyakit lain, selain jantung,” ucap pria yang memiliki 8 orang cucu ini.

Tapi tak ada kata terlambat sebelum memulai. Tak ada harta yang paling berharga selain kesehatan. Setelah dioperasi, ia komitmen mulai menerapkan pola hidup sehat. Mulai dari menjaga pola makan, berolahraga dan rutin memeriksakan kesehatan.

“Setelah dioperasi, saya sadar kesehatan itu sangat mahal dan berharga. Jadi sampai sekarang saya rutin setiap bulan kontrol ke dokter dan juga olahraga. Setiap pagi saya jalan santai,” tegasnya.

Selain pengalaman hidup dari Madjid Syukur, adapula sepasang suami istri yang patut diacungi jempol. Ya, H. Djawadi dan Sulastri. H. Djawadi merupakan peserta senam tertua di Klub Jantung Sehat. Usianya 77 tahun dan istrinya berusia 69 tahun.

Pasangan suami istri ini selalu menerapkan pola hidup sehat sejak dulu. Ya. Apa yang ditabur, itu yang akan dituai. Suami istri ini mengaku tidak memiliki keluhan apa pun dalam kesehatannya.

Konon, usai mengikuti senam, manfaat yang ia dapatkan adalah tubuh yang bugar dan terasa segar. Tak hanya senam, H. Djawadi dan Sulastri juga memiliki banyak kegiatan meski di rumah. Bagi mereka, setiap hari harus mengeluarkan keringat. Entah itu dengan cara bersih-bersih dan melakukan pekerjaan rumah lainnya.

“Alhamdulillah kita tidak ada keluhan. Kalau setiap Minggu tidak pernah absen ikut senam, kami ikut sejak 2004. Kalau tidak senam, rasanya badan tidak enak. Di rumah juga banyak kegiatan, apa saja kita kerjakan supaya keringat keluar. Rutin juga periksa tekanan darah. Kalau saya rata-rata tekanan 130 per 90. Kalau istri naik turun, 140 dan 120,” beber kakek ini.

Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah di RSUD Tarakan, dr. Fandi Ahmad, Sp.JP, mengatakan, penyakit jantung termasuk penyakit tidak menular alias PTM. Berbicara seputaran penyakit jantung cukup luas. Setiap hari, ada 70 hingga 80 pasien yang diperiksa dengan riwayat penyakit jantung. Namun yang paling sering ditemukan adalah kasus penyakit jantung koroner (PJK).

“Orang tahunya penyakit jantung. Tapi sebenarnya penyakit jantung itu banyak macam. Selain PJK, ada penyakit jantung hipertensi yang awalnya disebabkan hipertensi. Ada juga penyakit katup jantung, gangguan irama jantung, ada penyakit jantung bawaan atau sejak lahir, dan masih banyak lagi. Tapi yang paling sering PJK, itu ada sumbatan di pembuluh darah koroner yang memperdarahi otot jantung sehingga otot jantung tidak bisa bekerja dengan baik. Itu yang paling ditakutkan dan menyebabkan kematian mendadak,” jelas dokter berkulit putih ini.

Penyakit tidak menular sebagian besar disebabkan pola hidup yang tidak sehat. Apalagi seiring perkembangan zaman. Makanan cepat saji atau sangat mudah ditemukan. Belum lagi diperparah dengan kemajuan digital. Banyak pula yang tergiur dengan online. Melakukan aktivitas seperti olahraga ringan pun tertinggal jauh.

“Sekarang makanan sudah banyak, kebiasaan olahraga juga kurang sehingga dapat menimbulkan penyakit tidak menular. Termasuk jantung, strok dan kanker. Semakin bertambah usia, semakin rentan menderita penyakit jantung koroner,” katanya.

Lebih lanjut dijelaskan dr. Fandi Ahmad, beberapa gejala utama yang dirasakan penderita PJK, di antaranya, nyeri di dada seperti ditindih beban berat. Keluhan ini banyak dirasakan saat beraktivitas. Selain itu, disertai rasa mual dan muntah, serta pusing yang berlangsung lebih dari 20 menit.

“Misalnya lagi main badminton, yang dulunya tidak sakit tapi sekarang terasa sakit. Nanti dibawa istirahat baru rasa enakan. Jadi gejalanya dari yang ringan sampai yang berat. Tapi khasnya nyeri dada,” lanjutnya.

Lantas siapa saja yang mempunyai faktor risiko menderita penyakit jantung koroner? Dijelaskannya ada beberapa faktor risiko, yaitu hipertensi, diabetes melitus, kadar kolesterol tinggi, perokok, memiliki riwayat keluarga dengan penyakit jantung dan wanita yang memasuki masa menopause alias sudah tidak haid, usia 50 tahun ke atas.

“Tapi bukan berarti mereka pasti akan menderita PJK. Tapi semakin banyak faktor risikonya, semakin tinggi peluang menderita PJK. Kalau laki-laki, usia 20 tahun dan 30 tahun sudah banyak kena PJK. Tapi kalau perempuan kemungkinan meningkat pada saat sudah menopause. Karena perempuan kan ada hormon estrogen,” bebernya.

Tak heran ada pepatah mencegah lebih baik dari mengobati. Dengan menggalakkan tiga perilaku gerakan masyarakat hidup sehat alias germas dapat dimulai dari lingkungan keluarga, orang sekitar dan meluas ke orang banyak. Perilaku germas dapat dimulai dengan melakukan aktivitas fisik 30 menit setiap hari. Kemudian mengonsumsi buah dan sayur, serta memeriksakan kesehatan secara rutin.

“Lebih baik mencegah daripada mengobati. Galakkan pola hidup sehat. Yaitu olahraga rutin, makanan sehat seimbang, jangan yang tinggi lemak, serta harus kontrol. Misalnya ada hipertensi, rutin berobat. Kalau yang merokok, mulai sekarang komitmen setop merokok. Jadi faktor risiko yang bisa dimodifikasi, harus diubah. Paling tidak usia 35 tahun ke atas rutin cek jantung. Kalau ada kelainan, kita bisa deteksi lebih awal supaya cepat diobati,” ajaknya.

Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit pada Dinas Kesehatan (Dinkes) Tarakan, dr. Witoyo mengatakan berdasarkan hasil riset kesehatan dasar (Riskesdas) 2018, prevelensi penyakit jantung  (diagnosis dokter) tertinggi di Indonesia adalah Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) yaitu mencapai 2,2 persen.

“Berdasarkan Riskesdas 2018, dari tim Kemenkes RI bagian riset yang mengadakan riset di seluruh Indonesia, penyakit jantung tertinggi itu di Kaltara. Tapi tidak dijelaskan spesifik, penyakit jantung yang mana tapi menyeluruh,” ulasnya, Jumat (12/7) pagi.

Untuk diketahui, penderita penyakit jantung di Tarakan, dari tahun ke tahun terus meningkat. Berdasarkan data yang dihimpun RSUD Tarakan, tahun 2017 tercatat sebanyak 10.226 orang. Kemudian tahun 2018 meningkat menjadi 11.020 orang. Sementara per Juni 2019 ini, sudah tercatat 5.879 orang.

Lantas upaya apa yang dilakukan dalam pengendalian penyakit ini? Sebanyak 20 kelurahan yang ada di Kota Tarakan, masing-masing ditargetkan memiliki pos pembinaan terpadu atau posbindu.

Lebih lanjut, posbindu ini mencakup usia 15 tahun hingga lanjut usia (lansia). Tujuan dari posbindu ini untuk mencegah penyakit tidak menular. “Yang diprioritaskan itu yang masih usia produktif. Karena lansia kan ada posyandu. Kalau posbindu ini lebih ke arah pencegahan, lebih menjangkau orang yang belum tersentuh pemeriksaan. Misalnya di usia muda sudah ada yang menderita tekanan (hipertensi), maka kami kontrol supaya ke depannya tidak fatal,” katanya.

Namun pencegahan penyakit tidak menular ini timbul dari kesadaran diri masing-masing pribadi. Setelah dari diri masing-masing, penerapan hidup sehat dilakukan di dalam lingkungan keluarga. Kemudian dapat menjadi contoh untuk masyarakat luas. Dalam hal ini, siapa saja dan semua unsur masyarakat terlibat dalam meningkatkan perilaku hidup sehat.

Lantas program apa yang ditawarkan Dinkes Tarakan untuk menekan penyakit tidak menular, khususnya jantung koroner ini? Lagi-lagi permasalahan pola hidup sehat. Dalam hal ini pun Dinkes melalui pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) terus memberikan penyuluhan-penyuluhan untuk menerapkan tiga perilaku germas.

“Memang perang antara perubahan perilaku dan mengembalikan perilaku hidup sehat itu sulit dilakukan. Makanya di puskesmas selalu melakukan penyuluhan prioritas yang ada di wilayahnya. Dari pusat juga menekankan germas. Maka dari itu, ayo kita ubah perilaku kita dengan terapkan hidup sehat. Aktivitas fisik 30 menit setiap hari, makan buah dan sayur setiap hari dan rutin periksa kesehatan,” ajaknya.

Ada pula pepatah bijak dari dr. Witoyo, yaitu jadikan makananmu sebagai obat, sebelum obat jadi makananmu. Terapkan perilaku germas mulai sekarang! (***/lim)


BACA JUGA

Jumat, 16 Agustus 2019 11:08

Diduga Mesin Mati, Truk Kontainer Terbalik

TARAKAN - Sebuah truk kontainer berukuran 12 meter dengan muatan…

Jumat, 16 Agustus 2019 11:01

BPJS Pastikan Tetap Jamin Persalinan

TARAKAN – Meski tanpa surat rujukan, ibu melahirkan di rumah…

Jumat, 16 Agustus 2019 10:56

Tiga Hari Lagi Bumi Paguntaka Diramaikan Pawai Pembangunan

TARAKAN – Tinggal menghitung hari, masyarakat Kota Tarakan dimeriahkan dengan…

Jumat, 16 Agustus 2019 10:54

Meraup Pundi-Pundi Rupiah dari Balik Jeruji

“Kegiatan ini bisa menjadi wadah kami warga binaan yang ada…

Jumat, 16 Agustus 2019 10:24

Warga Lapas Ikut Pemecahan Rekor Muri

TARAKAN – Dalam rangka menyemarakkan HUT ke-74 Republik Indonesia (RI)…

Jumat, 16 Agustus 2019 10:17

Ratusan Ambal Diamankan Pihak Bea Cukai

TARAKAN – Kantor Bea Cukai Tarakan mengamankan ratusan bal ambal…

Jumat, 16 Agustus 2019 10:02

Jalan Rawan Kecelakaan, Warga Harapkan Pelebaran Jalan

TARAKAN - Sering terjadinya kecelakaan di Jalan Aki Balak, Kelurahan…

Kamis, 15 Agustus 2019 10:18

Kerugian Negara hingga Rp 500 Juta

TARAKAN - Perkara dugaan korupsi anggaran pengadaan lahan fasilitas Kelurahan…

Kamis, 15 Agustus 2019 10:12

WNA Filipina Terdampar di Perairan Tolitoli

TARAKAN – Sempat terombang-ambing di laut selama 5 hari, Antonius…

Kamis, 15 Agustus 2019 10:10

Pendaftaran Ditutup, Peserta Capai 5.853 Orang

TARAKAN – Pelaksanaan pawai pembangunan 2019 tersisa empat hari lagi.…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*