MANAGED BY:
JUMAT
20 SEPTEMBER
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | KRIMINAL

RADAR KALTARA

Senin, 15 Juli 2019 10:29
Kuliner Khas Jauh Tertinggal

Ayam Geprek, Makanan Tren yang Dilirik

RADAR TARAKAN

PROKAL.CO, Hidangan ayam geprek mulai tren sekitar 2017 lalu, dan masih menjamur hingga saat ini. Konon lidah masyarakat Bumi Paguntaka, atau nama lain dari Kota Tarakan ini lebih menyukai jajanan yang banyak diburu orang itu.

 

OWNER Ayam Geprek Tengkawang, Rahmadina mengatakan, awalnya hanya mencoba ikut meramaikan kuliner Kota Tarakan dengan menawarkan menu ayam geprek. Namun siapa sangka, mulai merintis usaha sejak Oktober 2017 lalut masih banyak peminat.

“Enggak ada alasan spesifik, waktu itu memang ayam geprek lagi tren. Pada saat itu, daging ayam yang digeprek di tempat belum ada. Makanya kami buka dengan geprek saat dipesan dan sesuai dengan permintaan konsumen,” terang kepada Radar Tarakan saat ditemui di Jalan Tengkawang, Gunung Lingkas, Tarakan Timur, Sabtu (13/7).

Seperti yang diketahui, masyarakat Kota Tarakan identik hal yang viral, baru dan banyak diburu. Awal merintis usaha kuliner ini pun tak langsung dilirik masyarakat. Apalagi letaknya di dalam gang. Namun seringnya menjadi tempat tongkrongan anak sekolah, keberadaan menu ayam geprek ini pun tersebar dari mulut ke mulut di awal 2018.

“Awalnya memang sepi banget. Karena dalam gang, yang beli hanya para tetangga. Kemudian dibuat ramai sama anak sekolah, sering nongkrong di sini pas pulangan. Pas malamnya, mereka bawa orang tuanya makan ke sini, coba ayam geprek. Nah dari orang tuanya, bawa lagi teman-temannya ke sini. Akhirnya menyebarnya dari mulut ke mulut,” bebernya.

Agar ayam geprek tetap breada di hati masyarakat, inovasi hidangan menu ini terus berkembang. Penamaannya pun unik. Misalnya ayam kecebur, yang khas dengan saus racikan dari rumah makan ini.

“Tapi orang tetap suka sama ayam geprek original, yang hanya pakai sambal korek. Kalau pakai keju atau mozzarella, paling anak-anak atau yang mau coba-coba. Kami juga ada menu baru, ayam geprek kecebur itu disiram dengan saus racikan,” katanya.

Nah, ayam geprek ini identik dengan cabai rawit segar yang digeprek bersama bawang putih dan daging ayam goreng tepung. Menggunakan cabai rawit lokal, cita rasa pedasnya pun tidak main-main. Di 2018 lalu, pemecah rekor pelanggannya menggunakan cabai sebanyak 113 buah.

“Cabai lokal itu memang rasa pedasnya lebih terasa dibandingkan sama yang dari luar. Makanya kalau digeprek dua saja, itu pedasnya sudah terasa. Banyak yang coba-coba dulu, awalnya dua buah cabai, kalau datang lagi coba tiga buah cabai lagi,” jelasnya.

Bagaimana pula dengan daging ayam yang digunakan? Ia mengaku setiap hari supplier mendatangkan daging ayam segar ke rumah produksinya ini. “Kalau stok ayam, kami ada langganan yang datang setiap hari. Jadi setiap hari ada daging ayam segar yang masuk, sesuai dengan kebutuhan kami karena setiap hari naik dan turun,” bebernya.

Banyaknya peminat ayam geprek, dari usahanya ini pun sudah memperkerjakan tujuh orang karyawan. Namun yang terpenting adalah tetap menjaga kualitas menu yang dihidangkan.

“Kalau omzet, alhamdulillahmodal sudah kembali. Kami juga sambil renovasi tempat supaya lebih luas. Penjualan itu tidak selalu meningkat. Ada kalanya sepi, kadang juga ramai. Tapi tetap jaga kualitas. Jangan sampai hanya mengejar kuantitas, tapi kualitas menurun,” katanya.

Nah, berbeda pula dengan Java Fried Chicken. Khasnya ayam geprek di rumah makan ini identik dengan tambahan sausnya yang diulek bersama bawang putih goreng dan cabai rawit yang sudah digoreng.

“Khas ayam geprek Java ini, kami pakai sambal saus dan cabai rawit. Sausnya pun lain daripada yang lain,” terang Renny selaku ownerJava Fried Chicken.

Lantas mengapa ia lebih tertarik dengan kuliner ayam geprek dibanding menawarkan makanan khas Kota Tarakan? Dari sudut pandangnya, warga Tarakan lebih menyukai sesuatu yang viral, tren dan disukai banyak orang. Rasa penasaran masyarakat lebih tinggi dan ingin mencoba sesuatu yang baru. Apalagi masyarakat lebih menyukai sensasi makanan pedas.

“Karena orang di Tarakan suka yang pedas-pedas dan tren,” lanjutnya.

Meski mulai membuka bisnis kuliner sejak 2018, tetapi penikmat ayam geprek tak pernah surut. Hingga sekarang ini pun ia mempekerjakan 15 orang karyawan. Dari bisnis kuliner ayam geprek ini, ia justru membuka empat cabang usaha.

“Selain di Selumit (Jalan Yos Sudarso), cabang ada di Jalan Aki Balak, daerah Juata Korpri dan Juata Laut. Insyaallah kami mau buka lagi di Gunung Lingkas. Dari dulu kami tetap jual ayam geprek original. Alhamdulillahsampai sekarang respons masyarakat masih bagus, banyak peminat meski sudah banyak yang jual ayam geprek,” jelasnya.

Nah, salah seorang pecinta kuliner, Devi (27) mengatakan, cita rasa ayam geprek ini sangat khas dengan ulekan cabai rawit dan bawang putihnya. Ayam yang digoreng dengan adonan tepung, gurihnya lebih terasa meski hanya dipadukan dengan ulekan cabai dan bawang putih mentah. Sensasi pedasnya pun lebih terasa.

“Siapa sih yang enggak suka ayam goreng? Ayam geprek kan sebenarnya ayam goreng tepung, yang sudah kita makan sejak masih kecil dulu. Tapi yang buat dia berbeda dari ayam goreng biasanya, itu cabai utuh yang kita pilih maunya pakai berapa. Kemudian ayam gorengnya dipukul-pukul sampai hancur. Terbayangkan pedasnya bagaimana, karena langsung bersentuhan dengan cabainya, enggak ada tambahan apa-apa kecuali bawang putih,” bebernya.

Tak hanya itu, komposisinya pun lebih terasa ringan dan tidak enek. Berbeda pula dengan hidangan berat lainnya. Disamping itu, warga Tarakan pun lebih menyukai hidangan yang harganya terjangkau, tetapi rasa menunya berkualitas.

“Dia kan hancur dan pedasnya itu terasa banget. Jadi makannya lebih enak. Karena orang Tarakan sukanya yang murah, jadi lebih senang dengan menu-menu yang banyak orang suka. Beda lagi dengan makanan lainnya, seperti khas Tarakan kan menu seafood. Karena lebih banyak perantauan, yang benar-benar menu khas dari kota ini enggak terlalu spesifik. Kalau di daerah lain, ada teknik masaknya yang unik. Misalnya masak dengan pasir putih yang dipanaskan. Kalau seafood di sini, proses memasaknya hampir sama pada umumnya,” tutupnya.

 

CABAI BERLEBIH PICU DIARE

Jika Anda penggemar menu ayam geprek, ada baiknya jika Anda memperhatikan kesehatan yang terkandung dalam makanan. Sebab jika dikonsumsi secara paksa, ayam geprek dapat membuat lambung menjadi mulas hingga terkena diare.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat pada Dinas Kesehatan (Dinkes) Tarakan, dr. Devi Ika Indriyati menjelaskan bahwa pada dasarnya setiap manusia memiliki tingkat metabolisme tubuh yang berbeda. Sebab adanya seseorang yang mampu mengonsumsi makanan pedas, namun ada pula yang tidak.

“Jadi kalau ada yang tidak cocok makan makanan pedas ya pasti kena diare. Tapi ada juga orang yang tahan makan pedas, ada baiknya jika mengonsumsi makanan sesuai dengan kemampuan tubuh. Kalau sampai diare kan susah juga,” bebernya.

Tak hanya jumlah cabai yang diwaspadai, namun penggunaan minyak goreng pun menjadi penting untuk diperhatikan. Sebab, minyak goreng yang aman dan baik untuk dikonsumsi merupakan minyak goreng yang baru digunakan dua kali.

Melalui hal tersebut, Devi menjelaskan bahwa setiap masyarakat hendaknya menggunakan minyak goreng secukupnya agar minyak goreng tersebut tidak dibuang percuma. Perlu diketahui, penggunaan minyak goreng lebih dari tiga kali dapat mengganggu kesehatan manusia, sebab memiliki lemak jenuh yang lebih banyak sehingga meningkatkan kadar kolestrol hingga memunculkan penyakit seperti jantung, hipertensi atau tekanan darah tinggi, stroke dan sebagainya.

“Jadi lebih baik mencegah daripada mengobati. Ada baiknya penggunaan minyak goreng juga diperhatikan. Karena segala hal yang dikonsumsi memiliki sisi positif dan negatif masing-masing,” pungkasnya. (*/one/shy/lim)

 

 


BACA JUGA

Jumat, 20 September 2019 09:33

BREAKING NEWS! Pipa Gas Bocor Keluar Api

TARAKAN - Warga sekitar RT 1 Kelurahan Gunung Lingkas dihebohkan,…

Jumat, 20 September 2019 09:29

45 Titik Panas Terpantau

KEBAKARAN hutan dan lahan (karhutla) beberapa hari belakangan berdampak pada…

Jumat, 20 September 2019 09:20

Langkah Andi Akbar Tergantung Mertua

TARAKAN – Kader Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) dari Nunukan,…

Jumat, 20 September 2019 09:10

Gadai Sertifikat Tanah demi Pra PON

TARAKAN – Cabang olahraga panahan Kalimantan Utara (Kaltara) tertatih-tatih mengikutsertakan…

Jumat, 20 September 2019 08:58

Peserta per Kecamatan Dibatasi 260 Orang

TARAKAN – Babak penyisihan Lomba Domino Piala Irianto di Kecamatan…

Jumat, 20 September 2019 08:58

Harmoni Legislatif dan Eksekutif Kunci Sukses Kaltara

Nama                : Achmad…

Jumat, 20 September 2019 08:46
Aktif bermain tapi tidak disangka-sangka, di balik pakaian bocah yang bernama Juan, anak dari pasangan Try Wahyuni dan Petrus Seber ini terdapat luka sayatan bekas operasi beberapa bulan lalu.

Tiga Bulan Lagi Dioperasi, Berharap Bantuan Pemerintah

SUNGGUH teriris hati ini ketika melihat anak yang masih berusia…

Kamis, 19 September 2019 10:17

‘Telan’ Rp 100 M, Tengkayu I Baru Rampung Sisi Laut

TANJUNG SELOR – Pembangunan fasilitas transportasi laut di Kalimantan Utara…

Kamis, 19 September 2019 09:50

SABAR AJA...!! Di Sini Belum Ada Tanda-Tanda Hujan

TARAKAN - Kekeringan yang melanda Bumi Paguntaka akibat tidak diguyur…

Kamis, 19 September 2019 09:25

Undunsyah Optimistis Membangun Koalisi Parpol

TANA TIDUNG - Bupati Tana Tidung Dr. H. Undunsyah, M.Si,…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*