MANAGED BY:
SENIN
19 AGUSTUS
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Senin, 01 Juli 2019 13:10
Lebih Dekat dengan Ramadi, Manusia Tertinggi Asal Berau
Sering Di-bully, Pilih Putus Sekolah dan Bekerja
MANUSIA TINGGI: Memiliki tinggi mencapai 220 centimeter, Ramadi viral di sosmed. PIJAI PASARIJA/RADAR KALTARA

PROKAL.CO, Ramadi, anak petani asal Berau, Kalimantan Timur (Kaltim) beberapa hari terakhir viral di media sosial (medsos) di Tanjung Selor. Pasalnya, pria asal Desa Tanjung Perangat, Kecamatan Sambaliung itu memiliki tinggi badan berbeda dengan manusia kebanyakan. Bahkan diklaim sebagai manusia tertinggi di Kaltim dan Kaltara (Kaltimtara).

PIJAI PASARIJA

TIDAK hanya masyarakat, pewarta media ini pun ingin tahu kondisi sebenarnya. Sekira pukul 08.00 WITA, pewarta mengatur janji dengan Haen Hasan, pria asal Bulungan yang membawa Adi, sapaan akrab-Ramadi ke Tanjung Selor.

Akhirnya, pewarta diberi waktu bertemu Adi sekitar pukul 08.30 WITA di salah satu rumah warga di Jalan Binjai Tanjung Selor. Yakni, rumah milik Damrin, pegawai Dinas Kesehatan Kabupaten Bulungan.

Tanpa membuang waktu, pewarta pun langsung mendatangi kediaman Adi. Sekira pukul 09.00 WITA, pewarta tiba di rumah permanen biru tersebut dengan kondisi pintu terbuka. Dari luar rumah, terlihat seorang pria yang tengah berbaring di atas lantai keramik sembari menikmati acara televisi.

Namun, saat itu pewarta belum mengetahui pria yang tengah berbaring itu merupakan sosok yang selama ini viral. Setelah masuk ke dalam rumah, tubuh jangkung pun terlihat saat ia duduk untuk menyapa pewarta.

Setelah dipersilakan masuk oleh pemilik rumah, pewarta pun berbincang-bincang dengan Adi dan pemilik rumah serta Haen Hasan yang pada saat bersamaan juga baru tiba karena letak rumahnya yang berada di Kilometer (Km) 9, Tanjung Selor.

Namun sebelum memulai perbincangan dengan Adi, Haen Hasan mengingatkan agar lebih dekat dengan Adi jika ingin berbicara dengannya. Karena diakui saat berbicara suaranya tidak begitu jelas, sehingga harus didengar dengan cermat.

Setelah penjelasan tersebut, akhirnya pewarta memulai bincang-bincang dengan pria kelahiran Sumatera Utara, 31 Januari 1997.

Anak dari pasangan Tongat (50) dan Hotmafina Pangabean (50) ini pun mengawali ceritanya tentang cerita dari orang tua, yang menyebutkan salah seorang tokoh agama di tempat lahirnya pernah mengatakan kalau dirinya akan tumbuh besar dan berbeda dengan anak pada umumnya. Saat itu umur Adi masih 2 bulan.

“Waktu di Sumatera Utara (Sumut), bapak saya pernah cerita ke saya, saat saya berusia dua bulan ada orang tua yang  memberi tahu kalau saya akan berbeda dengan anak lainya,” ucap anak kedua dari lima saudara ini.

Cerita itu pun terbukti, pasca dikhitan pada saat menginjak usia 12 tahun, pertumbuhannya cukup drastis. Bahkan ketika di usai SMP, tinggi badannya sudah mencapai 180 cm. Dengan ukuran baju, XXXXL. Alhasil, dengan pertumbuhan yang begitu cepat ia pun kesulitan menggunakan sepatu sekolah. “Kelas 2 SMP ukuran sepatu kaki saya sudah 44,” ujarnya.

Untuk tetap bisa bersekolah ia pun melipat sepatu sekolahnya, namun cara yang dilakukan pria yang sehari-hari bertani itu kerap di-bully oleh teman-temanya. Karena sudah telalu sering di-bully, ia pun melaporkan hal itu kepada kedua orang tuanya.

“Bapak minta saya untuk berhenti bersekolah dan mencari pekerjaan,” ucapnya.

Setelah berhenti sekolah, ia pun masuk ke hutan untuk bekerja kayu, tidak berlangsung lama ia pun berhenti dan bekerja di perkebunan sawit. “Selama saya bekerja guru saya selalu datang ke rumah, tapi karena saya sudah tidak tahan di-bully sampai sekarang saya tidak bisa menyelesaikan pendidikan SMP,” ucapnya dengan wajah yang penuh penyesalan.

Kini di usia yang ke-22 tahun dengan tinggi mencapai 220 centimeter dan berat badan 125 kg, ia mengaku kesulitan untuk beraktivitas sehari-hari. Bahkan untuk buang air besar hingga tidur pun ia merasa kesulitan. Meski memiliki tubuh jangkung, ia mengaku kalau porsi makannya tidak ada yang berbeda dengan anak seusianya. “Saya makan biasa saja tidak ada porsi yang banyak,” tutupnya.

Selain soal makan, fasilitas lainnya pun tak ada yang berbeda dengan saudara-saudaranya yang lain, seperti tempat tidur. Kini Adi banyak menghabiskan waktunya membantu orang tua berkebun sayur, karet, sawit dan beternak sapi.

Perlu diketahui, tinggi badan Adi tidak ada yang menyamai di keluarganya, baik itu kedua orang tua maupun saudara-saudaranya. Bahkan, tinggi ayahnya hanya 155 centimeter, begitu juga dengan ibunya hanya 149 centimeter.

Hanya Ingin Diviralkan

Menyikapi beragam komentar pedas di sosial media (sosmed), perihal eksploitasi Ramadi, manusia tertinggi asal Berau, Kaltim, dibantah Haen Hasan, pria yang membawa Adi ke Tanjung Selor.

Komentar pedas tersebut berawal dari salah akun instagram yang mem-posting keberadaan Adi dalam acara pasar malam di Lapangan Agatis Tanjung Selor malam kemarin. Akun tersebut menjelaskan, dari informasi yang didapat dari seseorang yang berfoto dengan Rahmadi, ditarik biaya Rp 10 ribu untuk sekali foto.

Menurut Haen, yang bekerja di Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Bulungan, komentar di sosmed tidak sesuai fakta yang terjadi. Kejadian itu bermula saat dirinya bersama Ramadi (22), jalan-jalan ke Lapangan Agatis. “Di agatis kan ada acara, jadi saya bawa dia jalan-jalan,” ungkap Haen kepada Radar Kaltara.

Karena memiliki keunikan tubuh tinggi di atas manusia umumnya, banyak dari masyarakat yang ingin berswafoto dan ada yang memberikan uang seikhlasnya. Kejadian itu direkam masyarakat. “Video itu viral, yang tidak enaknya lagi ada komentar kalau ingin  berswafoto dengan Ramadi harus bayar, padahal itu tidak betul,” tegasnya.

Sebenarnya, Ramadi dibawa ke Tanjung Selor itu untuk diviralkan, dengan harapan Ramadi dapat dikenal banyak orang dan viral. “Ramadi ini kan unik, jarang sekali ada orang tinggi,” bebernya.

Selama di Tanjung Selor, jelas Hasan, banyak pejabat yang ingin mengundang Ramadi untuk bertemu, bahkan Haen pun berencana membawa Ramadi untuk bertemu dengan Bupati Bulungan. “Saya sudah sampaikan ke Bapak Bupati, mudahan beliau ada waktu dalam waktu dekat ini,” bebernya.

Karena jika tidak ada kendala, Selasa (2/7), Ramadi akan kembali ke Kabupaten Berau, karena dari Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Berau akan membawa Ramadi untuk menjalani pengobatan. “Lutut Ramadi ini mengalami pengapuran persendian,” ujarnya.

Selain akan menjalani pengobatan, dalam waktu dekat ini Ramadi juga akan mengikuti pelatihan pertanian. “Insyaallah Selasa (2/7) pagi, Ramadi sudah kita antar pulang ke Berau,” pungkasnya. (***/eza)


BACA JUGA

Rabu, 02 September 2015 10:17

Lagi, Warga Belakang BRI Diciduk

<p><strong>&nbsp;TARAKAN &ndash;</strong> Beberapa kali lolos dari incaran…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*