MANAGED BY:
JUMAT
20 SEPTEMBER
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | KRIMINAL

RADAR KALTARA

Rabu, 19 Juni 2019 11:13
Ini Cerita-Cerita di Balik Kebakaran di RT 15 Juata Laut

Uang Arisan Rp 8 Juta Ikut Dilalap si Jago Merah

DIHINGGAPI KESEDIHAN: Sejarah (61), salah satu korban kebakaran yang terjadi di RT 15, Kelurahan Juata Laut, Kecamatan Tarakan Utara./YEDIDAH PAKONDO/RADAR TARAKAN

PROKAL.CO, Kisah pilu dialami ratusan korban kebakaran di Juata Laut, Senin (17/6) malam. Di antara mereka yang menderita kerugian materil. Di antara mereka, ada yang bahkan harus kehilangan seluruh harta bendanya. Seperti Sejarah (61).

YEDIDAH PAKONDO 

KESEDIHAN jelas dari raut wajah Sejarah (61). Cucuran keringat, pandangan yang kosong, bibirnya yang bertutur pun terlihat lemah. Dengan langkah lunglai tanpa menggunakan alas kaki, Sejarah terus melangkah. Batu-batuan yang tajam, membuat Sejarah melangkah sedikit lebih cepat dari biasanya. Rupanya, tujuan Sejarah adalah duduk di dekat masjid dengan harapan bisa mendapatkan bantuan makanan, sejak pagi kemarin.

Wanita paruh baya ini merupakan penjual kue keliling yang tinggal di kawasan RT 15 Kelurahan Juata Laut, Kecamatan Tarakan Utara. Pekerjaannya itu ia geluti lantaran sang suami yang menderita penyakit asam urat. Sudah tak mampu lagi bekerja untuk menghidupi kebutuhan rumah tangga. Belum lagi putri dan dua orang cucunya yang masih tinggal satu rumah dengannya. Juga menjadi tanggungan Sejarah.

“Sudah satu tahun saya menjual kue basah keliling, kayak donat dan kue singkong,” cerita Sejarah.

Dulu, setiap pagi Sejarah harus bangun lebih awal, bahkan sebelum ayam berkokok. Sejarah membuat kue basah di pagi hari. Pelanggannya pasti enggan membeli jika jajanan itu dijual dalam keadaan sudah dingin.

Selesai membuat olahan kue, Sejarah pun meletakkan kue dagangannya tepat d iatas kepalanya. Kemudian melangkah dari rumah ke rumah dengan harapan semuanya habis terjual.

Ada kalanya tidak habis, sehingga terpaksa dibawa pulang. Untungnya, Sejarah masih memiliki dua orang cucu yang setia menghabiskan dagangan kue Sejarah apabila kue dagangannya tidak habis terjual.

“Dulu kalau saya jualan kue, teriak kue-kue. Jadi kalau ada yang mau beli, pasti langsung teriak atau tepuk tangan biar saya dengar,” tuturnya.

Sebenarnya, Sejarah bukan berasal dari Kota Tarakan. Ia bekas tenaga kerja Indonesia (TKI) di Malaysia. Bekerja di perusahaan triplek, memang merupakan pekerjaan pokok Sejarah waktu itu. Namun, karena paspor miliknya yang sudah kedaluwarsa, Sejarah harus kembali ke Indonesia dan memilih Kota Tarakan sebagai persinggahan. “Sudah 15 tahun saya di Malaysia, tapi karena paspor mati, jadi terdampar di Tarakan,” tuturnya.

Kini, selain bekerja sebagai penjual kue keliling, Sejarah juga dibantu oleh putrinya yang bekerja di salah satu perusahaan udang di Kelurahan Juata Laut yang tidak jauh dari rumahnya.

Sejarah menyebut rumahnya sebagai pondok. Meski tak megah, namun memiliki kenangan yang begitu berarti. Wajar, setiap manusia yang dilahirkan membutuhkan tempat untuk bernaung dari sengat matahari dan dinginnya hujan. Apalagi, jika tempat tersebut didirikan atas perjuangan keras bertahun-tahun lamanya.

Namun siapa yang dapat melawan kehendak Sang Khalik? Dalam satu semburan saja, mampu meluluhlantakkan rumahnya. Nasib nahas ini bermula ketika Sejarah sedang beristirahat di dalam pondok dan menonton serial drama kegemarannya yang tayang di televisi. Malam itu merupakan waktu istirahat bagi Sejarah setelah lelah berkeliling menjajakan dagangannya. Tak sendiri, Sejarah bersama dengan cucu dan keponakannya yang juga berada di dalam pondok Sejarah.

Terbawa dalam suasana sinetron, membuat Sejarah tidak sadar akan panasnya kobaran api yang sedikit lagi menimpa pondok miliknya. Nasib baik sedikit dialami Sejarah, lantaran adanya teriakan suara dari arah seberang rumahnya yang menyatakan adanya kebakaran.

“Api, api, mereka teriak begitu baru saya dengar,” tangis Sejarah pecah dihadapan Radar Tarakan.

Tak berpikir lama, Sejarah langsung berteriak ke dalam rumah dan meminta keponakannya untuk menggendong kedua cucunya. Usia Sejarah sudah tidak muda, Sejarah mampu walau hanya sekadar menggendong cucu. “Untungnya ada kemanakan (keponakan) saya di rumah, jadi dia yang gendong cucu, saya keluar dari rumah. Sempat lagi dia mau selamatkan ayamnya, tapi saya bilang biar saja sudah. Nyawa lebih penting,” ucapnya.

Angin yang kencang di sekitaran pantai, membuat api menjadi buas, hingga menenggelamkan seluruh harta milik Sejarah. Tangis Sejarah pun pecah, karena tak kuasa melihat bangunan rumahnya kini habis dilalap si jago merah. Bukan harta yang ia sayangkan, namun perjuangan dirinyalah yang dinilainya sia-sia.

Lama menangis, akhirnya Sejarah teringat tentang adanya uang arisan senilai Rp 8 juta yang berada di dalam lemari miliknya. Uang arisan tersebut rencananya akan digunakan Sejarah untuk menambah modal jualan kue basah miliknya. Namun kebahagiaan yang singkat itu, lenyap ketika uang arisannya raib ditelan si jago merah.

“Saya baru dapat arisan Rp 8 juta. Saya simpan di dalam lemari, eh dimakan api. Padahal masih ada 10 orang lagi di belakang saya,” ungkap Sejarah.

Pasca kebakaran tersebut, Sejarah mendapatkan tawaran menginap dari keponakannya yang tinggal tak jauh dari kediaman rumahnya. Namun, Sejarah ingat bahwa dirinya masih memiliki satu orang anak yang tinggal sedikit lebih jauh dari kediaman rumahnya, sehingga membuat Sejarah memilih untuk tinggal di rumah sang anak.

Hujan deras yang terjadi pada malam hari di Juata Laut, seakan-akan merupakan tangisan dari masyarakat Juata Laut yang tidak dapat tidur dengan nyaman di malam itu. Namun, beruntung Sejarah masih dapat tidur dengan layak di rumah anaknya saat hujan deras itu terjadi. Akan tetapi, hingga Selasa pagi kemarin, Sejarah belum juga mengganti baju miliknya, karena segala pakaian milik Sejarah habis dilalap api.

“Tidak ada yang mampu kami selamatkan. Nyawa lebih penting, jadi sampai sekarang saya masih pakai baju yang saya kenakan tadi malam,” bebernya.

Hingga kini, Sejarah berharap adanya uluran tangan dari masyarakat dan pemerintah. Hanya, stok pakaianlah yang masih dibutuhkan hingga saat ini. “Yang kami butuhkan pakaian saja, makanan alhamdulillahada dari bantuan-bantuan yang datang, tapi pakaian saja yang kurang. Saya berharap bisa membangun rumah lagi,” harapnya. (***/lim)

 

loading...

BACA JUGA

Kamis, 19 September 2019 10:17

‘Telan’ Rp 100 M, Tengkayu I Baru Rampung Sisi Laut

TANJUNG SELOR – Pembangunan fasilitas transportasi laut di Kalimantan Utara…

Kamis, 19 September 2019 09:50

SABAR AJA...!! Di Sini Belum Ada Tanda-Tanda Hujan

TARAKAN - Kekeringan yang melanda Bumi Paguntaka akibat tidak diguyur…

Kamis, 19 September 2019 09:25

Undunsyah Optimistis Membangun Koalisi Parpol

TANA TIDUNG - Bupati Tana Tidung Dr. H. Undunsyah, M.Si,…

Kamis, 19 September 2019 09:13

Terdakwa Mati Kasus Sabu 10 Kg Ajukan Banding, Memori Banding Sudah di PT Kaltim

TARAKAN - Usai divonis hukuman mati oleh Majelis Hakim Pengadilan…

Kamis, 19 September 2019 09:04

Budayakan Hidup Sehat, Kodim 0907 Bangun MCK untuk Warga

TARAKAN – Keberadaan fasilitas  mandi, cuci, kakus (MCK) yang layak…

Kamis, 19 September 2019 09:02

“Jangan Sampai Terjadi Ketidakseimbangan antara Perkotaan dan Pelosok”

Nama                : Syamsuddin…

Kamis, 19 September 2019 09:01

“Jangan Sampai Terjadi Ketidakseimbangan antara Perkotaan dan Pelosok”

Nama                : Syamsuddin…

Kamis, 19 September 2019 08:55

“Pelayanan Kuncinya Komunikasi yang Santun”

PERNAH merasa tak puas dengan pelayanan oleh instansi pemerintah atau…

Rabu, 18 September 2019 09:23

Deg-degan Setiap Kali Muncul Kabar Ada yang Meninggal

RATUSAN masyarakat tumpah-ruah memenuhi Masjid Baitul Izzah menyambut kedatangan sanak-saudara…

Rabu, 18 September 2019 09:03

Di Balik Kabut Asap, Diduga Ulah Perusahaan

MASYARAKAT Nunukan, mulai tidak tenang dengan kabut asap yang terjadi…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*