MANAGED BY:
RABU
13 NOVEMBER
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | KRIMINAL

RADAR KALTARA

Selasa, 04 Juni 2019 11:41
Oknum Jual Ayam di Atas Rp 45 Ribu
DIPANTAU SATGAS: Petugas memegang sebuah papan berisi keterangan harga pada lapak salah satu pedagang ayam di Pasar Gusher, Tarakan, kemarin (3/6). JOHANNY SILITONGA/RADAR TARAKAN

PROKAL.CO, TARAKAN- Meski telah disepakati dan dikendalikan pemerintah, harga daging ayam tertinggi Rp 45 ribu per kilogram, di lapangan masih saja ditemui oknum pedagang nakal. Hal itu ditemui saat inspeksi mendadak di Pasar Gusher, Tarakan.

Berdasarkan pengamatan Radar Tarakan saat mengikuti sidak bersama Dinas Perdagangan, Usaha Kecil dan Menengah (Disdagkop-UKM) Kaltara, Satgas Pangan dan Polda Kaltara, ditemukan seorang oknum pedagang nakal. Bahkan mengusir petugas yang melakukan pemantauan harga.

Oknum pedagang ayam tersebut menyatakan bahwa ayam ukuran kecil dan besar memiliki potensi keuntungan yang berbeda. Ayam dengan ukuran kecil kurang diminati konsumen. “Dengar saya dulu! Waktu banjir ayam, beragam orang jual ayam. Sedangkan agen, beda-beda harganya. Waktu itu saya jual Rp 38 ribu bersih, kalau begini sudah ayam kecil lagi. Kalau bapak (petugas) mengatur-atur seenaknya. Kemarin datang (sidak) itu, kondisi barang tidak sama dengan sekarang,” tutur pedagang yang diinspeksi.

Saat petugas menyampaikan jika harga harus seragam, oleh pedagang dijawab keinginan itu harusnya dilakukan sejak awal, dan bukan saat mendekati hari H Lebaran.

“Kami bukan naikkan sewenang-wenang. Semua bisa bilang Rp 45 ribu, tapi belum tentu hatinya. Sekarang kalau saya jual Rp 45 ribu, makan apa saya pak? Sudahlah, minggirlah sana. Saya mau jualan, seenaknya mau patok harga, kecuali barangnya situ yang kasih. Jangan ganggu-ganggu, kami cari makan,” katanya.

Kepada Radar Tarakan, Kepala Bidang (Kabid) Perdagangan Disdagkop-UKM Kaltara Hasriyani mengatakan bahwa sejak Minggu, pihaknya telah melakukan sidak di pasar dan diterima pernyataan dari peternak jika daging ayam yang dijual ke pedagang eceran tidak lebih Rp 29 ribu per kilogram. Untuk itu, pihaknya menyepakati harga ayam tertinggi Rp 45 ribu per kilogram.

“Logikanya begini, ayam dari inti (peternak) ke pedagang itu Rp 29 ribu, terus dijual oleh pedagang Rp 42 ribu per kilogram. Tapi kenapa dinaikkan harga sampai Rp 50 ribu? Kemarin kan pas kami turun, kami sudah menyampaikan ke pedagang dan sudah ada beberapa pedagang yang komitmen untuk menjual harga tertinggi Rp 45 ribu per kilogram,” jelasnya.

Kendati demikian, harga ayam yang sempat naik Rp 50 ribu, turun menjadi Rp 45 ribu per kilogram setelah dilakukan sidak oleh Disdagkop-UKM. Tak hanya memberikan pemahaman kepada pedagang, namun Disdagkop-UKM juga memberikan pemahaman kepada pihak konsumen.

Jika menemukan oknum pedagang yang menjual harga ayam di atas Rp 45 ribu, maka akan mendapat tindakan dari Satgas Pangan. Hasriyani mengatakan bahwa dalam hal ini peternak pun harus bersama-sama pemerintah mendukung aturan harga ayam. “Kami menginginkan agar peternak bisa berbarengan dengan kami dan bisa menyampaikan kepada pedagang, ketika tidak mau mengikuti apa yang menjadi ketetapan dan kesepakatan pemerintah dengan harga Rp 45 ribu, maka inti tidak boleh memberikan ayam. Peternak hanya kita bolehkan mendistribusikan barang ke pedagang yang mengikuti kesepakatan,” jelasnya.

“Sampai sekarang inti memberikan harga Rp 29 ribu, jadi tidak ada alasan bagi pedagang menaikkan harga di atas Rp 45 ribu. Sedangkan Rp 42 ribu saja bisa dan ada untung. Kalau sudah dinaikkan Rp 50 ribu, bisa saja besok sudah tembus Rp 60 ribu,” ucapnya.

Sementara itu, disinggung terkait harga sejumlah komoditas yang turut naik, dikatakan Hasriyani, pihaknya belum memantau lebih jauh. Pihaknya hanya fokus dalam pengawasan terhadap daging ayam.

 

ADA YANG JUAL RP 50 RIBU

Radar Tarakan turut memantau komoditas sembilan bahan pokok lainnya. Di dua pasar, Pasar Tenguyun dan Pasar Gusher sejumlah komoditas mulai menunjukan kenaikan harga. Meski menuai keluhan, kenaikan tersebut dianggap wajar. 

Seperti pada harga telur ayam, bawang putih, bawang merah, ayam kampung dan daging ayam dan sapi yang mengalami kenaikan sekitar Rp 5-15 ribu.

Salah seorang pembeli, Titin Ayu (48) merasa naiknya sejumlah harga komoditas cukup membebani. Menurutnya, saat ini stok pangan dirasa aman saja. Sehingga kenaikan tidak harus terjadi meski permintaan kebutuhan meningkat.

"Beratlah, walaupun naiknya Rp 5 ribu, Rp 5 atau 10 ribu itu besar loh apalagi kalau belinya dengan banyak jenis. Seperti harga ayam contohnya yang awalnya cuma Rp 35 ribu sekarang jadi Rp 50 ribu, bawang putih Rp 25 ribu sekarang jadi 35. Padahal tahun ini berita kemarin stok ayam aman. Seharusnya kalau aman kan harganya tidak naik," ujarnya, kemarin (3/6).

Sementara itu, diketahui harga daging sapi juga mengalami kenaikan. Dari harga Rp 85 ribu kini menjadi Rp 90 ribu. Meski mengalami kenaikan yang tidak signifikan, namun kenaikan tersebut cukup dikeluhkan masyarakat.

Fadli (30) seorang pedagang daging sapi menerangkan, sebenarnya harga daging sapi sudah mengalami kenaikan sebesar Rp 5 ribu rupiah sebelum memasuki bulan suci Ramadan. Hal itu disebabkan naiknya biaya pemotongan. Pedagang mau tidak mau menaikkan harga. 

"Sekilonya kena Rp 90 ribu. Bukan naik, ini sebenarnya sebelum bulan puasa sudah Rp 90 ribu. Karena di pemotongan ada kenaikan ongkos potong. Jadi kami pedagang juga menaikkan sedikit harganya. Kalau kita tidak naikkan tidak ada untung kami kasihan," tuturnya.

Harga ayam kampung mengalami kenaikan yang signifikan sebesar Rp 25 ribu sekilo. Seorang pedagang ayam kampung, Waldy (32) mengungkapkan, kenaikan harga ayam kampung disebabkan tingginya permintaan konsumen yang tidak diimbangi stok. "Ada sedikit kenaikan. Ini karena stoknya kurang. Biasanya kami kan belinya sama peternak ayam kampung. Tapi sekarang peternak berkurang jadi stok ayam berkurang. Karena tingginya permintaan akhirnya naiklah harga ayam ini sedikit," pungkasnya tanpa beban.(shy/*/zac/lim)


BACA JUGA

Selasa, 12 November 2019 14:16

Tarif Jasa Pengiriman Perlu Diatur

TARAKAN - Sistem baru dalam aktivitas pengiriman barang pada Pelabuhan…

Selasa, 12 November 2019 13:59

Kenaikan Hanya Berdampak pada Warga Mampu

TARAKAN - Kenaikan iuran Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan…

Selasa, 12 November 2019 10:50

APBD Tarakan Tahun 2020 Diprediksi Rp 1 Triliun

TARAKAN - Pembahasan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) 2020…

Senin, 11 November 2019 11:57

Ditinggal Berbelanja, Rumah Terbakar

TARAKAN - Kebakaran menimpa dua rumah dan satu gudang yang…

Sabtu, 09 November 2019 09:58

Ular 8 Meter Bolak-balik Masuk Pasar

TARAKAN – Beberapa warga berlarian meninggalkan kiosnya di bagian Selatan…

Sabtu, 09 November 2019 09:56

Jusuf SK: Dukungan Nasdem Belum Tentu

MESKI tercatat sebagai kader Partai Nasional Demokrat (Nasdem), dr. H.…

Sabtu, 09 November 2019 09:53

Meski Sembuh, Penyakit Mizyan Bisa Kambuh

TARAKAN – Bayi yang diketahui bernama Mizyan Haziq Abdillah, sebelumnya…

Sabtu, 09 November 2019 09:49

Anak SD Jadi Korban Badai

BELAKANGAN ini pelanggan PT PLN (Persero) Unit Pelaksana Pelayanan Pelanggan…

Sabtu, 09 November 2019 09:45

Dari Penghargaan hingga Pembicara di Kampus Terkenal

Walaupun umurnya sudah jelang 67 tahun, tidak menyurutkan semangat H.…

Jumat, 08 November 2019 14:49

Menunggak Setahun, 1.800-an SR Diputus PGN

TARAKAN - Saat ini, jaringan gas (jargas) terpasang pada 15…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*