MANAGED BY:
KAMIS
29 SEPTEMBER
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | KRIMINAL

RADAR KALTARA

Jumat, 31 Mei 2019 11:15
“Yakomina Ingin Pulang, Butuh Rp 200-an Juta”
MASIH BERJUANG: Yakomina mahasiswa asal Nunukan, menderita sakit parah di Tiongkok dan membutuhkan uang tidak kurang Rp 200-an juta. AZROY UNTUK RADAR TARAKAN

ANAK tenaga kerja Indonesia (TKI) itu masih terbaring di sebuah rumah sakit di Kota Nanjing, ibu kota Provinsi Jiangsu, Tiongkok. Ia baru saja menyelesaikan pendidikannya di Jiangsu Agri Animal Husbandry Vocational College.

Namun, kini kebingungan, bagaimana agar bisa sembuh, dan pulang ke Indonesia. Dia tidak punya uang untuk kembali, bahkan masih berutang di rumah sakit di sana sekira RMB 100 ribu. Jika dikurskan kurang lebih Rp 208 juta. (1 RMB = Rp 2.083,09 per 30 Mei 2019)

Nama lengkapnya Yakomina Boimau, panggilannya Yako. Mahasiswi asal Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara (Kaltara). Pendidikan diploma 3 (D-3) di Tiongkok ditempuh setelah menamatkan diri di Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 2 Nunukan atau dulu dikenal SMA Pancasila.

Ini kali ketiga Yako sakit di Tiongkok. Yako pertama kali menderita sakit di Tiongkok pada 2017 lalu. Pengobatannya dibiayai asuransi di Tiongkok, sejenis BPJS Kesehatan. Menyentuh biaya maksimal yang ditanggung asuransi. Fasilitas itu tak dapat lagi dipakai saat sakit kedua kalinya.

Atas penggalangan dana sejumlah pihak, Januari lalu ia dipulangkan ke orang tuanya, yang menjadi TKI di Sabah, Malaysia. Kedua orang tuanya tidak punya cukup biaya untuk memulangkan anaknya. Ayah Yako yang seorang buruh kelapa sawit sakit-sakitan.

Yako saat itu menderita infeksi pada lambung, usus dan paru-paru. Sakitnya dari Oktober 2018. Kondisinya semakin parah sehingga dipulangkan ke Indonesia. Sebagian biaya ditalangi wali kelasnya, sekira RMB 5.000-an.

Sepulang ke Malaysia. Kondisinya membaik. Setelah itu dia balik lagi ke Tiongkok menyelesaikan kuliahnya. Yako memiliki tekad kuat menuntaskan kuliahnya di luar negeri itu. “Selama di Tiongkok sangat sulit, bahkan belanja sehari-hari kadang dibantu temannya. Kemungkinan karena kesulitan biaya, sehingga terkena penyakit. Apalagi cuaca di Tiongkok tidak seperti di Indonesia. Di sana harus melawan dingin,” tambahnya.

Kini ia sakit lagi, TBC dan pneumonia dengan infeksi paru-paru.

Yako sampai ke Tiongkok difasilitasi beasiswa melalui program Indonesia Tionghoa Culture Center (ITCC) Surabaya. Yang uang kuliah dan tempat tinggalnya gratis. Hanya biaya hidup di Tiongkok yang harus dipikirkannya, seperti makan. Saat diberangkatkan pada 2016, pamannya yang di Nunukan menyanggupi. Kalau hanya untuk makan.

Sukarelawan ITCC di Kaltara M. Gozali mengatakan, penggalangan dana dilakukan untuk membantu Yako. Sejak kabar ini muncul di publik mulai banyak yang ingin memberikan bantuan kepada Yako.

“Sisa mencari biaya pengobatan saja, karena untuk kepulangan sudah ditanggung oleh Bupati Nunukan (Hj. Asmin Laura Hafid),” kata M. Gozali, kemarin (30/5).

Selain itu, Gubernur Kaltara Dr. H. Irianto Lambrie, ikut memberikan bantuan. Bantuan yang telah terkumpul sekira Rp 65 juta. Besar harapan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) Kaltara juga dapat membantu Yako.

Kondisi terakhir Yako mulai membaik, namun masih di rumah sakit. Selang infus sudah dicabut. “Ini diusahakan sebelum 20 Juni harus lunas (utang), karena teman seangkatannya mulai kembali ke Indonesia. Karena telah menyelesaikan kuliahnya. Takutnya tidak ada lagi yang menjaga Yako di Tiongkok,” ujarnya.

Donasi untuk Yako juga dibuka di kitabisa.com, donasi tersebut dibuka oleh seorang mahasiswa di Politeknik Negeri Jember, Vira Ariska Nurul Aini. Ia merupakan sahabat baik dari Yakomina. Ia mengenal Yakomina sejak mengikuti program student exchange dari kampus. Dari kitabisa.com baru terkumpul sebanyak Rp 2.902.841.

Sementara itu Koordinator ITCC Surabaya Andre So mengungkap jika Yako memang memiliki tekad yang kuat, berharap dapat mengubah nasibnya.

Saat dilakukan pendaftaran beasiswa 2016 lalu, Yako dinyatakan sehat. Prosedur itu diwajibkan ITCC kepada semua calon mahasiswa. Selain itu, di Tiongkok, seluruh mahasiswa diwajibkan mengikuti kepesertaan asuransi, sejenis BPJS Kesehatan. “Ada ditanggung, anggaplah seperti BPJS, tapi di Tiongkok, dalam setahun bisa sampai Rp 900 juta. Sekarang ini, asuransi itu sudah habis kuotanya. Sudah dipakai beberapa kali. Di beberapa kota bisa saja angkanya berbeda, karena tiap kota di sana beda-beda. Sekarang posisinya minus Rp 200 jutaan. Dia dalam keadaan mengutang di RS sana,” ungkap Andre.

Selama ini, kata Andre, setiap mahasiswa yang mengajukan izin, atau cuti untuk pulang pasti dibolehkan oleh pihak kampus. Seperti Yako, dibolehkan untuk kembali setelah benar-benar sehat. “Dia dua kali kena. Sakitnya TBC,” lanjut Andre.

ITCC, yayasan yang menjembatani mahasiswa seperti Yako sampai ke Tiongkok sejak awal menyampaikan jika beasiswa tak menanggung biaya hidup di Tiongkok. “Soal kesehatan ada asuransi itu, dibayar di awal, setahun sekali, Rp 800 ribu sampai Rp 1,2 juta, sekitar RMB 400-600. Tapi manfaatnya bisa sampai Rp 900 juta. Seingat saya, Yako sudah beberapa kali masuk RS, beberapa kali sakit cukup parah,” sebutnya.

Menurut Andre, pendidikan Yako tidaklah mahal. Tak lagi menanggung biaya kuliah dan tempat tinggal. Masih jauh lebih mahal jika berkuliah di Indonesia. “Di Indonesia ini kita masih harus bayar kos-kosan, transportasi, dan segala macam,” ulasnya.

Azroy Bahri, rekan Yako kuliah di Tiongkok menjelaskan Yako pada 3 April 2019 meminta kepada teman kelasnya untuk dipulangkan. Atas saran dari wali kelas, sebelum dipulangkan Yako dicek kesehatannya, karena terlihat sangat lemah.

Pada hari itu Yako masuk rumah sakit, dirawat inap selama 3 hari. Pada 6 April 2019 harus dipindahkan ke rumah sakit lain, dilakukan rawat ICU selama 4 hari karena dalam kondisi kritis. “Pada 9 April 2019, Yako dipindahkan lagi ke rumah sakit lain, karena dua rumah sakit tersebut lumayan mahal biaya yang harus dibayar,” ujarnya.

Beberapa pekan lalu Yako tidak diberikan obat, karena tak ada lagi uang. Selama di rumah sakit semua biaya ditanggung pihak sekolah.

Rumah sakit di Tiongkok menerapkan kebijakan pasien yang ingin pulang harus melunasi semua utang yang ada. Yako masih tetap ditahan di rumah sakit karena utang itu.

Kebijakan pemerintah Tiongkok, apabila calon penumpang menderita penyakit menular, maka tidak dizinkan menumpang pesawat. Pihak sekolah kehabisan cara, untuk itu meminta kepada mahasiswa Indonesia di Tiongkok, mencari bantuan ke Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI). “Pihak sekolah tidak lagi mengurus Yakomina dan menyerahkan ke KJRI yang ada di Tiongkok,” tuturnya.

Selama ini yang menjaga Yako adalah teman sekelasnya secara bergilir, pagi dan malam. Namun, dikarenakan bertepatan dengan ujian semester, sidang skripsi, dan persiapan kelulusan. Di antara yang menjaga semakin berkurang.

Untuk itu ia sangat berharap ada bantuan untuk Yako di Tiongkok, bantuan dapat disalurkan melalui WeChatPay (id: @Sherlyastutir) Alipay (13662338705) atas nama Sherly Astuti, atau bisa transfer ke BCA (0070252350) atas nama Dinda Ramadita.

“Semoga uluran tangan kita dapat menolong saudara kita Yakomina di Tiongkok,” harapnya. (nal/lim)

 


BACA JUGA

Kamis, 29 September 2022 11:11

SALAH SASARAN..!! Kejar Penjahat, Peluru Oknum Polisi Malah Kena Warga

Salah seorang warga Perumahan PNS, RT 21, Kelurahan Juata Permai, Tarakan…

Kamis, 29 September 2022 11:07

Soal Komisi Udang, Petambak-Pengepul Ngaku Merugi

Meski harga udang telah disepakati naik, namun hingga saat ini…

Kamis, 29 September 2022 11:05

Menyoal Komisi Harga Udang di Kaltara, Petambak, Suplier dan Pabrik Berbeda Versi

Meski harga udang telah disepakati naik, namun hingga saat ini…

Kamis, 29 September 2022 10:59

Laura Ditanya Netizen Soal Pencalonan Gubernur Kaltara, “Doakan Saja”

Bupati Nunukan, Hj. Asmin Laura Hafid hadir dalam program Podstar…

Kamis, 29 September 2022 10:57

Nekat Melaut di Cuaca Buruk, Satu Nelayan di Tarakan Hilang

Satu orang nelayan yang bernama Adhie (30) dikabarkan menghilang saat…

Kamis, 29 September 2022 10:56

Sengketa Lahan di Pantai Amal, Warga Beda Versi dengan TNI AL

Sebagai upaya mempertahankan lahan yang diklaim, masyarakat Pantai Amal pada…

Rabu, 28 September 2022 10:05

Hujan Deras, Satu Keluarga Nyaris Tertimbun Longsor

Satu unit rumah yang berada di Jalan Anggrek, Gang Bintang…

Rabu, 28 September 2022 10:02

Begini Kondisi Pencari Kerja di Tarakan

Jumlah pencari kerja di Tarakan terbilang menurun dari tahun sebelumnya.…

Selasa, 27 September 2022 12:36

Sengketa Lahan Warga-TNI AL, Warga Pilih Berkemah

TARAKAN - Sengketa lahan antara TNI AL dan warga Pantai…

Selasa, 27 September 2022 12:35

Beberapa Hari Kedepan, Waspada Cuaca Buruk Melanda Kaltara

TARAKAN - Hujan dengan intensitas tinggi diprediksi akan menguyur beberapa…

Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers