MANAGED BY:
SABTU
24 AGUSTUS
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Sabtu, 18 Mei 2019 09:57
Ortu Nilai Sistem Zonasi Tidak Berkeadilan
ILUSTRASI/INT

PROKAL.CO, TARAKAN -  Pada 20-30 Mei pekan depan, pendaftaran peserta didik baru (PPDB) akan dibuka, namun masih banyak orang tua calon siswa yang belum mengetahui persyaratannya. Selain itu, beberapa orang tua yang hendak mendaftarkan anaknya masuk SMP mengeluhkan sistem zonasi yang menutup harapan peserta didik yang ingin bersekolah di SMP favorit.

Samiati (26), warga RT 53 Kelurahan Karang Anyar menerangkan, pihak sekolah yang didatangi pun belum memberi jawaban pasti terkait pendaftaran.

“Pihak sekolah bilang, nanti mereka minta kartu keluarga dan akta kelahiran anak saya. Saya tanya ini sudah pasti diterima atau tidak, katanya belum tahu nanti akan diseleksi lagi. Tapi saya belum paham seleksinya bagaimana dan harus memenuhi persyaratan apa lagi. Katanya ada penentuan jarak rumah dan sekolah yah, untuk bisa diterima. Tapi untuk persyaratan yang lain saya belum tahu. Seharusnya ada informasi detail persyaratan jauh hari, jadi pas pengumuman kita tidak repot mengurus semua,” ujarnya, kemarin (17/5).

Terpisah, tidak berlakunya nilai dalam proses pendaftaran menimbulkan keluhan bagi orang tua calon siswa, salah satunya Indrianti (34), warga RT 56 Kelurahan Juata Kerikil. Indrianti ingin anaknya sekolah di SMP favorit. Sekolah idaman itu berada jauh dari tempat tinggalnya.

“Anak saya ini nilainya cukup tinggi tapi dia tidak memiliki prestasi. Dia mau melanjutkan sekolah di SMP Negeri 1 tapi sepertinya sulit karena itu bukan zonasi Kelurahan Juata Kerikil,” ungkapnya.

Menurutnya, berlakunya sistem zonasi justru tidak membawa keadilan. Pasalnya, sistem tersebut hanya memprioritaskan domisili terdekat saja, tidak berdasarkan upaya keras siswa untuk mendapatkan nilai yang tinggi.

“Sekarang kalau pendaftaran lewat zonasi siswa ngapain capek-capek belajar pas ujian, tinggal incar lulus saja habis itu otomatis diterima di SMP favorit kalau sekolah itu dekat dengan rumahnya. Bagaimana nasib siswa yang belajar keras untuk mau masuk di sebuah sekolah, tapi rumahnya jaraknya sangat jauh dari sekolah itu,” protesnya.

Kepala Seksi (Kasi) Pembinaan SD dan SMP pada Disdikbud Tarakan Wiranto mengungkapkan aturan ini tak berbeda jauh dengan sebelumnya. SD tidak menerapkan ketentuan harus memiliki ijazah TK bagi pendaftar. Hal tersebut dikarenakan, sistem penerimaan SD lebih memprioritaskan calon siswa usia tertua. Tentunya, jika syarat zonasi sesuai dengan sekolah yang dituju.

“Untuk SD itu menggunakan jalur zonasi dan perpindahan orang tua. Tapi kalau ada calon siswa SD berusia 7 tahun maka itu akan diprioritaskan setelah semua persyaratannya terpenuhi. Calon siswa SD juga tidak mesti lulus TK, asal umurnya sudah cukup boleh daftar,” jelasnya, kemarin (17/5).

Meski demikian, ia menerangkan jika calon siswa di bawah 6 tahun memiliki kecerdasan di atas rata-rata, maka hal tersebut dapat menjadi pertimbangan sekolah untuk meloloskan calon siswa tersebut mengikuti seleksi.

“Ketentuannya calon siswa berusia 6 tahun. Kalau lebih malah diprioritaskan. Tapi kalau usianya kurang dari 6 tahun tapi dia memiliki kecerdasan di atas anak usianya, misalnya dia bisa membaca atau sudah bisa berhitung maka itu akan dijadikan pertimbangan pihak sekolah untuk meloloskannya mengikuti seleksi,” ujarnya

Mengenai PPDB SMP dan SMA ia menjelaskan tahun ini tidaklah memiliki banyak perbedaan dari tahun lalu. Hanya, pada tahun ini penentuan dengan nilai akademik pada SMP dan SMA tidak berlaku lagi. Mengacu pada Peraturan Menteri (Permen) Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 51 Tahun 2016.

“SMP itu jalurnya 3 yaitu jalur zonasi,  prestasi dan perpindahan orang tua. Kalau prestasi, misalnya saya tinggal di Kampung Empat saya punya prestasi. Saya mau masuk sekolah di SMP 1 di luar kelurahan saya. Prestasi itu bisa saya gunakan. Tetapi ketika saya mau masuk SMP 3 yang berada tidak jauh dari rumah saya, saya tidak perlu memakai jalur prestasi tapi cukup zonasi saja. Untuk SMA juga sama seperti SMP,” tuturnya.

Mengenai nasib siswa cerdas yang tidak memiliki prestasi apa pun untuk melanjutkan ke sekolah favorit, menurutnya semua sekolah negeri lanjutan di Kota Tarakan memiliki status sama. Sehingga di mana pun siswa bersekolah, siswa tersebut tetap mendapatkan materi dan kurikulum yang sama.

“Tidak ada status sekolah favorit dan tidak favorit. Semua SMP negeri sama. Fasilitasnya sama, kurikulumnya sama, kualitasnya juga sama. Tergantung anaknya lagi nanti mau serius belajar atau tidak. Makanya diterapkan sistem zonasi supaya tidak ada lagi sekolah negeri yang dianggap kualitasnya melebihi sekolah lain,” tuturnya.

Ia menerangkan, pada pendaftaran PPDB nantinya pihak sekolah dapat menggunakan aplikasi untuk menguji kebenaran domisili yang tertera pada berkas siswa. Sehingga dengan aplikasi tersebut jarak rumah siswa ke sekolah akan tertera pada aplikasi tersebut. Wiranto menerangkan, nantinya kinerja aplikasi tersebut menyerupai GPS. Hanya, aplikasi tersebut dilengkapi jarak angka yang tertera.

“Nanti kita akan memiliki aplikasi, kalau Android ada GPS, mungkin nanti kami lewat Telkom juga ada aplikasinya sendiri. Tapi cara kerjanya seperti GPS supaya domisili pendaftar ini tidak bisa dimanipulasi. Dengan menunjukkan alamat yang ada di kartu keluarga, KTP akan ketemu jaraknya. Jadi kita bisa tahu berapa jarak rumahnya ke sekolah. Itu seleksi untuk SMP,” jelasnya.

Mengenai kuota jalur yang diterapkan dalam PPDB ia menerangkan perpindahan orang tua sebesar 5 persen, prestasi 5 persen dan zonasi dengan kuota 95 persen. Ia menjamin, bagi orang tua yang mendapat perpindahan tugas agar tidak perlu khawatir membawa keluarga. Dengan adanya sistem perpindahan orang tua maka anak yang ikut berpindah sekolah jadi lebih mudah. “SD ada 2 jalur yaitu zonasi dan perpindahan orang tua. Sedangkan SMP dan SMA itu 3 jalur yaitu zonasi, prestasi dan perpindahan orang tua,” jelasnya. (*/zac/lim)

 


BACA JUGA

Jumat, 23 Agustus 2019 09:50

Pengumuman dan Penyerahan Penghargaan Peserta Terbaik

TARAKAN – Hampir satu minggu berlalunya pawai pembangunan 2019, yang…

Jumat, 23 Agustus 2019 09:47

Heart of Borneo Dorong Ekowisata Terwujud

TARAKAN - Program Heart of Borneo (HOB) merupakan kerja sama…

Kamis, 22 Agustus 2019 11:53

5.495 Peserta PBI Terancam Dinonaktifkan

TARAKAN - Sebanyak 5.495 penerima bantuan iuran (PBI) Kota Tarakan…

Kamis, 22 Agustus 2019 11:51

Anthon Joy Ditunjuk sebagai Direktur Radar Tarakan

TARAKAN – Hasil Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPS-LB)…

Kamis, 22 Agustus 2019 11:49

Pasar di Tarakan Masih Jorok

TARAKAN - Untuk ketiga kalinya di tahun 2019 ini Balai…

Kamis, 22 Agustus 2019 11:47

PLN Akan Dapat Pasokan Daya 36 MW

TARAKAN – Sebagai upaya memberikan keandalan listrik di Bumi Paguntaka,…

Kamis, 22 Agustus 2019 11:46

JANGAN MAIN-MAIN..!! Dua OPD Ini Rentan Tindak Pidana Korupsi

TARAKAN - Dua organisasi perangkat daerah (OPD) dinilai rentan akan…

Kamis, 22 Agustus 2019 11:45

Abdul Kadir, Sempat Vakum dari Politik karena Sakit

Kehilangan seorang kakak, yang merupakan penyemangat Abdul Kadir, S.T dalam…

Kamis, 22 Agustus 2019 11:18

Dapati Kendaraan Tidak Layak Jalan

TARAKAN - Puluhan kendaraan roda dua dan roda empat berhasil…

Kamis, 22 Agustus 2019 11:16

Lestarikan Tari Jepin di Kalangan Pelajar

TARAKAN – Gerak gemulai para pelajar terlihat saat menarikan tarian…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*