MANAGED BY:
KAMIS
17 OKTOBER
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | KRIMINAL

RADAR KALTARA

Senin, 13 Mei 2019 13:04
Lubang Makam Baru di Makam Lama

Ketika Lahan Pemakaman Semakin Sempit

PADAT: Warga berziarah di salah satu makam muslim saat memasuki Ramadan ini. JOHANNY/RADAR TARAKAN

PROKAL.CO, Kepadatan makam di tempat pemakaman umum (TPU) kian menjadi problematik di kalangan masyarakat. Minimnya lahan pemakaman, warga pun memakamkan jenazah di atas makam keluarga yang sudah lama meninggal.

---

KETUA RT 11, Kelurahan Selumit, Ahmad Sofyan berucap, pemakaman di daerah Selumit, tepatnya di Jalan Hang Tuah RT 11 ini sudah padat. Tidak adanya lahan kosong di pemakaman ini, jenazah dimakamkan tepat di atas pemakaman keluarga yang sudah lama terkubur.

“Di situ sudah penuh. Kecuali ada keluarganya di situ, yang sudah lama meninggal, biasa mereka lapisi (gali baru) saja,” terangnya.

Dari pantauan Radar Tarakan, kondisi pemakaman di Kelurahan Selumit ini sangat padat. Bahkan terdapat satu pemakaman yang melewati badan jalan. Tak hanya itu, kondisi daerah tersebut pun becek dan berair lantaran aliran air dari perbukitan.

Seharusnya pemakaman ini tidak lagi menampung makam baru, mengingat kondisinya yang sudah padat. Ia mengatakan, ini pun menjadi tugas pemerintah untuk menyediakan lahan baru. “Di situ banjir juga. Sebenarnya pemerintah banyak tanahnya, tapi tidak tahu apa kendalanya. Masyarakat kan bayar pajak juga, jadi kasih hak orang kalau meninggal. Hidup saja kena pajak, mati pun kena pajak. Jadi tidak terlepas dari pajak,” katanya sembari bercanda.

Ia mengatakan sudah saatnya pemerintah memikirkan penataan pemakaman di lahan baru. “Saya pernah pasang pelang lahan pemerintah, ada ratusan itu. Di daerah Juata, Kampung Enam, masak tidak bisa adakan lahan pemakaman. Harusnya pemerintah sudah jauh hari memikirkan mau ditata kembali,” bebernya.

Selain di Kelurahan Selumit, pemakaman di Kelurahan Sebengkok pun butuh perhatian dari pemerintah. Pemakaman yang sudah berusia sekitar 60 tahun ini pun mulai padat.

Pengurus Pemakaman Sebengkok, Jamhari mengatakan sebenarnya ada penambahan lahan baru yang diwakafkan oleh seorang warga, sekitar tiga hektare. Namun sayangnya, lahan tersebut dalam sengketa. “Masih ada lahan kosong yang diwakafkan Pak Gusti Syaifuddin, tapi masih ada masalah sengketa. Kalau totalnya lahan yang lama dan baru, mungkin total luas pemakaman ini sekitar tujuh hektare,” kata Jamhari.

Pria berusia 47 tahun ini mengaku sejak 1995 silam ia mengabdi sebagai pengurus sekaligus penggali pemakaman di Sebengkok ini. “Dulu yang jaga mertua, tapi setelah meninggal saya sebagai menantunya yang menggantikan,” terangnya.

Termasuk daerah tebing, sebagian lokasi makam pun rawan longsor. Ia mengatakan sekitar tahun 2000-an silam, pernah terjadi longsor besar. Hingga merusakkan 27 makam. Kemudian disusul pada 2017 lalu, empat makam yang harus dipindahkan. “Yang dekat tebing rawan longsor. Longsor pertama sekitar tahun 2000, agak lupa juga. Itu banyak makam yang rusak, kedua 2017 longsor lagi,” jelasnya.

Hampir setiap minggu ada saja yang dimakamkan di pemakaman ini. Dari data yang ia miliki, dalam sebulan tercatat 10 lebih jenazah yang dimakamkan di Pemakaman Sebengkok ini.

Maklum pemakaman ini termasuk pemakaman umum. Termasuk warga dari Selumit pun dimakamkan di pemakaman ini. “Kadang dalam satu hari, ada saja yang meninggal. Kalau di sini bukan khusus warga Sebengkok saja, tapi umum. Yang dari Selumit kan ada pemakaman, tapi karena sudah penuh jadi ke sini. Ada dari Mamburungan, Simpang Tiga, Gunung Lingkas, Lingkas Ujung,” bebernya.

Meski mulai padat, makam yang sudah ada sejak puluhan tahun lalu tak serta merta dibongkar. Bagaimana pun, sewaktu-waktu ada anggota keluarga yang ziarah.

“Yang makam lama kami tidak bongkar, karena nanti ada keluarganya yang cari atau ziarah. Kalau masalah tarif kami tidak tentukan, tapi seikhlas keluarganya. Kami menggali, istilahnya untuk minum saja atau rokok,” tutupnya.

 

MAYAT BARU TERPAKSA DIALIHKAN

Semakin banyaknya TPU yang mengalami overload. Membuat pemerintah cukup kewalahan mengatasi masalah tersebut. Karena kondisi tersebut, sehingga pemerintah saat ini menerapkan sistem pengalihan mayat  TPU yang dianggap memiliki lahan yang luas.

Kepala Seksi (Kasi) Permukiman dan Pemakaman pada Dinas Perumahan, Kawasan Pemukiman dan Pertanahan (DPKPP) Tarakan Marzuki menerangkan, saat ini Kota Tarakan memiliki jumlah total 32 TPU yang tersebar. Meski demikian, ia menerangkan 5 TPU telah dinyatakan kelebihan kapasitas sejak 2017 lalu.

“Total TPU di Tarakan ada 32. Jadi yang dinyatakan overload itu, hanya 5 makam yaitu TPU Muslim Karang Anyar, TPU Muslim Selumit,  TPU Muslim Sebengkok, TPU Kristen Gunung Lingkas, dan TPU Kristen Kampung Satu,” jelasnya.

Sebenarnya 5 pemakaman tersebut masih dapat menerima mayat baru. Dengan catatan, jenazah tersebut memiliki keluarga yang sebelumnya dimakamkan pada TPU tersebut selama berpuluh tahun. Sehingga, jenazah baru dapat menempati lubang kubur keluarganya atau ditanam secara berhimpitan.
“Sebenarnya begini, 5 makam itu kan memang overload. Untuk mencegah makam tidak overload total jadi kalau ada mayat baru yang keluarganya sudah lebih dulu dimakamkan di situ. Mayat itu bisa ditempatkan di lubang kubur keluarganya. Jadi mayat baru ini bisa mengusur penghuni lubang lama milik keluarganya dengan cara tulang yang lama ini diangkat terus nanti taruh di atas tanahnya. Tentunya itu atas persetujuan keluarganya sendiri. Itu real yang selama ini dilakukan atau bisa ditanam berhimpitan,” ujarnya, kemarin (12/5).

Lanjutnya, jika jenazah baru tidak memiliki keluarga yang tidak dimakamkan di TPU yang dituju, maka pihak TPU akan mengalihkan jenazah ke TPU yang dianggap masih memiliki lahan yang tersedia.

“Makanya setiap ada jenazah baru, itu pasti dialihkan ke TPU lain karena sulit mencari ruang. Misalnya ada warga Sebengkok yang meninggal ini, karena mungkin tidak ada keluarga di situ mayatnya bisa saja dialihkan untuk dimakamkan di Kampung Bugis atau Juata Kerikil yang TPU-nya masih banyak ruang kosong,” tuturnya.

Dalam setahun sedikitnya 750 hingga 900 jiwa meninggal dunia dan setiap harinya rata-rata 2 hingga 3 jenazah baru masuk TPU. TPU yang menyandang status overload diprediksi hanya dapat bertahan 2 tahun.

“Dalam satu tahun itu, sedikitnya rata-rata orang meninggal di Kota Tarakan di kisaran 750 sampai 950 jiwa. Jadi kalau makam yang sudah full alihkan. Kalau jumlah rata-rata mayat yang masuk ke tiap hari ke makam itu sekitar 2 sampai 3 mayat baru. Kalau dalam 2 tahun itu kemungkinan masih bisa. Tapi 3 tahun ke depan, itu sudah tidak bisa sama sekali. Jadi tahun 2022 kelima makam itu diprediksi sudah tidak bisa ditambah mayat lagi,” tukasnya.

Dikatakannya, pemerintah pernah berencana untuk menerapkan sistem penguburan bertingkat agar dapat mengurangi pemakaian ruang pada TPU. Namun, hal tersebut ditolak sebagian besar aliansi masyarakat. Selain dianggap tidak manusiawi, wacana tersebut juga dianggap terlalu dini mengingat masih banyaknya lahan yang bisa digunakan bagi pembangunan TPU baru.

“Kami pernah berencana menerapkan melakukan sistem kubur bertingkat, tapi wacana itu ditolak warga dengan alasan Tarakan masih banyak lahan yang bisa dijadikan TPU baru. Sehingga sampai sekarang rencana itu tidak pernah dibahas lagi,” pungkasnya. (*/one/*/zac/lim)

 


BACA JUGA

Rabu, 16 Oktober 2019 09:45

Asik Ngopi, 4 PNS Terjaring Satpol PP

 TARAKAN – Razia oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP)…

Rabu, 16 Oktober 2019 09:41

Penyelundupan Daging Kerbau Meningkat

 TARAKAN – Berbatasan dengan Malaysia, potensi penyelundupan barang dari Malaysia…

Rabu, 16 Oktober 2019 09:22

Pastikan Kaltara Kondusif Jelang Pelantikan Presiden

 TARAKAN- Jelang pelantikan presiden dan wakil presiden terpilih pada 20…

Selasa, 15 Oktober 2019 20:45

Lagi, Kaltara Mendapat Hadiah Dana Insentif

JAKARTA - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Utara (Kaltara) kembali akan…

Selasa, 15 Oktober 2019 08:54

Perlu Ada Aturan Khusus Mengenai Hatchery

   TARAKAN – Kepala Balai Karantina Ikan Pengendalian dan Mutu…

Selasa, 15 Oktober 2019 08:42

Tertinggi Kedua, IPK Kaltara di Atas DKI Jakarta

 JAKARTA - Meski baru berusia 6 tahun, Provinsi Kalimantan Utara…

Selasa, 15 Oktober 2019 08:30

KUMAT..!! Gas Elpiji 3 Kilogram Langka Lagi

 TARAKAN - Kelangkaan tabung gas elpiji 3 kilogram di Kota…

Selasa, 15 Oktober 2019 08:22

Antara Prestasi dan Nama Daerah

   MOES Santoso, sangat menyayangkan keberhasilan cucunya ini tidak membawa…

Senin, 14 Oktober 2019 21:39

Perlu Ada Aturan Khusus Mengenai Hatchery

TARAKAN – Kepala Balai Karantina Ikan Pengendalian dan Mutu (BKIPM)…

Senin, 14 Oktober 2019 08:37

Kelas VIP Bertanding hingga Dini Hari

 TARAKAN – Sabtu (12/10) malam hingga Minggu (13/10) dini hari…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*