MANAGED BY:
SENIN
06 DESEMBER
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | KRIMINAL

RADAR KALTARA

Senin, 06 Mei 2019 09:29
Terapkan Metode Pembelajaran yang Luwes dan Penuh Motivasi

Mengenal Tokoh Pendidikan di Bumi Tenguyun

TOKOH PENDIDIKAN: Drs. H. Muis Djafrie, M.Si dikenal sebagai tokoh pendidikan di Kabupaten Bulungan. Ia pernah membangun SD satu atap di daerah hulu. RACHMAD RHOMADHANI/RADAR KALTARA

Drs. H. Muis Djafrie, M.Si merupakan sosok tokoh pendidikan di Bumi Tenguyun sebutan lain Kabupaten Bulungan. Dan disebut sebagai tokoh pendidikan dikarenakan pengalamannya yang begitu banyak dituangkan dalam dunia pendidikan di daerah ini.

RACHMAD RHOMADHANI

SAAT ini langkah kakinya sudah tak sekokoh seperti dulu. Untuk melewati tangga, ia harus secara perlahan. Raut wajahnya saat ini juga sudah mengeriput. Tak lain, ini dikarenakan termakan usia. Hanya, suaranya yang masih terdengar jelas saat berucap.

Namun, siapa menyangka di balik sosok pria tua yang penulis temui di momen Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2019 itu merupakan salah seorang tokoh pendidikan di Bulungan. “Bapak H. Muis itu tokoh pendidikan di Bulungan ini,” kata Suparmin selaku Kabid Dikdas di Disdikbud Bulungan secara singkat kepada penulis saat itu.

H. Muis sendiri memang saat pertama ditemui penulis terlihat pancaran di wajahnya begitu ramah. Sambutan hangat pun diberikannya saat penulis menemui usai dirinya mengikuti pelaksanaan Upacara Hardiknas di Lapangan Agatish, Tanjung Selor 2 Mei lalu.

“Boleh. Di mana kita bisa mengobrol santainya,” ucapnya kepada penulis saat ditanyakan apakah bersedia diwawancarai.

Alhasil, dengan diiringi suara marching band dari salah satu sekolah di Ibu Kota Kaltara, Tanjung Selor. Pembicaraan saat itu dimulai satu persatu. H. Muis mengaku memang masih ada agenda-agenda lainnya pasca menghadiri upacara Hardiknas tersebut. Akan tetapi, sedikit mengenai sharing pengalaman kepada penulis. Dirinya mengaku bersedia dan siap untuk menjawab tentang segala pertanyaan yang memang sebelumnya dipersiapkan oleh penulis.

“Bapak, ayo kita lanjut perjalanan pulang dulu,” ucap salah seorang yang tak lain keluarganya. Namun, H. Muis menjelaskan dirinya masih ada aktivitas di lokasi ini sehingga diminta untuk meninggalkannya dahulu. “Maaf, tadi keluarga saya mau menjemput,” katanya ramah kepada penulis.

Dan perbincangan pun dimulai. Pertama H. Muis menjelaskan tentang pengalamannya dahulu tatkala mengajar sebagai seorang guru di berbagai daerah.

Mulai dari tahun 1973 saat menjadi guru di SMAN 1 Tarakan. Kemudian, guru di SMAN 1 Samarinda tahun 1980 dan guru di SMAN 4 Samarinda sampai 1987. “Awalnya dulu saya mengajar di luar daerah semua. Tapi, di tahun 1987 saya diangkat menjadi Kepala SMAN 1 Tanjung Selor sini,” ujar sosok tokoh pendidikan kelahiran Loak Ulu, 5 Juli 1947 ini.

Dikatakannya juga, selama menjadi seorang guru. Dirinya mengaku bahwa memang segala sesuatunya tentu jauh berbeda antara dulu dan sekarang. Namun, semua itu dilewatinya dengan baik dan lancar. Pasalnya, dalam metode pengajarannya yang dilakukannya itu secara luwes.

“Saya mengajar dulu luwes atau tidak kaku. Jadi, siswa–siswi tidak susah dalam menerima ilmu pendidikan yang saya sampaikan,” ujarnya suami dari Hj. Jumini AB ini.

Alhamdulillah, buah dari metode belajar seperti itu. Saya pun dulu sempat diamanatkan sebagai Kepala Disdikbud Kabupaten Bulungan ini. Kalau tidak salah tahun 1996,” sambung ayah dari lima orang anak ini.

Tak hanya itu, dengan semangat dan kerja keras dalam bekerja atau mengabdi bagi daerah ini. Dirinya juga pernah diamanatkan sebagai Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Bulungan. Tentunya, dari semua amanah yang dijalaninya itu. Yang mana, itu semua dijalankannya secara maksimal demi kemajuan dunia pendidikan.

“Saya sekalipun menjadi seorang guru ataupun Kepala Disdikbud dan PGRI, berupaya untuk terus maksimal demi kemajuan pendidikan daerah ini,” tuturnya.

Namun, lanjutnya, hal yang saat ini masih berkesan baginya yaitu saat di mana ia berupaya membangun sekolah dasar (SD) satu atap di daerah hulu. Menurutnya, itu merupakan butuh suatu perjuangan yang ekstra kala itu. Sebab, memang pendidikan di daerah hulu sangatlah penting juga. Sehingga memang saat itu dibenaknya sampai terpikirkan hal itu.

“Kalau tidak salah dulu ada tiga SD satu atap dibangun. Tujuannya, yaitu untuk bagaimana meningkatkan motivasi belajar bagi anak-anak daerah hulu kala itu,” terangnya.

Dan akhirnya, dengan adanya SD satu atap itu. Minat belajar masyarakat di daerah hulu jauh meningkat. Hal ini dikarenakan mereka merasa mendapat suatu perhatian yang lebih tentang pendidikan mereka sekalipun berada di daerah hulu.

“Memang saat itu diupayakan pendidikan kepada masyarakat di Bulungan ini merata. Meskipun di tengah keterbatasan sarana dan prasarana. Namun, bagaimana tetap mereka dapat mengenyam pendidikan seperti anak-anak didik lainnya,” katanya kembali.

Ditanya mengenai meningkatkan motivasi dari sekolah-sekolah yang ada dengan segala keterbatasan yang ada? H. Muis menjelaskan bahwa saat itu mengajak seluruh sekolah untuk saling berlomba dengan berbagai kegiatan yang muaranya sekolah itu akan lebih dikenal. Alhasil, dari upaya itu sehingga masing-masing sekolah lebih termotivasi juga dan semakin berkreasi.

“Dengan lomba-lomba itu sekolah semakin bergairah. Cara ini pun sebenarnya masih bisa dilakukan hingga saat ini. Sehingga sekolah dapat terus mengembangkan inovasinya dalam berkreasi,” ungkapnya.

Sedangkan, untuk suka ataupun duka lainnya dahulu sejak menjadi guru ataupun Kepala Disdikbud dan PGRI? Dirinya mengatakan bahwa seperti yang dikatakan sebelumnya mengenai segala keterbatasan yang ada. Sehingga otomatis bicara kesejahteraan guru memang saat itu masih belum terlalu terlihat. “Tapi, ini di zaman saya bekerja dulu,” bebernya.

Kemudian, dikatakannya lebih jauh, saat itu juga belum adanya istilah penyesuaian ijazah seperti saat ini. Sehingga saat itu memang cukup berbeda jauh dibandingkan saat ini.

“Saat ini jika guru ijazahnya D3 atau D2 bisa jadi S1 tatkala menempuh pendidikan dan disetarakan. Kalau dulu belum ada istilah seperti itu,” akunya.

Terakhir, saat ditanyakan mengenai dorongan kepada tenaga pendidik yang ada saat ini. Dirinya mengatakan bahwa yang perlu ditingkatkan yaitu masalah pendidikan karakter bagi generasi muda. Sebab, menurutnya pendidikan karakter ini dapat menjadikan generasi jauh lebih baik. Tak lain, dikarenakan mereka dapat memahami mana aturan yang baik dan buruknya.

“Harapan saya pendidikan karakter ini harus benar-benar ditekankan dan dilaksanakan oleh tenaga pendidik. Sehingga siswa akan paham tentang karakaternya sebagai seorang siswa yang baik dan berbudi pekerti,” harapnya.

“Ini juga penekanannya sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Oleh karenanya, memang hal ini perlu untuk diaplikasikan dalam dunia pendidikan di daerah ini,” timpalnya.

Untuk diketahui, mengenai pendidikan karakter berdasarkan pengertiannya yaitu suatu sistem pendidikan yang bertujuan untuk menanamkan nilai-nilai karakter tertentu kepada peserta didik yang di dalamnya terdapat komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, serta tindakan untuk melakukan nilai-nilai tersebut.

Pendidikan karakter itu juga sangat erat hubungannya dengan pendidikan moral. Di mana tujuannya adalah untuk membentuk dan melatih kemampuan individu secara terus-menerus guna penyempurnaan diri ke arah hidup yang lebih baik.

Mengenai fungsi pendidikan karakter adalah untuk mengembangkan potensi dasar dalam diri manusia sehingga menjadi individu yang berpikiran baik, berhati baik, dan berperilaku baik, membangun dan memperkuat perilaku masyarakat yang multikultur serta membangun dan meningkatkan peradaban bangsa yang kompetitif dalam hubungan internasional.

Pendidikan karakter ini juga seharusnya dilakukan sejak dini, yaitu sejak masa kanak-kanak. Pendidikan ini bisa dilakukan di lingkungan keluarga, sekolah, dan lingkungan, serta memanfaatkan berbagai media belajar. Dan pada dasarnya tujuan utama pendidikan karakter adalah untuk membangun bangsa yang tangguh. Di mana masyarakatnya berakhlak mulia, bermoral, bertoleransi, dan bergotong-royong. (***/eza)


BACA JUGA

Senin, 06 Desember 2021 12:07

Ribuan Formasi PPPK Guru Belum Terisi

TANJUNG SELOR – Pelaksanaan seleksi tahap dua pegawai pemerintah dengan…

Senin, 06 Desember 2021 12:07

Tak Ada Temuan Klaster Sekolah

TANJUNG SELOR – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Kalimantan…

Senin, 06 Desember 2021 12:06

Potensi Lahan Pertanian Belum Tergarap Maksimal

TANJUNG SELOR – Pemkab Bulungan terus mendorong peningkatan produksi pertanian.…

Senin, 06 Desember 2021 12:05

Vaksinasi Covid-19 Terus Digenjot

TANJUNG SELOR - Realisasi pelaksanaan vaksinasi Covid-19 di Kalimantan Utara…

Jumat, 03 Desember 2021 18:42

Sekwan: Sebelum Ada Pelantikan, Norhayati Masih Ketua DPRD Kaltara

TANJUNG SELOR - Pergantian Norhayati Andris sebagai Ketua DPRD Kaltara…

Jumat, 03 Desember 2021 07:58

Begini Tanggapan Norhayati Andris Setelah Dicopot Dari Kursi Ketua DPRD Kaltara

Tanjung Selor - Menanggapi kabar terkait surat pencopotan dirinya sebagai…

Jumat, 03 Desember 2021 07:17

Abaikan Tiga Pilar Partai, Ketua DPRD Kaltara Dicopot 

TANJUNG SELOR – Mulai 29 November 2021 Norhayati Andris tidak…

Kamis, 02 Desember 2021 15:13

Banyak Keluhan dari Masyarakat Bulungan, Manajemen RSD Bakal Dievaluasi

TANJUNG SELOR – Pemkab Bulungan bakal mengevaluasi manajemen Rumah Sakit…

Kamis, 02 Desember 2021 15:12

ATR/72 Kembali Mendarat di Ibu Kota Kaltara, Tahap Awal Minimal 30 Seat Terisi

TANJUNG SELOR – Setelah sempat setop beroperasi akibat dampak pandemi…

Kamis, 02 Desember 2021 15:10

Hadehhh...!! Amdal Pembangunan KIPI Belum Siap

TANJUNG SELOR – Analisis mengenai dampak lingkungan (Amdal) menjadi salah…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers