MANAGED BY:
JUMAT
20 MEI
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | KRIMINAL

RADAR KALTARA

Sabtu, 29 Agustus 2015 09:26
Berikut Pengakuan Tersangka Pembunuhan Fitri

Korban Berteriak Diperkosa, KS Mengarang Skenario Fitri Diculik

Pemakaman Alm. Fitri. Foto : Agoes Suwondo/Radar Tarakan

BAGAIMANA cara KS (34), tersangka pembunuh Fitri Shara Hasugian menghabisi korban? Ini lah pengakuan yang dilontarkan KS kepada penyidik. Setelah merasa ketakutan saat korban berteriak di bilik kamar rumah pastori sekitar pukul 11.00 wita. Hingga, akhirnya KS yang kalap langsung mengambil palu martil yang berada di dalam gudang untuk menghabisi nyawa pelajar SMA Hangtuah tersebut.

KARYAWAN sebuah perusahaan kayu ini merasa dikuasai rasa ketakutan. Sebab pada saat melakukan hubungan intim pada tanggal 9 Agustus sekira pukul 11.00 wita, korban (Fitri) ternyata sempat berteriak “saya diperkosa”. Dari teriakan tersebut, KS pun langsung menghantam wajah korban dengan tangan kosong hingga pingsan.

Tidak sampai disitu, ketika korban dalam keadaan tidak sadar, KS pun menuju ke gudang untuk mengambil martil menghantam bagian kepala sebanyak tiga kali.

“Katanya sih korban ini sempat berteriak, sehingga dia langsung memukul dengan tangan kosong. Mungkin karena ada rasa ketakutan kalau dia sadarkan diri, akan berteriak lagi. Makanya KS ini langsung mengambil martil lalu memukul korban hingga tewas,” kata seorang anggota Reskrim Polsek Tarakan Barat.

“Tapi itu baru pengakuan tersangka,” sambung polisi itu lagi saat ditemui Radar Tarakan, kemarin.

Selanjutnya, setelah KS ini memukul korban berulang kali. Ia pun langsung membawa korban ke dalam gudang. Dengan cara mengikat korban menggunakan tali nilon berwarna biru yang dililitkan di tubuh korban. Setelah itu, membungkus tubuh korban dengan karpet merah agar tidak diketahui istri dan ayahnya yang tidak lain adalah pendeta di gereja tersebut.

Setelah dua hari di dalam gudang, pada pagi hari sekitar pukul 4.30 wita. KS pun masuk ke dalam gudang dan memasukkan mayat korban ke dalam karung. Lalu kemudian menarik mayat dengan memborgol tangan kearah motor yang telah berada di samping gudang tersebut. “Dia sendiri yang membawa mayat ke TKP dimana tempat penemuan mayat itu, dengan menempatkan mayat didepan motor,” jelas polisi tersebut.

Setelah membuang mayat, KS kembali ke rumahnya untuk menyimpan barang bukti. Martil yang digunakannya ia sembunyikan di selokan parit yang berada di sekitar gereja. Bukan hanya itu, KS pun merasa terhantui dan istrinya pun sempat mencium aroma amis di balik tempat tidur tersebut. Hingga akhirnya, pada hari Jumat (21/8), sebelum ditemukannya mayat Fitri, KS membawa kasur itu ke depan gereja dengan cara membakar tilam tersebut.

Selain itu, KS mengaku telah mendesain sebuah skenario pasca membunuh Fitri. Agar kejahatannya tidak tercium oleh keluarga, ia pun membuat alibi dengan skenario bahwa Fitri telah diculik dua orang yang tidak dikenal agar kedua orangtua korban dan tetangga sekitar mempercayainya. Hingga sampailah pada penemuan mayat pada tanggal 23 Agustus tersebut.

Dari penemuan tersebut, tim Reskrim Polsek Tarakan Barat, Polsek Tarakan Timur dan reskrim Polres Tarakan pun langsung bergerak cepat mencari dan menggali informasi-informasi kapan terakhir kalinya Fitri keluar dari gereja.

 

TERUNGKAPNYA KS SEBAGAI TERSANGKA TUNGGAL

Berawal dari teman dekat korban yang berinsial RS. Polisi pun menelusuri keberadaannya baik di tempat sekolahnya maupun alamat rumahnya. Setelah mendapati rumahnya, Polisi pun membawa ke Polsek Tarakan Barat untuk dimintai keterangan.

Kepada penyidik, RS mengaku saat jemaat sedang khidmat berdoa. Korban memang keluar dari gereja yang pada saat mendapat telepon dari kakaknya untuk diantarkan kunci. Namun, setelah keluar dari gereja, Fitri tak kunjung kembali ke dalam gereja. Ternyata, Fitri ke rumah pastori tersebut. “Jadi RS ini merasa resah, sehingga ia pun keluar dari gereja itu. Lalu kemudian mencari Fitri di sekitar gereja,” jelasnya.

RS yang mencari-cari Fitri itu pun tak menemukannya. Sehingga, memutuskan kembali masuk ke dalam gereja untuk beribadah. Tetapi, karena merasa gelisah Fitri tidak kembali-kembali. Ia pun keluar lagi dari gereja mencari lagi. “Yang kedua kalinya, ia pun bertanya kepada salah seorang jemaat yang berada di kamar kecil, tetapi sama tidak melihat juga,” jelasnya.

Pada saat RS hendak kembali ke dalam gereja lagi. Ia melihat sepatu miliknya berada di depan pintu rumah pastori yang ditinggali pendeta mereka. Sementara, pintu pastori dalam keadaan tertutup rapat. “Jadi begini, RS ini bertukaran sepatu dengan korban sehingga dia kenal sekali. Begitu mengetuk pintu rumah pastori tiba-tiba melihat KS membuka pintu itu,” ungkapnya.

Setelah KS ini membuka pintu, RS sempat bertanya kepada KS apakah melihat Fitri saat masuk ke dalam rumah. Namun, KS menjawab tidak melihat kalau ada Fitri masuk ke dalam rumah. “Tapi, dia melihat KS ini sudah bercelana pendek dan dibahunya itu ada handuk, seperti orang yang sedang membersihkan sesuatu,” ungkap RS kepada penyidik.

Setelah RS memberikan keterangan, Polisi pun memanggil saksi kedua yang berinisial ED, salah satu jemaat gereja yang pada saat itu juga keluar dari gereja untuk pergi ke kamar mandi. “ED mengaku memang tidak melihat Fitri ada di luar, tetapi rumah pendeta saat itu dalam keadaan tertutup,” kata penyidik lagi.

Dari pintu rumah tertutup, polisi pun menarik kesimpulan ada peristiwa yang terjadi dengan hilangnya Fitri pada tanggal 9 Agustus. Setelah para saksi dipulangkan, penyidik kembali melakukan gelar perkara dengan menghubungkan keterangan-keterangan saksi-saksi yang mengerucut ke arah KS tersebut.

Pada tanggal 24 Agustus, penyidik pun melakukan pemeriksaan awal kepada KS. “Awalnya KS memberikan keterangan pada saat kejadian, rumahnya dalam keadaan terbuka. Begitu pula yang diungkapkan pendeta bahwa rumahnya itu dalam keadaan terbuka,” jelasnya.

Sehingga, penyidik menyimpulkan ada ketidak sinkronan antara saksi dengan keterangan yang diberikan oleh KS beserta ayahnya tersebut. Lalu kemudian, penyidik kembali ke TKP dengan mensinkronkan dengan adegan drama saat hilangnya Fitri. Hingga, berkeyakinan kalau KS adalah pelaku utama dari pembunuhan sadis terhadap remaja berusia 16 tahun ini. “Jadi hari Selasa, kami memanggil kembali KS untuk diperiksa ulang lagi,” kata penyidik.

KS yang saat itu baru pulang dari tempat kerjanya pun langsung dijemput  enam polisi yang menggunakan pakaian preman dari rumahnya menuju ke Polsek Tarakan Barat. Sesampainya di ruang penyidik, KS pun diminta untuk jujur atas perbuatannya tersebut. “Saat diberikan siraman rohani, KS pun tertunduk dan bersujud ke senior saya untuk pengampunan dan perlindungan,” ceritanya.

Setelah itu, bersujud untuk pengampunan dosanya. Akhirnya KS pun terbuka dan menceritakan bagaimana awal terjadinya pembunuhan tersebut. “Karena telah disentuh dengan kerohaniannya, akhirnya KS ini mengakui perbuatannya,” tutupnya.(***)

 


BACA JUGA

Selasa, 01 September 2015 09:51

Pamitan, Budiman Sebut ‘Jas Merah’ dan ‘Semut Api’

<p>TANJUNG SELOR-Masa jabatan Budiman Arifin dan Liet Ingai sebagai Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten…

Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers