MANAGED BY:
SELASA
21 JANUARI
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | KRIMINAL

RADAR KALTARA

Kamis, 04 April 2019 14:57
“Kasihan Rumahku, Kami Takut”

Terjadi 10 Titik Longsor di Karang Anyar

WASPADA: Pertigaan Jalan Bhayangkara dan Jalan Gunung Selatan Kota Tarakan mengalami longsor sekitar pukul 03.00 Wita, Rabu (3/4). JOHANNY/RADAR TARAKAN

PROKAL.CO, TARAKAN - Hujan yang terjadi Rabu (3/4) dini hari membuat sejumlah titik di Bumi Paguntaka terjadinya bencana. Pasalnya, hujan dengan intensitas sedang ini membuat longsor rumah warga dengan 6 titik di antaranya terjadi di Kelurahan Karang Anyar, Kecamatan Tarakan Barat.

Kepada Radar Tarakan, salah satu korban longsor Kelurahan Karang Anyar, Intiana mengatakan bahwa pada pukul 03.00 WITA, hujan deras dan kemudian disusul longsor yang terjadi pada pukul 03.30 WITA. Saat itu dirinya sedang tidur, namun sang suami tak dapat tidur karena harus begadang untuk melihat keadaan tanah yang berada di belakang rumah.

“Bapak (suami Intiana, Red) memang baring-baring di luar. Pas masuk, suami saya langsung berteriak memanggil saya. Terus tanah sudah masuk semua di dapur,” tuturnya.

Ketika dibangunkan suami yang diiringi dengan suara tanah yang menderu, Intiana langsung bangun dan memanggil kedua anaknya. Kemudian keluar rumah dan sempat menyimpun barang seperti kasur dan sebagainya. “Yang bisa kami selamatkan ya kami selamatkan. Kasihan rumahku, kami takut,” isaknya.

Meski begitu, Intiana bersyukur karena tak ada korban jiwa dalam kejadian longsor ini. Namun, karena posisi kamar Intiana yang berdekatan langsung dengan dapur dan kamar mandi, Intiana mengaku panik. Sebab jika kamar mandi yang lebih dulu tertimpa longsor, maka Intiana otomatis akan ditindis oleh longsoran tanah. “Untung saya selamat. Dapur kami saja yang rusak, sebelumnya belum pernah longsor,” tangisnya.

Dengan kejadian longsor yang menimpanya, Intiana berharap campur tangan pemerintah untuk membantu pihaknya dalam melakukan perbaikan rumah. Sebab jika hanya mengandalkan gaji suami, menurut Intiana tidaklah cukup yang hanyalah seorang pekerja bangunan dan memiliki penghasilan pas-pasan untuk memenuhi kebutuhan makan keluarga.

Sementara itu, salah satu korban longsor RT 6 Gang Kerupuk Kelurahan Karang Harapan, Harmiyanti mengatakan bahwa rumah miliknya memang berada di sebelah aliran sungai. Sebelumnya, sungai tersebut sedikit lebih jauh dari rumah, tapi karena terjadinya hujan, maka sedikit demi sedikit sungai tersebut tergerus hingga membuat sungai semakin melebar dan mengenai teras rumahnya.

“Genangan air sungainya ke rumah sini. Jadi kalau hujan kami tidak tenang karena takut terjadi apa-apa,” bebernya.

Hujan yang sering terjadi ini meresahkan dirinya, untuk itu ia menginginkan agar pemerintah dapat menyiring sungai. Sehingga tidak membahayakan ia dan keenam anaknya yang tinggal di dalam rumah tersebut.

“Kalau bisa pemerintah cepat berikan bantuan untuk memperbaiki sungai. Dulu ditimbun pakai pasir saja, pernah juga pakai papan, tapi itu dana sendiri, tapi nggak kuat. Namanya banjir terus kan,” ujarnya.

Harmiyanti pada dasarnya berharap agar bisa pindah dari lokasi tersebut, namun karena persoalan dana, membuat Harmiyanti sabar dalam menghadapi keadaan tersebut. Bagi Harmiyanti, yang lebih penting saat ini adalah pembangunan siring sungai sehingga tidak membahayakan rumahnya.

“Biar nggak diganti rugi, yang penting ini (sungai, Red) saja dulu yang disiring biar nggak longsor lagi. Kalau rumah bisa kami perbaiki sendiri nanti,” tutupnya.

Lurah Kelurahan Karang Anyar, Indrayadi mengatakan, bahwa titik lokasi longsor yang terjadi di Karang Anyar tersebar di 7 RT dengan 10 titik, yakni RT 15, 60, 62, 68, 70, 55 dan 26. Berdasarkan hasil kunjungannya di lapangan, Indrayadi melihat bencana longsor yang cukup parah terjadi di kawasan RT 70 dan 62 yang memiliki dinding kamar, dapur dan tempat tidur yang jebol. “Kalau kondisi seperti itu ya tidak bisa ditinggalin lagi,” bebernya.

Sementara ini, pihak kelurahan hanya dapat melakukan pendataan dan laporan yang kemudian dikoordinasikan bersama instansi terkait seperti BPBD, Satpol PP dan sebagainya. Nah, karena longsor sering terjadi di kawasan Karang Anyar, Indrayadi menyatakan sejak awal telah mengingatkan warganya agar tidak membangun di sekitar kawasan rawan longsor. Namun peringatan tersebut kembali kepada individu masyarakat.

“Yang pasti dari pihak pemerintah tidak pernah mengizinkan itu terjadi, tapi mungkin karena masalah ekonomi mengharuskan masyarakat untuk membangun meski di kawasan rentan longsor,” ujarnya.

Indrayadi menegaskan bahwa pihaknya tidak memberikan izin IMB kepada setiap masyarakat yang telah membangun di lereng gunung. Namun pelayanan seperti listrik maupun air menurutnya lebih tepat jika dipertanyakan langsung kepada instansi yang bersangkutan.

Dari sejumlah titik longsor yang terjadi, membuat satu orang korban di RT 70 atas nama Maria Fenny yang berusia 40 tahun harus mengalami luka pada bagian paha hingga kaki akibat tertimbun longsor. Saat kejadian, Maria sempat diselamatkan dan telah ditolong tim medis.

“Kami sudah lihat kondisinya dalam keadaan sadar. Pas longsor terjadi, bu Maria itu ditimbun material longsor, kami datang sudah dievakuasi dan laporan itu kami terima dari RT,” ucapnya.

Nah, untuk longsor yang terjadi di RT 60 Karang Anyar, Indrayadi menjelaskan bahwa bangunan tersebut bukan rumah melainkan kios yang didirikan dekat dengan sungai. Sehingga terkikis dan tergerus air sungai sehingga terjadi longsor.

Sementara itu, Sekretaris Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Tarakan, Herman Hamid mengatakan, bahwa khusus bencana longsor, pihaknya menginginkan agar pemerintah menyediakan dana khusus untuk korban bencana longsor. Pasalnya, bencana longsor ini merupakan bencana yang selalu dihadapi pemerintah saat musim penghujan di Kota Tarakan.

“Kami akan menekankan kepada pemerintah untuk menyediakan dana taktis penanggulangan longsor. Itu penting, karena tidak semua wilayah Tarakan itu rawan longsor, hanya ada beberapa kelurahan yang longsor, terutama Karang Anyar dan Sebengkok,” bebernya.

Menurut Herman, penyediaan dana taktis sangat memungkinkan dilakukan pemerintah di masa defisitnya anggaran ini. Sebab pada dasarnya musibah longsor tidak terjadi di tiap kelurahan. Di Tarakan ini, menurut Herman tidak sampai 5 kelurahan yang memiliki titik longsor. Nah, jika pemerintah menganggarkan Rp 100 hingga 200 juta untuk bantuan dana longsor, maka paling tidak dapat membantu masyarakat.

“Kalau ada dana taktis, pemerintah cepat mengambil tindakan. Kalau tidak ada perhatian, ya kasihan buat masyarakat yang tinggal di lereng-lereng karena tidak semua orang punya kemampuan keuangan lebih. Intinya dana taktis itu tidak besar,” katanya.

Melalui hal tersebut, pihaknya mengimbau kepada pemerintah untuk mengantisipasi longsor yang sering terjadi di Kota Tarakan dikarenakan proses pembangunan rumah warga yang berada di lereng bukit yang dianggap rawan terjadi longsor.

Menanggapi hal tersebut, Wali Kota Tarakan, dr. Khairul mengatakan, pihaknya telah memerintahkan kepada BPBD untuk melakukan penanganan sementara terhadap korban bencana longsor di Kota Tarakan. Selanjutnya, pihaknya akan melakukan rapat untuk membahas secara khusus terkait bencana longsor karena Rabu kemarin, merupakan kejadian longsor paling banyak di Tarakan.

“Di Pamusian ada, di Karang Anyar ada, di mana-mana ada, jadi kami hanya mengambil langkah-langkah utama dulu,” katanya.

Melalui keinginan DPRD agar pemerintah menyediakan anggaran taktis longsor, Khairul menyatakan bahwa Tarakan memang sudah memiliki anggaran cadangan untuk bencana longsor. Namun karena terjadi defisit, maka pihaknya akan berupaya untuk menyediakan anggaran taktis longsor. “Besok akan kami bahas, hari ini (kemarin, Red) hanya penanganan sementara saja,” pungkasnya. (shy/eza)


BACA JUGA

Selasa, 21 Januari 2020 11:43

HOROR..!! Speed ini Bocor Setelah Tabrak Kayu, Bagaimana Nasib Puluhan Penumpangnya...??

TARAKAN - Speedboat Malinau Express IX yang membawa 35 penumpang…

Selasa, 21 Januari 2020 11:34

INNALILLAHI...!! Terbakar..!! Pasar Tertua di Tarakan Rata dengan Tanah

API membumbung tinggi di bangunan berlantai dua, tepat di pinggir…

Selasa, 21 Januari 2020 11:29

Pasar Pertama yang Mengkhususkan Pisang

Pasar Batu Tarakan, belakangan identik sebagai pusat oleh-oleh. Sebagian pedagang…

Senin, 20 Januari 2020 12:59

BREAKING NEWS! Ditinggal Penghuni, Rumah kosong Terbakar

TARAKAN - Kebakaran terjadi di RT 24 Kelurahan Sebengkok tepatnya…

Senin, 20 Januari 2020 11:02

Dapat Sehatnya, Raih Doorprize Menarik

TARAKAN – Akrab dan ceria. Begitulah suasana yang terlihat di…

Sabtu, 18 Januari 2020 13:56

Pencabutan Subsidi Elpiji 3 Kg, Perlu Dipikir Diantisipasinya

TARAKAN – Rencana pemerintah mencabut subsidi pada elpiji 3 kilogram…

Sabtu, 18 Januari 2020 13:52

Semarak Tahun Baru Imlek Identik Warna Merah

SERBA MERAH: Pernak-pernik Tahun Baru Imlek terpampang di salah satu…

Jumat, 17 Januari 2020 11:10

Curah Hujan Tinggi, Waspada Banjir dan Longsor

TARAKAN – Hujan yang mengguyur Kota Tarakan sejak Kamis (16/20)…

Jumat, 17 Januari 2020 11:06

2020, Potensi Karhutla di Pulau Ini Masih Ada

TARAKAN – Masih adanya musim kemarau yang terjadi pada tahun…

Kamis, 16 Januari 2020 14:40

Pajak di Tarakan Diklaim Masih Lebih Murah

TARAKAN - Pemerintah Kota (Pemkot) Tarakan berkeinginan mengoptimalisasi seluruh pundi-pundi…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers