MANAGED BY:
JUMAT
29 MEI
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | KRIMINAL

RADAR KALTARA

Rabu, 06 Maret 2019 11:54
MANTAP BAH..!! PLTSa Rp 1,3 Triliun Didanai Investor
BUTUH LOKASI BARU: Lokasi TPA Hake Babu yang sudah overload. RADAR TARAKAN

PROKAL.CO, TARAKAN – Tarakan sedang mengalami masalah kebersihan. Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Hake Babu sedang mengalami masalah kelebihan kapasitas. TPA yang dibangun di Juata belum selesai, cenderung bermasalah. Di tengah kondisi itu, Pemerintah Kota (Pemkot) menyambut wacana pembangunan pembangkit listrik tenaga sampah (PLTSa). Jika benar-benar terealisasi, Tarakan digadang-gadang bakal bebas TPA.

Wali Kota Tarakan dr. Khairul, M.Kes, mengatakan kesepakatannya, PLN menyanggupi pembelian listrik yang dihasilkan dari PLTSa.

“PLN ini, menurut PLN masih terjadi over kapasitas sekitar 80 megawatt. Tapi listrik PLTSa untuk perkembangan pembangunan ke depan, termasuk ada beberapa industri yang akan masuk ke Kota Tarakan dan program pembangunan lain yang butuh listrik, jadi itu semua harus diantisipasi juga,” bebernya, Minggu (3/3).

Nah, mengenai lokasi PLTSa, Khairul menyatakan adanya beberapa pilihan yang telah  dibahas bersama instansi teknis. Adapun lokasi tersebut seperti TPA lama yang terdapat di Jalan Aki Babu, namun jika dilakukan di TPA lama, maka pemerintah harus menyediakan TPA sementara. Sedang TPA di Juata belum klir. Investor menginginkan pembangunan PLTSa secepatnya, sehingga dibutuhkan solusi secepatnya.

Selain lokasi tersebut, kawasan PLTSa yang lain juga terdapat di lokasi Kawasan Peternakan (Kunak) yang terdapat di Jalan Aki Babu.

“Tapi saya minta satu minggu ini sudah ada penentuan lokasi. Kami kan hanya akan membangun di satu tempat saja, masih ada beberapa opsi lahan yang masih belum dipilih, yang lahan-lahan Pemkot tadi,” jelasnya.

Pembangunan PLTSa ini dikatakan Khairul tidak menggunakan Anggaran Pendapatan Dan Belanja Daerah (APBD) Tarakan, bahkan lahan Kota Tarakan disewakan kepada pihak Patra Global Energi (PGE). Harga sewa lahan akan ditentukan setelah dinilai Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL).

“Makanya dirapatkan secara sektoral supaya kami berharap semuanya mendukung untuk percepatan pembangunan di Kota Tarakan. Kami kasih karpet merah untuk para investor ini. Jadi jangan mempersulit mereka, karena mereka mau bawa duit untuk Kota Tarakan. Mudah-mudahan sangat bermanfaat untuk masyarakat,” tutupnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Tarakan Supriyono menyatakan bahwa setiap harinya, produksi sampah di Kota Tarakan mencapai 120 ton yang terdiri dari sampah organik dan non-organik. “Seperti apa mekanisme tata kelolanya? Belum diputuskan. Kalau bahan baku cukup dan tersedia. Tapi nantilah, kami belum putuskan. Tapi menurut investor semua sampah akan habis dibakar,” singkatnya.

Menanggapi hal tersebut, Presiden Direktur PGE Jakarta Selatan Endra Wendras mengatakan bahwa sebagai pengembang teknologi kelistrikan, pihaknya beberapa kali berencana untuk menerapkan PLTSa dengan melihat dan mempertimbangankan teknologi terbaik yang cocok untuk Kota Tarakan. Jenis sampah yang ada di Kota Tarakan menurutnya lebih cocok menggunakan teknologi plasma.

Endra menjelaskan bahwa jenis teknologi plasma merupakan teknologi terbaik karena memiliki daya paling besar dan menghasilkan 25 megawatt dengan investasi USD 90 juta atau senilai Rp 1,3 triliun.

Pembangunan PLTSa akan dimulai 2019 ini. “Tahapannya begini, kami nanti kerja sama dulu dengan Pemkot Tarakan, baru kami dengan PLN baru kami bangun. Kalau semuanya tercapai, mungkin akhir April atau awal Mei kami sudah mulai membangun,” ungkapnya.

Untuk diketahui, proses pembangunan PLTSa membutuhkan waktu 8 hingga 10 bulan dengan lahan 2 hektare yang lokasinya akan didiskusikan kembali bersama dengan Pemkot Tarakan. “Bukan hanya sampahnya hilang, tapi dari segi lingkungan aman, listriknya juga nanti akan terjaga dan PAD juga akan didapatkan Tarakan,” jelasnya.

Menurut hasil diskusi pihaknya bersama dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH), PGE mendapatkan hasil bahwa berat sampah yang dikelola di Kota Tarakan mencapai 120 ton per hari. Nah, sampah tersebutlah yang akan dikelola setiap hari. “120 ton sampah itu, setiap hari habis nanti karena semua jenis sampah akan diolah. Asalkan jangan sampah masyarakat saja,” ujarnya berseloroh.

Untuk diketahui, kapasitas PLTSa yang akan digunakan nanti akan mencapai 25 megawatt. Meski sudah melakukan diskusi bersama pihak PLN, namun pihaknya belum mendapatkan kata deal dari PLN. Akan tetapi, pihaknya tetap optimistis mendapatkan persetujuan dari PLN dikarenakan ini merupakan salah astu program PLN.

Adapun cara kerja PLTSa yang akan digunakan nanti ialah sampah yang didapat akan dimasukkan ke dalam plasma kemudian akan diolah menjadi pembangkit listrik. Akan tetapi, lokasi PLTSa belum diputuskan oleh pihak Pemkot. “Nanti Tarakan sudah tidak perlu TPA lagi kalau ini (PLTSa) dibangun, karena sampahnya akan habis,” imbuhnya.

Menurut Direktur Kampus Hijau Lembaga Penelitian Pengembangan dan Pelatihan (LP3TIDI) Kota Langsa Dr. Ishenny M. Noor, bahwa teknologi karbonisasi pada PLTSa merupakan bukanlah teknologi.

“Jadi sampah itu diolah dengan sistem radiasi panas sehingga terjadi dekomposisi sampah menjadi karbon, menjadi pupuk karbon cair untuk pertanian dan menjadi asam cair sebagai biopestisida untuk pertanian,” tuturnya.

Ishenny menjelaskan bahwa pada dasarnya karbon dapat digunakan untuk menyuburkan tanah. Namun jenis karbon tersebut bukanlah sebuah pupuk, sebab yang menjadi persoalan utama masyarakat kaum petani di Kota Tarakan saat ini ialah kualitas tanah yang buruk, sehingga untuk memperbaiki kualitas tanah tersebut ialah dengan memberikan karbon dari sampah.

“Karbon ini nantinya akan dikerjasamakan dengan petani, kemudian peningkatan hasil kerjasama itu tinggal bagi hasil dengan kami atau Pemkot Tarakan dan kami akan mem-back up teknologinya,” jelasnya.

“Itu namanya program karbonisasi untuk pertanian termasuk perikanan darat seperti tambak udang dan bandeng, saya pikir di Tarakan dua komoditi ini paling berpengaruh, sehingga ini bisa membetulkan kembali struktur tanah di tambak,” sambungnya.

Selama ini, Indonesia kekurangan karbon di tanah, sehingga lebih sering melakukan treatment pada budi daya. Misalnya nutrisi tanah yang kurang harus diberi pupuk, sehingga setiap tahun akan meningkat dosisnya untuk mempertahankan produksi di tahun sebelumnya, sehingga dipercaya akan meningkatkan cost pedagang. “Jadi tidak terkaver, sehingga petani bukannya untung, tapi justru ngutang,” katanya.

Langkah pertama yang akan dilalui pihaknya ialah program tambak udang yang akan dilakukan pada April 2019 bersama petani tambak. Jika Pemkot ingin melakukan pengelolaan tambak sistem karbonisasi, maka peluang pasar untuk karbon itu sudah ada di petani tambak.

Dalam kasus pertanian, sistem karbonisasi dapat meningkatkan hasil panen dari 5 ton menjadi 10 ton, mampu menurunkan masa umur panen dari 102 hari menjadi 98 hari serta meningkatkan rumpun padi dari 15 batang menjadi 45 batang per rumpun padi.

Sementara itu, estimasi pihaknya akan menghasilkan udang sekitar 25 biji per kilogram, mengurangi penyakit udang dan meningkatkan produksi udang.

“Masalah petani tambak itu seperti bermain gim, sekali kena, 10 kali nggak kena. Soalnya petani udang tidak punya pengetahuan tentang pemeliharaan udang dan ikan, jadi teknologi ini akan diterapkan di masyarakat,” imbuhnya. (*/shy/lim)

 


BACA JUGA

Jumat, 29 Mei 2020 10:44

Dua Reaktif Rapid Test di Jalan Kusuma Bangsa Sudah Diisolasi

TARAKAN - Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Tarakan,…

Jumat, 29 Mei 2020 10:24

Soal Rapid Test ke Karyawan, STB: Kerja Sama dengan Dinkes

TARAKAN - Beredar foto-foto sejumlah tenaga medis di salah satu…

Kamis, 28 Mei 2020 18:34

Mendagri: Pilkada Serentak Dimajukan

MENTERI Dalam Negeri (Mendagri) Jenderal (Purn) Tito Karnavian memastikan pemilihan…

Kamis, 28 Mei 2020 14:48

PN Tarakan Masih Lakukan Sidang Secara Virtual

TARAKAN - Semenjak pandemi Coronavirus disease (Covid-19) dan Kota Tarakan…

Kamis, 28 Mei 2020 14:23

Sejak Ada Covid-19, Volume Sampah Berkurang

tarakan — Volume sampah  biasanya terus meningkat, apalagi saat hari…

Kamis, 28 Mei 2020 14:20

Pengolahan Higienis, Pesan Langsung Antar

Tarakan - Depot air minum merupakan salah satu usaha industri…

Kamis, 28 Mei 2020 12:07

Penerbangan di Tarakan Tak Otomatis Normal

Tanggal 1 Juni merupakan masa terakhir berlakunya pembatasan transportasi udara…

Kamis, 28 Mei 2020 12:01

Di Tarakan, Berlakukan New Normal atau Gelombang Kedua

MENJADI salah satu daerah yang dinyatakan siap memberlakukan protokol new…

Rabu, 27 Mei 2020 13:43

Usai Lebaran, Razia PSBB Tetap Lakukan

Tarakan –  Dengan adanya perpanjangan waktu Pembatasan Sosial Berskala Besar…

Rabu, 27 Mei 2020 13:38

Udin Tetap Optimistis Berpasangan dengan Yansen

TARAKAN - Bursa pilgub Kaltara nampaknya akan memasuki babak baru…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers