MANAGED BY:
SELASA
20 AGUSTUS
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Rabu, 13 Februari 2019 00:06
Biang Antrean, Pengetap Pakai Minibus
ANTRE: Pengendara yang menunggu antrean BBM di SPBU Gunung Lingkas. FOTO: AGUS DIAN ZAKARIA/RADAR TARAKAN

PROKAL.CO, TARAKAN - Keinginan Pertamina agar Pemerintah Kota (Pemkot) Tarakan dapat menerbitkan aturan terkait penyaluran bahan bakar minyak (BBM) jenis solar bersubsidi kepada setiap masyarakat mendapat tanggapan dari Wali Kota Tarakan Ir. Sofian Raga.

Saat ditemui Radar Tarakan usai pelaksanaan pandangan fraksi terhadap 8 raperda di gedung DPRD Kota Tarakan, ia mengatakan bahwa hal tersebut telah diatur dalam Undang-Undang 22/2001 tentang Migas. “Saya pikir itu sudah diterapkan, dulu juga sudah diterapkan ketika muncul antrean itu. Supaya dijawab seperlunya, rujukannya UU Migas,” singkatnya.

Panjangnya antrean di SPBU Mulawarman dan Gunung Lingkas, membuat masyarakat sangat kesulitan dalam mendapatkan bahan bakar. Sebagian masyarakat menilai panjangnya antrean tersebut disebabkan oknum pengetap yang mengantre setiap harinya.

Rahmad Wahyudi (25), seorang warga RT 01 Kelurahan Gunung Lingkas, Tarakan Timur yang tinggal tidak jauh dari SPBU menerangkan jika panjangnya antrean disebabkan suburnya pengetap pada SPBU. Selain itu ia mengaku pengetap tidak hanya menggunakan sepeda motor namun juga menggunakan mobil.

"Setiap hari pengetap itu, saya hafal ada yang pakai mobil Kijang, Avanza dan mobil sedan lama. Paling banyak pakai mobil Avanza. Saya tahu karena dalam sehari minimal saya lihat mereka 2 kali mengantre. Kalau motor itu yang pakai moge (motor gede) banyak yang saya tahu jumlahnya sekitar di atas 10 motor. Tahu mereka pengetap karena setiap hari lihat dan ada juga teman yang kerja di SPBU yang kasih tahu," tuturnya, kemarin (12/2).

Meski demikian, ia mengaku tidak mengenal identitas pengetap tersebut secara pasti. Namun mengenali ciri fisik, karena mengantre saban hari.

"Ada satu orang kalau lihat mobil seperti jenis sedan dimodifikasi warnanya hijau itu pengetap. Memang dari dulu mobil itu dikenal kerjanya ngantre di SPBU," tuturnya.

Sementara itu, Suhaeri pengawas SPBU membantah hal tersebut. Menurutnya tidak mungkin seseorang dapat membedakan pengetap dan pembeli murni. Karena menurutnya pembeli di SPBU sangatlah banyak sehingga untuk mengetahuinya sangatlah sulit.

"Ngawur. Orang setiap hari yang ngantre ribuan kendaraan masak bisa kenal dengan pengantre sebanyak itu. Mungkin itu kebetulan ngantre pas dia lihat. Kalau membelinya setiap hari kan tidak masalah. Yang penting dalam sehari jangan berulang-ulang," tuturnya.

Ia menerangkan, antrean panjang disebabkan karena kebutuhan masyarakat yang meningkat setiap harinya yang tidak diimbangi dengan jumlah SPBU yang ada.

Selain itu, menurutnya panjangnya antrean SPBU disebabkan bertambah banyak kendaraan roda 4 di Kota Tarakan.

"Itu memang karena kebutuhan. Jumlah penduduk bertambah semakin besar kebutuhan bahan bakar. Setiap hari berapa orang yang beli kendaraan baru. Kalau perkembangan kebutuhan tidak diikuti penambahan SPBU jadinya seperti ini," ujarnya.

Meski demikian, ia mengakui adanya pembeli BBM jenis solar yang menggunakan jeriken. Ia menerangkan jika pembelian BBM jenis solar diperbolehkan asal memiliki surat izin khusus, seperti untuk keperluan genset dan mesin perahu bagi nelayan. "Iya ada. Kan ada nelayan juga kadang membeli di sini buat mesin perahu mereka. Selain itu, ada juga buat keperluan genset seperti hotel-hotel dan instansi pemerintah. Itu kan ada izinnya," tuturnya.

Menanggapi hal tersebut, Sales Eksekutif Retail III Pertamina Tarakan Andi Reza Ramadhan membantah panjangnya antrean disebabkan bertambahnya populasi kendaraan. Menurutnya bertambahnya populasi kendaraan tidak berpengaruh besar terhadap antrean jika pelayanan berjalan lancar tanpa adanya pengetap.

"Kalau pengaruh bertambahnya kendaraan mungkin ada, cuma tidak terlalu signifikan yah karena mereka datang kalau bensinnya sudah mau habis saja tidak setiap hari. Kalau pengetap ini dia sudah datang setiap hari terus berulang-ulang. Nah mereka inilah yang menghambat kelancaran dan juga membuat persediaan bahan bakar cepat habis," bebernya.

Ia menerangkan, antrean panjang yang ada di dua SPBU yakni Mulawarman dan Gunung Lingkas terjadi karena masih adanya pengetap. Sehingga dikeluarkan imbauan pengisian BBM di dua SPBU ini. Untuk mengurai antrean di SPBU dan APMS, dari hasil rapat yang dilakukan oleh DPRD dan Pemkot Tarakan. Ia menerangkan jika nantinya SPBU diketahui sengaja menjual BBM kepada pengetap pihaknya akan melakukan pembinaan.

"Iya jelas. Kalau kami pergi ke SPBU Juata Kerikil sekitar tanggal 1-7 kemarin, itu ada tuh spanduk bertulis SPBU ini dalam pembinaan," pungkasnya.

 

ISI TIDAK SESUAI, LAPORKAN!

Andi Reza Ramadhan juga menuturkan pihaknya telah berinisiatif terlebih dahulu untuk melakukan penyesuaian penyaluran sesuai dengan kebutuhan sambil menunggu peraturan wali kota (perwali) Tarakan diterbitkan.

“Dari penyesuaian itu, kami sudah tempelkan di dua SPBU agar dipatuhi dan dilakukan. Jadi tidak perlu antre lama, karena sudah disesuaikan dengan kebutuhan,” ujarnya.

Penyesuaian juga ditentukan sesuai dengan berbagai perhitungan jarak dan waktu tempuh dalam satu harinya. Karena jarak tempuh di Tarakan tidak terlalu jauh, sehingga diakuinya untuk pembatasan Rp 50 ribu untuk roda dua bisa digunakan dalam satu hingga dua hari. Begitu juga untuk roda empat dan enam yang telah disesuaikan pengisiannya dengan kebutuhan masyarakat dalam satu harinya.

“Kami ambil contoh, jarak dari Lingkas Ujung ke Juata itu kira-kira 20 km, 1 liter itu sama dengan sekitar 10 km. Jika diisi Rp 150 ribu itu sama saja dengan 23 liter, bisa pulang balik 5 kali,” tuturnya.

Pihaknya juga berencana masih akan melakukan pertemuan atau rapat berikutnya lagi untuk bisa menggandeng aparat penegak hukum. Jadi semuanya memang masih memerlukan waktu. Karena itu jika ada masyarakat yang menemukan pengetap atau mengisi lebih dari yang ditentukan, dapat melaporkan operatornya, waktunya dan lokasi SPBU.

“Lebih bagus lagi jika ada bukti fotonya, tetapi tidak boleh menggunakan flash dan signal harus dalam keadaan mati. Karena dari foto itu bisa terlihat siapa yang melakukan,” jelasnya.

Jika terbukti ada operator yang mengisi melebihi dari harga yang telah tertera, maka akan diberhentikan sementara dengan pemberian sanksi satu hingga dua minggu dengan pemotongan gaji. Diakuinya, tidak menutup kemungkinan ada potensi permainan di operator dispenser SPBU.

Sementara itu, Wakil Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Muddain mengatakan pihaknya sudah bersepakat untuk memberikan pembatasan pembelian, karena saat ini pembatasan pembelian dilakukan oleh pertamina untuk mengantisipasi pengetap. Untuk roda empat Rp 150 ribu, roda 6 juga Rp 150 ribu, sedangkan untuk roda dua di angka Rp 25 ribu per harinya.

“Ini yang sudah disepakati, dan masih ditunggu pembuatan perwali-nya,” ungkap muddain.

Anggota Komisi II DPRD Tarakan Jamaluddin mengatakan bahwa pada dasarnya rekomendasi bagi nelayan pengguna solar bersubsidi diterbitkan Pemkot. “Wali Kota sudah mengadakan rapat gabungan dengan instansi terkait seperti kepolisian, TNI, dan Satpol PP untuk menertibkan BBM bersubsidi agar tidak ada antrean panjang, karena disalahgunakan barang bersubsidi itu sehingga tidak sesuai,” jelasnya.

Usai melakukan rapat gabungan bersama pemerintah, pihaknya menyepakati untuk menertibkan pengguna BBM bersubsidi, sehingga akan dikeluarkan surat edaran dan rapat gabungan antara TNI dan Polri. Setiap motor rencananya diberi jatah Rp 25 ribu per sekali pengisian, hal ini pun pernah dilakukan pada tahun 2014 lalu sehingga tidak adanya lagi antrean panjang dan pengetap di Kota Tarakan.

“Pertamina sudah berikan wanti-wanti kepada pemilik SPBU atau APMS, insyaallah selesailah itu urusan. Kalau sudah ditertibkan dengan tegas, tapi tetap dilanggar akan diberikan tindakan sesuai peraturan yang ada, bisa ditutup SPBU-nya oleh Pertamina,” pungkasnya. (*/shy/*/zac/*/naa/lim)

 

 


BACA JUGA

Selasa, 20 Agustus 2019 10:35

Kelas RSUD Jadi Perdebatan

TARAKAN – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tarakan milik Pemerintah…

Selasa, 20 Agustus 2019 10:26

Batas Waktu Pengambilan Doorprize 26 Agustus

TARAKAN – Bagi Anda pemenang doorprize jalan sehat BUMN Hadir…

Selasa, 20 Agustus 2019 10:24

Mengenal Anggota Legislatif Periode 2019-2024 (Bagian-8)

Pernah gagal dalam Pemilihan Legislatif (Pileg) 2009, tidak membuat H.…

Selasa, 20 Agustus 2019 09:19

Pemkot Rencanakan PJU di 6.800 Titik

TARAKAN - Sebanyak 6.800 titik di wilayah Bumi Paguntaka akan…

Selasa, 20 Agustus 2019 09:14

Investor Oksigen Minta Izin Pemkot

TARAKAN - Penyedia oksigen di Kota Tarakan masih terbilang kurang.…

Selasa, 20 Agustus 2019 09:06

Tidak Dipungut Petugas, Sampah Menumpuk di Pinggir Jalan

TARAKAN - Pemandangan tidak sedap terlihat di Jalan P.Diponegoro Kelurahan…

Senin, 19 Agustus 2019 12:39

Bank Indonesia Inisiasi Transaksi via QR Code

ADA yang unik dalam festival kuliner di kegiatan pawai pembangunan…

Senin, 19 Agustus 2019 12:38

Janji Digelar sebagai Wisata Tahunan

TARAKAN – Akhirnya rindu masyarakat terobati dengan pawai pembangunan 2019…

Senin, 19 Agustus 2019 12:37

Terharu Pertama Kalinya Dapat Hadiah Jalan Sehat

TARAKAN – Jalan sehat BUMN Hadir untuk Negeri (BHUN) yang…

Senin, 19 Agustus 2019 12:36

Al Rhazali, Janji Penambahan Fasilitas Pendidikan

Meski sempat ditentang sang istri untuk maju menjadi calon anggota…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*