MANAGED BY:
KAMIS
22 AGUSTUS
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA
Minggu, 10 Februari 2019 21:18
Melihat Aktivitas Penghobi Vespa Ekstrem

Jual Vespa Kesayangan untuk Ibu Tunaikan Ibadah Haji

MERAKIT: Herianto Nurdin saat melakukan perbaikan roda vespa ekstremnya sebelum memulai perjalanan panjang menuju Kalimantan Barat. FOTO: DEDI SUHENDRA/RADAR KALTARA

PROKAL.CO, Vespa pertama kali masuk Indonesia pada zaman kolonial Belanda. Produk perusahaan sepeda motor Italia Piaggio tercipta pertama kali tahun 1946 usai perang dunia II dan pertama kali masuk Indonesia akhir tahun 1960-an. Meski tergolong skuter tua, pecinta vespa seakan tak lekang di makan zaman. Bahkan ada pecinta vespa yang memodifikasi bentuk menjadi ekstrem, berikut ulasanya.

DEDI SUHENDRA

HERIANTO Nurdin namanya pria kelahiran Bukaka, 2 Februari 1982 ini keseharianya selalu akrab dengan skuter vespa yang diproduksi lebih dari setengah abad silam.

Menurutnya, awal jatuh hati dengan vespa saat dirinya masuk perguruan tinggi di Sulawesi sekitar tahun 2000 dan menjadi bagian dari mahasiswa pecinta alam.

“Awalnya saya pecinta alam saat kuliah. Hobi yang visi misinya sama dengan pecinta alam adalah vespa yang hobinya berpetualang,” ungkap lulusan Politeknik Negeri Ujung Pandang, tahun 2004 ini.

Pemilik cafe Labolong yang berada di seberang Pasar Induk Tanjung Selor ini mengatakan, jika vespa mengajarkannya sebuah kesederhanaan dan persaudaraan. “Meskipun sederhana vespa bisa bawa kita ke mana-mana. Banyak suka dan dukanya dengan vespa,” katanya.

Betapa tidak, selama 18 tahun berjibaku dengan motor vespa, Anto panggilan akrabnya, sudah menyinggahi hampir sebagian besar wilayah Sulawesi, Pulau Jawa, Bali, Sumatera serta Kalimantan hanya menyisakan Kalimantan Barat (Kalbar) yang belum ia singgahi dengan vespa.

“Pecinta vespa minimal bisa ganti busi dan ban, kalau mesin biasanya dibawa ke bengkel terkadang ada juga pecinta vespa lain yang membantu,” ujarnya.

Ayah dari Muhammad An-Nahl Ramadhan ini mengatakan, jika pecinta vespa di Bulungan termasuk hobi mahal dan sudah menjadi sebuah risiko. Karena tidak heran jika peralatan vespa dihargai sangat mahal dan vespa seringkali rewel menjadi hal biasa.

“Sudah risiko motor tua, tidak semua harus dikerja di bengkel. Untuk sparepart di Bulungan kita sudah punya link sendiri, bisa beli dari Tarakan atau Berau. Kita di Bulungan biasanya pakai second (bekas) atau beli buat stok pribadi,” terang pria berambut gondrong ini.

Sembari merakit body vespa ekstremnya, Anto menceritakan pengalaman paling berkesan selama 18 tahun memiliki hobi bervespa. Menurutnya antara tahun 2010 dirinya seringkali menjadi pengoleksi serta penjual vespa. Pada saat itu ia membeli sebuah vespa produksi tahun 1967 dengan harga Rp 750 ribu. Kemudian ia jual seharga Rp 8 juta dan uangnya digunakan untuk tambahan naik haji sang ibunda.

“Paling berkesan, meskipun uang tersebut tidak saya nikmati. Saya berikan semuanya pada ibu untuk tambahan ibadah haji,” kenangnya.

Anto selain penyuka vespa ektrem, Ia juga mengoleksi jenis vespa klasik. Namun dirinya bukan termasuk penghobi vespa sampahan. “Saya lebih senang vespa ekstrem makainya lebih nyantai dan tidak capek. Saya tidak suka vespa sampahan. Kalau vespa klasik hanya buat koleksi saja,” ujarnya.

Saat ini dirinya memiliki satu unit vespa ekstrem bermesin eksklusif 150 cc dengan rangka besi yang ia rakit dari kumpulan besi rongsokan. “Untuk merakit tidak ada biaya kita beli besi rongsokan kita kerjakan sama teman-teman. Saya pakai vespa sudah keliling Sulawesi, keliling Jawa, Bali, Sumatera, dan Kalimantan hanya menyisakan Kalbar,” urainya.

Meski demikian pertengahan Maret mendatang Ia hendak menuntaskan misi tur Pulau Kalimantan. “Rencana jalan tanggal 7 bulan 3 sendirian ke Kalbar. Perkiraan butuh waktu satu bulan pulang pergi,” jelasnya lagi.

Suka duka saat perjalanan jauh sendirian dengan vespa, menurutnya bisa mengatur waktu ke mana saja. Dukanya perjalanan sendirian harus bisa mengatasi masalah yang ada dan harus survive. “Ketika ada kerusakan di jalan, vespa banyak saudaranya,” katanya sembari tertawa.

Selama perjalanan jauh, Anto tidak pernah kesulitan untuk menginap bersama vespanya. “Nginapnya di rumah teman, mes, atau hotel bintang banyak (beratap langit), hotel kuda laut (SPBU), hotel emko (emperen toko),” ujarnya dengan nada santai.

Untuk jalanan di Kalimantan kata Dia, dari Bulungan menuju Berau adalah jalur yang paling ia takuti. Karena seringkali vespa ekstremnya kandas terjebak di aspal berlubang. “Jalanan Bulungan menuju Berau dan sebaliknya kondisi berlubang, mobil saja nyangkut apalagi vespa ektrem. Tapi alhamdulilah kemarin masih bisa,” kenangnya.

Saat touring yang paling ia takuti adalah begal serta perampok di jalan tapi sejauh ini tidak ada sesuatu yang membuat dirinya jera menapaki jalanan panjang bersama vespanya. Saking cintanya dengan vespa putra pertama Anto, yang bernama Muhammad An-Nahl Ramadhan. An-Nahl merupakan salah satu surah dalam Alquran yang artinya Lebah, sedangkan dalam bahasa Italia Anhal artinya vespa. (***/eza)

 

loading...

BACA JUGA

Selasa, 08 September 2015 11:13

Persembahkan Tarian Daerah, Berlatih Hingga Empat Bulan

<p>Ada cerita lain pada peringatan Hari Anak Nasional (HAN) yang dilakukan di ruang serba guna…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*