MANAGED BY:
KAMIS
17 OKTOBER
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | KRIMINAL

RADAR KALTARA

Senin, 04 Februari 2019 14:04
Penumpang Bertambah di Hari Keempat Beroperasi
DIMINATI: Bus Damri beroperasi dengan rute Tana Tidung-Tanjung Selor yang beroperasi sejak tiga hari lalu. RIKO / RADAR TARAKAN

PROKAL.CO, TANA TIDUNG – Jumlah penumpang bus Damri rute Desa Tideng Pale Kecamatan Sesayap KTT menuju Tanjung Selor Bulungan hari ke empat beroperasi terus bertambah. Diketahui jumlah kapasitas maksimum bus tersebut yakni 19 kursi.

Sebelumnya di hari pertama beroperasi, 19 kursi yang disediakan tidak dipenuhi penumpang. Diakui Hasmiati (50), sebelum bus Damri beroperasi, dirinya kesulitan untuk mencari transportasi aman ke Bulungan. Menurutnya dengan beroperasinya bus tersebut, memudahkan ia bersama warga lain yang hendak jalan-jalan ke ibu kota provinsi.

“Saya senang sekali dengan adanya bus Damri ini sebab sudah lama mau ke Tanjung Selor tapi tidak kesampaian karena biaya transportasi dan sulitnya mencari transportasi membuat saya harus berpikir ulang kalau mau jalan ke sana,” aku Hasmiati, Minggu (3/2).

Ia menilai keberadaan, bus Damri termasuk memiliki tarif yang terbilang cukup terjangkau. Ia bersyukur sekali. Karena lanjutnya, selama ini misalnya, warga yang hendak ke Desa Sepala Dalung di Kecamatan Sesayap Hilir saja, harus membayar ongkos Rp 100 ribu per orangnya. Terutama menggunakan kendaraan roda empat padahal jarak dari Desa Tideng Pale, Kecamatan Sesayap ke Kecamatan Sesayap Hilir sekitar 14 – 15 kilometer (km) saja. Sementara KTT ke Tanjung Selor berjarak ratusan km.

“Bayangkan saja dari desa yang ada di Kecamatan Sesayap menuju desa di Kecamatan Sesayap Hilir kami harus mengeluarkan biaya tinggi untuk membayar ongkos transportasi khusus mobil bahkan ada yang mau mengantar perjalanan Pulang Pergi (PP) dari Sesayap ke Sesayap Hilir Rp 300 ribu,” jelasnya.

Menurutnya semenjak beroperasinya bus tersebut, segala kebutuhan yang tak bisa diperoleh di Tana Tidung, bisa dipasok dari Bulungan. Karena kondisinya, warga KTT untuk segala jenis administrasi maupun pasokan pangan masih bergantung di Bulungan. Misalnya untuk pembuatan Surat Izin Mengemudi (SIM), pembuatan Akta Tanah dan kepengurusan lainnya. Tak heran banyak warga yang harus menunda bepergian ke ibu kota karena biaya besar yang cukup menguras kantong.

Menurut salah seorang penjaga yang menyediakan tiket bus Damri, Reza, ia mebenarkan antusias warga yang cukup tinggi menyambut beroperasinya bus tersebut. Ia juga memperkirakan setiap hari  weekend, jumlah penumpang yang akan pergi ke Kaltara akan jauh lebih besar.  Sebagai informasi Layanan jasa transportasi bus damri pun mengumumkan tarif yakni dari Desa Tideng Pale ke Desa Sesayap di Kecamatan Sesayap Hilir Rp 20 ribu. Kemudian dari  Tideng Pale ke Kecamatan Betayau Rp 30 ribu.  Tideng Pale ke Sekatak Buji di Tanjung Selor Rp 50 ribu, Tideng Pale – Sekatak Bengara Rp 70 ribu. Dan  Tideng Pale ke Panca Agung atau Pimping Rp 80 ribu. Tideng Pale ke Antutan/Pejalin Rp 100 ribu. Lalu Tideng Pale ke Tanjung Palas Rp 100 ribu. Kemudian dari Tideng Pale ke Tanjung Selor Rp 100 ribu per orangnya dalam sekali perjalanan. (*/rko/zia)

 

 


BACA JUGA

Jumat, 11 September 2015 15:28

Lebih Langsing dengan Berenang

<p>Berenang termasuk olahraga yang menyenangkan. Tetapi kebanyakan orang lebih menganggap olahraga…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*