MANAGED BY:
JUMAT
13 DESEMBER
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | KRIMINAL

RADAR KALTARA

Senin, 28 Januari 2019 14:25
Dari Rasa Peduli Ciptakan Alat Multifungsi

Faizan Nur Eli, ‘Doraemon’ Dunia Nyata

PENEMUAN: Faizan Nur Eli menyalakan kompor menggunakan bahan bakar yang dihasilkan dari sampah yang dibakar pekan lalu. AGUS DIAN ZAKARIA/RADAR TARAKAN

PROKAL.CO, Tentu kita semua pernah menonton serial kartun Doraemon di layar kaca. Jika Doraemon memiliki kemampuan mengeluarkan berbagai benda ajaib dari kantongnya karena tuntutan keadaan, hampir sama dengan yang dilakukan  Faizan (56) warga Jalan Gajah Mada RT 04, Kelurahan Karang Rejo Kecamatan Tarakan Barat. Seperti apa kisahnya?

 

AGUS DIAN ZAKARIA

 

PRIA kelahiran Surabaya 1962 ini, mampu menciptakan berbagai alat dari kondisi kesulitan yang dialaminya. Tidak tanggung-tanggung Faizan juga dapat menyulap sampah plastik menjadi 4 jenis bahan bakar yang paling dibutuhkan manusia sehari-hari.

Berawal dari keprihatinan sekitar 13 tahun lalu, Faizan yang bermukim di kawasan pesisir awalnya merasa sedih melihat lingkungannya terdapat banyak sampah plastik dan sampah sisa makanan. Meski saat itu ia masih menjabat sebagai ketua rukun tetangga (RT), namun ia tidak bisa berbuat banyak untuk menangani sampah tersebut.

“Sebelumnya saya kan RT di sini. Sebelumnya saya lihat daerah ini sangat kumuh. Waktu itu saya berpikir bagaimana kalau sampah ini bisa diolah. Sebenarnya untuk basic sendiri saya tidak punya ilmu ini. Tapi saya menciptakan eksperimen murni dari sikap spontanitas  melihat keadaan,” ujarnya saat menerima Radar Tarakan, pekan lalu.

Kreativitas mulai merasuk ke dalam dirinya setelah ia mendapat pelatihan dalam menangani sampah plastik untuk didaur ulang menjadi pupuk kompos tahun 2006. Bermodal ilmu dalam pelatihan pembuatan pupuk tersebut, ia lantas tidak merasa puas. Pupuk tersebut masih mengeluarkan bau tidak sedap. Sehingga seiring waktu berjalan ia berhasil menemukan cara untuk menghilangkan bau sedap tersebut melalui eksperimennya.

“Tahun 2006 ada tawaran dari salah satu LSM Jerman namanya Burda. Waktu itu menawarkan ke daerah untuk bekerja sama membuat pupuk. Akhirnya Pemkot Tarakan setuju. Jadi seluruh perwakilan semua kelurahan di Tarakan itu dicari orang yang mau mengelola kelurahannya masing-masing,” tuturnya kemarin. Alhamdulillah saya mewakili kelurahan saya, akhirnya dapat bantuan LSM bangunan ini. Jadi awalnya kami diajari buat pupuk. Tapi setelah diajari saya rasa kurang maksimal karena pupuknya ini menghasilkan bau tidak sedap. Akhirnya saya kembangkan dan bisa membuat pupuk itu tidak berbau,” ujarnya, kemarin (27/1).

Setelah berhasil membuat pupuk ramah lingkungan, akhirnya ia terpikir untuk memanfaatkan sampah plastik yang berserakan di lingkungannya. Bermodalkan logika, akhirnya ia mengumpulkan sampah tersebut dan mencoba melakukan eksperimen untuk membakar plastik tersebut. Melihat plastik yang terbakar meleleh dan cairan menyerupai minyak, akhirnya ia terpikir untuk membuat alat sederhana dari kaleng untuk dapat memanfaatkan cairan dari bakaran plastik tersebut menjadi bahan bakar.

“Setelah bisa buat pupuk, saya berpikir kalau sampah makanan saja bisa dibuat pupuk terus sampah plastik ini mau diapakan. Saya pikir, plastik ini kan kalau dibakar seperti ada minyaknya menetes. Saya tidak tahu kalau plastik ada kandungan minyaknya karena saya bukan orang akademisi. Setelah itu saya coba suling saya buat alat penyulingannya sendiri, eh ada tetesannya,” imbuhnya. 

Setelah berhasil menciptakan alat sederhana, akhirnya pria yang juga pernah berdagang sembako tersebut berhasil mengembangkan alat ciptaannya untuk menghasilkan 4 jenis bahan bakar.

“Setelah saya bakar tetesannya itu, akhirnya terbakar. Akhirnya saya kembangkan alat itu. Pertama masih solar saja. Setelah itu pipanya saya tambah kemudian akhirnya jadi minyak tanah terus saya tambah lagi panjang pipanya akhirnya jadi bensin dan terakhir gas,” terangnya.

Ia menerangkan, untuk membedakan 4 jenis bahan bakar tersebut dirinya hanya mengandalkan logika saja. Meski demikian, hasil kesimpulannya dalam menggolongkan jenis BBM berdasarkan rangsangan api tersebut ternyata sesuai dengan hasil penelitian salah satu profesor Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta belum lama ini.

“Begini, saya membedakan jenis BBM ini dari logika saja, kalau tetesannya ini saya bakar menyambar berarti ini bensin. Kalau yang tidak menyambar tapi agak jernih kalau dipakai dengan sumbuh kompor bagus, kalau yang warnanya agak kuning (bensin) sumbuhnya jadi keras. berarti yang jernih ini minyak tanah. Setelah itu saya tes di mesin bisa dan ini sudah dapat pengujian dari profesor UGM ternyata memang betul jenis 4 bahan bakar yang saya golongkan itu,” jelasnya.

Sejauh ini, Faizan tidak hanya menciptakan alat penyuling bahan bakar saja. Namun ia menciptakan berbagai alat yang dibutuhkan manusia dalam aktivitas sehari-hari. Seperti alat pembuat sabun, alat penggiling sabuk kelapa dan alat pembuat bahan bakar padat seperti briket yang identik digunakan oleh TNI sebagai bahan bakar dalam kondisi darurat.
“Alat kompos, penyuling multiguna, alat penggiling sabuk kelapa, alat pencetak briket, alat pembuat sabun dari arang, alat penyulingan limbah plastik ke bahan bakar, alat penjemur ikan asin berbahan bakar plastik,” tuturnya.

Selain itu, karya Faizan memang komplit selain menciptakan alat ia juga menciptakan berbagai bahan keperluan yang berbahan dasar dari sampah. Seperti sabun, cairan pembersih lumut, cairan pengawet kayu, dan berbagai kerajinan tangan.
Dengan kemampuannya menciptakan alat dan banyak temuan kebutuhan tersebut, pemerintah Jepang pernah mengirimkan beberapa aliansinya untuk menimba ilmu kepada Faizan. Selain itu Faizan pernah mendapatkan penawaran untuk mempatenkan temuannya oleh salah satu brand, namun ditolak.

Menurut Faizan tujuannya menciptakan alat tersebut hanya untuk membantu banyak orang dan juga dapat mengajarkan generasi muda jika bangsa Indonesia juga dapat menciptakan alat kebutuhan sendiri melalui logika sederhana.

“Saya sempat ditawari saat di Jakarta temuan penghancur sabuk kelapa dan penyuling multifungsi ini dipatenkan. Tapi menolak, karena tujuan saya bukan itu. Saya hanya menciptakan alat untuk membantu orang sekitar,” ujarnya. (***/lim)

 

 


BACA JUGA

Jumat, 13 Desember 2019 14:16

Kabul Pernikahan Bisa Diwakilkan

TARAKAN - Setelah hebohnya kabar perceraian dapat dilakukan secara online,…

Jumat, 13 Desember 2019 14:14

Sertifikat HGB Bisa Diubah SHM

TARAKAN – Minimnya pengetahuan soal mekanisme sertifikasi laha di Bumi…

Jumat, 13 Desember 2019 14:12

Pendapatan Samsat Terealisasi 98 Persen

TARAKAN – Pertengahan Desember ini, Kantor Pelayanan Samsat Induk Tarakan…

Jumat, 13 Desember 2019 14:08

Perpanjangan Dermaga 200 Meter

TARAKAN – Dermaga Pelabuhan Malundung Tarakan rencananya akan diperpanjang ke…

Jumat, 13 Desember 2019 13:58

Apresiasi KPU Terhadap Dukungan Radar Tarakan

TARAKAN – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Tarakan mengapresiasi partisipasi SKH…

Kamis, 12 Desember 2019 11:36

Rekomendasi PAN ke Ibrahim, DPW Kaget

TARAKAN – Ibrahim Ali, A.Md, menjawab isu yang berkembang mengenai…

Kamis, 12 Desember 2019 11:33

Tegas Meminta Antrean Panjang Dihilangkan

TARAKAN – Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kaltara…

Rabu, 11 Desember 2019 13:21

Dukungan Independen Bisa Ditolak

TARAKAN - Untuk maju melalui jalur independen atau perseorangan pada…

Rabu, 11 Desember 2019 13:14

Siaga Nataru, PLN Tak Menjamin 100 Persen

TARAKAN – Status siaga PT PLN (Persero) Tarakan menjelang Natal…

Selasa, 10 Desember 2019 12:38

Warga Amal Tenggelam, Ditemukan Meninggal

TARAKAN - Warga RT 11 Kelurahan Pantai Amal dihebohkan dengan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.