MANAGED BY:
SELASA
20 AGUSTUS
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Selasa, 15 Januari 2019 13:37
Harga Subsidi Sulit Didapatkan Warga Miskin
TAK LAGI SESUAI HET: Penjualan LPG 3 kg banyak dimanfaatkan warga mampu di Nunukan. Harganya pun tidak lagi sesuai HET. RADAR NUNUKAN

PROKAL.CO, NUNUKAN – Barang subsidi untuk masyarakat miskin di wilayah perbatasan tampaknya tak berlaku 100 persen. Upaya pemerintah untuk memberikan kemudahan berupa subsidi kepada warganya yang miskin justru belum mampu tercapai. Salah satunya, Liquified Petroleum Gas (LPG) 3 kilogram (kg).

Hingga saat ini, warga miskin harus bersaing dengan warga mampu untuk mendapatkan gas melon, sebutan lain LPG 3 kg tersebut. Bahkan, secara terang-terangan berlomba-lomba mendapatkannya di setiap sub agen atau pangkalan resmi dengan para pengecer yang notabenenya sebagai pedagang LPG subsidi ilegal.

Parahnya lagi, beberapa pangkalan resmi justru berani menjual gas melon tersebut di atas harga eceran tertinggi (HET) yang telah ditetapkan sebesar Rp 16.500 per tabung menjadi Rp 20 ribu per tabung. Warga miskin juga harus bersaing mendapatkan dengan para pengecer ilegal, dengan terpaksa membeli dengan pengecer ilegal ini seharga Rp 25 hingg 30 ribu per tabung.

Tak ayal, harga yang berselewaran di pengecer akhirnya dimanfaatkan pula bagi sejumlah warga mampu. Bahkan dari kalangan Aparatur Sipil Negara (ASN) itu sendiri. Baik ASN daerah maupun ASN instansi vertikal. Sebab, harganya sudah melebihi dari harga subdisi. “Saya memang pakai gas melon. Tapi, harganya bukan harga subsidi. Jadi, saya rasa itu sudah kebutuhan bersama. Kecuali saya beli sesuai HET di pangkalan resmi, jadi itu yang tidak boleh,” ungkap salah seorang ASN daerah yang bertugas di kantor sekretariat Kabupaten Nunukan saat dikonfirmasi alasannya menggunakan gas melon belum lama ini.

Ia mengaku, menggunakan gas melon di kalangan ASN itu bukan hal yang baru. Sebab, hampir semua ASN  sudah menggunakan gas melon. Bahkan, tak hanya dua buah tabung saja, ada yang memiliki empat tabung 3 kg. Meskipun hanya sebagai pelengkap dikala LPG 14 kg milik Malaysia sedang kosong. “Selain ringan, gas melon ini juga banyak dijual,” akunya.

Sekretaris Dinas Perdagangan (Disdag) Nunukan Hasan Basri Mursali tak menampik informasi yang disampaikan tersebut. Ia mengatakan, gas melon yang sebenarnya menjadi hak warga miskin kini sudah hilang. Sebab, barang subdisi pemerintah yang tujuannya untuk membantu warga miskin justru lebih banyak dinikmati warga mampu. Termasuk usaha kuliner yang bukan termasuk usaha mikro kecil menengah. Seperti restoran dan rumah makan. “Memang saat masih kecil usahanya masih dimaklumi menggunakan LPG 3 kg tiga tabung. Tapi, sayangnya setelah usahanya meningkat dan semakin besar jumlah pelanggannya, masih betah pakai barang subsidi. Seharunyakan tahu diri,” ungkapnya saat dikonfirmasi persoalan LPG 3 kg yang saat ini belum mendapatkan solusi mengenai penyalurannya.

Hasan mengungkapkan, minimnya pengawasan yang dilakukan selama ini akibatnya kurangnya personel di pihaknya. Sehingga, sangat dibutuhkan satuan tugas (satgas) pengawasan. Selain itu, belum adanya unit pelaksana teknis daerah (UPTD) Dinas Pertambangan dan Energi (Distamben)  Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) di Kabupaten Nunukan menambahkan lemahnya pengawasan LPG subdiri tersebut. “Pemilik pangkalan juga banyak yang bandel. Meskipun telah ditegur, mereka tetap nekad melakukan pelanggaran. Utamanya soal HET itu. Kalau ada petugas, sesuai aturan. Tapi, kalau tidak ada, semaunya mereka. Bahkan, ada yang sampai sengaja kerja sama dengan pengecer ilegal karena harganya mahal,” bebernya.

Untuk itu, lanjutnya, salah satu upaya yang ingin dilakukan ini meminta ketegasan agen untuk mengawal dan mengawasi ketat para pangkalan nakal. Sehingga, penyalurannya benar-benar sesuai dan harganya juga sesuai HET. “Kami akan koordinasi dengan pihak Pertamina tentang ususlan HET itu dinaikkan menjadi Rp 20 ribu per tabung. Karena di Kaltara itu, Nunukan paling murah HET-nya,” jelasnya. (oya/ash)    

 

 

 

 


BACA JUGA

Selasa, 20 Agustus 2019 09:27

Sejumlah Sekolah Terima Surat Palsu

NUNUKAN – Sejumlah sekolah negeri dan swasta di Nunukan menerima…

Selasa, 20 Agustus 2019 09:26

Bangun Sinergisme TNI-Polri, Polres Gelar Apel

NUNUKAN – Tetap ingin meneruskan jalinan sinergisme antar TNI-Polri, Polres…

Senin, 19 Agustus 2019 12:30

Calon Pengantin Nyaris Batal Nikah

DUA orang pria nyaris menjadi korban kecelakaan tunggal dalam insiden…

Senin, 19 Agustus 2019 12:11

Pasang Akuarium sebagai Pengingat Pengunjung

NUNUKAN – Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Nunukan mempunyai cara…

Senin, 19 Agustus 2019 12:09

Dana Swadaya Gelar Lomba HUT RI

NUNUKAN – Menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke-74 Republik Indonesia,…

Senin, 19 Agustus 2019 11:17
Upacara di Sekolah Tapal Batas hingga Bungker PD II

Anak Tapal Batas Semangat Ikuti Upacara

Ragam kegiatan memaknai Hari Kemerdekaan 17 Agustus. Radar Tarakan menghimpun…

Senin, 19 Agustus 2019 11:16

Setelah 74 Tahun, Long Midang Baru ‘Merdeka’

LONG BAWAN - Meski tidak dijajah lagi oleh penjajah, namun…

Senin, 19 Agustus 2019 10:57

Warga Binaan Dapat Remisi Langsung Bebas

NUNUKAN – Setidaknya ada delapan orang Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP)…

Senin, 19 Agustus 2019 10:56

Demi Upacara Bendera Ambil Cuti, Ribuan WNI Hadiri Upacara di KRI Tawau

NUNUKAN – Di momen Hari Ulang Tahun (HUT) ke-74 RI,…

Jumat, 16 Agustus 2019 10:31

Berkas Tahap Dua, Petrus Langsung Ditahan

NUNUKAN – Berkas tersangka dugaan kasus korupsi Kapal Tasbara akhirnya…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*