MANAGED BY:
SELASA
25 FEBRUARI
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | KRIMINAL

RADAR KALTARA

Senin, 14 Januari 2019 10:58
Cicipi Sembari Mendengar Durian Jatuh dari Pohon

‘Gerebek Durian Segar’ Langsung di Kebunnya

BEDA RASA: Menikmati buah durian yang baru jatuh dari pohon memiliki cita rasa yang jauh berbeda. Tampak, beberapa durian segar yang baru jatuh dipegang oleh penulis dan kru Radar Kaltara serta rekan lainnya di kebun buah milik Zailani. RACHMAD RHOMADHANI/RADAR KALTARA

PROKAL.CO, Musim durian telah tiba. Penulis dan kru Radar Kaltara lagi-lagi mengagendakan ‘gerebek durian segar’. Kali ini di kebun milik Zailani salah seorang warga di Tanjung Palas, Bulungan. Berikut liputannya.

RACHMAD RHOMADHANI

MENIKMATI buah durian segar yang baru jatuh dari pohon tentu memiliki cita rasa yang akan berbeda.Kemarin (12/1), penulis bersama kruRadar Kaltara serta rekan lainnya mencoba melakukan hal serupa laiknya beberapa masyarakat di Ibu Kota Kaltara, Tanjung Selor lainnya.

Dengan menggunakan kendaraan roda dua, penulis bersama awakRadar Kaltara serta rekan lainnya melaju ke salah satu kebun milik warga di Tanjung Palas, Bulungan. Perjalanan saat itu diperkirakan 30 – 40 menit. Ini tentunya dengan melewati jalan yang terkadang terdapat beberapa titik yang rusak.

Dan sekitar pukul 11.30 Wita, akhirnya perjalanan ke kebun buah durian. Atau penulis menyebutnya dengan ‘gerebek durian segar’ pun sampai ke kebun yang dimaksud. Namun, tentunya dalam perjalanan itu penulis dan kru melihat pemadangan jauh berbeda di sepanjang jalan, khususnya di perkampungan Tanjung Palas.

Daerah yang biasa hanya terlihat beberapa anak-anak kecil dan pedagang kaki lima menjajakan barang dagangannya. Akan tetapi, kala itu berubah 360 derajat. Di mana, nyaris setiap rumah dan sudut jalan terdapat penjual durian. Baik, durian ukuran yang kecil, sedang ataupun besar semua tersedia. “Silakan dipilih pak dan ibu,” tampak salah seorang pedagang menawari penulis dan kru tatkala melintas di antara pedagang itu.

Lagi-lagi aroma tajam khas dari durian itu pun kian melekat hingga di kebun. Tak jarang, saat penulis dan kru tiba pun disambut dengan beberapa buah durian yang langsung jatuh dari pohonnya karena sudah benar-benar masak. Sehingga, dengan terkena tiupan angin kecil durian-durian itu silih berganti berjatuhan.

Zailani (24), pemilik kebun segera mengambil buah durian yang baru jatuh itu dan diletakan di meja kecil di kebunnya. Pasalnya, terkadang diakuinya ada beberapa masyarakat yang memang sering ke kebunnya secara langsung untuk membelinya. Dengan alasan buah lebih segar dan harga yang ditawarkan tentu berbeda dari yang dijajakan di pinggir dan sudut jalan. “Kemarin sempat diborong cukup banyak. Ya, tentu saya sangat bersyukur sekali,” ungkapnya mengawali perbincangana kepada penulis.

Dan benar saja, saat penulis dan kru berada di lokasi kebun milik pria yang memiliki satu orang anak ini. Beberapa masyarakat hingga di kalangan kepolisian pun membeli buah durian itu. Harganya pun yang ditawarkan dari Rp 5 ribu, Rp 10 ribu sampai Rp 50 ribu. Tergantung besar kecilnya buah durian manis itu.

Tawar menawar antara penjual dan pembeli kala itu berlangsung hingga disepakati soal harga dan jumlah durian yang dibeli. Sedikitnya lebih dari tiga atau empat buah durian saat penulis dan kru di lokasi terjual. “Terima kasih ibu,” ucap Linda istri dari Zailani saat menyerahkan durian yang telah terjual itu.

Penulis dan kru pun tak tertinggal untuk turut mencoba menikmati buah durian segar itu. Sehingga satu persatu pasca kesepakatan harga, durian itu dibelah dengan menggunakan sebilah parang. Nikmat. Itulah kesan awal saat pertama mencicipi buah durian itu.

Bagaimana tidak, durian berayut itu memang tampak sangat matang. Kelembutan setiap buah di lidah menambah rasa ingin menikmatinya secara terus menerus. Akhirnya, lebih dari 10 buah durian habis disantap dalam kurun waktu kurang dari dua jam.

Dan selama menikmati buah durian segar itu. Lagi-lagi terdengar suara durian di pohon silih berganti berjatuhan. Sehingga meja kecil milik petani kebun durian itu dipenuhi oleh durian segar itu lagi. Bahkan, karena cukup banyaknya yang berjatuhan, itu tak cukup satu meja. Melainkan dua meja sekaligus.

“Ini setiap hari durian berjatuhan. Kadang waktunya, pagi, siang ataupun malam juga,” terang Zailani.

Lebih lanjut, saat ini selama musim durian sejak akhir Desember lalu. Ia bersama sang istri dan buah hatinya harus menginap di lokasi kebun. Sebab, bila tidak dijaga hasil panennya tahun ini bisa gagal total. Atau merugi. Tak lain, karena durian yang jatuh itu bisa saja diambil oleh orang lain.

“Kami tidur di gubuk ini. Meski, anak masih kecil,” ucapnya seraya menunjuk gubuk tersebut.

Akhirnya, waktu ‘gerebek durian segar’ pun telah usai. Penulis bersama kru telah cukup banyak menyantap buah durian yang baru jatuh itu. Lagi-lagi tak dapat dipungkiri bahwa soal cita rasa memang jauh berbeda. Buah durian yang baru jatuh memiliki tingkat kemanisan yang lebih nikmat. Dibandingkan, durian yang sudah menginap dalam kurun waktu sehari. Ataupun dengan prinsip diperam agar segera masak. (***/eza)


BACA JUGA

Rabu, 02 September 2015 10:17

Lagi, Warga Belakang BRI Diciduk

<p><strong>&nbsp;TARAKAN &ndash;</strong> Beberapa kali lolos dari incaran…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers