MANAGED BY:
JUMAT
13 DESEMBER
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | KRIMINAL

RADAR KALTARA

Senin, 14 Januari 2019 09:52
Setop Kantong Plastik!
TARAKAN MENGGUNUNG: Sampah di TPA Hake Babu, 30 persennya merupakan sampah plastik. RADAR TARAKAN

PROKAL.CO, TARAKAN- Meski memiliki luas wilayah yang kecil, namun produksi sampah di Bumi Paguntaka terbilang besar mencapai angka 120 ton per hari. Oleh sebabnya, rencana pengurangan produksi sampah plastik akan dilakukan Pemerintah Kota (Pemkot) Tarakan, namun melalui tahap sosialisasi lebih dulu. Lantas bagaimana tanggapan masyarakat Tarakan akan hal ini?

Salah satu pedagang di Pasar Gusher Tarakan, Dewi (18) mengatakan, bahwa jika imbauan telah disampaikan pemerintah terkait upaya pengurangan penggunaan kantong plastik, maka pihaknya akan mengikuti.

“Kita nih kan diatur pemerintah, jadi apa yang menjadi imbauan pemerintah ya harus ditaati. Apalagi ini kan (kantong belanja) disediakan dari pembeli, jadi tidak ada masalahlah,” singkatnya.

Kepada Radar Tarakan, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Tarakan Supriono mengatakan, bahwa dari berat total sampah 120 ton per hari, 30 persen di antaranya adalah sampah plastik. Oleh sebab itu, untuk meminimalisir adanya sampah plastik, DLH melakukan kerja sama dengan bank sampah dan tempat pengelolaan sampah-reduce, reuse, recycle (TPS-3R).

“Di permukiman itu ada 5 bank sampah, di sekolah-sekolah ada sekitar 17 bank sampah. Itu yang kami andalkan untuk melakukan pengelolaan terhadap sampah organik dan non-organik,” jelasnya.

Supriono mengaku, sampah organik dapat dengan mudah dikelola masyarakat, misalnya dijadikan sebagai kompos maupun buku dan kertas dan sebagainya. Keinginan Wali Kota Tarakan Ir. Sofian Raga untuk menerapkan kantong belanja tanpa plastik, dikatakan Supriono akan diperkuat dengan peraturan wali kota (perwali).

“Sudah kami coba rumuskan kemarin, tapi itu masih berupa draf. Sehingga apakah nanti ada perubahan atau tidak, setelah peraturan wali kota ini ditandatangani, barulah mungkin bisa dikatakan angka (sampah plastik) pasti,” jelasnya.

Kepala Dinas Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah (Disdakop-UKM) Tarakan Tajuddin Tuwo menambahkan bahwa pihaknya menginginkan agar setiap UMKM maupun pedagang tak lagi memberikan kantong plastik kepada setiap konsumen. Sebaliknya, setiap konsumen diharuskan untuk menyediakan kantong belanja yang terbuat dari kertas maupun kain agar tidak menambah sampah plastik.

Untuk itu, pihaknya berencana untuk bekerja sama dengan DLH menjalankan sosialisasi kepada masyarakat terkait larangan penggunaan kantong belanja plastik. Menurut Tajuddin, penggunaan kantong belanja dari kertas dan kain cukup bertahan lama jika digunakan sehingga akan menguntungkan masyarakat.

“Kalau dibeli satu, mungkin digunakan sampai satu tahun atau berbulan-bulan dipakai. Ini tergantung dari kesadaran masyarakat, karena plastik itu masalahnya tidak mudah hancur dan mudah tersebar di mana-mana,” bebernya.

Adapun rencana penyampaian sosialisasi kepada masyarakat dan unit pelaksana teknis (UPT) pasar akan dilakukan secepatnya. Sebab menurut Tajuddin, untuk menerapkan hal ini diperlukan adanya imbauan atau sosialisasi langsung dari pemerintah.

Seperti dikutip dari petisi di laman change.org, sampah plastik menjadi masalah besar untuk lingkungan, karena limbahnya yang sulit terurai di dalam tanah. Selain itu, limbah plastik juga tidak bisa dibakar karena hasil pembakaran plastik mengandung racum kimia yang akan menimbulkan polusi udara yang berbahaya dan meyebabkan penyakit saluran pernapasan serta kanker paru-paru.

 

ALTERNATIF KANTONG BERBAHAN SINGKONG

Selama proses penguraian bermacam zat kimia yang dikandung di dalamnya akan mencemari tanah. Setiap tahun masyarakat Indonesia dilaporkan memakai lebih dari 100 miliar kantong plastik. Berdasarkan perhitungan tersebut, setiap orang Indonesia menggunakan sekitar 700 kantong plastik per tahun, atau kira-kira dua kantong plastik dalam sehari. Cukup banyak sampah kantong plastik tersebut tidak sampai di tempat pembuangan akhir sampah, dan hanya sedikit yang akhirnya dapat didaur ulang. Akibatnya sampah kantong plastik ini menumpuk di permukaan sungai dan menyumbat saluran air yang sangat tidak sedap dipandang mata serta dapat menyebabkan banjir.

Sebagian sampah plastik tersebut akan hanyut sampai ke lautan. Sampah dari kantong plastik juga bisa melukai bahkan membunuh satwa air baik di singai maupun di lautan, entah karena tertelan atau terjerat. menyedihkan sekali bahwa banyak burung laut dan mamalia mati setiap tahun karena tidak sengaja menelan sampah plastik.

Saat ini di Indonesia sudah memiliki alternatif kantong ramah lingkungan pengganti kantong plastik yaitu kantong berbahan baku tepung singkong. Berdasarkan penelitian yang pernah dilakukan membuktikan bahwa kantong jenis ini dapat terurai dalam jangka 3-6 bulan secara alami dengan bantuan makro dan mikro organisme juga air. Sisa uraian kantong ramah lingkungan ini menjadi kompos yang aman untuk tanah dan lingkungan hidup. Hasil uraian kantong adalah karbon dioksida (CO2), air (H2O) dan biomassa.

Kantong ini dapat larut dengan mudah dalam air panas dan melunak dalam air dingin. Selain itu berat jenis kantong yang lebih besar dari berat jenis air membuatnya mudah tenggelam di air saat menjadi sampah sehingga tidak menyumbat saluran air yang dapat menyebabkan banjir.

Bagaimanapun fungsi kantong tetap dibutuhkan misalnya untuk kantongbelanja, kantong sampah dan lainnya. Namun sebisa mungkin penggunaannya harus dikurangi dan digunakan secara bijak. Misalnya mengganti kantong plastik dengan kantong kain, menggunakan kardus saat berbelanja, atau menggunakan kantong ramah lingkungan pengganti kantong kresek berbahan plastik.

Kantong berbahan baku tepung singkong yang telah ada dan diproduksi di Indonesia dapat menjadi solusi untuk masalah sampah plastik dan memiliki dampak positif terhadap lingkungan. Hal yang terpenting adalah meningkatkan kesadaran diri masing-masing untuk melakukan diet kantong plastik untuk mengurangi sampah plastik. Satu langkah kecil perubahan yang kita lakukan sangat berarti untuk kelestarian bumi demi masa depan anak cucu kita. (*/shy/lim)

 


BACA JUGA

Jumat, 13 Desember 2019 14:16

Kabul Pernikahan Bisa Diwakilkan

TARAKAN - Setelah hebohnya kabar perceraian dapat dilakukan secara online,…

Jumat, 13 Desember 2019 14:14

Sertifikat HGB Bisa Diubah SHM

TARAKAN – Minimnya pengetahuan soal mekanisme sertifikasi laha di Bumi…

Jumat, 13 Desember 2019 14:12

Pendapatan Samsat Terealisasi 98 Persen

TARAKAN – Pertengahan Desember ini, Kantor Pelayanan Samsat Induk Tarakan…

Jumat, 13 Desember 2019 14:08

Perpanjangan Dermaga 200 Meter

TARAKAN – Dermaga Pelabuhan Malundung Tarakan rencananya akan diperpanjang ke…

Jumat, 13 Desember 2019 13:58

Apresiasi KPU Terhadap Dukungan Radar Tarakan

TARAKAN – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Tarakan mengapresiasi partisipasi SKH…

Kamis, 12 Desember 2019 11:36

Rekomendasi PAN ke Ibrahim, DPW Kaget

TARAKAN – Ibrahim Ali, A.Md, menjawab isu yang berkembang mengenai…

Kamis, 12 Desember 2019 11:33

Tegas Meminta Antrean Panjang Dihilangkan

TARAKAN – Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kaltara…

Rabu, 11 Desember 2019 13:21

Dukungan Independen Bisa Ditolak

TARAKAN - Untuk maju melalui jalur independen atau perseorangan pada…

Rabu, 11 Desember 2019 13:14

Siaga Nataru, PLN Tak Menjamin 100 Persen

TARAKAN – Status siaga PT PLN (Persero) Tarakan menjelang Natal…

Selasa, 10 Desember 2019 12:38

Warga Amal Tenggelam, Ditemukan Meninggal

TARAKAN - Warga RT 11 Kelurahan Pantai Amal dihebohkan dengan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.