MANAGED BY:
KAMIS
22 AGUSTUS
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Senin, 14 Januari 2019 09:40
Butuh Pisau Raut Super Tajam dan Kayu Khusus

Melihat Lebih Dekat Pembuatan Kelebu di Desa Pimping

MENJAGA TRADISI: Salah seorang warga di Desa Pimping, Kecamatan Tanjung Palas Utara saat membuat kelebu yang digunakan sebagai hiasan pada suatu acara di Lamin Adat. RACHMAD RHOMADHANI/RADAR KALTARA

PROKAL.CO, Desa Pimping, Kecamatan Tanjung Palas Utara, Kabupaten Bulungan merupakan salah satu desa yang masih sangat kental akan adat seni dan budaya. Salah satunya acara di Lamin Adat yang masyarakatnya sedang membuat kelebu.

RACHMAD RHOMADHANI

CUACA terik saat itu tengah menyelimuti Desa Pimping. Saat itu, penulis melihat segerombolan warga di Desa Pimping bergotong-royong menyambut suatu acara yang akan dilangsungkan.

Mereka ada yang membawa parang, cangkul, chain saw dan beberapa peralatan lainnya untuk menunjang proses gotong-royong agar berjalan lancar. Namun, ada satu hal yang menarik dari kegiatan gotong royong itu bagi penulis. Yang mana, ada sekitar enam atau tujuh orang justru hanya berbekal pisau kecil.

Diketahui, mereka (enam atau tujuh orang) itu memiliki tugas untuk menghias di Lamin Adat. Sehingga dengan pisau kecil yang memiliki ketajaman ‘ekstra’ (ini setelah penulis melihat lebih dekat), satu persatu selonjor kayu disayat.

Dan proses menyayat atau menguliti kayu itu tidak hanya satu kali pada selonjor kayu itu. Melainkan, dilakukan secara berulang hingga terlihat adanya rimbai-rimbai dari hasil sayatan tersebut. “Itu menggunakan kayu khusus. Dan tidak mudah untuk proses mengulitinya,” ujar Alan Bilung selaku Kepala Desa (Kades) Pimping yang saat itu ada bersama masyarakat.

Saat penulis mencoba melihat jauh lebih dekat dalam proses pembuatannya. Memang, hal itu butuh konsentrasi yang kuat dan ketelitian setiap sayatan. Pasalnya, bila tidak hati-hati bisa saja sayatan demi sayatan pada selonjor kayu itu menjadi terputus.

Namun, bagi warga di Desa Pimping. Pembuatan atau proses menyayat kayu yang disebut kelebu itu merupakan suatu kegiatan yang sudah dianggap biasa. Sehingga, tidak sampai menyayat kayu itu sampai terputus. Baik, penyayat itu usia muda ataupun tua, mereka dengan lihai membuat sayatan kayu itu nan indah. “Kalau salah-salah bisa putus setiap sayatannya,” lanjut Alan.

Dan tak kurang dari waktu satu jam. Beberapa selonjor kayu sudah berhasil dibuat oleh warga Pimping. Saat itu juga, langsung ditempatkan pada satu sisi bangunan Lamin Adat. Namun, sebagian yang lain ditempatkan pada sisi lainnya guna lebih memperindah Lamin Adat itu.

“Penempatannya itu juga bisa di depan tangga dari Lamin Adat ini. Sehingga saat tamu kehormatan datang mereka dapat melihat secara langsung,” katanya.

Sementara, Yancher salah seorang warga di Desa Pimping yang aktif dalam mempromosikan adat budaya dan wisata di desanya menambahkan, kelebu itu menjadi suatu ciri khas bagi warga di desa dalam menjaga suatu tradisi. Dan itu, sudah sejak turun-temurun sejak zaman nenek moyang pembuatannya.

“Kelebu ini menggambarkan dari bentuk hiasan rasa suka cita atau juga kegembiraan,” ungkapnya.

Untuk jenis kayu yang dimaksud khusus. Menurut bahasa di desanya yakni bahasa dayak òma lóngh kayu bene dan toen. Kayu-kayu itu terdapat di hutan-hutan yang ada di sekitar wilayah desanya. Sehingga tatkala adanya suatu acara ia bersama masyarakat segera mencari kayu-kayu yang akan digunakan tersebut.

“Kayu ini juga bagi kami cukup mudah mencarinya di hutan. Jadi, setiap ada acara keramaian. Pasti, kami segera mencarinya dan bersama – sama membuatnya agar cepat selesai,” terangnya.

Ditambahkan juga, untuk pisau raut yang digunakan untuk menyanyat sendiri. Yancher menjelaskan bahwa dalam bahasanya kembali bernama ho'e. Pisau itu tentunya harus sangat tajam. Karena kayu-kayu itu harus secara tipis saat disayat. “Kalau tidak tajam tentu bisa putus saat menyayatnya,” ucapnya.

Penulis pun kembali menggali lebih jauh soal tradisi kelebu ini dapat terus dipertahankan bagi generasi penerus. Ternyata, usut punya usut cara agar kelebu ini dapat terus terjaga hingga ke anak cucu. Masyarakat setempat setiap tahunnya memperlombakan cara pembuatan kelebu.

Bahkan, dalam perlombaan itu agar antar generasi dapat saling termotiviasi untuk terus melestarikan. Masyarakat secara kompak membaginya dalam dua kategori sekaligus. Yakni kategori kelas senior dan junior.

Tujuannya, agar junior dapat terus termotivasi kepada senior yang sudah memiliki kemampuan luar biasa dalam pembuatan kelebu. Begitu juga sebaliknya, senior pun memberikan pengetahuan tentang tata cara pembuatannya agar sempurna. (***/eza)


BACA JUGA

Rabu, 02 September 2015 10:17

Lagi, Warga Belakang BRI Diciduk

<p><strong>&nbsp;TARAKAN &ndash;</strong> Beberapa kali lolos dari incaran…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*