MANAGED BY:
SELASA
20 AGUSTUS
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Senin, 31 Desember 2018 10:18
MONTIR ANDAL PELANGSIR RUTE DUA

Pulang Kampung ke Long Sule (Bagian-2)

BERARUS DERAS: Kendaraan menyeberang Sungai Lembu di Km 103 dari Pelangsiran menuju Long Metun, Rabu (14/11). AGUS DIAN ZAKARIA/RADAR TARAKAN

PROKAL.CO, Perjalanan ke Desa Long Sule-Long Pipa, Kayan Hilir tertahan di Pelangsiran, di dalam kawasan PT Restorasi Habitat Orangutan Indonesia (RHOI), perusahaan yang dibentuk Yayasan Borneo Orangutan Survival (BOS). Pemudik beberapa hari lalu meninggalkan Malinau usai Festival Irau ke-9 beristirahat cukup lama di lokasi ini. Membuang kebosanan dengan bermain gaple.

 

AGUS DIAN ZAKARIA

 

SETIAP hari di Pelangsiran, dijamu sang pemilik penginapan,Sunarti dengan kariikan pelian dan kancil bumbu bali. Makan tiga kali sehari, bisa lebih. Tergantung nafsu makan. Rp 100 ribu semalam di penginapan ini, sudah termasuk makan tadi.

Bu Sunarti orang yang telaten. Di beberapa kali kesempatan menjamu sejumlah bule, yang melakukan penelitian di PT RHOI. Atau ketika melepasliarkan orangutan. “Bule-bule itu berani. Di Sungai Telen situ berenang. Enggak takut, padahal deras. Baju yang dipakai berenang tuh, juga dipakai tidur,” kata Sunarti berkelakar.

Minggu (11/11), sepekan di Pelangsiran, kendaraan pelangsir rute dua akhirnya tiba dari Long Metun. Tujuh unit, dengan jenis yang sama Daihatsu Taft Heilen bak terbuka.

Mereka tak langsung jalan menuju Long Metun. Butuh waktu 2-3 hari untuk perbaikan. Ada saja onderdil yang diganti. Medan sangat berat.

Rute ini sekira 90-an km, menjangkau Long Metun. Perhitungan normal, cuaca cerah, lebih dari 3 hari. Gangguan alam seperti tanah longsor, bisa membuat rombongan berminggu-minggu hingga bulanan di jalur ini. Jalur itu juga menempa para sopir menjadi montir andal. Kerusakan di tengah jalan sudah biasa. Tidak ada bengkel.

 

KEPALA BOCOR DAN PATAH TULANG

Hari itu, di dekat pondok mereka mobil-mobil tersebut diberi perawatan. Dicek berjam-jam. Suwoto (65), sopir pelangsir rute dua mengungkap jika mobil yang dikemudikannya masih cukup baik. Tapi mereka butuh 2 hari sebelum kembali memulai perjalanan.

Rombongan bisa sedikit lega hari itu, mobil para sopir pelangsir siap lebih awal dari yang diperkirakan. “Mobil tidak terlalu mengalami kerusakan parah, kemungkinan tanggal 13 sudah bisa jalan,” tutur Suwoto membereskan peralatan mekaniknya ke dalam peti kayu.

Pelangsiran-Long Metun, perjalanan darat yang paling sulit. Beberapa sopir di jalur ini pernah mengalami kecelakaan.

Suatu malam Suwoto mengalami nahas, di sekitar Km 90. Dia dalam perjalanan pulang dari Long Metun. Sendiri.

Mobil yang dikemudikannya terjun dari ketinggian 7 meter ke dasar sungai. Jembatan kayu yang biasa dilalui patah. “Rombongan saat mau bermalam di Long Metun, tapi saya mau pulang cepat ke Muara Wahau. Dari pagi saya kejar waktu, sampai malam. Kalau jalan sendiri kan bisa lebih cepat. Pas lewat jembatan itu, jembatan patah. Mobil jatuh ke bawah sungai, saya pingsan,” kisah Suwoto.

Suwoto selamat, air sungai sedang surut. Dalam posisi mobil terbalik dia berusaha keluar. Pria yang sudah 20-an tahun menjadi sopir pelangsir ini cukup hafal dengan medan di lintasan ini. Dengan darah di kepala yang terus bercucuran, Suwoto berjalan menuju Pelangsiran.

“Saya kan cukup hafal jalan. Setelah saya siuman, saya jalan kaki. Tiga kilo meter lah sampai di Pelangsiran. Sebenarnya sudah dekat,” ujar bekas karyawan PT Essam Tiber ini.

Nahas juga dialami Asse (35), rekan Suwoto baru-baru ini. Belum genap sebulan dia kembali bergabung dengan kelompok ini.

Pertengahan Agustus lalu terguling bersama mobilnya di pendakian Gunung Bagong.

Kejadian itu membuatnya mengalami patah tulang bahu. Selama dua bulan, ia meninggalkan pekerjaannya sementara. “Berobat, diurut. Saya pulang ke Pinrang, Sulawesi untuk berobat,” ucap ayah satu anak ini.

Kejadiannya di luar dugaan, di saat tak mengangkut barang dan penumpang. Dalam perjalanan pulang dari Long Metun, mobil mendaki di Gunung Bagong, agak panjang. Di posisi paling belakang iring-iringan.

Di saat kakinya menjaga pedal gas, mesin tiba-tiba mati di tengah tanjakan. Mobil berjalan mundur, rem pun sia-sia. Asse membanting setir, mengarahkan ke tebing dan kemudian terguling. “Saya tahu, kalau saya hajar ke gunung, terbalik. Mending begitu daripada masuk jurang,” ujar Asse yang sudah lima tahun menjadi sopir pelangsir.

Kaca mobil berhamburan, bagian depan penyok. Mobil itu pun ditinggal di tengah hutan. “Di mesin enggak ada yang rusak. Tapi enggak ada yang bawa, jadi saya dibawa teman ke Pelangsiran. Namanya celaka tidak kita tahu. Istilahnya kita berusaha melaluinya, tapi ternyata mobil harus seperti itu,” lanjutnya.

Belum ada pikiran untuk berhenti. Setelah sembuh, ia kembali mengemudi. Istrinya, Dwi Ayu Purnawingsih (29) membuka toko kelontong di Desa Long Pipa. “Anak sekolah di Wahau. Saya kemarin ke Sulawesi, karena keluarga yang di kampung paham kalau patah tulang. Alhamdulillah sudah sembuh, walaupun kadang masih nyeri. Kalau angkat-angkat barang bisa lah,” imbuhnya.

 

BERMALAM DI KAMP PT RHOI

Selasa (13/11) pagi, seperti biasa diawali dengan rutinitas melumuri badan dengan tembakau. Menghindari jadi korban pacet, binatang hutan pengisap darah yang mirip lintah. Setelahnya, rombongan melanjutkan perjalanan menuju Long Metun.

Sekitar 1 km dari Pelangsiran, konvoi harus menyeberangi anak Sungai Telen. Airnya setinggi perut orang dewasa, deras. Sebagian bodi mesin terendam.

Sistem pembuangan kendaraan-kendaraan ini telah dimodifikasi. Saringan udaranya dipasang pipa atau selang panjang, melewati kap depan yang dilubangi, mengarah ke atas. “Yang penting air enggak masuk melalui saringan udara itu,” ujar Suwoto.

Lepas dari sungai, lagi-lagi menanjak tajam. Ban kerap kali berputar kencang tak mengubah posisi, menimbulkan asap dan bau hangus. Atau bodi mobil terseret di dinding tebing. Karakteristik Gunung Bagong sebagian merupakan batu besi. Pelangsir biasa menemui pecahan-pecahan batu dengan ukuran besar menghalangi jalan.

Pukul 16.00 WITA, sekitar 16 km lepas dari sungai, tepatnya di Km 103 rombongan memutuskan untuk beristirahat semalam di kamp PT RHOI, milik Yayasan BOS.

PT RHOI menyediakan kamp itu bagi warga, digunakan menginap sementara. Rabu (14/11) pukul 07.00 WITA, perjalanan berlanjut. Kembali harus melintasi anak Sungai Telen, lebarnya sekira 30-an meter dengan kedalaman 1 meter. Warga setempat menyebutnya Sungai Lembu.

 

HUJAN BERJAM-JAM, MENUNGGU SEMINGGU

Hujan semalaman di hulu, berarti mereka harus menunggu hingga seminggu di pinggir Sungai Lembu. Menunggu air surut.

Malam sebelum keberangkatan, beruntung tak ada hujan. Mobil rombongan menyeberang dengan lancar.

Perjalanan 24 km hingga ke Km 140 hari itu baru bisa tembus pada pukul 17.00 WITA. Rombongan pun kembali memutuskan beristirahat.

Kawasan persinggahan Bagong, begitu para sopir menamai. Dari hasil penelitian mahasiswa program doktoral asal Jepang bernama Sasano, suhu di kawasan ini hingga 15 derajat Celcius.

Tempat beristirahatnya bangkai buldoser tua yang ditinggal PT Essam Timber, perusahaan kayu yang beroperasi dari 1995 hingga 2001 di Muara Wahau. Di atasnya dipasangi seng.

Suwoto mengungkapkan, jalur ini bekas perusahaan PT Essam Timber. Setelah perusahaan tutup, jalannya tidak terawat lagi. Semakin hari semakin mengecil, tertutup semak belukar. “Perusahaan kayu yang berdiri di era Soeharto (Presiden RI ke-2). Tutup tahun 2001. Jalur ini kami bikin jalur pelangsir sampai sekarang ini. Lebarnya dulu 8 meter. Sekarang sisa selebar mobil,” ujarnya.

Berbaring di lokasi ini selalu dekat dengan api unggun. Tidur dengan mengenakan kaos kaki dan baju berlapis.

Asse, sopir yang kebiasaannya membawa laptop di setiap perjalanan. Di persinggahan Bagong, dia menghidupkan laptop itu, memutar film bergenre aksi. Yang lain pun ikut terhibur.

Sejam lebih menikmati film, laptop mati. Lagi asyik-asyiknya. Kehabisan daya baterai. “Waduuuuh,” Asse kesal tak karuan.

Selama perjalanan ke Long Metun, musik house diputar di radio kasetnya.

 

Semalam di persinggahan Bagong, Kamis (15/11) rombongan mengawali perjalanan pukul 07.00 pagi. 10 km ditempuh selama 3 jam. Sampai juga di puncak Gunung Bagong, batas dua provinsi, Kaltim dan Kaltara.

Penuturan warga, ketinggiannya 2.000-an kaki di atas permukaan laut. Perjalanan terus kami lanjutkan hingga malam. Pukul 22.00 WITA, rombongan menginjak Km 183, Sungai Metun. Sungai terakhir yang dilintasi sekaligus titik akhir mobil Pelangsiran mengantarkan rombongan. Malam itu hujan menyambut sampai pagi.

 

MELAWAN ARUS SUNGAI KAYAN

Para sopir pelangsir rute dua tak lantas berbalik. Mereka menemani rombongan bermalam di Sungai Metun malam itu. Jumat (16/11) pukul 09.00, perjalanan berlanjut menuju Desa Long Sule.

Kai Peluru, usianya 60-an tahun. Ditemani anaknya Merang (41). Membawa long boat, perahu kayu, panjangnya sekira 10 meter, dengan mesin ketinting berbahan bakar bensin.

Merang, sang anak mengendalikan mesin dan arah perahu. Sementara sang ayah sebagai juru batu, memegang tongkat panjang dan dayung, duduk di ujung depan perahu.

Seluruh barang pagi itu pun diangkut. Selain Kai Peluru, ada tiga perahu lain yang digunakan rombongan.

Tujuan pertama ke pertemuan arus Sungai Metun dan Sungai Kayan. Akrab dengan nama Kampung Lama. Perahu lebih enteng, dipacu mengikuti arus.

Sekitar 65 menit perjalanan, sampai juga di Kampung Lama. Kampung Lama merupakan bekas kampung yang sudah tidak dihuni lagi. Berpuluh-puluh tahun silam, moyang suku Dayak Punan Aput hidup nomadik, atau berpindah-pindah. Menggantungkan hidup dari berburu dan berladang. Di Kampung Lama, masih terdapat bekas tiang rumah.

Di lokasi ini, rombongan singgah menunggu air surut sekira dua jam. Dari Sungai Metun, perahu mengubah arah ke kiri, melawan arus jeram Sungai Kayan.

Merang, nakhoda long boat tak ingin berisiko. Arus deras biasanya membawa batang kayu besar. Hanyut dari hulu. Perahu rombongan bisa terbelah, atau tenggelam ketika menghantam batang.

Dua jam di Kampung Lama, air pun surut. Rombongan kembali naik ke perahu, menuju Desa Long Sule. Hampir dua jam perjalanan melawan arus, sampai juga di Long Sule. Di seberangnya Desa Long Pipa. Dua desa ini dibatasi Sungai Kayan. Sudah ada jembatan penghubung, tapi tidak seekstrem di Pelangsiran, yang mirip flying fox.

Panjangnya 100-an meter. Biasa dilalui sepeda motor. Hanya ada dua sepeda motor di dua desa ini. Milik Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtibmas) Brigadir Polisi Rudi Albanjari dan milik gembala Latief, S.Th.

Kami disambut ramah warga desa. Setelah long boat kami bersandar beberapa orang membantu membawa barang. Meski berbagai rintangan yang kami hadapi dalam perjalanan, namun kelelahan itu serasa menghilang melihat senyuman warga Long Sule dan Long Pipa.

Di antara rombongan, perjalanan pulang ke Long Sule-Long Pipa berarti momen berkumpul bersama keluarga kembali. Mengobati lelah berhari-hari di perjalanan.

 

SAYUR SAKKALA DAN IKAN PELIAN

Selama 16 hari perjalanan dari Malinau, melelahkan hingga sampai ke desa. Bahagia bisa sampai dengan selamat. Disambut keluarga.

Pun yang tak tertandingi nikmatnya adalah masakan di rumah. Sangat jauh berbeda dengan santapan selama dalam perjalanan. Mi instan, nasi dan ikan asin. Makanan itulah yang membuat rombongan bertahan, bertenaga dalam perjalanan.

Variannya hanya sayur di tengah hutan. Dicampur dalam masakan mi instan.

Di Km 85 hingga Km 182, sayuran tumbuh liar. Pakis, terong pipit, rebung bambu, jamur dan rotan muda. Yang paling tak biasa adalah bunga kecombrang. Dayak Punan Aput yang hidup di hilir Sungai Kayan menyebutnya sakkala. Tumbuhnya bergerombol, warnanya berkesan berlawanan dengan warna tumbuhan hutan lainnya.

Luther (31), warga Kayan Hilir lainnya mengungkap sayuran tersebut sangat lezat, maupun ditumis. “Bunga ini dicampur sayur pakis enak, dicampur rotan muda enak, dimasak sama mi pun juga enak. Ini namanya sayur sakkala,” tuturnya meyakinkan jika telah dikonsumsi masyarakat selama bertahun-tahun.

“Kalau masuk hutan biasanya orang-orang bawa pulang ke rumah. Makanya selama dalam perjalanan, sayur ini dicari, mudah dapatnya,” terangnya.

Sayur kecombrang sedikit pahit. Mungkin bagi lidah seperti pewarta, aromanya lain. Tapi, justru rasa pahit itu bagi warga Kayan Hilir enak.

Di sepanjang sungai-sungai dilalui rombongan, ikan juga ada ikan eksotis. Namanya pelian. Dagingnya lembut, sisik lebar. Oleh warga sisiknya dikeringkan, diwarnai dan dibuat pelengkap manik-manik. Di dapur, dijadikan lauk pendamping.

Di Sabah, Malaysia dihargai mahal. Di Pelangsiran, ikan ini jadi komoditas barter.

 

BELI GULA PAKAI KARTU KELUARGA

Toko kelontong di dua desa bisa dihitung jari. Salah satunya milik Dwi Ayu Purnawingsih (29), di Long Pipa. Di kiosnya, seliter gula pasir dihargai Rp 30 ribu. Minyak goreng pun sama. Bensin, solar dan beras juga sama. Minuman saset dan mi instan Rp 5.000 sebungkus. Harga kelontongan itu semuanya diatur lembaga adat setempat.

Petrus mengaku jika lembaga adat merupakan wadah bermusyawarah warga, sampai dengan norma sosial kemasyarakat. Harga sembako misalnya, warga, pedagang, pemilik toko kelontong secara berkala bermusyawarah. “Agar harga-harga itu baik bagi warga, baik bagi pedagang. Lembaga adat ini juga menghitung, dari biaya perjalanan, biaya barangnya, berapa kalau di kota (Wahau) sampai ke Sule (Long Sule),” beber Petrus.

“Harga tinggi? Yah, sudah seperti itu. Biayanya besar sekali. Untuk mengangkut barang sampai ke sini, barang dagangan per 650 kilo saja, biaya angkutan Rp 9,5 juta. Enam kali pengangkutan,” Dwi turut menjelaskan, 650 kilogram juga merupakan ketetapan lembaga adat yang mewadahi para pemilik kelontongan, Jumat (23/11).

Faktor alam juga memengaruhi harga. Bencana memperlambat masuknya barang. Tertahan berarti timbul biaya tambahan. Risiko kerusakan semakin besar. “Di sini harus siap rugi dalam jumlah besar. Sampai puluhan juta dalam sekali angkutan. Di musim penghujan kami tidak berani belanja di kota (Muara Wahau). Barang di perjalanan rusak, jatuh ke sungai atau basah. Kalau pun ada musibah karena kesalahan sopir atau kuli panggul, kami juga enggan menuntut ganti rugi semua. Musibah ada yang menghendaki,” ungkap Dwi jika rasa saling menghargai warga desa sangat tinggi.

Hj. Junusiah (51) menerima Radar Tarakan ramah di kiosnya di Long Sule. Di dalam rumah panggung berukuran 6x8 meter. Lantas menawari segelas kopi manis.

Berdagang merupakan pekerjaan yang dilakoni masyarakat pendatang sepertinya. Junusiah menikmati peran, sebagai bagian dari penyedia kebutuhan warga. “Bukan untung, tapi untung-untungan. Artinya setiap mendatangkan barang belum tentu untung, bisa rugi. Di sini bawa barang belum tentu. Berjualan di sini, ada sisi kemanusiaannya,” ujarnya.

Toko kelontong di dua desa dilarang menjual parfum, minuman suplemen atau losion antiserangga tertentu. Rawan penyalahgunaan. Dipakai mabuk-mabukan. “Kalau nekat jual, dikenakan denda adat. Kadang kan dicampur macam-macam, dipakai minum. Bisa mabuk,” kata Junusiah.

Stok sembako sering habis. Warga sudah terbiasa berbagi gula pasir, atau bensin. Atau tidak sama sekali jika kebutuhan yang dimaksud benar-benar sulit.

Dalam momen tertentu, membeli gula pasir harus menunjukkan kartu keluarga (KK). Mengantre. Satu keluarga hanya dibolehkan satu kilo. Lalu menunggu hingga pengangkutan sembako selanjutnya. Stok sembako tak berbanding dengan kebutuhan warga. “Saya pernah di Wahau, masih ada kios di sana. Lebih mudah (kebutuhan) di sana,” jelasnya.

Bersambut dengan cerita Samuel (57) hari itu. Sudah biasa di akhir bulan warga menyeduh kopi dengan permen sebagai pemanis pengganti gula. Atau dengan sodium.

Kelangkaan menjadi-jadi usai hari besar atau masa libur. Seperti Idulfitri, Natal dan Tahun Baru. Sopir Pelangsiran pada pulang kampung. Warga desa hanya bersabar. “Setelah hari besar itu stok sembako di kios kosong. Mau makan saja kami harus ambil singkong di kebun, beras tidak ada. Walaupun kita mau beli, tidak ada barangnya,” ungkap pria yang dipercaya sebagai kepala Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Long Sule-Long Pipa ini.

Susah payah, kata dia, untuk sekadar memenuhi kebutuhan. Harga meroket sudah biasa. Samuel dan warga lainnya berharap suatu saat bisa menikmati harga yang lebih murah. “Kami tidak dibantu dengan materi, kami bisa cari sendiri. Kami juga tidak meminta diberi sesuatu gratis, kami bisa beli. Tapi kami cuma minta satu, tolong perbaiki akses jalan kami! Dengan begitu sudah membantu semua keperluan kami,” tutur Samuel yang dipercaya mewadahi kerajinan tangan warga dua desa.

Desa seperti Long Sule dan Long Pipa, menjadi potret desa yang hingga saat ini belum merasakan kemerdekaan yang sesungguhnya. (***/bersambung/lim)

DESA LONG SULE DAN DESA LONG PIPA

 

POPULASI

267 kepala keluarga

8 rukun tetangga

 

DEMOGRAFI

Agama

Kristen Protestan 99 persen

Islam 1 persen

 

Suku Bangsa

Dayak

Jawa

Bugis

Banjar

Toraja

 

Bahasa

Indonesia

Dayak Punan Aput

 

 

 


BACA JUGA

Selasa, 20 Agustus 2019 10:26

Batas Waktu Pengambilan Doorprize 26 Agustus

TARAKAN – Bagi Anda pemenang doorprize jalan sehat BUMN Hadir…

Selasa, 20 Agustus 2019 10:24

Mengenal Anggota Legislatif Periode 2019-2024 (Bagian-8)

Pernah gagal dalam Pemilihan Legislatif (Pileg) 2009, tidak membuat H.…

Selasa, 20 Agustus 2019 09:19

Pemkot Rencanakan PJU di 6.800 Titik

TARAKAN - Sebanyak 6.800 titik di wilayah Bumi Paguntaka akan…

Selasa, 20 Agustus 2019 09:14

Investor Oksigen Minta Izin Pemkot

TARAKAN - Penyedia oksigen di Kota Tarakan masih terbilang kurang.…

Selasa, 20 Agustus 2019 09:06

Tidak Dipungut Petugas, Sampah Menumpuk di Pinggir Jalan

TARAKAN - Pemandangan tidak sedap terlihat di Jalan P.Diponegoro Kelurahan…

Senin, 19 Agustus 2019 12:39

Bank Indonesia Inisiasi Transaksi via QR Code

ADA yang unik dalam festival kuliner di kegiatan pawai pembangunan…

Senin, 19 Agustus 2019 12:38

Janji Digelar sebagai Wisata Tahunan

TARAKAN – Akhirnya rindu masyarakat terobati dengan pawai pembangunan 2019…

Senin, 19 Agustus 2019 12:37

Terharu Pertama Kalinya Dapat Hadiah Jalan Sehat

TARAKAN – Jalan sehat BUMN Hadir untuk Negeri (BHUN) yang…

Senin, 19 Agustus 2019 12:36

Al Rhazali, Janji Penambahan Fasilitas Pendidikan

Meski sempat ditentang sang istri untuk maju menjadi calon anggota…

Senin, 19 Agustus 2019 11:49

Banyak Pengendara Jatuh, Berharap Jalan Diaspal

TARAKAN - Hingga saat ini warga RT 09 Jalan Gunung…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*