MANAGED BY:
KAMIS
22 AGUSTUS
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Jumat, 28 Desember 2018 13:29
Empat Hari Menunggu Telepon, Tertahan di Pelangsiran

Pulang Kampung ke Long Sule (Bagian-1)

BERTARUH NYAWA: Minggu 4 November lalu, rombongan warga menyeberang di Sungai Telen, Kecamatan Muara Wahau, Kabupaten Kutai Timur, dalam perjalanan pulang ke Desa Long Sule-Long Pipa usai mengikuti Festival Irau ke-9.

PROKAL.CO, Desa Long Sule dan Long Pipa, dua desa di Kecamatan Kayan Hilir, Kabupaten Malinau, Kalimantan Utara (Kaltara) puluhan tahun terisolir. Sekadar ke Kota Malinau, ibu kota kabupaten, warganya menempuh perjalanan dengan bersusah payah. Hingga dua bulan, paling cepat seminggu. Begitu pun pulangnya. Radar Tarakan mengikuti perjalanan pulang perwakilan dua desa usai Festival Irau ke-9 2018 di Kota Malinau, Oktober lalu.

 

----

 

DALAM darah warganya mengalir semangat berpartisipasi dalam berbagai kegiatan, meski digelar di Kota Malinau yang masyhur. Mengirim puluhan orang ke Festival Irau misalnya, bukan mengejar prestasi. Pesannya menjaga kuat nilai-nilai kekeluargaan sebagai masyarakat Malinau.

Kamis 25 Oktober, bunyipesan di ujung telepon, “Nomor telepon yang Anda tuju tidak dapat menerima panggilan.” Berkali-kali.

Raut wajah Petrus (48) sedikit gelisah. Bolak-balik keluar masuk mes. Di Jalan Rumah Sakit RT 6, Desa Respen Tubu, Kecamatan Malinau Utara. 50 orang utusan Desa Long Sule-Long Pipa menginap di rumah itu, selama mengikuti Festival Irau ke-9.

Petrus diamanahi sebagai koordinator. Dia kelihatan lebih sibuk. Dari mengurusi makan, aksesori pakaian yang dipakai tampil, hingga transportasi.

Minggu-nya, rombongan yang di dalamnya ada aparat desa hingga aparat Kecamatan Kayan Hilir akan menggelar musyawarah dengan agenda membahas perjalanan pulang ke Long Sule-Long Pipa.

Petrus belum mendapat jawaban dari Kecamatan Muara Wahau, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur (Kaltim). Hanya terdengar bunyi pesan otomatis dari operator seluler setiap kali menelepon.

Yang ditelepon Susilo, seorang sopir. Pria 48 tahun yang akan mengantarkan masuk hutan, menuju sebuah persinggahan yang disebut Pelangsiran, antara Muara Wahau dengan Desa Long Metun, Kecamatan Kayan Hilir, sebelum Desa Long Sule.

Hingga Minggu (28/10) pagi, belum juga ada jawaban dari Muara Wahau. Telepon tidak tersambung menandakan Susilo belum menjangkau jaringan seluler atau masih di dalam hutan. Jangkauan menara base transceiver station (BTS) hanya sampai di kawasan itu.

Komunikasi dengan Susilo turut menentukan apakah perjalanan yang bersusah payah itu lebih cepat, atau malah lama.

Siangnya, telepon Petrus tersambung. Musyawarah pun dilaksanakan malam.

Ini tahun terberat. Pesawat maskapai penerbangan Mission Aviation Fellowship (MAF) yang bertahun-tahun melayani warga tak selancar dulu. Sejak adanya perubahan perizinan oleh Kementerian Perhubungan (Kemenhub) di akhir November 2017. Maskapai Susi Air yang disubsidi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) pun tidak cukup. Jadwalnya kerap berubah-ubah.

Malam itu musyawarah kelompok pertama, 30-an orang. Dibagi empat rombongan, tiga rombongan via udara, sisanya perjalanan darat. Sebagian dari mereka yang akan menumpang pesawat menuju Long Sule belum jelas tanggal keberangkatannya.

Agus Purwanto (37) menerima jawaban negatif. Tiga kali meminta konfirmasi maskapai, penerbangan mereka terus ditunda. Yang mengusik hati, minim penjelasan. “Sudah dijadwalkan tiga kali, nah gagal karena ditunda Susi-nya (Susi Air) maupun MAF. Kalau terus begini perhitungan biaya di sini semakin besar,” terang kepala Urusan Keuangan Desa Long Sule ini mengawali musyawarah.

“Kondisi persediaan uang semakin menipis,” tambahnya.

Pembahasan berkutat pada perjalanan darat, 8 orang. Petrus, Yoel (25), David (23), Latif (32), Gira (31), Luther (31), Fren (25) Wesley Amos (32).

Petrus menyela. Menyarankan semua menempuh jalur darat. Namun, sebagian di antara mereka terdesak berbagai urusan di desa. “Saya sarankan kita semua pulang menggunakan jalur darat saja. Karena kita belum dapat kejelasan dari Susi atau MAF. Daripada menunggu lebih lama mending kita semua sama-sama lewat darat,” ajaknya.

Biaya perjalanan darat lebih besar dari udara. Serba salah. Semakin lama menunggu perjalanan udara, keuangan semakin menipis. Harga tiket pesawat reguler Rp 1,2 juta. Tiket subsidi Rp 500 ribu. Lewat darat, satu orang harus menyediakan minimal Rp 3 juta. Selain karena menguras tenaga, alasan itulah yang dikemukakan para pemuda sehingga berkeras via udara.

Kurang dari seminggu lagi Supriadi (32) harus mengajar muridnya di Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 13 Long Sule. Badannya mulai drop usai festival budaya. Pikirannya kalut, khawatir tak dapat bertahan dalam perjalanan darat. “Minggu-minggu ini saya harus mengajar, saya sudah ditelepon kepala sekolah beberapa kali, diminta masuk. Tapi karena beliau mengerti, akhirnya memaklumi saya. Tapi saya juga harus mencari alternatif supaya bisa pulang lebih cepat,” cerita Supriadi ke Radar Tarakan.

Musyawarah memutuskan 20-an orang menunggu pengumuman dari maskapai. Rombongan darat berangkat Kamis (1/11).

Di sisa waktu, Petrus terus berkomunikasi dengan Susilo di Muara Wahau. Jalur Pelangsiran ke Long Metun, salah satu bagian perjalanan yang tak bisa disepelekan. “Dari Pak Susilo nanti kita tahu, apakah ada sopir dari Pelangsiran ke Long Metun. Kalau jadwalnya pas, sesampai di Pelangsiran, kita bisa langsung ke Metun. Tapi jika tidak, kita bermalam semingguan di Pelangsiran. Tidak ada sinyal di sana,” urai Petrus.

 

600-AN KM MALINAU-MUARA WAHAU

Cuaca yang cerah Kamis (1/11) pagi di langit Malinau merupakan pertanda baik bagi 8 warga Long Sule pulang dari Kota Malinau. Pukul 10.00 WITA minibus carteran memulai perjalanan. “Saya pernah tidak tidur tiga hari dua malam mengantar penumpang ke Palangkaraya,” ujar Sinyo (56), sopir angkutan umum antarprovinsi yang ditumpangi ke Muara Wahau.

Jalan Ahmad Yani, menghubungkan hingga ke Kalimantan Selatan (Kalsel) dan Kalimantan Tengah (Kalteng). Mobil menapak di jalan ini.

Dari Kecamatan Malinau Kota beranjak ke Kecamatan Malinau Barat. Sekira 20 km perjalanan, mobil memasuki Kecamatan Sesayap, Kabupaten Tana Tidung. Sepanjang bagian barat Tana Tidung, kiri kanan jalan terhampar ribuan hektare kebun kelapa sawit. Mengisi kawasan perbukitan.

Sinyo memacu kendaraannya, sesekali jarum speedometer menunjuk angka 90. Butuh waktu 2 jam lebih dari daratan Malinau ke Kecamatan Sekatak, Kabupaten Bulungan yang jaraknya sekitar 110 km. Di kawasan itu mobil mulai berpapasan dengan truk-truk besar pengangkut material. “Kendaraan di sini memang laju, maklum ini jalur penghubung daerah. Kejar setoran juga,” ujar Sinyo menenangkan rombongan.

Sejam melintasi jalur penghubung, dari Malinau Barat kemudian kendaraan berbelok kiri. Ke Jalan Trans Kaltara I, wilayah Seputuk, Kecamatan Sesayap, Kabupaten Tana Tidung. Sekira 40 km, kendaraan kembali masuk ke Jalan Ahmad Yani. Wilayah Desa Bebakung.

Selama 1,5 jam perjalanan darat dari Seputuk, rombongan mulai memasuki Desa Turung, Kecamatan Sekatak, Kabupaten Bulungan.

Di beberapa bagian wilayah Sekatak, pandangan mata disuguhi kebun-kebun kecil milik warga. Ditumbuhi pisang. Kontras dengan kawasan sepanjang Tana Tidung.

Sinyo masih fokus, walau telah mengemudi berjam-jam. Saban hari, sudah jadi ‘makanan’. Rute Berau-Sangatta misalnya, cuma butuh waktu 4 jam. “Sudah biasa kalau begini, ini rute saya setiap hari. Biasa terasa pegalnya kalau masuk 6 jam. Jadi berhenti dulu sebentar, luruskan badan,” ujarnya.

Dalam perjalanan Sinyo berbagi kisahnya, memulai pekerjaannya sebagai sopir angkutan sejak masih 18 tahun. Biasa dipaksa mengemudi jarak jauh. “Saya nyupir itu dari tahun 80 (1980). Dulu jalur Berau ke Wahau itu belum ada. Pas buka, kami-kami inilah orang lama yang melintas pertama kali,” kenangnya.

Sopir sepertinya membutuhkan fisik yang kuat. Harus terjaga hingga berjam-jam. Di saat mata seharusnya terpejam, ia masih harus berkonsentrasi mengendalikan kemudi.

Mudah menemui oknum sopir yang mengonsumsi narkoba jenis sabu-sabu. Itu dilakukan demi menahan kantuk dalam jarak yang panjang. Sanggup melibas ribuan kilometer. “Yang sudah biasa nyabu, enggak bisa narik kalau enggak nyabu. Katanya kalau tidak nyabu matanya tidak kuat,” Sinyo kemudian menunjuk sebuah minibus silver di depan mobilnya.

Setelah hampir 6 jam perjalanan, Sinyo memutuskan rehat di Tanjung Selor, ibu kota Kabupaten Bulungan. Hampir setengah perjalanan menuju Muara Wahau.

Jarum jam menunjuk 16.30 WITA. Usai para rombongan mengisi perut di Tanjung Selor, perjalanan kembali dilanjutkan. Sinyo digantikan rekannya, sesama sopir angkutan minibus.

Sekira 1,5 jam perjalanan dari Tanjung Selor, kendaraan memasuki Desa Birang, Kecamatan Gunung Tabur, Kabupaten Berau. Perbatasan Kaltara dengan Kaltim.

Dari Birang ke Tumbit Melayu sekitar 1,5 jam atau sekira 73 km. Jam menunjuk pukul 19.40 WITA. Para rombongan pun kembali berehat di sebuah warung makan di sekitar Desa Tumbit Melayu, Kecamatan Teluk Bayur. Ini merupakan persinggahan kedua.

Dari Tumbit Melayu ke Muara Wahau nantinya ditempuh sekitar 5 jam. Petrus menuturkan perjalanan tahap pertama selesai jika rombongan telah sampai ke Muara Wahau. “Ini tahap paling ringan sudah. Besok (Jumat) kita menuju Pelangsiran. Medannya ini berat karena jalanannya bergunduk dan banyak lubang besar. Siapkan lengan untuk menahan badan supaya tidak terantuk di kaca mobil karena mobil ini kayak kapal di tengah ombak,” bebernya.

Kendaraannya kembali melaju. Di kawasan perbukitan dengan jalan yang tak selebar dari Malinau ke Berau. Berkelok-kelok tajam. Rawan laka, kata rekan Sinyo.

Tengah malam, kami sampai di Penginapan 88, di Jalan Poros Wahau Baru, Muara Wahau. “Di sinilah kita menginapnya. Kalau lancar, besok kita lanjut,” kata Petrus.

 

PENAKLUK MEDAN BERAT

Jumat (2/11) pagi, Petrus menerima telepon dari Bupati Malinau Yansen TP. Seseorang akan bergabung dalam rombongan menuju Desa Long Sule. Rombongan pun menginap semalam lagi di Penginapan 88 yang harga kamarnya Rp 200 ribu per malam. Dengan fasilitas air conditioner (AC), air hangat, televisi dan dua ranjang berkasur.

Sabtu (3/11), sekira pukul 14.00 WITA, Susilo, sopir yang dihubungi sepekan sebelumnya tiba di penginapan rombongan.

Dia mengendarai mobilnya Daihatsu Taft Hiline 1994 berklir hitam. Tidak sendiri, tapi dengan Budi (61). Mengendarai kendaraan sejenis berklir hijau. Dua kendaraan yang sudah dimodifikasi. Dari mesin, per sampai kap. Beberapa onderdilnya copotan. “Yang penting cocok,” ujar Susilo.

Susilo dan Budi, dua dari enam sopir yang melayani angkutan Muara Wahau-Long Metun. Sebutannya pelangsir rute pertama. Keduanya kemudian mengantarkan kami ke Dusun Jabdan.

Sembako dan pakaian diangkut bersama menuju Pelangsiran. Beras, minyak goreng, gula pasir, mi instan, sarden, kopi, teh, tepung terigu hingga celana dan baju. Pesanan warga. Sebagian lagi bekal di perjalanan.

Sang sopir juga membeli bahan bakar minyak (BBM) jenis solar dan bensin sekitar 2 jeriken, kira-kira 100 liter. Juga buat pedagang di Long Metun, selanjutnya diteruskan ke Long Sule, pakai drum. Harganya selisih beberapa ribu dengan harga di kota. “Barang pedagang ini tidak pernah absen dalam setiap jadwal kami. Jadi harus dimaklumi. Karena memang tujuan kami sebenarnya mengangkut barang,” tutur Susilo siang itu.

Barang dan penumpang harus berbagi tempat dalam mobil bak terbuka. Duduk bersama barang.

Dari Dusun Jabdan, tidak hanya Susilo dan Budi, ada empat mobil lain. Semuanya melaju berombongan ke Pelangsiran, sekira 87 km. Sopir tak bisa jalan sendiri-sendiri. Tantangan medan berat. Berlumpur, menyisir tebing, pohon tumbang, dan melewati dua sungai berarus deras.

Jalan ini dibuka sejumlah perusahaan 1990-an. Kemudian dilanjutkan dua perusahaan besar. Dari dibuka sampai saat ini sebagian besar masih berupa jalan tanah.

Awal menjejaki jalur ini, kendaraan menapak di kawasan perkebunan kelapa sawit milik PT Sinar Mas. Sekira 20-an km, masuk kawasan perkebunan PT Narkata Rimba, perusahaan kayu yang beroperasi sejak 2001.

Di titik ini masalah muncul, mobil yang dikemudikan Susilo mengalami kerusakan. Mur pengunci ban kanan belakang pecah. Berikut shockbreaker patah. Susilo dengan sigap mengambil peralatan, memperbaiki.

Di tengah perbaikan itu, truk-truk besar mengangkut kayu gelondongan berlalu-lalang. Milik PT Narkata Rimba.

Butuh sejam menunggu perbaikan. Perjalanan pun dilanjutkan dengan medan menanjak, sesekali bunyi mesin mengerang. Sampai malam, pukul 20.00 WITA tiba di Km 74.

Rombongan memutuskan untuk beristirahat di kamp PT Narkata Rimba. Di sebuah bangsal, rombongan berbaur dengan karyawan perusahaan.

Kamp memang sangat terbuka bagi warga yang melintas. Fasilitasnya cukup, ada WC dan tempat tidur. Di kamp, listrik dari pukul 18.00 sampai pukul 23.00 WITA. Malam itu pun dilalui dengan beristirahat yang cukup.

 

MACAN DI TEBING

Pukul 07.00 Minggu (4/11) usai sarapan, rombongan melanjutkan perjalanan. Baru 2 km berjalan, medan semakin berat dari sebelumnya. Semakin menanjak, banyak kubangan yang dalam. Sopir lebih konsentrasi. Bila celaka, terbalik ke jurang.

Dalam perjalanan, beberapa kali terhenti, diadang pohon tumbang dan tanah longsor. Lagi-lagi, rombongan harus berjibaku menyingkirkan. Itulah guna cangkul, parang, gergaji mesin dan beberapa alat yang dibawa sopir.

Jalur ini masih tergolong mudah bagi pelangsir rute pertama. Adrenalin makin terpacu di Km 87 dan setelahnya. “Kalau jalur ini jalannya masih enak. Nanti kalau sampeyan melanjutkan perjalanan dari Pelangsiran ke Metun (Long Metun), di situ jalannya yang sangat parah,” Susilo berseloroh dengan tangan meraih ranting pohon.

Burung enggang khas Kalimantan tak sekali melintas dalam perjalanan. “Kalau beruntung, biasanya lihat macan (macan dahan) di atas. Biasanya kalau siang begini dia cari makan,” tutur Susilo menunjuk tebing batu dan mengusap keringat dengan handuk kecil di lehernya.

Hutan yang lebat menjadi habitat macan dan beberapa satwa langka lainnya. “Macan ada, beruang ada. Kalau sial, bisa mencelakakan. Tergantung dari masing-masing orang. Bagaimana menghadapi kondisi. Biasanya menghindar. Ada juga yang jadi-jadian, ini yang orang khawatirkan. Mungkin kekuatan gaib atau apa,” timpal Petrus.

Dalam perjalanan ini, rombongan dua kali harus menyingkirkan pohon tumbang.

 

PELANGSIR KULI PANGGUL

Mendekati Pelangsiran, tibalah di sebuah pos yang digunakan menyimpan barang. Rombongan harus melintasi Sungai Telen, di Kecamatan Telen, Kutim. Sungai berarus deras dengan lebar sekitar 50-an meter memisahkan antara pos barang dengan Pelangsiran. Berisiko kehilangan nyawa bila terjatuh ke dalamnya. Kedalaman sekitar 6 meter, kata warga.

Kendaraan dari Jabdan hanya sampai di sini. Rombongan pun mulai mengangkat barang bawaan dari mobil. Berjalan menanjak sejauh 800-an meter.

Jika tak sanggup, ada  pelangsir. Jasa kuli panggul yang diupah Rp 1.500 per kilogram menyeberang Sungai Telen.

Tak ada jembatan di Sungai Telen. Pelangsir dan warga menyeberang sungai dengan tali besi, sling. Menggantung di atas papan kayu yang di setiap sudutnya dipasangi tali yang sama. Orang setempat menyebutnya ‘jembatan gantung’. Minim pengaman. Sudah beberapa kali putus. Kemampuannya pun hanya seberat 200 kilogram. Sembako, material bangunan, binatang buruan, gaharu, emas, dan berbagai macam kebutuhan lewat penyeberangan ini.

Alat penyeberangan dibuat dari sumbangan para pelangsir dan pedagang, tanpa bantuan pemerintah. Dulu mereka menggunakan rakit untuk menyeberang. Namun, dirasa kurang efektif. “Inilah kondisi kami dalam perjalanan, untuk menuju Desa Long Sule dan Long Pipa, kalau tidak ada pesawat satu-satunya akses jalan adalah melewati jalur ini.  Dan jalan ini sebenarnya tidak layak dilewati karena ini sudah rusak berat. Mau tidak mau kami harus melewatinya. Jadi, karena itu kami berharap agar masalah ini bisa diperhatikan pemerintah pusat,” keluh Petrus siang itu.

Jarwo (57), adik Suwoto yang bekerja sebagai kuli panggul mengungkap, alat penyeberangan sudah digunakan selama tiga tahunan. Tali sling beberapa kali diganti. “Jembatan ini dibuat dari tahun 2015, dulu pakai rakit tapi kami sangat kesulitan. Selain itu menyeberangnya juga lama. Kalau arus deras enggak berani, rakit bisa hanyut,” tuturnya.

Alat penyeberangan itu merupakan akses darat satu-satunya masyarakat Long Sule dan Long Pipa untuk menjangkau kebutuhan, baik sembako atau BBM. BBM dipakai di dua desa, utamanya untuk menghidupkan genset listrik. Apalagi belakangan, pemerintah melarang pengangkutan BBM melalui udara, dilarang menumpang di pesawat Mission Aviation Fellowship (MAF) atau Susi Air.

“Dari dulu hanya kami yang memperbaikinya, pemerintah sama sekali tidak pernah memperhatikan ini. Padahal kalau tidak ada jembatan ini, kami tidak tahu lagi masyarakat Long Sule dan Long Pipa mau makan apa,” terangnya.

Sering kali barang terjatuh ke sungai. Kuli panggul pun harus menanggung. “Pernah tali putus, teman patah tangan. Nah, kalau barang jatuh, diganti minimal 50 persen dari harga barang,” lanjutnya.

Katrol yang digunakan pada tali sudah berkarat. Para kuli khawatir. “Sebagai warga Indonesia kami berharap ada perhatian pemerintah pada jembatan tali ini. Karena jembatan inilah merupakan harapan hidup masyarakat. Kami sangat berharap pemerintah bisa membantu kami untuk memperbaikinya,” ujarnya.

Konon cerita warga setempat di dalam Sungai Telen hidup ikan kuyur. Cenderung agresif. Binatang yang tercebur ke dalam sungai biasa diserang. “Orang bilang juga ikan tentara. Warnanya loreng-loreng. Ukurannya memang besar. Bikin takut,” sambung Jarwo.

Tak berapa lama sampai juga di seberang, rombongan berjalan kaki di jalan setapak sejauh 200 meter. Lebih tepatnya mendaki, menuju kamp Pelangsiran.

Rombongan baru tiba di Pelangsiran Minggu (4/11) sekira pukul 11.00 WITA. Matahari semakin meninggi. Pelangsiran adalah kawasan persinggahan yang lokasinya berada di tengah hutan. Juga berfungsi sebagai pasar dengan sistem barter.

Hasil buruan, semisal kancil, payau (kijang Kalimantan), ikan dan tupai ditukar dengan kebutuhan pemburu di lokasi ini.

 

SELISIH SEJAM DI PELANGSIRAN

Rencana awal, hari itu juga perjalanan dilanjutkan. Tapi telat. Perjalanan tertunda. Pelangsir rute kedua (Pelangsiran-Long Metun) yang mengangkut dari Pelangsiran ke Long Metun telah berangkat paginya. Kesulitan utama di jalur ini akses komunikasi. “Enggak ada jaringan,” kata Susilo.

Di antara rombongan yang ingin berbagi kabar jika telah sampai di Pelangsiran menitipkan nomor telepon keluarga ke grup pelangsir rute pertama. “Nanti kalau di Wahau, kami teleponkan,” pesan Susilo.

Di Pelangsiran warga membangun gudang, menampung sembako pedagang. Di lokasi ini, rombongan menunggu mobil dari Long Sule selama 10 hari. Jika perjalanan normal dengan cuaca cerah, mobil yang berangkat dari Pelangsiran ke Long Sule, dan balik ke Pelangsiran ditempuh selama seminggu.

Ibu Sunarti (37), istri Susilo menyambut kami di Pelangsiran. Pemilik penginapan berlantai dua. Tanpa kamar. Tidur pun berbaur. Satu rombongan hanya boleh menempati satu lantai.

Sudah 10 tahun Sunarti bersama suaminya membuka penginapan. Sekitar 19

BACA JUGA

Kamis, 22 Agustus 2019 11:53

5.495 Peserta PBI Terancam Dinonaktifkan

TARAKAN - Sebanyak 5.495 penerima bantuan iuran (PBI) Kota Tarakan…

Kamis, 22 Agustus 2019 11:51

Anthon Joy Ditunjuk sebagai Direktur Radar Tarakan

TARAKAN – Hasil Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPS-LB)…

Kamis, 22 Agustus 2019 11:49

Pasar di Tarakan Masih Jorok

TARAKAN - Untuk ketiga kalinya di tahun 2019 ini Balai…

Kamis, 22 Agustus 2019 11:47

PLN Akan Dapat Pasokan Daya 36 MW

TARAKAN – Sebagai upaya memberikan keandalan listrik di Bumi Paguntaka,…

Kamis, 22 Agustus 2019 11:46

JANGAN MAIN-MAIN..!! Dua OPD Ini Rentan Tindak Pidana Korupsi

TARAKAN - Dua organisasi perangkat daerah (OPD) dinilai rentan akan…

Kamis, 22 Agustus 2019 11:45

Abdul Kadir, Sempat Vakum dari Politik karena Sakit

Kehilangan seorang kakak, yang merupakan penyemangat Abdul Kadir, S.T dalam…

Kamis, 22 Agustus 2019 11:18

Dapati Kendaraan Tidak Layak Jalan

TARAKAN - Puluhan kendaraan roda dua dan roda empat berhasil…

Kamis, 22 Agustus 2019 11:16

Lestarikan Tari Jepin di Kalangan Pelajar

TARAKAN – Gerak gemulai para pelajar terlihat saat menarikan tarian…

Kamis, 22 Agustus 2019 10:57

Dipenuhi Gundukan Pasir, Air Meluap

TARAKAN – Daerah RT 65, Kelurahan Karang Anyar, termasuk wilayah…

Rabu, 21 Agustus 2019 10:31

Krisis Air Makin Dekat, Diprediksi Sisa 4 Hari

TARAKAN – Air baku pada Embung Binalatung atau Kampung Satu…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*