MANAGED BY:
KAMIS
02 APRIL
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | KRIMINAL

RADAR KALTARA

Selasa, 18 Desember 2018 14:18
Abu Sayyaf Jadi Ancaman di Perairan
TETAP SIAGA: Danlantamal XIII Tarakan, Laksamana Pertama Judijanto menegaskan tetap memantau aktivitas kelompok Abu Sayyaf. RADAR KALTARA

PROKAL.CO, TANJUNG SELOR – Warga Negara Indonesia (WNI) yang bekerja di Sabah, Malaysia terus menjadi korban penculikan kelompok Abu Sayyaf. Hal ini menjadi perhatian serius Komandan Pangkalan Utama TNI Angkatan Laut (Danlantamal) XIII Tarakan, Laksamana Pertama Judijanto. Sebab, Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) merupakan daerah perbatasan dengan Malaysia dan Filipina.

Laksamana Pertama Judijanto menyampaikan, perairan Indonesia saat ini aman tanpa ada ancaman. Namun, pihaknya tidak lengah dengan kondisi yang ada. Sehingga, tetap mewaspadai kemungkinan yang terjadi di perairan Indonesia. Seperti masuknya perompak ke wilayah Indonesia dari perairan Sabah.

“Perairan kita aman saja. Daerah rawan terjadi perompakan selama ini, antara perbatasan Malaysia dan Filipina. Kapal yang melalui perairan tersebut notabanenya melalui wilayah kita. Maka dari itu, kita juga perlu mewaspadainya,” ucapnya kepada Radar Kaltara, Senin (17/12).

Lanjutnya, pihaknya juga mengantisipasi kapal-kapal yang akan melintas di wilayah tersebut. Untuk itu, ia meminta WNI harus waspada terhadap perompakan yang terjadi di perairan antara Malaysia dan Filipina. Di mana, WNI yang membawa kapal diminta memenuhi persyaratan dalam konteks keamanan serta alat komunikasi harus aktif.

“Saya yakinkan di wilayah kita tidak ada masalah, yang masalah di sana. Kita minta WNI yang bekerja di sana melengkapi surat-surat dokumennya. Jika bekerja sebagai nelayan harus tahu bagaimana bekerja yang aman agar terhindar dari perompakan dan penculikan,” jelasnya.

Langkah yang telah dilakukan guna mengantisipasi hal tersebut, Lantamal XIII Tarakan telah melakukan koordinasi dengan Maritime Command Center (MCC) di Tarakan, Sandakan, Malaysia dan Bungau, Filipina.  Itu dilakukan sebagai bentuk kerja sama antar negara. Berbagi informasi mengenai aksi kejahatan di perairan perbatasan. Dan informasi terakhir, masih ada kelompok perompak yang masih eksis dan masih mengganggu perairan antara Malaysia dan Filipina.

“Kita tetap akan meningkatkan kemampuan untuk mengantisipasi adanya gangguan di perairan Indonesia. Meskipun saat ini masih aman, kita akan mengantisipasi langkah-langkah terjelek ke depannya,” tegasnya.  

Sebelumnya, Konsulat Republik Indonesia (KRI) mengeluarkan surat edaran kepada Buruh Migran Indonesia (BMI) untuk mewaspadai ancaman penculikan di perairan timur Sabah, Malaysia dalam menyambut Natal dan Tahun Baru 2019.

Kepala Perwakilan KRI Tawau, Sulistijo Djati Ismojo menyampaikan percobaan penculikan terhadap nelayan di daerah tersebut masih terjadi. Sehingga, dikeluarkan surat edaran untuk memperingati BMI yang bekerja sebagai nelayan.

Sulistijo juga meminta, kepada nelayan untuk selalu menjaga kekompakan dan keebersamaan serta sedapat mungkin melakukan pencarian ikan dengan cara berkelompok atau tidak memisahkan diri dengan kelompok.

“Dengan cara itu, tentunya bisa meminimalisir terjadinya perampokan. Imbauan ini sering kami beri pemahaman terhadap BMI kita. Kalau berharap, pasti ingin tidak terjadi lagi perampokan sampai penculikan,” harap Sulistijo.

“Tentu ini menjadi pekerjaan rumah semua pihak, baik kami maupun pihak keamanan Malaysia. Semoga ke depannya keamanan lebih kuat dan tentunya pelaku bisa cepat ditangkap,” tambahnya mengakhiri.

Dalam lingkungan kerja KRI, di tahun ini kejadian percobaan hingga penculikan BMI oleh perampok diduga dilakukan kawanan Abu Sayyaf sudah terjadi dua kali. Selasa (11/9) lalu, dua orang WNI diculik oleh orang tak dikenal saat sedang berada di atas kapal melakukan penangkapan ikan, di sekitar perairan laut Semporna, Sabah, Malaysia.

Rabu (5/12) lalu, Kapal Magtrans 2 berbendera Malaysia yang diketahui membawa 13 orang anak buah kapal (ABK) nyaris dirampok terduga kelompok Abu Sayyaf. Dari dua data tersebut, kasusnya masih ditangani hingga saat ini. (akz/eza)

Abu Sayyaf Jadi Ancaman di Perairan


BACA JUGA

Rabu, 01 April 2020 13:26

Ayo Bersatu Lawan Covid-19!

TANJUNG SELOR – Puluhan kendaraan dan ratusan personel gabungan dikerahkan…

Rabu, 01 April 2020 13:24

Cegah Penularan, Gelar Sidang Jarak Jauh

TANJUNG SELOR – Sidang yang dilaksanakan Pengadilan Negeri (PN) Tanjung…

Rabu, 01 April 2020 13:21

WFH Diberlakukan hingga 21 April Mendatang

TANJUNG SELOR – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bulungan terus bergerak cepat…

Rabu, 01 April 2020 13:19

Puluhan Mahasiswa di Samarinda Dipulangkan

TANA TIDUNG - Seluruh mahasiswa yang saat ini kuliah di…

Rabu, 01 April 2020 13:18

Edukasi Warga lewat Nada Lagu Dangdut

Pernah dengar lagu Raja Dangdut H. Rhoma Irama berjudul Mirasantika?…

Rabu, 01 April 2020 12:57

Neck Blast Gagalkan 300 Hektare Padi Siap Panen

MASA panen padi menjadi suatu  yang paling dinantikan para petani.…

Selasa, 31 Maret 2020 13:17

Penundaan Pilkada Tunggu Perppu

TANJUNG SELOR - Beredar kabar bahwa Dewan Perwakilan Rakyat (DPR),…

Selasa, 31 Maret 2020 13:03

Orang Tua Tak Mendukung hingga Jalan Kaki Mencari Anak Didik

  Sekolah Adat Punan Semeriot (SAPS) saat ini sudah cukup…

Selasa, 31 Maret 2020 13:01

Calistung Ilmu Dasar

SABTU (14/3) pukul 19.30 WITA, jam ‘masuk’ sekolah. Anak-anak yang…

Selasa, 31 Maret 2020 12:57

Dikenal Mancanegara, Perlu Perhatian Pemerintah

Sekolah Adat Punan Semeriot (SAPS) sudah berjalan tahun kelima di…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers