MANAGED BY:
MINGGU
22 SEPTEMBER
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | KRIMINAL

RADAR KALTARA

Selasa, 18 Desember 2018 14:18
Abu Sayyaf Jadi Ancaman di Perairan
TETAP SIAGA: Danlantamal XIII Tarakan, Laksamana Pertama Judijanto menegaskan tetap memantau aktivitas kelompok Abu Sayyaf. RADAR KALTARA

PROKAL.CO, TANJUNG SELOR – Warga Negara Indonesia (WNI) yang bekerja di Sabah, Malaysia terus menjadi korban penculikan kelompok Abu Sayyaf. Hal ini menjadi perhatian serius Komandan Pangkalan Utama TNI Angkatan Laut (Danlantamal) XIII Tarakan, Laksamana Pertama Judijanto. Sebab, Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) merupakan daerah perbatasan dengan Malaysia dan Filipina.

Laksamana Pertama Judijanto menyampaikan, perairan Indonesia saat ini aman tanpa ada ancaman. Namun, pihaknya tidak lengah dengan kondisi yang ada. Sehingga, tetap mewaspadai kemungkinan yang terjadi di perairan Indonesia. Seperti masuknya perompak ke wilayah Indonesia dari perairan Sabah.

“Perairan kita aman saja. Daerah rawan terjadi perompakan selama ini, antara perbatasan Malaysia dan Filipina. Kapal yang melalui perairan tersebut notabanenya melalui wilayah kita. Maka dari itu, kita juga perlu mewaspadainya,” ucapnya kepada Radar Kaltara, Senin (17/12).

Lanjutnya, pihaknya juga mengantisipasi kapal-kapal yang akan melintas di wilayah tersebut. Untuk itu, ia meminta WNI harus waspada terhadap perompakan yang terjadi di perairan antara Malaysia dan Filipina. Di mana, WNI yang membawa kapal diminta memenuhi persyaratan dalam konteks keamanan serta alat komunikasi harus aktif.

“Saya yakinkan di wilayah kita tidak ada masalah, yang masalah di sana. Kita minta WNI yang bekerja di sana melengkapi surat-surat dokumennya. Jika bekerja sebagai nelayan harus tahu bagaimana bekerja yang aman agar terhindar dari perompakan dan penculikan,” jelasnya.

Langkah yang telah dilakukan guna mengantisipasi hal tersebut, Lantamal XIII Tarakan telah melakukan koordinasi dengan Maritime Command Center (MCC) di Tarakan, Sandakan, Malaysia dan Bungau, Filipina.  Itu dilakukan sebagai bentuk kerja sama antar negara. Berbagi informasi mengenai aksi kejahatan di perairan perbatasan. Dan informasi terakhir, masih ada kelompok perompak yang masih eksis dan masih mengganggu perairan antara Malaysia dan Filipina.

“Kita tetap akan meningkatkan kemampuan untuk mengantisipasi adanya gangguan di perairan Indonesia. Meskipun saat ini masih aman, kita akan mengantisipasi langkah-langkah terjelek ke depannya,” tegasnya.  

Sebelumnya, Konsulat Republik Indonesia (KRI) mengeluarkan surat edaran kepada Buruh Migran Indonesia (BMI) untuk mewaspadai ancaman penculikan di perairan timur Sabah, Malaysia dalam menyambut Natal dan Tahun Baru 2019.

Kepala Perwakilan KRI Tawau, Sulistijo Djati Ismojo menyampaikan percobaan penculikan terhadap nelayan di daerah tersebut masih terjadi. Sehingga, dikeluarkan surat edaran untuk memperingati BMI yang bekerja sebagai nelayan.

Sulistijo juga meminta, kepada nelayan untuk selalu menjaga kekompakan dan keebersamaan serta sedapat mungkin melakukan pencarian ikan dengan cara berkelompok atau tidak memisahkan diri dengan kelompok.

“Dengan cara itu, tentunya bisa meminimalisir terjadinya perampokan. Imbauan ini sering kami beri pemahaman terhadap BMI kita. Kalau berharap, pasti ingin tidak terjadi lagi perampokan sampai penculikan,” harap Sulistijo.

“Tentu ini menjadi pekerjaan rumah semua pihak, baik kami maupun pihak keamanan Malaysia. Semoga ke depannya keamanan lebih kuat dan tentunya pelaku bisa cepat ditangkap,” tambahnya mengakhiri.

Dalam lingkungan kerja KRI, di tahun ini kejadian percobaan hingga penculikan BMI oleh perampok diduga dilakukan kawanan Abu Sayyaf sudah terjadi dua kali. Selasa (11/9) lalu, dua orang WNI diculik oleh orang tak dikenal saat sedang berada di atas kapal melakukan penangkapan ikan, di sekitar perairan laut Semporna, Sabah, Malaysia.

Rabu (5/12) lalu, Kapal Magtrans 2 berbendera Malaysia yang diketahui membawa 13 orang anak buah kapal (ABK) nyaris dirampok terduga kelompok Abu Sayyaf. Dari dua data tersebut, kasusnya masih ditangani hingga saat ini. (akz/eza)

Abu Sayyaf Jadi Ancaman di Perairan


BACA JUGA

Sabtu, 21 September 2019 09:25

KERASSSS...!! Ke KPU, DPRD Ingatkan Anggaran Jangan Dibuat Hura-Hura

TANJUNG SELOR – Meski anggaran pelaksanaan pemilihan kepala daerah (pilkada)…

Sabtu, 21 September 2019 09:22

SIAP-SIAP AJA..!! 2020, Kemarau Diprediksi Lebih Ekstrem

Titik Panas di Kaltara Pukul 18.00 WITA Jumat (20/9) Lokasi …

Sabtu, 21 September 2019 09:15

PK Ditolak, Bang Toyib Tetap Dihukum Mati

TANJUNG SELOR - Upaya Arman Sayuti alias Bang Toyib terpidana…

Sabtu, 21 September 2019 09:13

Pengguna Ijazah Palsu Divonis 4 Bulan

TANJUNG SELOR – Sidang pelanggaran pemilu yang melibatkan Samsul sebagai…

Jumat, 20 September 2019 09:02

Tak Ingin Dibohongi, PLN Diminta Komitmen

TANJUNG SELOR – Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Mesin Gas (PLTMG)…

Jumat, 20 September 2019 09:01

Soal Sengketa Lahan di Lokasi Pertambangan, Perusahaan Sebut Lahan Sudah Klir

TANJUNG SELOR – Menyikapi keluhan masyarakat Desa Tengkapak, Kecamatan Tanjung…

Jumat, 20 September 2019 09:01

Unsur Pimpinan Definitif Segera Ditetapkan

TANJUNG SELOR – Unsur pimpinan definitif di Dewan Perwakilan Rakyat…

Jumat, 20 September 2019 09:01

Penyelesaian Batas Wilayah Belum Rampung

TANJUNG SELOR – Sejak terbentuknya Kalimantan Utara (Kaltara) sebagai provinsi…

Jumat, 20 September 2019 09:00

Maharajalila Diusulkan Jadi Nama Korem Kaltara

TANJUNG SELOR – Komando Resor Militer (Korem) Provinsi Kalimantan Utara…

Kamis, 19 September 2019 09:13

Kualitas Udara Baik, tapi Sekolah Kok Diliburkan?

TANJUNG SELOR – Berdasarkan pantauan  Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kalimantan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*