MANAGED BY:
SELASA
20 AGUSTUS
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Senin, 17 Desember 2018 13:03
Cantik Instan Berbahaya

Dikepung Merek Kosmetik Ilegal

ILUSTRASI

PROKAL.CO, Memiliki wajah yang cerah, putih, halus, tanpa flek hitam dan jerawat merupakan impian setiap wanita. Keinginan cantik secara instan, menjadi salah satu penyebab banyak konsumen menggunakan produk kosmetik tanpa menguji, apakah produk tersebut aman atau tidak. Kerap mengabaikan panduan mengenai produk yang aman.

 

----

RUMI (28) telah menggunakan kosmetik sejak berada di bangku sekolah menengah pertama (SMP). Awalnya, Rumi menginginkan wajah cantik dibanding teman-teman sekelasnya, sehingga di usianya yang masih seumur jagung, Rumi berani menggunakan kosmetik tanpa berkonsultasi dengan orang tuanya lebih dulu. "Jadi ceritanya aku tuh pengin cantik, kan lagi tertarik dengan teman, cowoklah. Terus aku coba gunakan krim wajah yang tanpa BPOM, kayak racikan gitu, fungsinya untuk mencerahkan wajah dan ternyata hasilnya benar," kenang Rumi.

Pemakaian akan kosmetik yang tak terdaftar Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) itu dilakulan Rumi hingga menginjak bangku kuliah. Berkat ilmu yang didapatkan Rumi di bangku kuliah dan atas saran rekan-rekan kampusnya, Rumi akhirnya memutuskan untuk melepas krim non-BPOM tersebut karena dianggap berbahaya. Alhasil, setelah melepas krim tersebut, Rumi terkejut dengan keadaan wajahnya yang berjerawat, kemudian meninggalkan bopeng.

Meski rutin melakukan perawatan hingga merogoh kocek sampai berjuta-juta, Rumi tetap berupaya agar wajah mulusnya kembali seperti semula. Namun nahas, wajahnya tak kunjung membaik, malah semakin parah dikarenakan proses perawatan wajah yang tidak sesuai. "Malah tambah parah. Padahal sudah keluarin duit sampai berjuta-juta loh," ujarnya.

Akibat hal tersebut, Rumi rutin menggunakan masker setiap kali keluar rumah, karena merasa malu akan keadaan wajahnya. Hingga kini, Rumi tidak menggunakan kosmetik apapun di wajahnya, dikarenakan rasa trauma. "Saya sudah tidak menggunakan produk wajah apapun, saya mau kasih netral kembali wajah saya. Berobatnya pun pakai yang tradisional saja, mudah-mudahan cocok," harapnya.

Indri (25) pengguna kosmetik lain, mengaku kerap kali menggunakan kosmetik secara bergantian hingga membuat kulit wajahnya menjadi berjerawat. "Tetap pakai kosmetik BPOM, tapi suka ganti-ganti merek gitu. Jadinya jerawat batu," bebernya.

Akibat pemakaian kosmetik yang berganti-ganti, membuat jerawat di wajah Indri justru semakin banyak. Meski berhenti menggunakan kosmetik untuk menetralkan kulit, wajah Indri masih meradang.

Dari hasil perobatan selama tiga bulan, hasilnya lebih baik. Meski begitu, bekas bopeng pada wajah Indri masih terlihat. "Puji Tuhan, meski bopeng, tapi wajahku sudah enggak meradang lagi, jadi sudah baik-baik, tinggal berusaha hilangkan bopengnya lagi. Kapok sudah pakai kosmetik ganti-ganti," imbuhnya.

 

KRIM ABAL-ABAL, WAJAH RUSAK

Seperti yang dilakukan salah satu wanita, Novia (30) yang pernah menggunakan krim dengan merek Kelly yang memang tidak terdaftar di BPOM.

Diakuinya, pengalaman pertama menggunakan krim tersebut, ada rasa panas di wajah. Hanya, karena ingin mendapatkan wajah putih dan mulus, Novia tetap menggunakan meski dengan rasa perih. "Awalnya ikut teman, karena direkomendasikan. Katanya kalau awal pakai memang panas, tapi itu di awal aja. Jadi tetap saya lanjutkan pakainya," katanya.

Pemakaian dua minggu setelahnya, diakuinya wajahnya sudah menampakkan cerah, dan mulus. Bahkan jerawat juga tidak ada, karena dulunya masih ada jerawat meski hanya sedikit. "Senang banget lah karena sudah tercapai apa yang diinginkan," ungkapnya.

Tetapi itu tidak berjalan lama, karena saat krim digunakan di wajah lalu terpapar sinar matahari, maka wajahnya menjadi merah seperti terbakar. Bahkan rasa panas begitu terasa di wajah. Karena itu, dia berhenti menggunakan krim ini, dan saat berhenti wajahnya menjadi kusam dan timbul jerawat.

"Sudah berhenti pakai, jerawat malah jadi makin parah. Rusak muka. Makanya, saya tidak akan lagi gunakan krim berbahaya," ungkapnya.

Hal senada diucapkan Anni (28) yang juga menggunakan krim merek Collagen yang tanpa terdaftar BPOM. Diakuinya, tertarik menggunakannya karena melihat wajah milik temannya yang kinclong dan mulus tanpa flek dan jerawat. Tentu saja, sebagai seorang perempuan juga tertarik untuk mendapatkan wajah yang sama persis seperti itu.

Dua bulan pemakaian pertama, wajahnya sempat menjadi mulus dan juga kinclong. Hanya setelah itu, jerawat mulai menggerogoti wajahnya. Terutama di bagian rahang. "Saya stres dapatnya, makanya tanpa pikir panjang saya langsung lepas," bebernya.

 

 

CEK DENGAN KLIK

Seharusnya dalam setiap penggunaan produk kecantikan, konsumen harus menjadi konsumen yang cerdas dengan memeriksa apakah produk tersebut sudah terdaftar di Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM).

“Kami punya slogan yakni cek KLIK yang memiliki kepanjangan cek kemasan, cek label, cek izin edar dan cek kedaluwarsa. Bila hal ini dilakukan tentunya dapat menjauhkan konsumen dari penggunaan kosmetik yang berbahaya,” terang Kepala Loka POM Tarakan Musthofa Anwari saat ditemui Radar Tarakan pekan lalu.

BPOM tidak bisa memberikan jaminan keamanan penggunaan kosmetik yang tidak memiliki izin edar dari BPOM, karena kosmetik tersebut dianggap rentan mengandung campuran kimia obat yang dilarang seperti mercury, hidroquinon, retinoat, resorsinol dan bahan kimia berbahaya lainnya.

“Bahan berbahaya ini bila digunakan dalam jangka panjang dapat merusak kulit seperti timbul flek hitam, bahkan bila parah bisa menyebabkan kanker kulit dan penyakit lainnya,” bebernya.

Tidak hanya produk kosmetik saja, krim yang  dibuat oleh dokter untuk pasiennya juga tidak diperbolehkan dijual bebas di pasaran. Dirinya menjelaskan bahwa krim kecantikan dari dokter hanya diperuntukkan untuk pasiennya saja, tidak boleh dijual ke luar. “Bila ada oknum dokter atau orang yang sengaja yang melakukan hal menjual secara bebas produk kosmetik tanpa izin edar dari BPOM, tentunya dapat dikenakan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, di mana dalam Pasal 197 bisa dikenakan pidana 15 tahun penjara dan denda Rp 1,5 miliar,” ujarnya.

Sejauh ini pengawasan terhadap produk kecantikan di Kaltara khususnya Tarakan sudah dilakukan Loka POM Tarakan dengan menggandeng stakeholder terkait. Hasilnya ditemukan  sebanyak 1.264 barang kosmetik dari 159 merek tanpa dilengkapi izin edar BPOM dan dianggap berbahaya digunakan. (lihat grafis)

“Produk kosmetik butan Indonesia, Malaysia, Taiwan yang kami amankan beberapa waktu lalu rata-rata merupakan produk whitening atau pemutih, tidak ada izin edar dari BPOM artinya produk tidak bisa dijamin keamanannya sehingga dimusnahkan karena diindikasi mengandung bahan berbahaya,” tuturnya.

Berdasarkan informasi yang diterima di lapangan, rata-rata produk yang dijual di Kaltara khususnya Tarakan dipesan melalui online dan sales. “Saat ini kami masih mencari siapa orang yang mensuplainya,” ungkapnya.

Terkait perizinan produk kosmetik untuk mendapatkan izin edar dari BPOM, semuanya harus melalui proses notifikasi sebelum dijual ke pasaran. “Baik dari dalam maupun luar negeri semuanya harus melalui jalur notifikasi dari BPOM,” tuturnya.

Setelah di pasaran, pengawasan tetap dilakukan BPOM untuk memastikan bahwa produk yang dijual benar-benar aman untuk digunakan konsumen. “Bila merugikan konsumen, produk tersebut akan kami tarik dari pasaran, kami bekukan nomor izinnya, bahkan hal ini bisa ditempuh ke jalur hukum bila benar-benar sangat merugikan konsumen,” ujarnya. (*/shy/*/naa/jnr/lim)


BACA JUGA

Selasa, 20 Agustus 2019 10:35

Kelas RSUD Jadi Perdebatan

TARAKAN – Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tarakan milik Pemerintah…

Selasa, 20 Agustus 2019 10:26

Batas Waktu Pengambilan Doorprize 26 Agustus

TARAKAN – Bagi Anda pemenang doorprize jalan sehat BUMN Hadir…

Selasa, 20 Agustus 2019 10:24

Mengenal Anggota Legislatif Periode 2019-2024 (Bagian-8)

Pernah gagal dalam Pemilihan Legislatif (Pileg) 2009, tidak membuat H.…

Selasa, 20 Agustus 2019 09:19

Pemkot Rencanakan PJU di 6.800 Titik

TARAKAN - Sebanyak 6.800 titik di wilayah Bumi Paguntaka akan…

Selasa, 20 Agustus 2019 09:14

Investor Oksigen Minta Izin Pemkot

TARAKAN - Penyedia oksigen di Kota Tarakan masih terbilang kurang.…

Selasa, 20 Agustus 2019 09:06

Tidak Dipungut Petugas, Sampah Menumpuk di Pinggir Jalan

TARAKAN - Pemandangan tidak sedap terlihat di Jalan P.Diponegoro Kelurahan…

Senin, 19 Agustus 2019 12:39

Bank Indonesia Inisiasi Transaksi via QR Code

ADA yang unik dalam festival kuliner di kegiatan pawai pembangunan…

Senin, 19 Agustus 2019 12:38

Janji Digelar sebagai Wisata Tahunan

TARAKAN – Akhirnya rindu masyarakat terobati dengan pawai pembangunan 2019…

Senin, 19 Agustus 2019 12:37

Terharu Pertama Kalinya Dapat Hadiah Jalan Sehat

TARAKAN – Jalan sehat BUMN Hadir untuk Negeri (BHUN) yang…

Senin, 19 Agustus 2019 12:36

Al Rhazali, Janji Penambahan Fasilitas Pendidikan

Meski sempat ditentang sang istri untuk maju menjadi calon anggota…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*