MANAGED BY:
JUMAT
23 AGUSTUS
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Jumat, 30 November 2018 14:02
Jam Malam Pelajar Diberlakukan

Prostitusi Terselubung Diduga Dominasi Remaja

ANTISIPASI: Traffic light menjadi salah satu tempat mangkal para remaja yang menjajakan diri ke pria hidung belang. Tuntutan gaya hidup menjadi salah satu penyebab maraknya prostitusi terselubung di Kabupaten Nunukan yang harus dihilangkan. RADAR NUNUKAN

PROKAL.CO, NUNUKAN – Nasib pelajar perempuan yang terjerat dalam prostitusi terselubung di Kabupaten Nunukan, memang bukan hal yang baru. Meskipun belum dilakukan riset atau penelitian lapangan, sejumlah kalangan tak menampik adanya aktivitas itu. Bahkan, dinilai lebih berani dari aktivitas di kota besar.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Pendudukan dan Keluarga Berencana (DPAP2KB) Nunukan Faridah Aryani SE tak menampik informasi tersebut. Hanya saja, untuk membuktikannya diperlukan waktu dan koordinasi dengan sejumlah pihak. “Inilah yang sedang kami telusuri juga. Karena kalau mengatakan ada, pastinya harus ada bukti,” ujar Faridah saat dikonfirmasi kemarin.

Ia mengatakan, salah satu langkah yang ingin dilakukan itu langsung bertemu dengan pihak guru. Khususnya guru bimbingan penyuluhan (BP) di setiap sekolah. Karena dengan begitu, pihaknya diharapakan mendapatkan data pelajar yang dicurigai. “Kan, dari guru BP itu bisa diketahui. Karena, ada beberapa pelajar yang menyimpang,” ujarnya.

Menurutnya, wacana pembentukan gugus tugas kota layak anak yang ingin dibentuk selama ini merupakan salah satu solusi mengatasi persoalan pekerja seks komesial (PSK) kalangan pelajar yang dicurigai ada di Kabupaten Nunukan ini. Sebab, dengan gugus tugas itu, maka beberapa kebijakan dapat dilakukan. Salah satunya itu pembatasan jam malam bagi remaja, khususnya pelajar. “Dulu pernah ada jam malam itu. Tapi, sekarang sudah tidak ada. Nah, itulah yang ingin kami kembalikan lagi,” ungkapnya.

Bahkan, katanya, dengan adanya gugus tugas kota layak anak itu, bukan hanya kebijakan berupa imbauan saja, tapi akan menerbitkan peraturan daerah (perda) tentang pengawasan pelajar juga. Walaupun, sudah ada Undang-Undang (UU) Perlindungan anak. “Kami sudah pernah berhubungan dengan mucikarinya. Transaksi dilakukan melalui hubungan telepon dan media sosial,” ungkapnya.

Sebelumnya, Sekretaris Dinas Sosial (Dinsos) Nunukan Yaksi Belanning Pratiwi SE mengaku khawatir munculnya prostitusi terselubung pasca penutupan lokalisasi tersebut. Sebab, hal itu akan memicu upaya adanya aktivitas bisnis lendir di kalangan masyarakat. Khususnya bagi remaja di Kabupaten Nunukan.

“Khawatir juga ada begitu. Waktu masih buka (lokalisasi) saja banyak terselubung. Parahnya, banyak usia pelajar juga. Apalagi nanti kalau lokalisasi sudah tutup,” kata Yaksi, sapaan akrabnya kepada media ini.

Ia mengaku, kekhawatiran tersebut bukan tanpa sebab. Dia pernah menemukan seorang pelajar yang sedang melakukan aksinya untuk mencari konsumen. Saat itu, di salah satu persimpangan lampu merah yang ada di Kecamatan Nunukan, kendaraan yang digunakan dihentikan.

“Perempuan itu masih usia pelajar di salah satu SMP negeri. Ia mengaku melakukan itu karena tuntutan gaya hidup. Mau beli ponsel terbaru,” ungkap Yaksi mengenai kejadian tersebut.

“Remaja itu mengira yang orang di mobil itu pria. Tapi, tetap saya ajak naik dengan iming-iming memberikan uang. Selama di perjalan saya ajak ngobrol. Mengakunya banyak juga temannya seperti dia. Apa yang dilakukannya untuk mengumpulkan uang biar bisa beli ponsel keluaran terbaru,” beber Yaksi menceritakan kisahnya.

Atas peristiwa itu, Yaksi memprediksi jika kejadian dan prilaku remaja menyimpang seperti itu sudah lama terjadi. Dan, dapat saja semakin meningkat ketika prostitusi ditutup. Untuk itu, kepedulian masyarakat sangat dibutuhkan. Sebab, jika hanya mengandalkan perangkat daerah saja, maka sangat sulit diberantas.

“Tugas kita bersama. Semua elemen. Siapa saja. Karena kejadian itu banyak terjadi karena kurangnya perhatian dari warga sekitar. Membiarkan dan justru mengambil keuntungan dari aktivitas itu,” ungkapnya.

Salah satunya, lanjutnya, memberlakukan jam malam bagi pelajar di luar. Program serupa memang pernah dijalankan sebelumnya. Waktu itu masih ditangani Satuan Polisi Pamomg Praja (Satpol PP) Nunukan. Hasilnya terlihat. “Saya juga heran kenapa bisa dihentikan program itu. Semoga saja, nanti bisa dikoordinasikan kembali agar program itu kembali dilakukan,” ujarnya. (oya/nri)

  

 

 


BACA JUGA

Jumat, 23 Agustus 2019 09:37

Gunakan Dana Desa Atasi Banjir

SEBATIK – Banjir di Sebatik, salah satunya di Desa Sungai…

Jumat, 23 Agustus 2019 09:10

Seminggu, Dua Kali Dilakukan Deportasi

NUNUKAN – Penggunaan jalur ilegal sepertinya terus menjadi pemicu deportasi.…

Jumat, 23 Agustus 2019 09:09

PENDIDIKAN

DINAS Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Nunukan, menjanjikan kepada seluruh siswa…

Jumat, 23 Agustus 2019 09:07

Pemberantasan Narkoba Jadi Prioritas Lanal Nunukan

NUNUKAN - Komandan Pangkalan TNI AL (Lanal) Nunukan Letkol Laut…

Kamis, 22 Agustus 2019 11:27

Gunakan APBN, Embung Baru Dianggarkan Rp 15 M

NUNUKAN – Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Nunukan melakukan menambah…

Kamis, 22 Agustus 2019 11:26

Pindah Golongan, Tarif Dianggap Memberatkan

NUNUKAN – Pelanggan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Nunukan, masih…

Kamis, 22 Agustus 2019 11:23

Penderita HIV menurun

NUNUKAN – Periode Januari-Agustus 2019, jumlah penderita Human Immunodeficiency Virus…

Kamis, 22 Agustus 2019 11:21

Lima Fraksi Telah Terbentuk

NUNUKAN – Setelah dilakukan pelantikan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah…

Rabu, 21 Agustus 2019 10:30

Aji Kuning Kini Jadi Langganan Banjir

NUNUKAN – Sejumlah desa yang ada di Sebatik menjadi langganan…

Rabu, 21 Agustus 2019 10:26

PLBN Krayan Dibangun Akhir Tahun

LONG BAWAN - Pos lintas batas negara (PLBN) yang berada…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*