MANAGED BY:
SELASA
07 APRIL
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | KRIMINAL

RADAR KALTARA

Selasa, 23 Oktober 2018 12:46
CARI BARANG RONGSOKAN DEMI BERTAHAN HIDUP
BERJUANG: Putra (16), bocah laki-laki asal Desa Dupa memecahkan beton rumah mencari besi sisa reruntuhan. RURY JAMIANTO/RADAR TARAKAN

PROKAL.CO, MASIH teringat jelas dalam ingatan masyarakat Palu kejadian 28 September lalu. Ketika bumi yang dikenal dengan sebutan Mutiara Khatulistiwa itu seketika berubah dan menjelma menjadi pulau seribu tenda. Mereka benar-benar tak akan pernah melupakan dahsyatnya bencana yang melanda. Guncangan maut telah merenggut ribuan nyawa hanya dalam sekejap.

Rumah yang mereka gunakan untuk beristirahat dan bersenda gurau kini kandas rata menjadi tanah. Gedung-gedung perkantoran, rumah sakit, dan perhotelan ambruk seketika dihantam tsunami yang datang secara bertubi-tubi. 

Bukan hanya itu, seakan tak ada ampun. Fenomena likuefaksi atau tanah bergerak juga memporak-porandakan rumah penduduk di Desa Petobo, Kelurahan Balaroa dan Jono Oge.

Diperkirakan masih ada 5.000-an orang di wilayah tersebut yang terdampak dan belum ditemukan. Mayat-mayat yang sudah ditemukan banyak yang tak dapat dikenali lantaran rusak tertimbun lumpur.

Di hari ini, 25 hari sesudah bencana itu datang. Tak ingin berlama-lama terpuruk, warga Palu beserta jajaran pemerintahan dan organisasi swadaya masyarakat menggaungkan kebangkitan, setelah hampir sebulan ‘mati suri’.

Mereka mulai berjualan, membersihkan puing-puing rumah hingga mengais rongsokan sisa gempa dan tsunami berupa seng dan besi untuk dijual demi bisa bertahan hidup.

Di Pantai Mamboro, Palu misalnya. Kita dapat jumpai puluhan korban bencana gempa dan tsunami memadati setiap barang rongsokan yang terkena tsunami untuk mencari barang yang dibutuhkan. Meski cuaca terik nan menyengat, praktik bolak-balik mengambil seng dan besi tetap dilakoni.

Bahkan di antara mereka dibantu bocah untuk mencari dan menaikkan puing ke bak motor roda tiga. Bagi para korban bencana, sulit terbayang melanjutkan hidup di kota rusak akibat bencana itu. Yang memungkinkan hanyalah mengumpulkan pundi rupiah dengan onggokan barang  rongsokan.

Hal itu dialami Muchlis (56), warga Desa Dupa, Kelurahan Layana Indah, Mantikulore, Kota Palu dengan perlengkapan gergaji besi dan palu. tangannya lihai memangkas besi sisa bangunan di tepi pantai menjadi potongan kecil. Dengan panjang sekitar 10 sentimeter.

“Saya memiliki tujuh anak, semuanya ikut sama saya. Sangat sulit hidup di sini sekarang tapi yah kita harus bangkit, kalau enggak, bisa apa. Yah sekadar untuk nambah-nambah hidup,” ungkap Muchlis, saat ditemui pewarta Radar Tarakan di Pantai Mamboro.

Saat mencari barang rongsokan, Muchlis membawa karung untuk mengangkut rongsokannya. Satu per satu hingga dapat memuat banyak besi. Meski ada polisi dia tetap melanjutkan aktivitasnya.

“Kena marah pernah. Kena usir juga pernah. Yah, namanya kehidupan, kita berjuang dan bersaing dengan warga di sini, demi memenuhi kebutuhan anak-anak dan istri. Satu pun harta tidak ada yang selamat, rumah hancur dan tinggal tanah. Apa yang mau diharap,” ucapnya.

Hujan, panas dan debu bukan halangan bagi Muchlis lagi. Selagi tangan dan kakinya masih mampu bekerja ia terus pergunakan untuk mengumpulkan pundi-pundi rupiah. Meski kaki kanannya sempat tertusuk paku sepanjang satu sentimeter.

“Ini kaki saya pernah terkena paku. Teriak sambil menangis itulah mungkin yang bisa saya lakukan saat itu. Tapi, apakah dengan saya menangis dan menjerit uang akan jatuh di depan saya. Nasib sudah begini mas,” ucapnya dengan tersenyum.

Pria yang dulunya bekerja sebagai tukang servis ini, tak mengira jika hidupnya akan seperti ini. Jika biasanya setiap pagi dihadapkan kopi dan siaran televisi. Namun kini, setiap bangun pagi ia harus bergegas dan berjibaku dengan debu-debu sepanjang jalan untuk berjuang mencari barang rongsokan di kawasan Pantai Mamboro. Kini lewat puing besi, dia berharap dapat menyambung hidup dengan keluarganya.

“Kami keluar dari pengungsian dan sudah mencari kos-kosan agar bisa kembali memulai kehidupan baru dari nol. Meski mengais rezeki dari barang rongsokan, insyaallah halal,” katanya.

Dijelaskan Muchlis kembali, untuk satu kilogram besi pengepul hargai Rp 2 ribu. Sehari, ia bisa mendapatkan 5 hingga 10 kilogram.

“Sedikit-sedikit bisa banyak juga kan,” ujarnya.

Kurang lebih dua minggu sudah ia melakoni pekerjaannya sebagai pencari barang rongsokan. Selama itu, ia pun bisa mengumpulkan uang Rp 500 ribu hingga Rp 1 juta. “Tergantung seberapa banyak kami dapatkan. Kadang sedikit kadang banyak. Yah disyukuri lah mas,” ujarnya.

Di saat pewarta sibuk berbincang dengan Muchlis, tiba-tiba seorang bocah laki-laki berbaju hitam datang dengan palu besi di tangannya. Bocah itu tak lain adalah Putra, putra keenam Muchlis. Usianya baru 16 tahun, namun semangatnya membantu ayahnya memecahkan batu untuk mendapatkan besi sangat besar.

Baginya, di saat-saat inilah ia harus membantu kedua orang tuanya. Jika dulunya ia adalah anak yang aktif dalam dunia gadget. Namun kali ini, ia aktif dalam mencari barang-barang bekas untuk membantu perekonomian keluarga.

“Senang aja. Kasihan kalau lihat bapak sama mama. Suka ngingat terus rumah yang kena tsunami. Jadi kumpul-kumpul uang bantu keluarga,” kata Putra.

Setiap pagi, Putra ternyata juga kerap menyusuri setiap sudut jalan yang dipenuhi rongsokan. Mengandalkan sepeda usangnya ia mencari apa yang bisa ia jual. Terkadang ia tak hanya sendiri, bersama teman-temannya yang juga korban gempa dan tsunami mencari barang rongsokan.

“Kadang sama teman-teman juga mencari. Kalau kami dapat banyak kami bagi dua hasilnya,” kata Putra.

Putra yang kini tengah duduk di bangku kelas 3 SMA mensyukuri takdirnya kini. Selamat dari hantaman tsunami baginya adalah suatu kehidupan yang sudah luar biasa. Dan kini, perjuangan keduanya adalah untuk membantu kedua orag tuanya serta saudara-saudaranya.

“Bismillah saja kak. Insyaallah ada hikmah di balik ini semua. Kalau dapat rezeki banyak mau beli baju sekolah dan celana dan alat-alat lainnya karena sudah enggak ada sekali. Jadi yah kami harus kuat,” ucapnya.

Di saat Putra beristirahat dalam lelahnya memecahkan batu. Ia mengatakan bahwa jika peristiwa gempa bumi yang berkekuatan 7,4 skala richter serta disusulnya tsunami setinggi enam meter, boleh saja meluluhlantakkan dan merobohkan bangunan tempat tinggalnya. Namun mimpi dan masa depannya tidak sama sekali goyah atau retak. Ini menjadi cambuk semangat untuk segera bangkit.

“Saya bercita-cita menjadi tentara. Bisa atau tidak saya akan coba,” ucap Putra sambil kembali mengambil palunya untuk memecahkan sisa beton. (eru/lim)


BACA JUGA

Senin, 06 April 2020 14:44

Rapid Test Negatif, Pemkot Luluh

TARAKAN – Pasien M atau pasien pertama yang dinyatakan positif…

Senin, 06 April 2020 14:35

Tidak Ada Batas Waktu, Pembuatan Sabun Cair

TARAKAN – Hingga waktu yang tidak ditentukan, pendistribusian sabun cair…

Senin, 06 April 2020 13:48

Total 16 Pasien Positif Covid-19 di Kaltara Bertambah

TANJUNG SELOR – Senin ini (6/4) konfirmasi positif Covid-19 di…

Senin, 06 April 2020 12:27

Sasar Korban PHK dan UKM

TARAKAN - Di tengah pandemi Covid-19, dampak dirasakan signifikan oleh…

Senin, 06 April 2020 12:11

Terhitung April Ini, Enggak Ada Lagi Izin Nikah

TARAKAN – Kementerian Agama (Kemenag) tidak akan melayani perizinan nikah…

Senin, 06 April 2020 12:08

Perumda sebagai Stabilisator Stok Barang

Masyarakat cenderung melekatkan stigma pada perusahaan umum daerah (perumda).  Mappa…

Senin, 06 April 2020 12:05

Kodim Distribusi 10.000 Liter Sabun Cair

TARAKAN – Hingga hari kelima, Sabtu (4/4), Kodim 0907 telah…

Minggu, 05 April 2020 14:00

Gugus Tugas Tracing Kontak Pasien Corona yang Meninggal

JURU Bicara (Jubir) Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kalimantan Utara (Kaltara),…

Minggu, 05 April 2020 13:58

Nestapa Usaha di Tarakan karena Corona, Kurangi Karyawan dan Pilih Tutup

Di tengah pandemi Covid-19, dampak dirasakan signifikan oleh dunia usaha.…

Minggu, 05 April 2020 13:56

Dunia Usaha Waswas, PHK Diambang Mata

Wakil Ketua Umum Bidang Ilmu Teknologi dan Industri Kreatif pada…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers