MANAGED BY:
SABTU
21 SEPTEMBER
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | KRIMINAL

RADAR KALTARA

Senin, 20 Agustus 2018 10:37
Merah Putih Berkibar di Tapal Batas
MERDEKA: Siswa Sekolah Tapal Batas di RT 14 Dusun Berjoko, Desa Sungai Limau, Kecamatan Sebatik Tengah menggelar upacara bersama para TKI di perbatasan, kemarin (17/8). RURY JAMIANTO/RADAR TARAKAN

PROKAL.CO, DERAP langkah sepatu hitam nan kusam, menghentakkan nada harmoni jalan pasukan pengibar bendera. Angkat paha setara perut, dan ayunan bergerak pantas, tidak cepat tidak juga terlalu lambat. Begitulah gerakan, yang dilakukan para pengibar bendera cilik, yang merupakan dari anak-anak para tenaga kerja Indonesia (TKI) yang bersekolah di tapal batas Sebatik, Malaysia.

Di bawah cuaca terik dengan suhu mencapai 29 derajat celcius, Sekolah Tapal Batas yang terletak di Jalan Sinta, Kampung Quran, RT 14 Dusun Berjoko, Desa Sungai Limau, Kecamatan Sebatik Tengah, Kabupaten Nunukan, turut merayakan dan memperingati hari bersejarah lahirnya bangsa Indonesia.

Sebuah bentuk penghargaan atas jasa para founding father kita yang telah memperjuangkan dan merebut kemerdekaan dari penjajah yang menindas. Pengorbanan yang telah mereka lakukan patut untuk dihargai.

Setelah semua peserta upacara rapi. Para paskibra cilik ini pun mulai melakukan tugasnya, sedari kurang lebih lima meter dari lokasi lapangan upacara, yang berada tepat di depan gedung sekolah. Dengan mengenakan seragam serba putih-putih, dilengkapi kacu merah serta peci hitam.

“Maju….jalan. Hadap kanan...gerak,” teriak salah satu pengibar bendera yang terdiri dari tiga orang itu menuju tiang bendera.

Sepatu hitam pekat nan kusam yang mereka gunakan tak mengganggu, meski debu beterbangan di setiap hentakan kaki. Mereka tampak cekatan, tegap tanpa takut salah. Kendati masa latihan hanya lima hari.

Pengibaran bendera semakin mengharu biru, terutama pada saat dikumandangkannya lagu kebangsaan Indonesia Raya. Puluhan mata tertuju ke satu tiang putih bersih, agak silau mengkilat karena terpaan sinar matahari pagi. Serentak mengangkat hormat saat pengibaran bendera merah putih dilakukan.

Mata mereka yang hadir berkaca-kaca. Terutama para orang tua murid yang merupakan para TKI. Pasalnya, untuk mendengarkan lagu kebangsaan ini, mereka hanya bisa mendengarkannya setahun sekali. Karena, disibukkan bekerja di perbatasan Malaysia, sebagai serabutan.

Setiap bait nyanyian lagu Indonesia Raya, para anak-anak dari pekerja TKI ini sangat hafal dengan lagu tersebut, lidah mereka bahkan sudah terlihat fasih dan lantang. Hal ini jauh berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, di mana anak-anak TKI jauh lebih hafal lagu kebangsaan Negara Malaysia ‘Negaraku’. Hal itu dikarenakan para anak-anak TKI kerap mendengarkan dan menyaksikan ketika lagu Malaysia terus dikumandangkan di Malaysia.

Perlahan tapi pasti, bendera merah putih yang hampir sampai di puncak tiang dengan iringan lagu Indonesia Raya itu pun berjalan dengan lancar, dengan akhir iringan instrumen musik yang telah disiapkan. Mereka yang hadir sebagai peserta upacara tetap bersemangat dengan sikap hormat sempurna, walau terik matahari makin meninggi pukul 09.30 Wita.

Panitia memang bekerja keras, halaman sekolah yang dipenuhi bendera umbul-umbul bertuliskan angka 73 tahun kemerdekaan itu rapi disiapkan hanya dalam satu malam. Lapangan disulap cukup elegan, bersih, dan sangat sederhana.

Hanya dipasangi beberapa tenda sebagai pelindung dari terik matahari. Meski begitu, sang merah putih pun sukses dikibarkan di sekolah tapal batas di perbatasan Sebatik-Malaysia.

Upacara bendera yang dilaksanakan di Sekolah Tapal Batas tahun ini tentunya sangat berbeda dengan perayaan tahun-tahun sebelumnya. Hal ini diungkapkan sendiri oleh Hj. Suraidah, pendiri Sekolah Tapal Batas.

“Alhamdulillah, upacara kemerdekaan ini selalu kami laksanakan sejak tahun 2014 lalu. Dan tak luput kami selalu melibatkan para orang tua murid yang bekerja di Malaysia. Kenapa? untuk memperkenalkan Negara Indonesia, karena selama ini mereka hanya memahami tentang Negara Malaysia saja. mulai dari lagu kebangsaan Malaysia, hingga percakapan bahasa Malaysia yang selalu membuat mereka lupa, dan alhamdulillah itu kami terus lakukan, untuk memperkenalkan,” kata Suraidah.

Tahun ini, lanjut Suraidah ia sangat bersyukur orang tua murid yang bekerja di Malaysia bisa turut hadir. Jika mengingat tahun sebelumnya, Suraidah tak dapat melihat ekspresi semangat yang serupa dari para orang tua siswa yang tinggal di Bergosong dan Bernyoko, Malaysia. Mereka tidak bisa mengikuti upacara bendera karena bertepatan dengan hari kerja mereka.

“Hari ini mereka hadir, saya senang. Dan mereka juga bisa menyaksikan anak-anak mereka mengibarkan bendera merah putih secara langsung, tepat di hari kemerdekaan bangsa kita,” katanya.

Dalam pelaksanaan upacara bendera di sekolah ini juga dihadiri, mandor para pekerja kelapa sawit serta pekerja kebun, dan para pekerja TKI. Juga turut dihadiri langsung dari para petinggi serta para pekerja Pertamina EP. Selain itu, juga dihadiri oleh mahasiswa KKN Universitas Muhamadiyah Yogyakarta (UMY), yang tengah melakukan pendampingan.

Upacara hari ini berlangsung cukup hikmat, walaupun peralatan dan perlengkapannya cukup sederhana. Kondisi Sekolah Tapal Batas saat ini sebenarnya sudah lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Ini tidak lepas perhatian dari organisasi non pemerintah dalam membantu penyelenggaraan pendidikan di sekolah tersebut.

Di hari kemerdekaan ini pula, pendidikan di tapal batas terus berkembang. Salah satunya ruang kelas yang cukup baik untuk mendukung kegiatan belajar mengajar, sekolah yang didirikan Yayasan Al-Irsyad tersebut telah memiliki asrama putra dan putri untuk menampung siswa. Pasalnya, sebagian besar siswanya adalah anak-anak TKI yang bekerja di Malaysia.

“Untuk satu unit gedung asrama baik putra dan putri itu memakan biaya sampai Rp 450 juta. Itu sudah lengkap, mulai dari tempat tidur, lemari, dan meja belajar. Dan kami sangat bersyukur bisa hadir lagi di tengah masyarakat Sebatik dan anak-anak di sini,” ungkap Haryanto, salah satu staf PT Pertamina EP Tarakan Field.

Sementara itu, dengan memperingati hari kemerdekaan Indonesia, salah satu orang tua murid yang bekerja di Bernyoko pun sempat terharu dan sangat merasakan getaran kemerdekaan itu. Meski ini merupakan pertamakali baginya untuk mengikuti upacara.

“Upacara peringatan HUT RI tahun ini begitu berarti bagi saya, karena bisa merasakan dan melewatinya di daerah perbatasan RI-Malaysia. Termasuk ketika bisa melihat ketiga anak-anak saya dan para orang tua murid lainnya yang merupakan pekerja TKI yang begitu menjiwai pelaksanaan upacara hari ini,” ungkap Ajong, pria berusia 30 tahun ini.

Memiliki tiga anak, tak menyurut niat Ajong untuk memberikan mimpi besar bagi anak-anaknya itu. Berjalan kurang lebih 2 jam dari lokasi tempatnya bekerja di Malaysia, bukan halangan dan rintangan bagi dirinya demi pendidikan anak-anaknya.

“Meski hujan dan juga jalanan lecet, saya tetap antar anak saya. Cukuplah saya yang tak melanjutkan sekolah ini dan memilih bekerja di Malaysia selama lima tahun. Tapi jangan untuk anak saya, dia harus memiliki cita-cita yang lebih tinggi,” harapnya.

Ajong pun berharap pemerintah Indonesia dapat terus memperhatikan masyarakat perbatasan serta para TKI yang bekerja keras demi keluarganya.

“Semoga negaraku lebih baik dari pada negara yang kutumpangi hidup untuk mencari sesuap nasi bagi keluargaku,” ucapnya.

 

 

SAMBUT POSITIF KEMERDEKAAN

Menyambut pelaksanaan kemerdekaan Republik Indonesia, bukan hanya diisi oleh rangkaian kegiatan lomba. Namun perayaan kemerdekaan juga dilakukan dengan pelaksanaan upacara sekaligus memperingati jasa pahlawan Republik Indonesia yang telah gugur.

Di Tarakan, usai pelaksanaan upacara, Wali Kota Tarakan Ir. Sofian Raga mengajak masyarakat mendoakan para pejuang bangsa yang sudah mengorbankan tenaga, pikiran dan nyawa demi kemerdekaan. “Mudah-mudahan para pahlawan mendapatkan kemuliaan di sisi Tuhan Yang Maha Esa,” ucapnya.

Sofian juga mengingatkan pentingnya berfikir positif dalam mengisi kemerdekaan. Baik untuk kepentingan pribadi, organisasi, masyarakat dan kepentingan negara.

Menjelang pemilihan presiden dan legislatif 2019, Sofian menginginkan agar seluruh masyarakat turut serta dan menentukan pilihan sebijak mungkin, agar pelaksanaan pemilihan dapat berjalan lancar, aman dan damai. Termasuk pelaksanaan Asian Games.

“Semoga apa yang menjadi keinginan dan harapan bangsa ini, dapat terwujud dengan baik di ulang tahun yang ke-73 ini,” harapnya.

 

KEBAHAGIAAN DIBALUT PESTA RAKYAT

Kemeriahan peringatan Hari Kemerdekaan tidak bisa terhindarkan, beragam cara masyarakat memaknai hari lahirnya bangsa Indonesia ini, salah satunya mengadakan sejumlah perlombaan dalam balutan pesta rakyat. Seperti yang dilakukan, gabungan RT 1,2,3, dan 4 Kelurahan Mamburungan, kemarin (17/8).

Berbagai permainan tradisional dihidupkan kembali, anak-anak hingga orang dewasa pun turut hanyut dalam momen paling bersejarah ini.

Koordinator kegiatan, Muhammad Hanafiah mengungkapkan, acara ini diselenggarakan dengan tujuan agar masyarakat di lingkungan RT 1,2,3, dan 4 dapat merasakan meriahnya peringatan kemerdekaan Republik Indonesia. Sekaligus menjadi penyemangat agar para generasi muda tidak melupakan identitas bangsanya.

“Acara ini supaya warga merasakan bagaimana meriahnya hari kemerdekaan, supaya meningkat semangat anak-anak juga,” ujarnya.

Tidak hanya anak-anak, kegiatan kemarin juga melibatkan ibu-ibu, dan bapak-bapak dalam perlombaan. Semua itu dilakukan berdasarkan kesepakatan warga setempat. Agar momen 17 Agustus meninggalkan kesan setiap tahunnya.

“Yang paling penting sasarannya itu agar anak-anak sadar dan senantiasa selalu mengingat. Jadi kalau tidak ada kegiatan seperti ini mereka akan selalu lupa, tidak ada kesan yang mendalam dalam mengingat Hari Kemerdekaan, dan jiwa nasionalismenya bisa pudar,” ungkapnya

Lomba lari, balap karung, tarik tambang, pancing botol, makan kerupuk, dan masih banyak perlombaan lainnya. Diakui Hanafiah, kegiatan semacam ini sangat perlu dilestarikan, termasuk dalam daerah perbatasan pada provinsi paling muda di Indonesia.

“Kita kan masih termasuk dalam perbatasan dan provinsi paling bungsu jadi kegiatan seperti ini harus diperbanyak agar anak-anak kita tidak merasa disisihkan,” ucapnya.

Dirinya pun bersyukur atas antusias warga yang begitu besar, sehingga menjadi penyemangat terselenggaranya kegiatan serupa di tahun yang akan datang.

Ketua RT 02, Suriansyah, menyebut kegiatan ini merupakan wujud persembahan kecil menyambut Dirgahayu Kemerdekaan Republik Indonesia. Dirinya pun berharap hal ini dapat terus berlanjut lebih meriah, dan ramai.

“Inilah yang bias kami persembahkan untuk negara kita menyambut Hari Kemerdekaan, supaya anak-anak kita bisa menikmati hari-hari gembira menyambut kemerdekaan. Kegiatan ini hampir setiap tahun kita laksanakan, kebetulan tahun ini kami gabung lagi karena keinginan masyarakat biar lebih meriah dan ramai,” singkatnya.

Tidak hanya di wilayah Tarakan Timur, warga RT 04 Kelurahan Karang Balik, juga tidak ingin ketinggalan momen merayakan Hari Kemerdekaan. Mereka pun juga mengadakan sejumlah perlombaan, dengan dana swadaya warganya.

“Alhamdulillah semua warga ikut berpartisipasi. Jadi untuk meramaikan kemerdekaan kita, warga berinisiatif mengadakan perlombaan sendiri dengan dana swadaya. Dari warga untuk warga itu sendiri,” tutupnya. (eru/*/shy/ega/lim)

 

Merah Putih Berkibar di Tapal Batas

 


BACA JUGA

Jumat, 20 September 2019 09:29

45 Titik Panas Terpantau

KEBAKARAN hutan dan lahan (karhutla) beberapa hari belakangan berdampak pada…

Jumat, 20 September 2019 09:20

Langkah Andi Akbar Tergantung Mertua

TARAKAN – Kader Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) dari Nunukan,…

Jumat, 20 September 2019 09:10

Gadai Sertifikat Tanah demi Pra PON

TARAKAN – Cabang olahraga panahan Kalimantan Utara (Kaltara) tertatih-tatih mengikutsertakan…

Jumat, 20 September 2019 08:58

Peserta per Kecamatan Dibatasi 260 Orang

TARAKAN – Babak penyisihan Lomba Domino Piala Irianto di Kecamatan…

Jumat, 20 September 2019 08:58

Harmoni Legislatif dan Eksekutif Kunci Sukses Kaltara

Nama                : Achmad…

Jumat, 20 September 2019 08:46
Aktif bermain tapi tidak disangka-sangka, di balik pakaian bocah yang bernama Juan, anak dari pasangan Try Wahyuni dan Petrus Seber ini terdapat luka sayatan bekas operasi beberapa bulan lalu.

Tiga Bulan Lagi Dioperasi, Berharap Bantuan Pemerintah

SUNGGUH teriris hati ini ketika melihat anak yang masih berusia…

Kamis, 19 September 2019 10:17

‘Telan’ Rp 100 M, Tengkayu I Baru Rampung Sisi Laut

TANJUNG SELOR – Pembangunan fasilitas transportasi laut di Kalimantan Utara…

Kamis, 19 September 2019 09:50

SABAR AJA...!! Di Sini Belum Ada Tanda-Tanda Hujan

TARAKAN - Kekeringan yang melanda Bumi Paguntaka akibat tidak diguyur…

Kamis, 19 September 2019 09:25

Undunsyah Optimistis Membangun Koalisi Parpol

TANA TIDUNG - Bupati Tana Tidung Dr. H. Undunsyah, M.Si,…

Kamis, 19 September 2019 09:13

Terdakwa Mati Kasus Sabu 10 Kg Ajukan Banding, Memori Banding Sudah di PT Kaltim

TARAKAN - Usai divonis hukuman mati oleh Majelis Hakim Pengadilan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*