MANAGED BY:
SELASA
21 JANUARI
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | KRIMINAL

RADAR KALTARA

Minggu, 05 Agustus 2018 23:19
Mengenal Anang Busra, Namanya Dipakai sebagai Pangkalan Angkatan Udara
Tulis Wasiat, Jika Meninggal Tak Ingin Keluarga Menghubungi Tentara

Masuk Angkatan Udara setelah Bertemu Kolonel Dhomber

PAHLAWAN: Anang Busra saat masih muda. FOTO: RURY JAMIANTO/RADAR TARAKAN

PROKAL.CO, Nama Anang Busra resmi digunakan sebagai nama Pangkalan Udara (Lanud) Tarakan. Diresmikan langsung Kepala Staf Angkatan Udara (KASAU) Marsekal TNI Yuyu Sutisna, saat kunjungannya ke Biak, Jayapura, Kamis (26/7) lalu. Anang Busra dikenal sebagai salah satu pejuang dari Kaltara. Seperti apa sosoknya di mata keluarga?

RURY JAMIANTO

PRIA kelahiran 7 Maret 1923 itu merupakan putra asli Kalimantan Utara. Anang Busra lahir di Malinau di masa penjajahan dulu. Anang Busra muda lebih banyak menetap di Tarakan. Berawal sebagai seorang pemuda biasa, Anang Busra kemudian dikenal sebagai pribadi berjiwa pejuang. Bahkan di masa itu kemerdekaan, Anang Busra membentuk sebuah ikatan pemuda dalam memperjuangkan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Pewarta pun menemui salah satu anak kandung Anang Busra, yang berdomisili di Jalan Mulawarman.Dialah Deddy Natalia Busra, pria 48 tahun itu masih mengingat jelas akan perjuangan ayahnya semasa hidup dan bertugas di Tarakan.

“Almarhum sebelum masuk tentara, sudah masuk dalam Ikatan Nasional Indonesia (INI) di Balikpapan waktu itu untuk memperjuangkan NKRI,” ungkap Deddy ramah kepada Radar Tarakan.

Dalam memperjuangkan NKRI, Anang Busra saat itu belum bergabung dalam anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Udara (AU). Anang juga menjadi salah satu pemuda yang bergabung dalam pengibaran bendera merah putih di Tarakan untuk pertama kalinya. Sejak Proklamasi Kemerdekaan dikumandangkan Presiden Soekarno.

“Tahun 1946, almarhum bersama yang lainnya menaikkan bendera merah putih sebagai tanda kemerdekaan. Namun, situasinya kala itu berbeda dengan Jakarta dan wilayah lainnya. Pengibaran bendera merah putih terpaksa dilakukan di dalam gedung yakni di Gedung Kota Wangi yang kini namanya berubah menjadi Kampung Bugis,” jelasnya.

Jepang belum sepenuhnya mundur dari Pulau Tarakan. “Penjajah jepang ini kan masuknya melalui Pulau Tarakan tahun 1942. Saat itu kalau naikkan bendera merah putih di luar gedung akan ditembak dan dibunuh oleh Jepang,” jelasnya.

Singkat cerita, nasib Anang Busra pun berubah. Yang dulunya sebagai pemuda biasa lantas memilih dan bergabung dalam dunia militer. Bergabung dengan TNI AU tak terlepas dari pertemuannya dengan Kolonel Dhomber yang kini namanya juga diabadikan sebagai Lanud Dhomber di Balikpapan.

“Kolonel Dhomber saat itu kerap meminta bantuan kepada Pak Anang Busra. Sejak pertemuan itu, Anang Busra ini pun ikut tes dan akhirnya lulus dari kopral hingga menjadi intelijen angkatan pertama,” bebernya.

Dari situlah, segala tugas militer dilakukan Anang Busra. Mulai bertugas ke perbatasan Maumere, Nusa Tenggara Timur, Pontianak dan banyak lagi hingga sampailah Anang Busra bertugas di Kota Tarakan. Tugasnya sebagai prajurit Angkatan Udara merupakan satu-satunya angkatan yang pertama di Tarakan masa itu. “Tugas di Tarakan itu tahun 1968,” jelasnya.

Setelah berjuang dan melakukan banyak hal semasa tugasnya menjadi TNI AU, Anang Busra pun akhirnya pesiun dari dunia militer. Tak sampai di situ, Anang Busra juga pernah menjabat sebagai Wakil Ketua Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Tarakan. Juga menjadi bagian dari perjuangan Persatuan Purnawirawan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (Pepabri) dalam mempertahankan tanah miliknya saat berseteru dengan salah satu badan usaha milik negara (BUMN).

Memasuki tahun 1996, Anang Busra sakit-sakitan. Tepat bulan bulan Maret, ia pun dipanggil Sang Pencipta untuk selama-lamanya. Namun sebelum itu, Anang Busra sempat menulis surat wasiat buat keluarganya.

“Sebelum bapak saya meninggal. Dia sempat dirawat di Rumah Sakit (RS) Malang dan beliau juga sempat berpesan bahwa dia tidak akan pulang sebelum dibawa ke Tarakan,” jelasnya.

Tiga bulan masuk rumah sakit di Malang, akhirnya pihak keluarga pun membawa pulang ke Tarakan. Lima hari masuk di ruang ICU RSUD Tarakan, Anang Busra pun dinyatakan meninggal. “Beliau juga sempat menulis surat wasiat. Surat itu ditujukan untuk adiknya. Namun, karena saat itu suratnya tidak beramplop jadi saya sempat baca. Dan di situ tertulis bahwa jika ia meninggal nanti diminta untuk dikuburkan di sebelah kuburan Ibunya di Markoni. Anang juga meminta untuk tidak menghubungi tentara atau kodim,” kata Deddy lagi.

Adapun alasannya, lanjut Deddy, karena Anang Busra tak ingin tanda jasanya disebut-sebut. “Beliau minta untuk dikuburkan seperti biasa. Tanpa ada jabatan, dan minta dikuburkan di samping ibunya saja dan jangan sebutkan pangkat dan jasa-jasanya,” kata Deddy dengan mata berkaca-kaca saat mengingat surat wasiat itu.

Semasa hidup Anang Busra memang dikenal orang yang bersahaja dan tak ingin segala apa yang dilakukannya diketahui orang. Cukup ia dan Tuhan yang tahu.

“Selama dia bertugas itu jarang menggunakan pakaian dinas, kebanyakan orang itu tidak tahu kalau dia itu angkatan. Dan kuburan beliau juga sampai saat ini diminta biasa-biasa saja,” jelasnya.

Dengan demikian, penyematan nama Anang Busra sebagai nama Lanud di Tarakan, Deddy mengucapkan banyak terimakasih, khususnya kepada KASAU, Komandan Lanud Tarakan serta jajarannya yang telah banyak membantu keluarganya.

“Kami sangat berterimakasih atas terpilihnya nama Anang Busra untuk Lanud Tarakan dan kami sangat bangga terutama saya sebagai anak kandungnya. Ini akan dikenang sepanjang masa,” kata Deddy.

Deddy pun juga mengklarifikasi, terkait soal hubungan antara Anang Busra dan Wali Kota Tarakan Ir. Sofian Raga bukanlah merupakan sahabat, melainkan keluarga. “Bukan sahabat tapi keluarga,” urainya. (***/lim)


BACA JUGA

Selasa, 21 Januari 2020 11:43

HOROR..!! Speed ini Bocor Setelah Tabrak Kayu, Bagaimana Nasib Puluhan Penumpangnya...??

TARAKAN - Speedboat Malinau Express IX yang membawa 35 penumpang…

Selasa, 21 Januari 2020 11:34

INNALILLAHI...!! Terbakar..!! Pasar Tertua di Tarakan Rata dengan Tanah

API membumbung tinggi di bangunan berlantai dua, tepat di pinggir…

Selasa, 21 Januari 2020 11:29

Pasar Pertama yang Mengkhususkan Pisang

Pasar Batu Tarakan, belakangan identik sebagai pusat oleh-oleh. Sebagian pedagang…

Senin, 20 Januari 2020 12:59

BREAKING NEWS! Ditinggal Penghuni, Rumah kosong Terbakar

TARAKAN - Kebakaran terjadi di RT 24 Kelurahan Sebengkok tepatnya…

Senin, 20 Januari 2020 11:02

Dapat Sehatnya, Raih Doorprize Menarik

TARAKAN – Akrab dan ceria. Begitulah suasana yang terlihat di…

Sabtu, 18 Januari 2020 13:56

Pencabutan Subsidi Elpiji 3 Kg, Perlu Dipikir Diantisipasinya

TARAKAN – Rencana pemerintah mencabut subsidi pada elpiji 3 kilogram…

Sabtu, 18 Januari 2020 13:52

Semarak Tahun Baru Imlek Identik Warna Merah

SERBA MERAH: Pernak-pernik Tahun Baru Imlek terpampang di salah satu…

Jumat, 17 Januari 2020 11:10

Curah Hujan Tinggi, Waspada Banjir dan Longsor

TARAKAN – Hujan yang mengguyur Kota Tarakan sejak Kamis (16/20)…

Jumat, 17 Januari 2020 11:06

2020, Potensi Karhutla di Pulau Ini Masih Ada

TARAKAN – Masih adanya musim kemarau yang terjadi pada tahun…

Kamis, 16 Januari 2020 14:40

Pajak di Tarakan Diklaim Masih Lebih Murah

TARAKAN - Pemerintah Kota (Pemkot) Tarakan berkeinginan mengoptimalisasi seluruh pundi-pundi…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers