MANAGED BY:
SABTU
23 NOVEMBER
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | KRIMINAL

RADAR KALTARA

Selasa, 24 April 2018 12:40
Bea Cukai Pasang Badan

Soal 2.900 Ton Beras Vietnam di Sebatik

DIPERIKSA: Personel Polres Nunukan saat memeriksa Kapal MV Dong Thien Phu Golden, Minggu (22/4) pagi. RIKO ADITYA /RADAR TARAKAN

PROKAL.CO, NUNUKAN – Kapal MV Dong Thien Phu Golden yang mengangkut 2.900 ton beras asal Vietnam dengan tujuan Labuan, Malaysia diamankan KRI Untung Suropati saat menambat di perairan Sebatik, Kamis (19/4). Diduga kapal tersebut akan melakukan bongkat muat muatan bersama dengan empat kapal asing lainnya asal Filipina.

Kepala Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC) Tipe Madya Pabean C Nunukan M. Solafudin mengklaim dari sisi kepabeanan aktivitas kapal tersebut sesuai prosedur. Dokumen yang diklaim Bea Cukai seperti Rencana Kedatangan Sarana Pengangkut (RKSP) dan manifest barang.Bea Cukai juga menyebut telah menerima Persetujuan Keagenan Kapal Asing (PKKA) dari Jenderal Perhubungan Laut. Yang lebih menguatkan Bea dan Cukai, kata Solafudin adanya izin bongkar muat dari Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan (KUPP) Sebatik. “Untuk sisi kepabeanan tidak ada yang dilanggar,” tegasnya.

Yang menggelikan soal alasan kapal tersebut melewati pelabuhan tujuan di Labuan, Malaysia. Alasannya Majelis Keselamatan Malaysia tidak mengizinkan adanya kapal kayu untuk mengangkut barang. Sehingga memilih masuk ke Sebatik yang diketahui tidak terdaftar sebagai pelabuhan resmi ekspor dan impor. “Sebelumnya melakukan over shift di perairan Tawau ke kapal kayu milik Filipina. Namun, sejak dilarang ia memilih ke Sebatik. Istilah di kita itu transhipment atau pindah kapal,” ungkapnya.

Lanjutnya, untuk aktivitas bongkar muat tentunya harus ada agen di Indonesia yang mengawasi. “Harus ada izin dari bea cukai dan sudah diberikan ke agen. Dan tidak masalah,” tambahnya.

Selain izin dari Bea Cukai, lanjutnya, izin juga harus dipenuhi dari Direktorat Jenderal Perhubungan Laut.

Ketika ditanyai terkait mengapa kapal tersebut tidak langsung menuju Filipina membawa beras tersebut. Menurutnya, selama ini aktivitas dilakukan di Tawau.

“Kapal Vietnam bisa masuk Tawau, tetapi kapal Filipina tidak bisa untuk transit. Makanya geser ke sini (Sebatik),” bebernya.

Kepala KUPP Sebatik H. Juniansyah yang berusaha dikonfirmasi belum memberi jawaban terkait keberadaan kapal MV Dong Thien Phu Golden yang melakukan bongkar muat 2.900 ton beras asal Vietnam.

Sementara,  Direktur PT Sinar Dani Borneo Hamzah saat ditemui di Kantor PPBC Tipe Madya Pabean C Nunukan menilai, apa yang terjadi hanya miskomunikasi antar instansi. Sebab, usaha yang ia miliki bergerak di bidang ekspor dan impor. Apa yang dilakukan sudah sesuai regulasi yang ada. Bahkan, ia menilai kerjasama kegiatan tersebut sebagai kerja sama empat negara, Indonesia Malaysia, Filipina dan Vietnam.

Sehingga, apa yang dilakukan sudah pasti legal, kata dia. “Kami meluruskan karena kebanyakan bisnis di Sebatik itu ilegal. Sedangkan apa yang kami lakukan merupakan suatu terobosan sesuai regulasi. Dan tidak mungkin ilegal. Kapasitas kapal besar pasti diketahui,” katanya.

Ia memastikan beras asal Vietnam ini tidak beredar di Sebatik. Sementara, terkait kapal harus melakukan pembongkaran di Sebatik ia beralasan aktivitas Pelabuhan Tunon Taka Nunukan begitu padat. Selain itu tingkat kedalaman di dermaga Pelabuhan Tunon Taka dinilai dangkal. Meski diketahui, kapal tersebut akhirnya dipaksa bersandar di Mako Lanal Nunukan dan Pelabuhan Tunon Taka. “Bicara aturan kami sudah memenuhi aturan. Dan KRI juga punya wewenang untuk melakukan pemeriksaan,” dalihnya.

Komandan Lanal Nunukan Letkol Laut (P) M. Machri Mokdagow ketika dihubungi meminta pewarta berkomunikasi dengan Perwira Seksi Operasi (Pasiops) Lanal Nunukan Kapten Laut (P) Deni Purwanto.

Lanal Nunukan menyampaikan, hasil pemeriksaan tidak ditemukan permasalahan secara dokumen kapal. Hanya, kata Deni, sebelumnya agen tidak melaporkan ke Lanal Nunukan bakal melakukan aktivitas di perairan Sebatik.

KRI sebelumnya meneruskan kegiatan pengamanan itu ke Komando Armada RI Kawasan Timur TNI AL V di Surabaya. Kemudian diarahkan melakukan pemeriksaan di Lanal Nunukan. Pada Minggu (23/4) bersama sejumlah instansi, melakukan pemeriksaan. “Sebab khawatiran karena daerah perbatasan yang rentan dengan penyelundupan narkoba, minuman keras (miras) dan senjata api. Hasil pemeriksaan tidak ada ditemukan, hanya ada  beras saja,” ihwalnya.

Selain sudah melakukan pemeriksaan di kapal, Lanal Nunukan juga telah mengecek dokumen ke Pemerintah Vietnam. Melakukan kroscek dokumen melalui Vietnam. “Benar bakal melakukan transhipment beras menuju kapal dari Filipina. Dan hal ini telah dilaporkan ke pimpinan, sehingga menunggu proses administrasi untuk dilepaskan. Selanjutnya dari Kesyabandaran Sebatik melakukan pengawasan,” imbuhnya.

Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri pada Kementerian Perdagangan Oke Nurwan mengatakan jika persoalan impor beras ditangani khusus Perusahaan Umum (Perum) Badan Urusan Logistik (Bulog) sesuai dengan penugasan Presiden. “Impor beras itu hanya dari Bulog. Kalau lebih akuratnya ke Bulog,” kata Oke Nurwan kepada media ini, kemarin (23/4).

Penugasan itu dituangkan dalam Peraturan Presiden Nomor 48 Tahun 2016 tentang Penugasan Kepada Perum BULOG Dalam Rangka Ketahanan Pangan Nasional. Sebelumnya Kepala Divisi Regional Perum Bulog Kaltim-Kaltara Muhammad Anwar yang dikonfirmasi, memastikan jika beras Vietnam yang berada di Sebatik bukanlah milik Bulog. “Itu bukan beras kami,” kata Muhammad Anwar singkat.

Dalam penugasan Bulog, ada beberapa alasan pemerintah pusat memasok beras. Misalnya ketika harga mulai mahal dan terjadi kelangkaan di pasar-pasar.

Kepala Sub Divisi Regional Perum Bulog Tarakan Pengadilan Lubis menambahkan informasi dugaan beras ilegal bukan kali ini saja sampai ke telinganya. Ia pun memastikan, jika beras yang dipasok dengan menumpang MV Dong Thien Phu Golden bukan penugasan Bulog dari pemerintah pusat. “Bukan dari Bulog. Kalau beras Bulog, yah dari Bulog Tarakan. Kalau pun ada (impor), dari pusat menginformasikan ke Tarakan,” katanya.

Selama bertugas di Kaltara, lanjutnya, Bulog Tarakan belum pernah menerima beras impor langsung dari negara pengirim, semisal Vietnam.  “Selama saya (Agustus 2017), belum. Kalau pun misalnya ada beras impornya, turunnya di Jawa, baru dibawa ke sini. Itu biasa ada,” sambungnya.

Lebih lanjut Lubis, sapaannya, mengungkap jika Kaltara belum pernah mengalami kekurangan beras. Bulog sejatinya menyimpan cadangan beras jika sewaktu-waktu dibutuhkan. “Kalau cadangan itu ada. Intinya kalau Kaltara ini gak bakal kekurangan. Tanggal 25-26 akan kami rapat di provinsi bersama dengan kepala daerah atau yang mewakili. Menjelang bulan puasa, apa yang akan dibuat, seperti apa mengantisipasi peningkatan konsumsi masyarakat. Dan hal-hal lain, seperti harga diantisipasi,” sebutnya. 

 

BISA MEMATIKAN PETANI LOKAL

Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Borneo Tarakan Hariyadi Hamid menilai terlepas dari persoalan hukum beras asal Vietnam yang berlabuh di Sebatik, keberadaan beras dari luar bakal mengganggu perekonomian dalam negeri secara luas.  “Karena jika terjadi (impor ilegal), maka tidak akan ada penghasilan dari sana. Dari sisi pendapatan negara pasti akan hilang,” katanya.

Menurutnya, ketika beras asal Vietnam tersebut beredar di pasaran, tentu akan merugikan petani. “Ini akan berdampak secara luas bagi masyarakat. Jadi memang harus benar-benar diteliti, jika ilegal pasti tidak akan melalui proses penelitian lebih lanjut,” ungkapnya.

“Memang dari segi keuntungan itu ada, tetapi tidak secara keseluruhan. Khusus bagi pengusaha saja,” ucapnya.

Menurutnya, keberadaan barang impor tidaklah ditolak, sejauh memenuhi ketentuan impor. “Tetapi harus melalui proses-proses yang benar,” jelasnya.

Umumnya di Kaltara, masyarakat mengkonsumsi beras dari Sulawesi dan Jawa. “Tetapi tetap akan merugikan, karena petani kita nanti pendapatannya akan berkurang kalau beras dari Vietnam itu masuk. Yang pasti lebih banyak negatifnya,” jelasnya. (akz/*/naa/lim)


BACA JUGA

Jumat, 22 November 2019 14:09

AHAYYYY...!! Jamin Bea dan Cukai Bersih dari Korupsi

NUNUKAN - Kantor Pengawasan dan Pelayanan Bea dan Cukai (KPPBC)…

Kamis, 21 November 2019 12:28

1,5 Kg Narkotika Berakhir di Toilet

NUNUKAN – Kepolisian Resor (Polres) Nunukan kembali melakukan pemusnahan Narkotika…

Kamis, 21 November 2019 12:25

Sekda: Akhir Tahun Segera Susun Laporan

NUNUKAN – Para aparatur sipil negara (ASN), terus diingatkan agar…

Selasa, 19 November 2019 13:59

Warga Mengeluh Kondisi Dermaga Mantikas Memprihatinkan

NUNUKAN – Dermaga Mantikas yang berlokasi di Desa Setabu digunakan…

Sabtu, 16 November 2019 14:58

Alasan Cuaca, Listrik Padam Lima Jam

NUNUKAN – Cuaca buruk melanda wilayah Nunukan, sehingga mengakibatkan listrik…

Sabtu, 16 November 2019 14:55

Tak Ada Anggaran Pemeliharaan, PJU Tak Berfungsi

NUNUKAN – Penerangan jalan umum (PJU) yang seriing tidak dinyalakan,…

Sabtu, 16 November 2019 14:44

Problem Guru, Sertifikasi hingga Penempatan

NUNUKAN – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Nunukan mengungkap jika…

Jumat, 15 November 2019 15:10

Peningkatan Fisik Sekolah Harus Merata

NUNUKAN - Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Nunukan saat ini…

Jumat, 15 November 2019 15:08

Tenaga Medis Pelosok Jadi Nakes Teladan

NUNUKAN – Salah seorang apoteker di Puskesmas Long Bawan, Kacamatan…

Rabu, 13 November 2019 14:06

Data Pemilih Akan Berubah

NUNUKAN – Pemilihan Kepala Daerah akan segera berlangsung. Komisi Pemilihan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*