MANAGED BY:
JUMAT
23 AGUSTUS
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Kamis, 10 September 2015 16:00
Pukuli Anak, KW Terancam Penjara Lima Tahun

Ditetapkan Tersangka, Akui Pukul dengan Kabel Setrika

INT

PROKAL.CO,  TARAKAN – Polres Tarakan menetapkan KW warga Jalan Cendana, Kelurahan Karang Anyar, Kecamatan Tarakan Barat ini, sebagai tersangka kasus kekerasan yang dilakukan terhadap anaknya. Tetapi, KW sendiri belum dilakukan penahanan karena penyidik masih melakukan pemeriksaan untuk melengkapi berkas acara pemeriksaan.

Kapolres Tarakan AKBP Sarif Rahman didampingi Kasatreskrim, AKP Muhammad Irfan melalui Kaur Bin Ops Iptu Sudaryanto mengatakan bahwa KW terbukti bersalah melakukan penganiayaan terhadap anaknya yang berusia 11 tahun hingga akhirnya korban YU mengalami luka-luka sesuai laporan korban.

“Berdasarkan keterangan dari korban, kakak korban, serta hasil visum maka polres menetapkan ibu korban sebagai tersangka kekerasan yang dilakukan kepada anak kandungnya,”ujar Sudaryanto.

Dikemukakan, pria yang gemar olahraga ini, pihaknya juga sudah meminta keterangan dari kakak tiri korban dan korban sendiri. “Yah baik kakak tirinya sebagai pelapor dan adiknya sudah kami periksa,”jelasnya.

Dijelaskan Sudaryanto, Soal penahanan sebenarnya bisa dilakukan apabila tersangka sudah memenuhi unsur. “Perkara ini kan delik aduan, bisa saja ditahan. Tetapi kalau unsur sudah dipenuhi. Karena perkara ini merupakan KDRT,”ungkapnya.

Sementara, dari hasil penyidikan, perwira balok dua ini mengungkapkan bahwa tersangka telah melakukan kekerasan terhadap anaknya sendiri pada tanggal 2 September lalu dengan cara memukul dengan menggunakan kabel listik. “Dari keterangan tersangka memang mengakui perbuatannya karena telah memukuli dengan tangan kosong dan menggunakan kabel setrika, tetapi tidak pernah menyulut dengan rokok,” ungkapnya.

Oleh karena itu, Sudaryanto mengatakan pihaknya masih mendalami keterangan-keterangan korban maupun kakak tirinya tersebut. “Kalau dari BAP korban dan saksi, ibu kandungnya ini menyulutkan rokok ke punggung korban, tetapi keterangan tersangka tidak mengakuinya,”jelasnya.

Dengan demikian, Lanjut Sudaryanto menyebutkan penyidik menjerat ibu korban sebagai tersangka dengan pasal 44 ayat 1 Undang-undang no 23 tahun 2004 tentang KDRT. Yang berbunyi, setiap orang yang melakukan perbuatan kekerasan fisik dalam lingkup rumah tangga terancam pidana penjara maksimal 5 tahun atau denda Rp 15 juta.

Sementara kasus penganiayaan ini menjadi perhatian berbagai pihak, salah satunya Asisten III Mariyam bidang Kesejahteran Rakyat (Kesra) Pemerintah Kota (Pemkot) Tarakan. “Saya akan lihat dulu seperti apa termasuk kondisi anak tersebut,” ungkap perempuan juga menjabat sebagai ketua Gabungan Organisasi Wanita (GOW).

Lanjut Maryam, jika memang ini dilakukan oleh ibu kandungnya dan terjadi secara terus menerus, secara tegas ia mengakatakan bahwa ibu kandung YU harus bertanggung jawab. Sebab mendidik dan memperingati anak itu tidak diperkenankan dengan kekerasan. “Ketika orangtua sudah menggunakan tangan untuk mendidik anak ini akan tidak berpengaruh baik terhadap mental anak, terlebih lagi sampai anak lebam. Memberikan peringatan bisa dengan bahasa yang bagus dan santun kok,” jelas Maryam.

Perlakukan kekerasan terhadap anak ini disebutkan Maryam melanggar Undang-undang (UU) nomor 23 tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah Tangga dan juga melanggar UU nomor 35 tahun 2014 tentang perlindungan anak. Nantinya Maryam mengarahkan agar kasus penganiayaan anak ini dapat ditinjaklanjuti oleh Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A). “Agar dapat mendampingi YU hingga juga dapat mengembalikan rasa aman terhdap dirinya. Mungkin saya akan langsung lanjutkan ke P2TP2A,” tuturnya.

Sementara jika penganiayaan ini berdampak psikologis pada YU hingga tidak merasa nyaman dan aman di rumah, Maryam menyarankan untuk membawa YU ke Rumah Aman milik Pemkot Tarakan. “Sementara akan kita tampung dahulu informasi ,sampai akhirnya akan ada kejelasan informasi,” ujar Maryam.

Kecaman lainnya datang dari Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Tarakan, Ilham Noor. Kepada awak media, dia sangat mengecam tindakkan orang tua YU yang menganiaya bahkan menelantarkan dengan tidak memberikan kesempatan untuk mengenyam pendidikan.“Kami (Disdik) berupaya agar anak-anak wajib untuk belajar di sekolah. Melihat kejadian ini benar-benar sangat kami sesalkan,” kata Ilham, kemarin (9/9) di kantornya.

Ilham meminta agar KW selaku ibu kandungnya tidak melarang yang menjadi hak-hak asasi atau seyogyanya dimiliki oleh seorang anak. Peristiwa yang terjadi ini, dialami YU harus ditangani juga oleh lembaga-lembaga sosial yang lain untuk memberikan pemahaman, teguran dan peringatan kepada orang tua. “Kami minta hak sekolah anak tetap menjadi prioritas. Apalagi dia sudah mencapai usia yang wajib untuk bersekolah,” tegas Ilham.

Dalam hal ini, Disdik Tarakan juga menyarankan, perbuatan orang tua YU harus dilakukan evaluasi. Karena, atas perbuatannya hak anak untuk mendapatkan pendidikan telah tertunda.

Sementara itu, YU yang pernah menempuh pendidikan di SDN Utama 2 Tarakan, Ilham menginstruksikan, sepanjang pihak sekolah dan YU masih ada niat untuk belajar, ada kesempatan bagi YU untuk kembali bersekolah. “Pertama dia memang pernah terdaftar di SDN Utama 2 Tarakan, itu harus dilanjutkan di sekolah tersebut. Yang kedua, dia berhenti bukan karena keinginan anak, tetapi keinginan orang tua yang tidak menyekolahkan dia. Jadi, tetap kami berikan haknya mendapatkan pendidikan kembali ke sekolah dan kelas yang ditinggalkannya itu,” ucapnya.

Pada prinsipnya, Ilham menyampaikan kepada pihak SDN Utama 2 Tarakan untuk memfasilitasi YU dalam mendapatkan haknya, yakni pendidikan dasar. Tetapi, tidak menutup kemungkinan juga, jika YU ingin menempuh pendidikan di sekolah lain. “Kami fasilitasi dengan sekolah yang dia mau, tentu dengan tingkat terakhir pendidikannya. Hanya, kami belum menerima laporan atau keluhan dari keluarga atau korban sendiri,” ucap Ilham.

“Kami akan tetap melakukan upaya kepada pihak sekolah untuk melakukan koordinasi terkait kasus yang dialami YU. Manakala anaknya ingin kembali bersekolah, tetap kami akomodir dan fasilitasi,” pungkasnyanya. (ule/*/nri/win/fly)

 

 

 

loading...

BACA JUGA

Jumat, 23 Agustus 2019 09:50

Pengumuman dan Penyerahan Penghargaan Peserta Terbaik

TARAKAN – Hampir satu minggu berlalunya pawai pembangunan 2019, yang…

Jumat, 23 Agustus 2019 09:47

Heart of Borneo Dorong Ekowisata Terwujud

TARAKAN - Program Heart of Borneo (HOB) merupakan kerja sama…

Kamis, 22 Agustus 2019 11:53

5.495 Peserta PBI Terancam Dinonaktifkan

TARAKAN - Sebanyak 5.495 penerima bantuan iuran (PBI) Kota Tarakan…

Kamis, 22 Agustus 2019 11:51

Anthon Joy Ditunjuk sebagai Direktur Radar Tarakan

TARAKAN – Hasil Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPS-LB)…

Kamis, 22 Agustus 2019 11:49

Pasar di Tarakan Masih Jorok

TARAKAN - Untuk ketiga kalinya di tahun 2019 ini Balai…

Kamis, 22 Agustus 2019 11:47

PLN Akan Dapat Pasokan Daya 36 MW

TARAKAN – Sebagai upaya memberikan keandalan listrik di Bumi Paguntaka,…

Kamis, 22 Agustus 2019 11:46

JANGAN MAIN-MAIN..!! Dua OPD Ini Rentan Tindak Pidana Korupsi

TARAKAN - Dua organisasi perangkat daerah (OPD) dinilai rentan akan…

Kamis, 22 Agustus 2019 11:45

Abdul Kadir, Sempat Vakum dari Politik karena Sakit

Kehilangan seorang kakak, yang merupakan penyemangat Abdul Kadir, S.T dalam…

Kamis, 22 Agustus 2019 11:18

Dapati Kendaraan Tidak Layak Jalan

TARAKAN - Puluhan kendaraan roda dua dan roda empat berhasil…

Kamis, 22 Agustus 2019 11:16

Lestarikan Tari Jepin di Kalangan Pelajar

TARAKAN – Gerak gemulai para pelajar terlihat saat menarikan tarian…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*