MANAGED BY:
RABU
16 OKTOBER
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | KRIMINAL

RADAR KALTARA

Rabu, 10 Januari 2018 11:17
Degradasi Lahan, Malinau Terparah

Pemegang Izin Masih Belum Patuh

RUSAK BERAT: Lebih dari separuh lahan mangrove di Kalimantan Utara mengalami kerusakan parah. Degradasi lahan di Kaltara mengkhawatirkan. IWAN KURNIAWAN/RADAR KALTARA

PROKAL.CO, TANJUNG SELOR - Hutan yang merupakan penyangga kehidupan terus mengalami kerusakan setiap harinya, termasuk di Kalimantan Utara (Kaltara). Degradasi lahan di Bumi Benuanta, sebutan lain Kaltara, mencapai lebih dari 6 jutaan dari 7 juta hektare lahan yang ada.

Jumlah tersebut terdiri dari wilayah kering dan mangrove. Untuk wilayah kering meliputi lahan sangat kritis, kritis, agak kritis, dan potensial kritis. Sedangkan wilayah mangrove meliputi lahan rusak berat dan rusak. Lahan kering misalnya, yang sangat kritis berjumlah 3.633,59 hektare. (selengkapnya baca baca grafis)

Kepala Bidang Perencanaan dan Pemanfaatan Hutan pada Dinas Kehutanan (Dishut) Kaltara Obed Daniel mengatakan, daerah yang paling tinggi tingkat degradasinya adalah Malinau.

Seharusnya, lahan yang mengalami kerusakan tersebut perlu ditangani secara serius dengan melakukan reboisasi atau penghijauan. Tapi, hingga kini reboisasi yang bertujuan untuk memperbaiki hutan yang sudah rusak itu belum dilakukan.

“Tingginya tingkat kritisasi lahan di Malinau itu diakibatkan beberapa hal, salah satunya keberadaan Taman Nasional Kayan Mentarang (KNKM) yang lahannya cukup luas,” ujarnya kepada Radar Kaltara saat ditemui kemarin (9/1).

Dijelaskannya, penyebab terjadinya kerusakan hutan dan lahan itu tentunya juga tidak terlepas dari perbuatan manusia, baik dengan tujuan membuka perkebunan, ladang berpindah, maupun pembukaan tambang dan lain-lain.

“Sebelumnya memang sempat ada dilakukan reboisasi sejak tahun 2002 sampai tahun 2008. Tapi setelah itu bisa dikatakan kegiatan tersebut stagnan. Sebab, banyaknya aturan yang harus ditaati,” jelas Obed.

Selain itu, kata dia, kendala lain yang dihadapi pemerintah daerah adalah kesulitan dalam mencari lahan yang ingin ditanami. Karena sebagian besar lahan yang ada itu berada di area konsesi yang merupakan kewajiban pemegang izin.

“Artinya, pemegang izin wajib menjaga, mereboisasi, dan merehabilitasi lahan yang berada pada penguasaannya,” sebutnya.

Sejauh ini, dirinya mengaku sudah ada upaya penanaman pohon yang dilakukan pihaknya. Hanya saja, berapa jumlah pastinya belum diketahui.

“Kami sudah melakukan penanaman pohon di beberapa daerah secara perlahan. Jadi puncaknya itu pada peringatan hari menanam pohon, biasanya dilaporkan sekian ribu pohon yang sudah tertanam,” tuturnya.

Sebenarnya, lanjut dia, dana reboisasi (DR) itu sudah stand by dari dana bagi hasil (DBH) yang masuk ke daerah di Kaltara. Untuk di tahun 2017, DBH itu berjumlah Rp 126 miliar. Sementara usulan di tahun 2018 sebanyak Rp 189 miliar.

“Yang jelas, DR itu selama ini mengendap di rekening kabupaten/kota maupun provinsi. Karena ada daerah yang tidak paham dengan menggunakan anggaran itu untuk kegiatan lain sehingga menjadi temuan. Tapi untuk di Kaltara saya belum menemukan itu,” bebernya.

Selain itu, dirinya juga menjelasakan masalah pembagian kewenangan urusan kehutanan yang sebagian besar dikembalikan ke pemerintah pusat dan provinsi. Sementara yang masih ditangani oleh kabupaten/kota hanya urusan pengelolaan tanaman hutan rakyat. 

“Sedangkan kewenangan atas kawasan hutan negara yang mencakup proses perencanaan dan perizinan, pelaksanaan pengelolaan hutan, serta kegiatan pemantauan hutan masih dipertahankan oleh pemerintah pusat,” katanya.  

Jadi, untuk memperpendek rentan kendali soal kehutanan, pada 2017 pihaknya telah membentuk lima Unit Pelayanan Teknis (UPT) Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) yang dilengkapi personel pengelola. Hal itu dilakukan berdasarkan Peraturan Gubernur nomor 28 tahun 2016 tentang Pembentukan UPT Dinas Kehutanan Kaltara.

“Intinya KPH ini dibentuk dengan harapan mampu menyelenggarakan fungsi pengelolaan hutan sesuai dengan peraturan perundah-undangan yang mengatur tentang tugas pokok dan fungsi dari KPH tersebut,” urainya. (iwk/lim)


BACA JUGA

Selasa, 15 Oktober 2019 09:19

Petani Keluhkan Harga TBS Kelapa Sawit

 TANJUNG SELOR – Harga jual tandan buah segar (TBS) kelapa…

Selasa, 15 Oktober 2019 09:12

Gubernur Usul Pemekaran Daerah Terbatas di RPJMN

 TANJUNG SELOR – Berbagai upaya terus dilakukan pemerintah daerah, khususnya…

Selasa, 15 Oktober 2019 09:03

Pinjam dan Baca Buku Menggunakan Ujung Jari

 JIKA sebelumnya masyarakat yang ingin membaca buku itu harus datang…

Senin, 14 Oktober 2019 09:28

Anggaran Terbatas, Bukan Alasan

 12 Oktober 2019, Kabupaten Bulungan genap berusia 59 tahun. Namun,…

Senin, 14 Oktober 2019 09:09

Gubernur: Bulungan Harus Mau Berubah

 TANJUNG SELOR – Kabupaten Bulungan merupakan Kalimantan Utara (Kaltara) tempo…

Senin, 14 Oktober 2019 09:02

Oktober, AKD Harus Sudah Terbentuk

 TANJUNG SELOR – Pembentukan alat kelengkapan dewan (AKD) menjadi salah…

Senin, 14 Oktober 2019 08:58

Usaha dan Doa Orang Tua Mengiringi Kesuksesan

  Ajang generasi muda pelestari (gempari) marching band kembali dilaksanakan…

Minggu, 13 Oktober 2019 12:52
Musik Alam Indonesia 2k19

Fokus ke Gerakan Sosial

BERDIRI 3 tahun lalu, Aliansi Komunitas Kalimantan Utara, memberikan trend…

Sabtu, 12 Oktober 2019 09:28

Untuk Hal Ini, Kemendikbud Gelontorkan Rp 2,6 Miliar

 TANJUNG SELOR – Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI di…

Sabtu, 12 Oktober 2019 09:12

Investor Berminat Bangun Rumah Sakit

 TANJUNG SELOR – Perwakilan dari Bankaltimtara menyampaikan kepada Dinas Pekerjaan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*