MANAGED BY:
JUMAT
06 DESEMBER
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | KRIMINAL

RADAR KALTARA

Sabtu, 30 Desember 2017 11:25
Sistem Imun Lemah, Penderita Bertambah

3 Pasien Masih Menunggu Hasil Penelitian

ILUSTRASI/INT

PROKAL.CO, TARAKAN – Sampai 27 Desember ini pasien di Bumi Paguntaka, yang dinyatakan positif difteri 1 orang.  Lalu 8 orang di-suspect difteri, 3 di antaranya masih dilakukan penelitian terlebih dulu.

Hal tersebut diungkapkan, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit di Dinkes Tarakan, dr. Witoyo, saat ini tiga orang penderita difteri berada di RSUD Tarakan dan sedang diisolasi. Sambil menunggu hasil dari laboratorium Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Litbangkes) Jakarta menunggu hasil apakah ketiganya, dinyatakan positif atau tidak.

“Agar tidak menularkan maka kami isolasi dulu, sambil menunggu hasil laboratorium,” katanya.

Setelah dinyatakan suspect, Dinkes Tarakan langsung mengambil sampel dari ketiganya untuk dikirimkan ke Jakarta. Ketika hasil sudah di tangan Dinkes Tarakan nantinya, akan diputuskan apakah akan dipulangkan karena negatif atau akan dirawat dan diobati ketika dinyatakan positif.

 “Yang negatif akan dibiarkan pulang, jadi aman dan tidak ditularkan. Jadi yang belum ada hasil diisolasi,” ungkapnya. Seraya memberitahukan estimasi waktu hasil lab akan diterima dua hingga tiga minggu.

Lebih lanjut dr. Witoyo menjelaskan, saat ini kejadian luar biasa (KLB) tidak hanya didominasi difteri saja. Tarakan juga pernah berstatus KLB karena banyaknya penderita campak. Hal ini terus terjadi karena hasil imunisasi campak yang dahulu terlihat tidak memuaskan dan belum maksimal. Begitu juga dengan difteri yang belum maksimal dilakukan imunisasi.

“Ini terjadi karena anak-anak tidak kebal terhadap suatu penyakit, karena masyarakat tidak rutin melakukan imunisasi,” ungkapnya.

Hasil imunisasi yang belum maksimal, membuat anak-anak di masyarakat banyak yang tidak kebal atau rentan terserang penyakit. Begitu ada pembawa penyakit baik campak maupun difteri maka semua yang belum kebal dapat tertular.

“Kalau sudah terkena, saling menularkan. Yang tidak kebal pasti sakit dan menjadi sumber penularan untuk sekitarnya,”  ujarnya.

Diakui dr. Witoyo, Tarakan memang merupakan kota transit. Di mana masyarakat yang datang selalu berganti-ganti. Untuk itu selama sudah ada vaksin yang disediakan pemerintah untuk membentuk sistem kekebalan secara gratis, maka sudah seharusnya masyarakat datang ke puskesmas untuk diimunisasi secara lengkap.

“Kalau yang bayar, itu belum include imunisasi dasar. Biasanya secara keefektifannya belum sesuai. Biaya terlalu mahal, tetapi hasilnya belum maksimal,” jelasnya.

Padahal, imunisasi dasar itulah harus diikuti oleh semua warga Tarakan. Agar status KLB tidak lagi dinobatkan ke Tarakan. Sebab sudah tidak ada alasan lagi untuk tidak melakukan imunisasi.  Pemerintah menggratiskan, vaksinnya halal dan aman, sehingga dipastikan baik untuk masyarakat.

“Imunisasi yang tidak optimal dapat membuat masyarakat susah sendiri, jika terserang virus dan tidak kebal kan terkena juga. Jadi lebih baik memang imunisasi lengkap dan yang dasar,” ungkapnya.

Sementara itu, pasien yang dinyatakan positif menderita difteri saat ini sedang diisolasi selama 14 hari. Pada saat nantinya dilakukan kembali pemeriksaan sampel yang kedua dan hasilnya negatif, maka pasien dapat dipulangkan dan bisa kembali beraktivitas.

Kepala Dinas Kesehatan Tarakan, Subono mengatakan, tentu ke depannya akan dilakukan outbreak response immunization (ORI), di daerah yang berisiko. Selain itu, juga dilakukan penyelidikan epidemiologi (PE) dan tindakan terhadap kontak erat suspect, baik pengobatan maupun vaksinasi.

“Seperti anggota keluarga atau teman terdekatnya, kami akan lakukan penanganan,” terang Subono kepada Radar Tarakan.

Ia mengimbau kepada warga Tarakan, agar tetap melakukan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Lalu tidak bepergian ke daerah yang diketahui terdapat KLB. Ia juga menekankan agar orang tua yang memiliki balita, rutin membawa anaknya ke puskesmas untuk mendapatkan imunisasi dengan lengkap.

“Kalau tidak begitu penting, jangan ke daerah KLB kecuali ada hal yang mendesak. Mengenai imunisasi, supaya masyarakat sepenuhnya mendukung sehingga target cakupannya tercapai,” imbaunya.

Ketua Satuan Tugas Difteri di RSUD Tarakan, dr. Ni Putu Merlynda Pusvita Dewi, Sp.PD menambahkan, pasien yang positif menderita difteri sudah berada di ruang isolasi selama 10 hari. Sejauh ini perkembangannya membaik. “Jadi Dinkes Tarakan memberikan vaksin dan kami minta pasien diisolasi ke rumah sakit, hingga nanti sampelnya dinyatakan negatif,” tuturnya saat ditemui Radar Tarakan.

Pasien tersebut terus diberi antibiotik selama 14 hari. Setelah 14 hari berlalu, akan dilakukan pemeriksaan sampel lagi. Jika hasilnya menunjukkan negatif, maka pasien sudah diperbolehkan pulang dan berada di tengah masyarakat. “Kita sambil melihat perkembangannya sampai hasil pemeriksaan kedua negatif,” jelasnya.

Lebih lanjut dia menjelaskan, sebenarnya lama penyembuhannya ini tergantung dari respons tubuh pasien terhadap antibiotik. Selain itu juga melihat klinis apakah sudah menimbulkan komplikasi penyakit seperti miokarditis atau peradangan pada lapisan dinding jantung bagian tengah, gagal ginjal, gagal napas dan gagal sirkulasi. Penyakit ini juga bisa mengakibatkan kematian lantaran sumbatan saluran napas karena toksinnya yang bersifat patogen.

Dengan kondisi itu, maka jika saat mulai terserang difteri sudah sangat berisiko. Sebab yang membahayakan merupakan toksinnya. Sehingga dalam pengobatannya tidak hanya antibiotik saja melainkan juga anti difteri serum untuk menghambat perkembangan toksin.

“Kalau tidak ada komplikasi dan tidak ada keluhan. Maka kami menuntaskan antibiotik itu selama 14 hari saja” ucapnya.

Untuk menjaga kesehatan dan daya tahan tubuh, dr. Lynda mengimbau kepada masyarakat agar tetap menjaga pola hidup yang sehat. Dengan makan teratur dan mengonsumsi makanan bergizi seperti sayuran hijau dan buah-buahan.

“Jadi lifestyle yang sehat, minum air putih yang cukup, rutin olahraga dan istirahat yang cukup. Karena kalau daya tahan tubuh rendah mudah tertular penyakit,” pungkasnya. (*/y88/*/one/nri)


BACA JUGA

Kamis, 05 Desember 2019 13:04

Pembelian Premium Akan Ditakar

TARAKAN - Meluapnya antrean di SPBU Mulawarman dan SPBU Kusuma…

Kamis, 05 Desember 2019 12:52

Evaluasi Kinerja saat Pemilu 2019

TARAKAN - Pelaksanaan pemilu 2019 di Kaltara telah berhasil di…

Rabu, 04 Desember 2019 12:13

Kapolda: Mungkin Milik Anggota Tertinggal

JAKARTA – Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Gatot Eddy Pramono…

Rabu, 04 Desember 2019 12:09

Abai, Rumah Makan Bisa Disita BPPRD

TARAKAN - Penarikan pajak sebesar 10 persen, ternyata masih saja…

Rabu, 04 Desember 2019 12:07

7 Kali Sidang Isbat, 2.416 Pasangan

KONSULAT RI Tawau untuk ketujuh kalinya bekerja sama dengan Pengadilan…

Selasa, 03 Desember 2019 10:20

Keamanan Kendaraan Parkir Dipertanyakan

TARAKAN - Januari 2020 mendatang, e-Parking rencananya akan diterapkan di…

Selasa, 03 Desember 2019 10:16

IDI Usulkan Kenaikan Gaji bagi Spesialis

TARAKAN – Minimnya peminat pada formasi dokter spesialis calon pegawai…

Senin, 02 Desember 2019 14:44

Pemkot Buka Peluang Investasi Pembibitan

TARAKAN - Permintaan ekspor akan udang dan kepiting yang tinggi…

Sabtu, 30 November 2019 10:28

DPRD Beri Catatan, BPJS: Butuh Sosialisasi Lebih

TARAKAN - Terkait banyaknya keluhan masyarakat terhadap penggunaan layanan jaminan…

Jumat, 29 November 2019 14:45

Bentol Tak Di-tera karena Tak Diakui

TARAKAN - Guna mencegah kecurangan pada pelayanan stasiun pengisian bahan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.