MANAGED BY:
SENIN
27 SEPTEMBER
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | KRIMINAL

RADAR KALTARA

Sabtu, 28 Oktober 2017 10:55
Pemuda Garda Terdepan Perangi Radikal
ILUSTRASI/INT

Pertama: Kami poetra dan poetri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.
Kedoea: Kami poetra dan poetri Indonesia mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.
Ketiga: Kami poetra dan poetri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

--------------------------------------------------------------

ITU lah ikrar yang sering kali dibacakan saat peringatan Hari Sumpah Pemuda, yang diperingati setiap 28 Oktober. Namun, di era milenial saat ini tugas pemuda akan bertambah, sebab banyak permasalahan yang sedang dihadapi Indonesia. Salah satunya memerangi paham radikalisme yang makin marak terjadi.

Biasanya sasaran empuknya adalah para pemuda yang sangat mudah dicekoki paham-paham radikal. Kampus-kampus juga menjadi salah satu target utama mereka menyebarkan paham ini.

Salah seorang mahasiswa jurusan sistem informasi, STIMIK PPKIA Tarakan Ayu Puji Lestari mengungkapkan, sudah sepatutnya generasi muda memiliki pertahanan diri. Apalagi kelompok garis keras tersebut membidik kampus-kampus untuk merusak pertahanan Indonesia.

“Kampus memang paling mudah untuk bisa dimasuki paham radikal. Sebab, sewaktu menjadi mahasiswa baru banyak ilmu-ilmu yang tidak didapatkan di sekolah dulu, dan baru didapatkan saat kuliah. Sehingga jika tidak bisa membentengi diri bisa saja akan terpengaruh,” tuturnya.

Untuk mencegah hal tersebut, peran mahasiswa lainnya sangat dibutuhkan. Bukan hanya itu, dengan menambah cakrawala berpikir, mahasiswa harusnya lebih banyak membaca dan mencari referensi, yang dinilai bisa menjadi salah satu cara untuk mencegah paham radikal tersebut mempengaruhi mahasiswa.

“Kalau saya lebih banyak mencari tahu apa bahayanya paham radikalisme itu. Agar nantinya bisa membentengi diri jika sewaktu-waktu menjadi target mereka (penyebar paham radikal),” ungkapnya.

Senada dengan mahasiswa pendidikan guru sekolah dasar (PGSD) Universitas Borneo Tarakan (UBT), Kintan Deasy Aninda mengatakan, dia menolak adanya paham radikalisme itu di dalam dunia pendidikan, karena berdasarkan ajaran agama pun mengutamakan kebaikan sesama manusia.

Berbeda dengan paham radikal seperti terorisme yang selama ini digunakan untuk menghabisi sesama, hanya untuk kepentingan golongan saja. “Semua manusia di mata Tuhan itu sama, tidak boleh ada perbedaan sama sekali. Jika hanya mementingkan golongan sendiri tentu menentang adanya paham agama. Dan kami siap jadi garda terdepan untuk memerangi paham radikal ,” ujarnya.

Sementara itu, untuk memerangi paham radikal juga pihak kampus harus turut andil dalam hal ini. Rektor UBT, Prof Adri Patton mengatakan, sebagai rektor dia sudah menekankan nilai-nilai sumpah pemuda, yang wajib diimplementasikan kepada mahasiswa UBT saat ini. Selain itu UBT berupaya sebaik mungkin dengan cara mendeklarasikan diri sebagai kampus yang anti radikalisme.

“Kami tidak akan mentolelir paham-paham yang radikal, apalagi yang ingin melakukan perpecahan di NKRI ini,” tegasnya.

Mereka tetap berkomitmen untuk membasmi paham radikalisme dengan terus melakukan pembinaan dan pengawasan, baik dengan pihak kepolisian, Badan Inteligen negara (BIN), maupun aparat penegak hukum lainnya. “Karena ini masalah negara, InsyaAllah paham radikalisme ini tidak akan ada di kampus UBT,” ujar Adri.

Selain itu, saat ini UBT juga telah mengirim mahasiswa dan juga dosen ke Istana negara di Bogor, sebagai upaya untuk memperkuat materi tentang pancasila dan kewarganegaraan. Bukan itu saja, upaya yang terus dilakukan yakni aktif melakukan seminar-seminar serta sosialisasi yang salah satunya tentang materi ketahanan yang dilaksanakan menkopolhukam tentang bagaimana mempertahankan keutuhan NKRI. “Tentu kami sangat mendukung kegiatan-kegiatan semacam itu dan kami juga berharap ke depannya akan terus dilaksanakan,” jelasnya.

Menentang paham radikal di lingkungan kampus juga dilakukan di STIE Bulungan-Tarakan, diungkapkan Ketua STIE Bultar, R. Philipus L bahwa pemuda saat ini, memang berbeda dengan pemuda dulu yang begitu keras memperjuangkan kesatuan NKRI. “Saat ini para pemuda terkesan sedikit lebih cengeng. Kenapa? karena dipengaruhi oleh teknologi dan kecanggihan gadget,” imbuhnya.

Philipus beranggapan pemuda saat ini, harus kembali kepada model-model kehidupan pemuda lalu, yang semangat dan jiwa raga mereka untuk NKRI.

“Ketika kita membaca sejarah Jong Java, Jong Sumatera, Jong Ambon, dan lain sebagainya itu mereka benar-benar berjuang untuk negara. Berbeda dengan pemuda saat ini yang berjuang untuk daerahnya saja tidak bisa,” tuturnya.

Hal tersebut dikarenakan kontradiksi antar kelompok yang saat ini, banyak terjadi seperti misalnya tawuran, perkelahian, dan lain sebagainya yang menunjukkan bahwa ciri pemuda sekarang itu tidak menghormati bangsa mereka.  “Dan yang harus dilakukan saat ini adalah benar-benar mengembalikan semangat para pemuda,” jelas Philipus.

Mengenai radikalisme, lanjutnya, merupakan hal yang sangat berbahaya dan perlu dipahami harus ada kerja sama antara tokoh-tokoh agama dan masyarakat serta akademisi untuk serius menanganinya.  “Karena jika dibiarkan akan terus merusak negara,” tegasnya.

Philipus menjamin Stie Bultar aman dari adanya paham radikalisme, dan jika terjadi atau ditemukan di kampus STIE Bultar, maka ia sendiri yang akan melaporkan ke pihak berwajib.

“Saya sudah berkoordinasi dengan staf di kampus, jika ditemukan paham radikalisme itu, maka saya sendiri yang akan turun tangan,” katanya.

Senada turut diungkapkan, Wakil Ketua II, STIMIK PPKIA Tarakanita, Muhamma, jika berbicara tentang sumpah pemuda tentunya sebagai pemuda Indonesia ia lebih menekankan kepada yang harus dilakukan terhadap bangsa ini.

“Penekanan saya lebih kepada bagaimana pribadi-pribadi pemuda untuk mencegah empat hal yang menjadi musuh pemuda saat ini,” jelas Muhammad.

Lebih lanjut dia menjelaskan, sebenarnya paham radikalisme semata-mata tidak hanya muncul dari kampus saja, tetapi juga dapat dipengaruhi oleh faktor ekonomi, kesulitan pekerjaan, dan sebagainya.

“Kampus juga sudah melakukan upaya-upaya pencegahan untuk masuknya paham radikalisme tersebut. Dan pemerintah juga harus sama-sama untuk menciptakan perekonomian yang lebih baik seperti pengadaan lapangan pekerjaan agar model-model paham radikalisme itu juga dapat tersingkirkan,” tegas Muhammad.

Paham semacam radikalisme juga dapat dirasuki dari perut yang lapar karena, ekonomi susah dan lapangan pekerjaan juga susah, maka akan mudah bagi bibit-bibit radikalisme untuk masuk ke masyarakat.

“Bisa seperti sosialiasi di tempat-tempat umum. Karena bukan hanya mahasiswa saja yang menjadi sasarannya, masyarakat juga mudah untuk dipengaruhi,” ungkapnya.

Muhammad berharap agar semua komponen bangsa ini, sama-sama menjaga NKRI ini tetap utuh dalam satu bingkai. Maka sesuai dengan kemampuannya baik pemerintah, akademisi, pengusaha, politikus, ulama, maupun seluruh elemen masyarakat yang kesemuanya mempunyai peran untuk menjaga kesatuan NKRI. “Tentunya kami berharap agar semuanya dapat menjadi lebih baik,” ungkap Muhammad. (*/yus/*/asf/nri/ddq)


BACA JUGA

Senin, 27 September 2021 15:38

Agrobisnis, Majukan Pertanian Daerah

HINGGA saat ini, agrobisnis atau usaha niaga tani masih menjadi…

Senin, 27 September 2021 15:00

Ditinggal Berbelanja, Dapur Kafe Terbakar

TARAKAN - Minggu (26/9) Kafe Galileo yang berada di Jalan…

Sabtu, 25 September 2021 20:15

Wartawan Radar Tarakan Sabet Nilai Tertinggi UKW LSPR

Yedida Pakondo,  tidak pernah menyangka jika dirinya mendapat nilai tertinggi…

Sabtu, 25 September 2021 10:20

Sabah Ingin Merasakan Dampak IKN

TARAKAN - Perpindahan ibu kota negara (IKN) ke Kalimantan Timur…

Jumat, 24 September 2021 11:43

PMI Mulai Pengambilan Darah Plasma Konvalensen

TARAKAN – Sebagai upaya membantu memenuhi kebutuhan darah plasma konvalensen…

Jumat, 24 September 2021 11:32

Diprediksi Hujan hingga Tiga Hari ke Depan

TARAKAN - Masyarakat Tarakan harus bersiap dengan kondisi hujan yang…

Jumat, 24 September 2021 11:30

Versi DPUTR, Banjir Dipicu Air Pasang

TARAKAN - Hujan deras yang mengguyur Tarakan sejak Kamis (23/9)…

Jumat, 24 September 2021 11:29

Limbah Medis Dibuang Tak Sesuai Prosedur

TARAKAN - Dari  hasil survei kepatuhan, pencegahan maladministrasi yang dilakukan…

Kamis, 23 September 2021 18:04

Pengambilan Darah Plasma Konvalensen Dilakukan Secara Konvensional

TARAKAN – Sebagai upaya membantu memenuhi kebutuhan darah plasma konvalensen…

Kamis, 23 September 2021 18:02

Ombudsman Temukan Limbah Medis Dibuang Tak Sesuai Prosedur

TARAKAN – Dari  hasil survei kepatuhan, pencegahan maladministrasi yang dilakukan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers