MANAGED BY:
SELASA
07 APRIL
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | KRIMINAL

RADAR KALTARA

Selasa, 12 Januari 2016 16:02
AOC 91 Tidak Sesuai, MAF Tidak Bisa Terbang

Masih Menunggu Flight Clearance Mabes TNI AU

JAGA KONDISI : Meski lima pesawat MAF Tarakan hingga saat ini belum beroperasi, mekanik tetap rutin melakukan pengecekan kondisi pesawat. Foto : Januriansyah/Radar Tarakan

PROKAL.CO, TARAKAN – Izin Air Operator Certificate (AOC) 91 dianggap tidak sesuai, membuat pesawat Mission Aviation Fellowship (MAF) Tarakan yang biasa melayani rute kawasan pedalaman Kaltara, tidak diizinkan lagi terbang sejak November 2015.

Hal ini menyebabkan lima unit pesawat yang dimiliki MAF Tarakan terpaksa dikandangkan di markas MAF di Jalan Aki Balak. Program Manager MAF Wilayah Kalimantan Steve Persenaire mengatakan, alasan tidak terbangnya pesawat mereka ini disebabkan tidak keluarnya izin terbang dari Mabes TNI AU untuk pengoperasian pesawat dan pilot. “Alasannya kami dianggap melakukan penerbangan tidak sesuai dengan AOC 91 yang merupakan penerbangan non commercial,” ujarnya kepada Radar Tarakan, Senin(11/01).

Selama ini, untuk bisa menjalankan terus penerbangan non komersil, MAF Tarakan mengandalkan 53 persen biaya operasional dari Amerika Serikat, mulai dari pembayaran gaji hingga pembelian pesawat. “53 persen dari Amerika sedangkan sisanya merupakan donasi dari masyarakat yang menggunakan jasa MAF,” ungkapnya.

Donasi yang berjumlah 47 persen ini biasanya digunakan untuk membeli bahan bakar. Agar tidak berlama-lama tertunda, pihak MAF Tarakan saat ini sedang memproses izin AOC 135, yang berkaitan dengan penerbangan komersil. “Masih diurus di Jakarta, butuh waktu lama untuk bisa mengeluar AOC 135. Memang saat ini masih AOC 91 yang berlaku hingga Mei 2016,” ucapnya.

Tidak beroperasinya pesawat-pesawat MAF yang biasa melayani wilayah pedalaman Kaltara, seperti ke Krayan, Apokayan, Long Bawan, dikeluhkan masyarakat. Hal inipun sampai di telinga Steve Persenaire. “Keluhan masyarakat banyak kami terima, namun mau bagaimana lagi, kami harus menunggu flight clearance untuk kembali beroperasi,” ucapnya.

Sebelumnya, dalam sehari satu pesawat MAF bisa membawa 40 hingga 50 orang keluar-masuk daerah pedalaman Kaltara. Lima pesawat yang dimiliki MAF yakni tiga armada dari jenis Cesna yang dapat menampung lima penumpang, dan dua pesawat jenis Kodiak yang dapat menampung sembilan penumpang. “Untuk mendukung operasional pesawat, kami memiliki sembilan orang pilot dan empat mekanik,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Kantor MAF Tarakan Tom Chrislay mengatakan, dalam melayani masyarakat ini pihaknya berusaha menciptakan tarif serendah mungkin. “Selain itu, MAF melaksanakan penerbangan di kawasan pedalaman sudah mendapatkan izin khusus dari Kementerian Perhubungan,” ujarnya.

Izin khusus ini diberikan dikarenakan kebutuhan transportasi masyarakat di kawasan pendalaman masih minim untuk bisa terpenuhi. “Ini kebutuhan untuk masyarakat pedalaman, walaupun saat ini ada pihak lain yang mempermasalahkannya,” ujarnya.

Terkait 47 persen yang diberikan masyarakat kepada MAF, Tom menuturkan untuk menutupi kekurangan yang ada. “47 persen ini untuk menutupi biaya operasional karena 53 persen saja yang ditanggung oleh pihak sponsor, selain itu kami diaudit oleh pihak Kementerian Perhubungan untuk memastikan bahwa kami tidak beruntung dalam hal melakukan penerbangan,” ungkapnya.

Dirinya berharap MAF yang merupakan penerbangan non komersial bisa diberdayakan untuk memenuhi kebutuhan akan penerbangan ke kawasan pedalaman Kaltara, seperti yang diizinkan Kementerian Perhubungan. “Kami berusaha untuk mentaati aturan yang ada. Kami berharap hal seperti ini tidak terjadi lagi, masyarakat dirugikan. Intinya bagaimana cara pemerintah bisa menyesuaikan  dengan regulasi yang ada,” ucapnya.

Komandan TNI AU Tarakan Lekol Pnb Tiopan Hutapea melalui Kadislog TNI AU Tarakan Mayor Kal Hari Setiawan menjelaskan, tidak diizinkannya MAF terbang ini berdasarkan izinnya yang tidak sesuai dengan AOC 91. “Izin MAF hanya melayani penerbangan non komersial, sedangkan untuk penerbangan komersil MAF tidak diperbolehkan,” katanya.

Jika MAF ingin melakukan penerbangan komersil, jelas Hari Setiawan, terlebih dahulu harus mengurus izin AOC 135 dari Kementerian Perhubungan. “Mabes TNI AU dalam waktu dekat hanya akan mengeluarkan flight clearance untuk penerbangan non komersil, sesuai dengan izin AOC 91,” ucapnya.

Berdasarkan informasi dari Mabes TNI AU, Hari menuturkan dalam waktu dekat penerbangan pesawat untuk melayani kebutuhan non komersil ini bisa beroperasi kembali. “Mabes TNI dan MAF akan melakukan perjanjian terkait pengeluaran izin flight clearance non komersil dalam waktu dekat, namun MAF dilarang menarik biaya sepeserpun dari masyarakat,” ujarnya.

Bila AOC 135 untuk penerbangan komersil MAF sudah dikeluarkan Kementerian Perhubungan, pada saat itu flight clearance dan security clearancedari Mabes TNI AU akan dikeluarkan. “Kami tidak bermaksud menghambat masyarakat, namun berusaha menjaga keselamatan dan membantu masyarakat. Selain itu masyarakat juga harus mengatahui hal ini,” jelas Hari. (*/jnr/ash)

Januriansyah/Radar Tarakan

JAGA KONDISI : Meski lima pesawat MAF Tarakan hingga saat ini belum beroperasi, mekanik tetap rutin melakukan pengecekan kondisi pesawat.

 

AOC 91 Tidak Sesuai, MAF Tidak Bisa Terbang

Masih Menunggu Flight Clearance Mabes TNI AU  = SUB

TARAKAN – Izin Air Operator Certificate (AOC) 91 dianggap tidak sesuai, membuat pesawat Mission Aviation Fellowship (MAF) Tarakan yang biasa melayani rute kawasan pedalaman Kaltara, tidak diizinkan lagi terbang sejak November 2015.

Hal ini menyebabkan lima unit pesawat yang dimiliki MAF Tarakan terpaksa dikandangkan di markas MAF di Jalan Aki Balak. Program Manager MAF Wilayah Kalimantan Steve Persenaire mengatakan, alasan tidak terbangnya pesawat mereka ini disebabkan tidak keluarnya izin terbang dari Mabes TNI AU untuk pengoperasian pesawat dan pilot. “Alasannya kami dianggap melakukan penerbangan tidak sesuai dengan AOC 91 yang merupakan penerbangan non commercial,” ujarnya kepada Radar Tarakan, Senin(11/01).

Selama ini, untuk bisa menjalankan terus penerbangan non komersil, MAF Tarakan mengandalkan 53 persen biaya operasional dari Amerika Serikat, mulai dari pembayaran gaji hingga pembelian pesawat. “53 persen dari Amerika sedangkan sisanya merupakan donasi dari masyarakat yang menggunakan jasa MAF,” ungkapnya.

Donasi yang berjumlah 47 persen ini biasanya digunakan untuk membeli bahan bakar. Agar tidak berlama-lama tertunda, pihak MAF Tarakan saat ini sedang memproses izin AOC 135, yang berkaitan dengan penerbangan komersil. “Masih diurus di Jakarta, butuh waktu lama untuk bisa mengeluar AOC 135. Memang saat ini masih AOC 91 yang berlaku hingga Mei 2016,” ucapnya.

Tidak beroperasinya pesawat-pesawat MAF yang biasa melayani wilayah pedalaman Kaltara, seperti ke Krayan, Apokayan, Long Bawan, dikeluhkan masyarakat. Hal inipun sampai di telinga Steve Persenaire. “Keluhan masyarakat banyak kami terima, namun mau bagaimana lagi, kami harus menunggu flight clearance untuk kembali beroperasi,” ucapnya.

Sebelumnya, dalam sehari satu pesawat MAF bisa membawa 40 hingga 50 orang keluar-masuk daerah pedalaman Kaltara. Lima pesawat yang dimiliki MAF yakni tiga armada dari jenis Cesna yang dapat menampung lima penumpang, dan dua pesawat jenis Kodiak yang dapat menampung sembilan penumpang. “Untuk mendukung operasional pesawat, kami memiliki sembilan orang pilot dan empat mekanik,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Kantor MAF Tarakan Tom Chrislay mengatakan, dalam melayani masyarakat ini pihaknya berusaha menciptakan tarif serendah mungkin. “Selain itu, MAF melaksanakan penerbangan di kawasan pedalaman sudah mendapatkan izin khusus dari Kementerian Perhubungan,” ujarnya.

Izin khusus ini diberikan dikarenakan kebutuhan transportasi masyarakat di kawasan pendalaman masih minim untuk bisa terpenuhi. “Ini kebutuhan untuk masyarakat pedalaman, walaupun saat ini ada pihak lain yang mempermasalahkannya,” ujarnya.

Terkait 47 persen yang diberikan masyarakat kepada MAF, Tom menuturkan untuk menutupi kekurangan yang ada. “47 persen ini untuk menutupi biaya operasional karena 53 persen saja yang ditanggung oleh pihak sponsor, selain itu kami diaudit oleh pihak Kementerian Perhubungan untuk memastikan bahwa kami tidak beruntung dalam hal melakukan penerbangan,” ungkapnya.

Dirinya berharap MAF yang merupakan penerbangan non komersial bisa diberdayakan untuk memenuhi kebutuhan akan penerbangan ke kawasan pedalaman Kaltara, seperti yang diizinkan Kementerian Perhubungan. “Kami berusaha untuk mentaati aturan yang ada. Kami berharap hal seperti ini tidak terjadi lagi, masyarakat dirugikan. Intinya bagaimana cara pemerintah bisa menyesuaikan  dengan regulasi yang ada,” ucapnya.

Komandan TNI AU Tarakan Lekol Pnb Tiopan Hutapea melalui Kadislog TNI AU Tarakan Mayor Kal Hari Setiawan menjelaskan, tidak diizinkannya MAF terbang ini berdasarkan izinnya yang tidak sesuai dengan AOC 91. “Izin MAF hanya melayani penerbangan non komersial, sedangkan untuk penerbangan komersil MAF tidak diperbolehkan,” katanya.

Jika MAF ingin melakukan penerbangan komersil, jelas Hari Setiawan, terlebih dahulu harus mengurus izin AOC 135 dari Kementerian Perhubungan. “Mabes TNI AU dalam waktu dekat hanya akan mengeluarkan flight clearance untuk penerbangan non komersil, sesuai dengan izin AOC 91,” ucapnya.

Berdasarkan informasi dari Mabes TNI AU, Hari menuturkan dalam waktu dekat penerbangan pesawat untuk melayani kebutuhan non komersil ini bisa beroperasi kembali. “Mabes TNI dan MAF akan melakukan perjanjian terkait pengeluaran izin flight clearance non komersil dalam waktu dekat, namun MAF dilarang menarik biaya sepeserpun dari masyarakat,” ujarnya.

Bila AOC 135 untuk penerbangan komersil MAF sudah dikeluarkan Kementerian Perhubungan, pada saat itu flight clearance dan security clearance dari Mabes TNI AU akan dikeluarkan. “Kami tidak bermaksud menghambat masyarakat, namun berusaha menjaga keselamatan dan membantu masyarakat. Selain itu masyarakat juga harus mengatahui hal ini,” jelas Hari. (*/jnr/ash)

loading...

BACA JUGA

Senin, 06 April 2020 14:44

Rapid Test Negatif, Pemkot Luluh

TARAKAN – Pasien M atau pasien pertama yang dinyatakan positif…

Senin, 06 April 2020 14:35

Tidak Ada Batas Waktu, Pembuatan Sabun Cair

TARAKAN – Hingga waktu yang tidak ditentukan, pendistribusian sabun cair…

Senin, 06 April 2020 13:48

Total 16 Pasien Positif Covid-19 di Kaltara Bertambah

TANJUNG SELOR – Senin ini (6/4) konfirmasi positif Covid-19 di…

Senin, 06 April 2020 12:27

Sasar Korban PHK dan UKM

TARAKAN - Di tengah pandemi Covid-19, dampak dirasakan signifikan oleh…

Senin, 06 April 2020 12:11

Terhitung April Ini, Enggak Ada Lagi Izin Nikah

TARAKAN – Kementerian Agama (Kemenag) tidak akan melayani perizinan nikah…

Senin, 06 April 2020 12:08

Perumda sebagai Stabilisator Stok Barang

Masyarakat cenderung melekatkan stigma pada perusahaan umum daerah (perumda).  Mappa…

Senin, 06 April 2020 12:05

Kodim Distribusi 10.000 Liter Sabun Cair

TARAKAN – Hingga hari kelima, Sabtu (4/4), Kodim 0907 telah…

Minggu, 05 April 2020 14:00

Gugus Tugas Tracing Kontak Pasien Corona yang Meninggal

JURU Bicara (Jubir) Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Kalimantan Utara (Kaltara),…

Minggu, 05 April 2020 13:58

Nestapa Usaha di Tarakan karena Corona, Kurangi Karyawan dan Pilih Tutup

Di tengah pandemi Covid-19, dampak dirasakan signifikan oleh dunia usaha.…

Minggu, 05 April 2020 13:56

Dunia Usaha Waswas, PHK Diambang Mata

Wakil Ketua Umum Bidang Ilmu Teknologi dan Industri Kreatif pada…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers