MANAGED BY:
JUMAT
02 JUNI
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | KRIMINAL

RADAR KALTARA

Senin, 31 Juli 2017 10:39
Overkapasitas Tak Hanya Kelalaian Nakhoda
FOTO: ANTHON JOY/RADAR TARAKAN

TARAKAN – Penyebab terjadinya kecelakaan speedboat Rejeki Baru Kharisma diduga kuat karena overkapasitas. Kecelakaan ini tidak hanya murni kesalahan nakhoda saja, diduga kesahalan ini karena petugas lalai tidak memeriksa kondisi muatan speedboat.

Penumpang speedboat Rejeki Baru Kharisma yang selamat, Rudi Hartono mengungkapkan, berdasarkan pengakuan rekannya Asriadi yang juga saat itu menjadi penumpang mendengar adanya pergeseran barang penumpang ke sebelah kanan, yang mengakibatkan kondisi speedboat tidak seimbang hingga akhirnya terbalik/

“Kami berharap, penegakan hukum harus dikaji dengan dikaitkan dengan instansi terkait. Kami akan terus mengawal kasus ini,” ujar Ketua DPC Gerindra Tarakan.

Dalam kesempatan ini, Rudi juga menampik adanya kabar jika terbaliknya speedboat yang mengakibatkan 10 orang meninggal dunia itu karena, speedboat hendak kembali ke dermaga karena adanya dokumen bakal calon (balon) yang tertinggal di Pelabuhan Tengkayu I SDF Tarakan.

“Dokumen yang kami bawa saja sudah hilang semua saat kejadian itu,” jelas Rudi sapaan akrabnya, kemarin (29/7).

Di sisi lain, penasihat hukum Aris Rusdianto alias Bongket, Alex Chandra menegaskan, dibebankannya  ketetapan tersangka pada Bongket, menurutnya harus diverifikasi lebih dalam lagi. Sebab, jika kesalahan kecelakaan tersebut hanya ditujukan pada nakhoda. Sedangkan saat detik-detik keberangkatan speedboat, dalam hal ini Kantor Kesyahbandaraan dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Tarakan yang bertugas terkesan membiarkan jika adanya kelebihan muatan.

“Kenapa yang namanya dinas terkait tidak tegas saat keberangkatan dan membiarkan speedboat menjadi kelebihan penumpang (over kapasitas). Menurut pengakuan korban juga, barang penumpang sangat bertumpuk di atas. Terkait, motoris yang hendak putar balik kembali ke SDF untuk mengambil dokumen itu hoax,” keluh Alex.

Menurutnya, KSOP dalam hal ini bertindak tidak sesuai dengan aturan (dugaan maladministrasi) daya tampung penumpang. Selain itu, adanya proses kelayakan berlayar yang tidak dijalani oleh KSOP. Semestinya, jika sesuai dengan Standart Operational Procedural (SOP), maka hal tersebut bisa disaring kembali dan kapal tidak diperbolehkan untuk berangkat.

“Ada keanehan, KSOP dan Dinas Perhubungan, itu yang menurut saya harus diluruskan,” imbuh Alex.

Baginya, Bongket belum dinyatakan bersalah dengan berpegang pada asas presumption of innocence (praduga tak bersalah), jadi tidak menutup kemungkinan akan ada terasangka-tersangka baru yang akan ditetapkan nantinya.

“Banyak hal yang harus disalahkan, serta banyak aspek juga yang terlibat. Yang kita ketahui juga, angkutan laut sering digunakan masyarakat sehingga seringnya, kejadian dulu baru mulai berbenah,” pungkasnya.

Sebelumnya, Kapolres Tarakan, AKBP Dearystone Supit melalui Humas Polres Tarakan, Ipda Deny Mardianto kemarin mengatakan, pemeriksaan terhadap petugas instansi terkait ini dilakukan karena dugaan awal penyebab terbaliknya kapal cepat tersebut dikarenakan kelebihan muatan.

“Dugaan sementara adalah kelebihan muatan. Seharusnya kapasitas muatannya hanya 55 orang saja, namun ternyata berdasarkan data yang kami peroleh ada 63 orang yang menaiki kapal nahas tersebut. 10 di antaranya meninggal dunia,” bebernya, Kamis (27/7).

Saat ditanyakan apakah tersangka akan bertambah dalam kasus ini, Deny belum memastikan hal tersebut, karena saat ini masih dilakukan proses pemeriksaan terhadap saksi-saksi oleh Reskrim Polres Tarakan.

“Tapi bila terbukti ada oknum petugas instansi terkait yang ikut andil menjadi penyebab kecelakaan yang diindikasi disebabkan overload, tentu kami akan langsung tetapkan sebagai tersangka,” ungkapnya.

Sejauh ini, baru sang nakhoda speedboat yang ditetapkan sebagai tersangka, karena dianggap melanggar Pasal 359 KUHP terkait kelalaian yang mengakibatkan orang meninggal dunia. “Paling lama di penjara lima tahun atau kurungan satu tahun,” ujarnya. (*/sep/nri)


BACA JUGA

Jumat, 02 Juni 2023 13:10

Harga Rumput Laut Terjun Bebas...!! dari Rp 42 Ribu ke Rp 12 Ribu

Harga rumput laut yang menjadi komoditi unggulan Nunukan mengalami perubahan…

Rabu, 31 Mei 2023 14:06

1.500 Ton Beras Siap Dipasok Hingga Juni ke Bulog Tarakan

Stok beras yang ada di gudang Bulog Tarakan dipastikan akan…

Rabu, 31 Mei 2023 13:54

Mei 2023, Penyerapan Belanja APBN di Tarakan Capai Rp 918,9 Miliar

Berdasarkan data Online Monitoring Sistem Perbendaharaan dan Anggaran Negara (OM…

Rabu, 31 Mei 2023 13:53

Daftar Haji Hari Ini di Tarakan, 32 Tahun Kemudian Berangkat Haji

Sebanyak 4.848 calon jemaah haji masuk daftar tunggu di Kota…

Rabu, 31 Mei 2023 13:51

Pertamina Targetkan 1.000 Barel per Hari di Tarakan

 Pertamina EP Field Tarakan terus berupaya dalam menghasilkan energi bagi…

Rabu, 31 Mei 2023 13:49

Warga Tanjung Pasir, Tarakan Keluhkan Aktivitas LGBT

Meski sebelumnya fenomena lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) di…

Rabu, 31 Mei 2023 13:48

Oknum Pejabat Merintangi Tugas Polhut?

Hingga saat ini semakin banyak permukiman dibangun di kawasan hutan…

Selasa, 30 Mei 2023 13:21

Tujuh Jabatan Eselon II di lingkungan Pemkab Bulungan Dilelang

Sebanyak tujuh jabatan eselon II di lingkungan Pemkab Bulungan akan…

Senin, 29 Mei 2023 14:08

Putusan Perkara Sabu 1 Kg, JPU Kejari Tarakan Pikir-Pikir

Jaksa penuntut umum (JPU) Kejari Tarakan menyatakan masih pikir-pikir terhadap…

Senin, 29 Mei 2023 14:06

Fenomena Cuaca Buruk, Imbau Masyarakat Perbukitan Waspada

Adanya fenomena cuaca buruk yang belakangan ini terjadi dalam beberapa…

Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers