MANAGED BY:
SENIN
14 OKTOBER
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | KRIMINAL

RADAR KALTARA

Senin, 03 April 2017 22:22
Hujannya di Malaysia, Indonesia yang Kena Banjirnya

Warga Masih Terisolir, Kekurangan Air Bersih dan Sembako

MULAI SURUT: Banjir yang merendam Desa Mansalong, Kecamatan Lumbis pada Sabtu (1/4) lalu mulai surut. Banjir yang melanda empat kecamatan ini akibat hulu Sungai Sembakung di Sabah, Malaysia masih diguyur hujan. FOTO: RUDIANSYAH CAMAT LUMBIS UNTUK RADAR NUNUKAN

PROKAL.CO, NUNUKAN – Hujan lebat yang mengguyur wilayah Sabah, Malaysia dua hari terakhir berakibat naiknya debit air Sungai Sembakung dan merendam empat kecamatan Kabupaten Nunukan yang dilewati sungai ini. Kondisi tersebut membuat warga terisolir dan mengalami kesulitan memperoleh Sembilan Bahan Pokok (Sembako).

Camat Lumbis, Rudiansyah ketika dikonfirmasi menjelaskan, saat ini kondisi air masih berada di ketinggian satu meter. Namun, untuk rumah yang berada di dataran rendah dan di sekitar bantaran Sungai Sembakung air terbilang masih tingggi.

“Air perlahan mulai surut. Hanya saja, air surut kali ini sangat lama. Tidak seperti biasa jika banjir air langsung surut,” jelas Rudiansyah kepada Radar Nunukan, Minggu (2/4).

Lanjut Rudi, informasi yang ia terima di hulu Sungai Sembakung yakni Salung, Sabah, debit air semakin naik dan diperparah dengan hujan yang masih terus mengguyur wilayah Sabah. “Informasi dari hulu mulai tadi malam (Sabtu, Red.), air semakin naik dan hujan terus terjadi,” jelasnya.

Dijelaskan, untuk Kecamatan Lumbis, air yang mencapai hingga lantai rumah dan jendela rumah seperti di sejumlah dataran rendah. Serta, warga memilih mengungsi ke rumah keluarga yang berada di dataran tinggi. Namun, ada juga warga yang tetap bertahan dan menunggu hingga air surut di pinggir jalan.

“Pos pengungsian yang disediakan masih kosong. Karena, warga lebih memilih rumah keluarga dan sebagian menunggu di jalan yang berada di dataran tinggi,” jelasnya.

Menurutnya kondisi saat ini jauh lebih baik, jika dibanding dengan banjir yang terjadi beberapa tahun lalu. Saat ini masyarakat terjebak banjir, sehingga membutuhkan air bersih dan makanan instan. “BPBD Nunukan sudah di perjalanan untuk memberikan bantuan,” pungkasnya.

Senada dikatakan Camat Sembakung Zulkifli, kondisi air di wilayahnya juga mulai surut. Untuk Desa Atap, kondisi air tingginya masih sekitar satu meter. Sedangkan, kondisi rumah di Desa Atap rata-rata merupakan rumah panggung. “Kondisi air masih di bawah lantai rumah warga. Mudah-mudahan, air segera surut,” ungkapnya.

Terpisah, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Nunukan, Rahmadji Sukirno menjelaskan, ia telah mengerahkan personelnya untuk memastikan kondisi banjir yang terjadi. “Personel masih di lapangan untuk melakukan pendataan kebutuhan warga yang diterpa banjir,” bebernya.

Serta, informasi yang ia terima kondisi air di Kecamatan Lumbis telah surut. Sedangkan, untuk Kecamatan Sembakung air masih merendam sejumlah desa dengan ketinggan di bawah lutut orang dewasa.

Anggota DPR RI Turut Prihatin

Bencana banjir yang melanda daerah perbatasan, membuat prihatin semua pihak. Tidak terkecuali Hetifah Sjaifudian, Anggota DPR RI dari Daerah Pemilihan (Dapil) Kaltim dan Kaltara yang merasa prihatin dengan kondisi tersebut. “Saya merasa prihatin dengan bencana tersebut, karena masyarakat harus mengungsi,” kata Hetifah.

Banjir yang terjadi kemarin, sabtu (1/4), merendam ratusan rumah warga yang bermukim di Desa Labang, Desa Ubol Alung, Desa Panas, Desa Binter dan Desa-Desa lain di Kecamatan Lumbis Ogong, Kabupaten Nunukan, Provinsi Kalimantan Utara.

Bukan itu saja, banjir juga sudah melanda 3 Kecamatan lain di perbatasan Nunukan seperti Kecamatan Lumbis, Sembakung Atulai dan Sembakung. Adapun banjir disebabkan karena meluapnya Sungai Pansiangan di Sabah Malaysia, yang mengalir ke Sungai Sembakung dan menyebabkan banjir di empat Kecamatan.

Hetifah menambahkan pemerintah daerah perlu melakukan langkah mendasar dengan berkoordinasi instansi lain untuk melakukan penanganan dan pencegahan sesegera mungkin.

“Bupati perlu segera membuat laporan berisi data kondisinya dengan informasi pendukung dari Balai Wilayah Sungai dan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Kemudian laporan diserahkan ke Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) Kemendagri dan KemenPU supaya ada penanganan yang lebih mendasar,” tegas Hetifah.

Selain itu, Pemerintah harus memperhatikan warga yang mengungsi, serta melakukan komunikasi dengan negara tetangga untuk menjamin ada penanganan dan pencegahan di sisi Malaysia.

“Karena banjir kiriman dari Malaysia, maka perlu koordinasi dengan negara tetangga.  Terkait dengan warga yang mengungsi, saya juga meminta Badan Nasional Penaggulangan Bencana (BNPB) dan Kementerian Sosial untuk turun tangan.” tutup Hetifah. (akz/eza)


BACA JUGA

Kamis, 10 September 2015 15:13

Pembangunan Harus Berdasarkan Kebutuhan

<p>MALINAU - Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Malinau, Dr Ernes Silvanus…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*