MANAGED BY:
JUMAT
02 DESEMBER
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | KRIMINAL

RADAR KALTARA

Rabu, 11 November 2015 15:49
Dua Warung Bakso Dituduh Mengandung DNA Babi

Pemilik Warung ā€œAā€ dan ā€œNā€ akan Dipanggil untuk Dimintai Keterangan

ENAK TAPI..: Bakso masih menjadi salah satu makanan favorit warga. Pengawasan yang ketat dari pemerintah agar memberikan kenyamanan menjadi sangat penting.

TARAKAN – Dua rumah makan yang menjual hidangan bakso di Tarakan, diterpa isu tidak sedap. Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Tarakan menyatakan, dua rumah makan berinisial A dan N tersebut, dituding menggunakan DeoxyriboNucleic Acid (DNA) babi terhadap olahan makanannya.

Pernyataan ini dilontarkan pihak MUI Tarakan berdasarkan hasil uji sampel makanan yang dilakukan Dinas Peternakan dan Tanaman Pangan (Disnaktan) di Laboratorium Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-Obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM) di Samarinda, dua pekan lalu.

“Temuan ini berdasarkan data produk yang disampaikan Disnaktan Tarakan kepada LPPOM. Satu di Jalan Yos Sudarso berinisial A, satunya di Jalan Jenderal Sudirman berinisial N,” kata Syamsi Sarman, Wakil Ketua I Majelis Ulama Indonesia (MUI) Tarakan.

Kabar hasil pemeriksaan tersebut diterima MUI pada 4 November lalu dan baru dibeberkan ke publik kemarin (10/11). Meski demikian, MUI belum mengetahui secara teknis apakah bakso tersebut mengandung daging babi ataukah menggunakan minyak babi. “Dalam penelitian yang diperiksa DNA-nya, bisa saja dari lemak atau zat-zat lain dalam babi. Karena secara teknis MUI tidak bisa melihat apanya yang tercampur. Yang jelas dari uji DNA telah positif mengandung DNA-Babi,” tegasnya.

Dijelaskan lebih jauh, saat proses pengambilan sampel, tidak dilakukan secara formal. Tim pemeriksa dari dinas terkait datang sebagai pembeli dan tidak memberi tahu pedagang. “Jadi tim berpura-pura membeli. Ini rutin dilakukan tiap tiga bulan, dan baru kali ini didapati dua warung makan positif menggunakan DNA babi,” ujarnya.

Pada saat uji sampel, ada sekitar 20 pedagang bakso di Tarakan yang diambil sampelnya secara acak. Meski data awal menyatakan positif, MUI Tarakan enggan memvonis bahwa dua warung ini benar-benar menggunakan unsur babi. Agar lebih jelas, kata Syamsi, pihaknya akan melakukan investigasi kembali. MUI akan meminta referensi dari sampel yang dimiliki Disnaktan, selanjutnya memanggil pemilik usaha bakso tersebut untuk dimintai keterangan.

“Kami tidak bisa memvonis, bisa saja tidak sengaja atau tidak tahu sehingga akan ditelusuri. Bisa saja tercemar dari penggilingannya atau faktor lain. Yang jelas akan kami panggil yang bersangkutan,” ulasnya.

Apakah hasil ini merupakan rekayasa demi kepentingan bisnis dari pesaing dua warung bakso tersebut? Syamsi sontak mengelak. “Saya tidak masuk ke ranah apakah ada persaingan bisnis atau apa. Kami berbicara fakta. Faktanya dari hasil lab ada 2 sampel yang positif mengandung babi. Hanya itu yang kami tahu,” tegasnya.

Dari keterangan Disnaktan yang disampaikan ke MUI Tarakan, sampelnya sudah diambil sekitar dua pekan lalu. “Hasilnya baru diterima awal November, kurang lebih harus menunggu seminggu untuk mengetahui hasilnya,” ujarnya.

Halalisasi produk olahan makanan yang dijual secara umum, lanjut Syamsi, merupakan hak konsumen, terlebih bagi konsumen yang beragama Islam, mengingat umat Islam membutuhkan jaminan tiap produk yang dibeli, apalagi terkait makanan. “Dalam hal ini kami tidak bisa berandai-andai dan itulah faktanya. Mudahan ini tidak ada unsur kesengajaan. Jika berbicara sanksi, kita tunggu hasil investigasi nantinya. Jika ada unsur kesengajaan tidak menuntut kemungkinan bisa dibawa ke ranah hukum. Jika tidak sengaja atau bahkan tidak tahu, mereka dapat lepas dari jeratan hukum,” jelas Syamsi.

Lalu kapan akan dilakukan pemanggilan? Menurut Syamsi, hal ini tergantung data dari pihak Disnaktan. “Jika hari ini kami terima datanya, besok kami panggil, karena ini berkaitan dengan orang makan setiap hari, kami harus bekerja cepat,” ujarnya.

Menyikapi hal ini, MUI seringkali menyampaikan ke pelaku usaha terkait label halal, termasuk usaha potong hewan kemasan, makanan jadi dan lainnya. Namun yang masih menjadi kendala untuk mendapatkan sertifikasi halal tersebut, yakni harus melalui LPPOM Samarinda.

“Ke depan harapannya, MUI Kaltara cepat membentuk LLPOM Kaltara. Tercatat baru sekitar tiga rumah makan di Tarakan yang meminta pengurusan label halalisasi. Di sekitaran Gusher, Yos Sudarso, dan Markoni,” ungkap Syamsi.

Namun dari penelusuran yang dilakukan Radar Tarakan, Disnaktan telah mengeluarkan surat pemberitahuan hasil uji sampel bakso yang terbaru, diterbitkan tanggal 9 November 2015 dengan nomor 524.3/Disnaktan/IV.

Dalam surat yang ditujukan kepada penjual bakso N dan A, dijelaskan bahwa tanggal pengambilan sampel dilakukan dua kali. Pertama tanggal 26 Oktober 2015 dan kedua tanggal 27 Oktober 2015. Hasil uji terbaru dikeluarkan tanggal 5 November 2015 oleh UPTD Laboratorium Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner Samarinda dengan metode pengujian PCR.

Dalam surat tersebut ditegaskan bahwa hasil pengujian identifikasi spesies babi dinyatakan negatif mengandung usnur babi.

Dalam selembar surat yang ditanda tangani Kepala Disnaktan, Elang Buana, ada dua pokok yang ingin disampaikan. Pertama dalam rangka pengawasan peredaran pangan asal hewan dan hasil bahan pangan asal hewan secara periodic akan dilakukan sampling terhadap usaha penjualan bakso.

Poin kedua; untuk menjamin kehalalan dan kemanan pasar, pemiliknya dimohon agar menerapkan sistem jaminan kehalalal dan keamanan produk pangan yang mereka jual.(dsh/ash/ddq)

loading...

BACA JUGA

Senin, 28 November 2022 07:53

Rampung 2021, Hingga Kini TPI belum Difungsikan

Pembangunan Gedung Tempat Pelelangan Ikan (TPI) yang berada di Jalan…

Jumat, 25 November 2022 11:19

Dua Oknum Polisi di Tarakan Diberhentikan Tidak Hormat

Kepala Polres Tarakan, AKBP Taufik Nurmandia, S.I.K., M.H melakukan upacara…

Jumat, 25 November 2022 11:16

Upah Pekerja Naik, Tenaga Mesin Jadi Opsi

Penentuan angka upah minimum kota (UMK) Tarakan sempat tertunda. Ini…

Kamis, 24 November 2022 11:14

Dugaan Pungli di KSOP Tarakan, Polisi Periksa Kepala KSOP

Pengungkapan kasus pungutan liar (pungli) yang menjerat oknum pegawai Kesyahbandaran…

Kamis, 24 November 2022 11:07

Bermukim di Hutan Lindung di Tarakan Akan Dipolisikan

Hingga saat ini kawasan hutan lindung masih kerap menjadi sasaran…

Kamis, 24 November 2022 11:04

Waspada Gempa..!! di Tarakan Sesar Lokal Muncul ke Permukaan

Gempa yang terjadi di Cianjur, Jawa Barat menjadi cermin bagi…

Kamis, 24 November 2022 11:00

Tekan Inflasi Melalui Angkutan Udara

Tingginya ongkos transportasi udara menjadi salah satu penyumbang inflasi di…

Rabu, 23 November 2022 09:25

Di Tarakan, Stok Sapi Mulai Kosong

Kerja sama antar Tarakan-Gorontalo untuk penyediaan sapi bagi masyarakat Tarakan…

Senin, 21 November 2022 14:20

Pemprov Upayakan Bandara Juwata Tarakan Buka Rute Internasional

Layanan penerbangan Bandara Juwata rute internasional mulai kembali diupayakan Pemerintah…

Senin, 21 November 2022 14:16

Skincare Ilegal dari Negeri Jiran Diamankan

Sebanyak 149 paket skincare ilegal diamankan tim Polairud, Lantamal dan…

Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers