MANAGED BY:
JUMAT
02 DESEMBER
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | KRIMINAL

RADAR KALTARA

Selasa, 10 November 2015 10:05
Masuk Ambalat, Pesawat Dipiloti Warga Amerika Diturunkan Paksa di Tarakan
SIAGA : Pilot J.P. Murphy mengangkat tangan saat tiba di Bandara Juwata Tarakan, setelah di-force down oleh dua pesawat Sukhoi dari Skuadron Makassar, kemarin siang. Tampak Murphy saat dibawa ke ruang investigasi. FOTO : IFRANSYAH DAN AGOES SUWONDO/RADAR TARAKAN

TARAKAN – Satu pesawat asing jenis single propeller engine Cesna dengan nomor lambung N96706 berhasil diturunkan paksa oleh pihak TNI Angkatan Udara di Bandara Juwata Tarakan pada pukul 14.35 Wita, Senin (9/11).

Pesawat berwarna putih ini diturunkan paksa (force down) dengan pengawalan dua pesawat tempur Sukhoi milik TNI AU yang didatangkan khusus dari Makassar, lantaran masuk ke wilayah Indonesia di wilayah ambang batas laut (ambalat) tanpa izin. Saat tiba di bandara Juwata, para personel Pangkalan Angkatan Laut (Lanud) Tarakan bersiaga dengan persenjataan lengkap. Dengan sigap, sekitar 60 personel Lanud Tarakan ini mengepung pesawat asing tersebut dengan senjata mengarah ke pesawat.

Tak lama kemudian, seorang pria asal Amerika Serikat dengan tinggi sekitar 170 centimeter (cm) berperwakan gemuk keluar dari pesawat, yang kemudian digiring menuju sebuah ruangan. Ia menjalani interogasi kurang lebih selama satu jam.

Komandan Lanud Tarakan Letkol Pnb Tiopan Hutapea menyatakan, pria berkulit putih tersebut diketahui bernama James Patrick Murphy dari angkatan laut Amerika Serikat. Ia berpangkat Lieutenant Colonel Reserve. “Kalau di Indonesia adalah pangkat tituler atau pangkat tidak efektif. Dengan kata lain, J.P Murphy adalah bagian dari pasukan cadangan militer atau sebuah organisasi militer yang terdiri dari warga negara yang menggabungkan peran militer dengan karier sipil,” ujar Tiopan.

Ditegaskannya, pilot ini sama sekali tidak memiliki dokumen perizinan dari tiga instansi pusat yang menangani. Yakni surat izin flight clearance dari mabes TNI, lalu flight approve atau MOT dari Kementrian Perhubungan, dan dokumen izin MSA dari Kementerian Luar Negeri.

Walaupun begitu, kata Tiopan, Murphy sempat menolak didaratkan paksa. “Waktu di atas, bukannya dia tidak mau turun karena faktor arogansi. Namun, Murphy merasa tidak bersalah dalam kasus ini karena berpikir izinya benar-benar telah diurus oleh perusahaannya,” ujarnya.

Walaupun sempat mengaku tidak bersalah, akhirnya Murphy mengakui kesalahannya. Dijelaskan Tiopan, sebelum terbang dari Filipina menuju Selectar, Malaysia, Murphy sempat menanyakan terkait izin untuk melintasi wilayah Indonesia ke perusahaannya. Dari penjelasan perusahaannya itu, diketahui izin sudah diurus yang akhirnya dipercaya Murphy. Ia lantas berangkat sebelum benar-benar memastikan izinnya. “Perjalanannya dalam rangka urusan perusahaan. Sementara tidak ditemukan senjata api, dengan kondisi sehat dan tidak mabuk,” kata Tiopan.

Untuk kasus ini, Tiopan menyatakan akan segera melaporkan dan melimpahkan ke komando atas Lanud seperti Kops AU 2, Kosekhahutnas, KASAU, dan Panglima TNI. “Ini bukan level sederhana. Ini adalah level strategis karena sudah menyangkut antar negara. Jadi harus sangat hati-hati. Karena ini nantinya akan ada hubungan antar kementerian. Bahkan tidak menutup kemungkinan antar kepala negara. Yang jelas sudah kami tegaskan wilayah kita sudah betul-betul  kita jaga,” ujarnya.

Ditambahkan Mayor PNB Anton Pallaguna, pilot Sukhoi yang mengawal penurunan paksa pesawat ini, Murphy melakukan tiga pelanggaran. “Pertama yang dilakukan adalah masuk ke restricted area yakni ambalat.  Di daerah ini sudah kita publish secara internasional bahwa area aini adalah daerah yang tidak boleh dilewati tanpa izin. Bahkan kalau memang memiliki izin tetap tidak boleh memasuki wilayah tersebut. Kedua, memasuki national border atau wilayah negara kita tanpa izin. Ketiga, karena ini adalah pesawat asing dan tidak melengkapi syarat utama untuk dapat masuk ke Indonesia,” jelas Anton.

Murphy, kata mayor Anton, mengaku telah berhati-hati. Sebab setahun yang lalu, Murphy sempat mendengar ada seorang pilot dari Australia yang juga didaratkan secara paksa di wilayah Indonesia. “Dia tidak mau kejadian ini terjadi padanya. Sehingga sebenarnya dia sudah tanya ke perusahaannya. Dan perusahaannya katakan bahwa semuanya sudah beres,” beber Anton.

Namun diakui Murphy, kesalahan terbesarnya adalah tidak melihat bukti fisik dari izin yang dikatakan perusahaannya. “Makanya begitu kita cegat di atas, dia mengatakan telah memiliki dokumen. Namun yang dapat diperlihatkan hanya flight plan. Tapi cukup kooperatif, bahkan dia sempat meminta bersinergis untuk melakukan putaran final,” ujarnya.

Saat diperiksa di  dalam ruangan, dari pantauan Radar Tarakan, barang-barang Murphy digeledah. Di antaranya beberapa lembar pakaian, dompet, botol minuman kaca, senter portable berwarna kuning, tempat kartu nama, dan barang pribadi lainnya.

Diceritakan Anton, dirinya bersama Mayor Baskoro, pilot Sukhoi lainnya, sedang melaksanakan latihan rutin berupa pelatihan pengeboman di Makassar. Saat mengetahui pesawat asing ini masuk di ambalat, keduanya diperintahkan atasan untuk melaksanakan force down tersebut. “Dia mulai terdeksi sejak berada 400 nautical mile atau 800 km sebelum masuk negara kita. Jadi radar kita telah menangkap arah pesawat ini adalah masuk ke wilayah Tarakan. Begitu informasi yang kami terima,” ujar Anton.

Anton sempat menunggu sebelum benar-benar melaksanakan force down ini. “Memang kami tidak cegat langsung saat dia berada di perairan internasional, karena kami ingin melihat apakah dia akan melanggar atau tidak. Sehingga ketika dia crossing kami langsung cegat. Tepatnya di ketinggian 8.500 feet,” ungkapnya. (*/ans/ash)

loading...

BACA JUGA

Senin, 28 November 2022 07:53

Rampung 2021, Hingga Kini TPI belum Difungsikan

Pembangunan Gedung Tempat Pelelangan Ikan (TPI) yang berada di Jalan…

Jumat, 25 November 2022 11:19

Dua Oknum Polisi di Tarakan Diberhentikan Tidak Hormat

Kepala Polres Tarakan, AKBP Taufik Nurmandia, S.I.K., M.H melakukan upacara…

Jumat, 25 November 2022 11:16

Upah Pekerja Naik, Tenaga Mesin Jadi Opsi

Penentuan angka upah minimum kota (UMK) Tarakan sempat tertunda. Ini…

Kamis, 24 November 2022 11:14

Dugaan Pungli di KSOP Tarakan, Polisi Periksa Kepala KSOP

Pengungkapan kasus pungutan liar (pungli) yang menjerat oknum pegawai Kesyahbandaran…

Kamis, 24 November 2022 11:07

Bermukim di Hutan Lindung di Tarakan Akan Dipolisikan

Hingga saat ini kawasan hutan lindung masih kerap menjadi sasaran…

Kamis, 24 November 2022 11:04

Waspada Gempa..!! di Tarakan Sesar Lokal Muncul ke Permukaan

Gempa yang terjadi di Cianjur, Jawa Barat menjadi cermin bagi…

Kamis, 24 November 2022 11:00

Tekan Inflasi Melalui Angkutan Udara

Tingginya ongkos transportasi udara menjadi salah satu penyumbang inflasi di…

Rabu, 23 November 2022 09:25

Di Tarakan, Stok Sapi Mulai Kosong

Kerja sama antar Tarakan-Gorontalo untuk penyediaan sapi bagi masyarakat Tarakan…

Senin, 21 November 2022 14:20

Pemprov Upayakan Bandara Juwata Tarakan Buka Rute Internasional

Layanan penerbangan Bandara Juwata rute internasional mulai kembali diupayakan Pemerintah…

Senin, 21 November 2022 14:16

Skincare Ilegal dari Negeri Jiran Diamankan

Sebanyak 149 paket skincare ilegal diamankan tim Polairud, Lantamal dan…

Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Terverifikasi Dewan Pers