MANAGED BY:
MINGGU
26 FEBRUARI
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV

RADAR KALTARA

Jumat, 06 Januari 2017 11:49
Merubah Pahitnya Jamu Menjadi Manis dan Disukai

Geliat Usaha Mikro Dalam Mengharumkan Nama Tarakan (I)

PRODUKSI: Ratna saat mengemas jamu bubuk tradisional buatannya untuk di jual ke masyarakat Tarakan. AGOES SUWONDO / RADAR TARAKAN

PROKAL.CO, Mau sehat? Tentu harus menjaga kondisi tubuh dengan baik. Namun, jika kondisi badan terlanjur drop dan terlanjur sakit. Tentu beristirahat dan pergi ke dokter adalah pilihan bijak. Namun, bagi Anda yang tidak suka dengan obat-obatan kimia, maka dengan meminum ramuan jamu tradisional bisa menjadi alternatif. Jangan takut pada pahitnya, karena salah satu sentra kreatif pembuatan ramuan jamu di Tarakan ini membuat Anda tak lagi merasakan pahitnya jamu seperti umumnya.

AGOES S, Tarakan.

Cuaca pagi hari dengan hamparan kebun seluas kurang lebih 60 meter persegi berisi tanaman obat siap dipanen. Ratna Sugiarti, wanita kelahiran 1965 ini sudah bergumul dengan aroma umbi tanaman jamu di kebunnya. Kebun yang bukan ditumbuhi cabai atau sayur mayur pada umumnya, sengaja ia tanami dengan toga (tanaman obat keluarga). Jahe, kunyit, temu lawak, kencur, lempuyang dan berbagai tanaman obat lainnya tumbuh subur di daerah kelurahan Mamburungan.

Ranta panggilan akrabnya memang sudah jatuh cinta dengan tanaman obat sedari kecil. Almarhum ibunya yang juga peracik ramuan jamu membuatnya akrab dengan umbi-umbian kaya manfaat yang konon hanya tumbuh di Indonesia ini.

“Bagi saya tanaman obat sudah menjadi bagian dari keseharian saya. Dari sini nanti kita buat jamu yang lezat,” terang Ratna sambil membawa beberapa keranjang berisi jahe dan kunyit yang sudah dipanen.

Jamu Lezat?? Sepertinya mendengar kata jamu saja sudah pasti yang terlintas dipikiran adalah rasa pahit. Penasaran dengan yang Ratna ucapkan, beberapa waktu berselang, Radar Tarakan bertandang ke kediaman Ratna dan keluarga di jalan Peningki Laid RT.13 kelurahan Mamburungan.

Dari kejauhan aroma segar khas ramuan jamu-jamuan sudah tercium. Ratna yang dibantu beberapa anggota keluarganya ternyata sedang memasak jamu dalam wajan besar di dapur miliknya.

Adonan berupa cairan berisi ekstrak jahe merah dan gula mulai mengental di wajan berukuran besar dengan menggunakan kompor minyak tanah, Ratna terus mengaduk adonan dengan sangat telaten. Kemudian adonanpun mengeras hingga berbentuk kristal menyerupai pasir. Asap beraroma segar dari penggorenganpun mengepul memenuhi ruangan dapur.

“Dari sini nanti adonan kristal jamu ini kita ayak hingga menjadi bagian yang halus,” terang Ratna.

Dapur belakang rumah miliknya, memang sudah beralih fungsi dari awal kegunaan sebagai pabrik penyulingan minyak wangi. Ketidak jelasan nasib penyulingan membuat ia dan suami Ahmad Syah (62) menjadikan dapurnya berubah menjadi pembuatan jamu tradisional yang kini sudah dijajakan di negara tetangga Jiran, Malaysia.

Usaha Ratna berawal dari 2005 lalu, saat ia mendapat sebuah petunjuk dari Tuhan untuk meneruskan usaha jamu dari almarhum sang ibu Ngatemi yang meninggal pada usia 86 tahun. Ratna adalah generasi ketiga yang meneruskan usaha jamu tradisional. Sebelumnya, jamu turun temurun hanyalah berupa jamu cair seperti jamu-jamu kebanyakan. Dengan mendapatkan ide, Ratna kemudian menciptakan jamu yang nikmat.

Seperti saat ia menyeduhkan kepada Radar Tarakan. Jahe merah dan kunyit yang rasanya pahit bak disulap menjadi minuman hangat yang segar dengan rasa yang bersahabat dilidah.

Jamu cair memang kebanyakan memang sudah familiar di kalangan masyarakat Indonesia. Jamu gendong sebutannya, adalah jamu yang diwariskan dari sang nenek ke ibu dan kini Ratna geluti. Namun, dengan masa konsumsi yang singkat, jamu kebanyakan tidak bisa bertahan lama bahkan saat saat disimpan di lemari pendingin sekalipun. Dengan tantangan tersebut, Ratna kemudian membuat jamu yang bisa bertahan hingga setahun lamanya.

“Jamu yang kami buat ini tanpa bahan pengawet, hanya ekstrak tanaman obat serta gula yang kemudian dimasak dengan sabar hingga menghasilkan serbuk yang mengkristal. Simpan saja di toples dan disimpan di tempat yang kering, jamu bisa tahan sampai setahun,” terang Ratna.

Dalam perjalanannya, usaha kecil yang kini turut mengharumkan nama Tarakan ini bukan tanpa kendala. Ditipu oleh orang dan gagal dalam pembuatan jamu hingga rugi puluhan juta telah mewarnai usaha mikro milik Ratna. Salah satu kesulitan yang hingga kini masih dirasakan bagi usaha kecilnya adalah soal pemasaran.

 Ia mengaku, beberapa kali ditipu oleh tim marketing yang ia percayai untuk memasarkan jamu yang kini telah mendapat sertifikasi halal. Walau ada peran Disperindagkop Tarakan yang turut mencuatkan nama Jamu Ratna. Dan bahkan orang nomor satu di Tarakan pun pernah mengajak prodak buatan Ratna untuk bertandang mengikuti pameran produk asli Indonesia ke Jakarta. Namun tidak dipungkiri, perhatian khusus kepada pelaku usaha kecil seperti dirinya sangat diharapkan keseriusannya.

“Kami juga sudah mengurus segala kelangkapan izin usaha untuk legalitas serta jaminan bagi produk kami ini. Namun, memang kendala pada pemasaran, bahan baku dan juga peralatan masih kami rasakan,” terang Ratna yang prodak jamu bubuk buatannya sudah pernah menjangkau Pulau Bali dan ibu kota Jakarta.

Halaman:

BACA JUGA

Sabtu, 25 Februari 2017 09:36

Satu Paslon, Minimal 5 Kursi

TARAKAN – Pemilihan Wali Kota Tarakan yang diprediksi akan digelar pada Juni tahun depan sepertinya…

Sabtu, 25 Februari 2017 09:34

Pengeboran Sumur Baru Diharapkan Bisa Suplai Gas ke PLN

TARAKAN – Pengeboran sumur di wilayah yang kaya hasil minyak bumi ini, lama tak lagi akan dilakukan…

Sabtu, 25 Februari 2017 09:33

Keikhlasan Beribadah dan Menolong Sesama Melalui Donor Darah

Membantu seseorang tidak harus melulu melalui aksi-aksi besar, melainkan hal-hal kecil namun berarti…

Jumat, 24 Februari 2017 10:00

Ada Tarif Baru Gas Rumah Tangga, tapi Belum Ditetapkan

TARAKAN – Penyesuaian harga jual gas bumi di Tarakan diperkirakan akan terealisasi pada Maret…

Jumat, 24 Februari 2017 09:59

Tak Ada Aduan, Polres Tunggu Hasil Uji Sampel

TARAKAN – Hingga saat ini, Polres Tarakan belum menerima satupun aduan laporan dari korban keracunan…

Jumat, 24 Februari 2017 09:57

Hakim Nyatakan Hj. Siti Tidak Bersalah, JPU Pilih Kasasi

TARAKAN – Kasus kepabeanan yang menjerat Hj. Siti Nuraeni yang bergulir di Pengadilan Negeri (PN)…

Jumat, 24 Februari 2017 09:56

Prof Adri: Parpol Jangan Batasi Diri

TARAKAN – Pemilihan kepala daerah (pilkada) di Tarakan yang rencananya akan dilakukan pada 2018…

Jumat, 24 Februari 2017 09:54

RSUD Tarakan Masih Kurang Anggaran

KONDISI sarana maupun prasaranan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tarakan masih perlu banyak perbaikan,…

Jumat, 24 Februari 2017 09:52

Hakim Tolak Derden Verzet Syamsuri

TARAKAN – Majelis Hakim PN Tarakan akhirnya menolak gugatan pelawan dalam perkara perdata derden…

Kamis, 23 Februari 2017 11:51

Wah, Tim Saber Pungli "Cium" Dugaan Pungli di Bidang Pendidikan

TARAKAN – Sejak dibentuknya Tim Sapu Bersih Pungutan Liar (Saber Pungli) Tarakan beberapa waktu…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .