MANAGED BY:
SENIN
20 NOVEMBER
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV

RADAR KALTARA

Jumat, 06 Januari 2017 11:49
Merubah Pahitnya Jamu Menjadi Manis dan Disukai

Geliat Usaha Mikro Dalam Mengharumkan Nama Tarakan (I)

PRODUKSI: Ratna saat mengemas jamu bubuk tradisional buatannya untuk di jual ke masyarakat Tarakan. AGOES SUWONDO / RADAR TARAKAN

PROKAL.CO, Mau sehat? Tentu harus menjaga kondisi tubuh dengan baik. Namun, jika kondisi badan terlanjur drop dan terlanjur sakit. Tentu beristirahat dan pergi ke dokter adalah pilihan bijak. Namun, bagi Anda yang tidak suka dengan obat-obatan kimia, maka dengan meminum ramuan jamu tradisional bisa menjadi alternatif. Jangan takut pada pahitnya, karena salah satu sentra kreatif pembuatan ramuan jamu di Tarakan ini membuat Anda tak lagi merasakan pahitnya jamu seperti umumnya.

AGOES S, Tarakan.

Cuaca pagi hari dengan hamparan kebun seluas kurang lebih 60 meter persegi berisi tanaman obat siap dipanen. Ratna Sugiarti, wanita kelahiran 1965 ini sudah bergumul dengan aroma umbi tanaman jamu di kebunnya. Kebun yang bukan ditumbuhi cabai atau sayur mayur pada umumnya, sengaja ia tanami dengan toga (tanaman obat keluarga). Jahe, kunyit, temu lawak, kencur, lempuyang dan berbagai tanaman obat lainnya tumbuh subur di daerah kelurahan Mamburungan.

Ranta panggilan akrabnya memang sudah jatuh cinta dengan tanaman obat sedari kecil. Almarhum ibunya yang juga peracik ramuan jamu membuatnya akrab dengan umbi-umbian kaya manfaat yang konon hanya tumbuh di Indonesia ini.

“Bagi saya tanaman obat sudah menjadi bagian dari keseharian saya. Dari sini nanti kita buat jamu yang lezat,” terang Ratna sambil membawa beberapa keranjang berisi jahe dan kunyit yang sudah dipanen.

Jamu Lezat?? Sepertinya mendengar kata jamu saja sudah pasti yang terlintas dipikiran adalah rasa pahit. Penasaran dengan yang Ratna ucapkan, beberapa waktu berselang, Radar Tarakan bertandang ke kediaman Ratna dan keluarga di jalan Peningki Laid RT.13 kelurahan Mamburungan.

Dari kejauhan aroma segar khas ramuan jamu-jamuan sudah tercium. Ratna yang dibantu beberapa anggota keluarganya ternyata sedang memasak jamu dalam wajan besar di dapur miliknya.

Adonan berupa cairan berisi ekstrak jahe merah dan gula mulai mengental di wajan berukuran besar dengan menggunakan kompor minyak tanah, Ratna terus mengaduk adonan dengan sangat telaten. Kemudian adonanpun mengeras hingga berbentuk kristal menyerupai pasir. Asap beraroma segar dari penggorenganpun mengepul memenuhi ruangan dapur.

“Dari sini nanti adonan kristal jamu ini kita ayak hingga menjadi bagian yang halus,” terang Ratna.

Dapur belakang rumah miliknya, memang sudah beralih fungsi dari awal kegunaan sebagai pabrik penyulingan minyak wangi. Ketidak jelasan nasib penyulingan membuat ia dan suami Ahmad Syah (62) menjadikan dapurnya berubah menjadi pembuatan jamu tradisional yang kini sudah dijajakan di negara tetangga Jiran, Malaysia.

Usaha Ratna berawal dari 2005 lalu, saat ia mendapat sebuah petunjuk dari Tuhan untuk meneruskan usaha jamu dari almarhum sang ibu Ngatemi yang meninggal pada usia 86 tahun. Ratna adalah generasi ketiga yang meneruskan usaha jamu tradisional. Sebelumnya, jamu turun temurun hanyalah berupa jamu cair seperti jamu-jamu kebanyakan. Dengan mendapatkan ide, Ratna kemudian menciptakan jamu yang nikmat.

Seperti saat ia menyeduhkan kepada Radar Tarakan. Jahe merah dan kunyit yang rasanya pahit bak disulap menjadi minuman hangat yang segar dengan rasa yang bersahabat dilidah.

Jamu cair memang kebanyakan memang sudah familiar di kalangan masyarakat Indonesia. Jamu gendong sebutannya, adalah jamu yang diwariskan dari sang nenek ke ibu dan kini Ratna geluti. Namun, dengan masa konsumsi yang singkat, jamu kebanyakan tidak bisa bertahan lama bahkan saat saat disimpan di lemari pendingin sekalipun. Dengan tantangan tersebut, Ratna kemudian membuat jamu yang bisa bertahan hingga setahun lamanya.

“Jamu yang kami buat ini tanpa bahan pengawet, hanya ekstrak tanaman obat serta gula yang kemudian dimasak dengan sabar hingga menghasilkan serbuk yang mengkristal. Simpan saja di toples dan disimpan di tempat yang kering, jamu bisa tahan sampai setahun,” terang Ratna.

Dalam perjalanannya, usaha kecil yang kini turut mengharumkan nama Tarakan ini bukan tanpa kendala. Ditipu oleh orang dan gagal dalam pembuatan jamu hingga rugi puluhan juta telah mewarnai usaha mikro milik Ratna. Salah satu kesulitan yang hingga kini masih dirasakan bagi usaha kecilnya adalah soal pemasaran.

 Ia mengaku, beberapa kali ditipu oleh tim marketing yang ia percayai untuk memasarkan jamu yang kini telah mendapat sertifikasi halal. Walau ada peran Disperindagkop Tarakan yang turut mencuatkan nama Jamu Ratna. Dan bahkan orang nomor satu di Tarakan pun pernah mengajak prodak buatan Ratna untuk bertandang mengikuti pameran produk asli Indonesia ke Jakarta. Namun tidak dipungkiri, perhatian khusus kepada pelaku usaha kecil seperti dirinya sangat diharapkan keseriusannya.

“Kami juga sudah mengurus segala kelangkapan izin usaha untuk legalitas serta jaminan bagi produk kami ini. Namun, memang kendala pada pemasaran, bahan baku dan juga peralatan masih kami rasakan,” terang Ratna yang prodak jamu bubuk buatannya sudah pernah menjangkau Pulau Bali dan ibu kota Jakarta.

Halaman:

BACA JUGA

Senin, 20 November 2017 12:46

Gantung Sarung Karena Kebutuhan Ekonomi

TAHUN 1994 merupakan tahun yang membahagiakan bagi Saiful, karena saat itu ia resmi memperistri pujaan…

Senin, 20 November 2017 12:43

Merasa Putus Asa, Sang Ibu Mengiba di Akun Facebook

Di usianya yang masih belia, Andini Rahmawati menghadapi cobaan berat. Selain menderita gondok beracun…

Senin, 20 November 2017 12:41

Warga Sangsi dengan Aksi Bunuh Diri AP

TARAKAN – Warga di Jalan Swarga RT 03 Nomor 67 Kelurahan Karang Balik mendadak heboh, pagi kemarin…

Senin, 20 November 2017 12:36

MAF Diminta Berubah Jadi Niaga

TARAKAN –  Direktorat Jenderal (Ditjen) Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan menyatakan…

Senin, 20 November 2017 12:31

Bandara Potensi Dilirik Angkasa Pura

TARAKAN – Untuk mengalihkan beban Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), pemerintah berencana…

Senin, 20 November 2017 12:28

PKH Terakhir Disalurkan November

TARAKAN – Rencananya penyaluran bantuan sosial non tunai tahap keempat atau terakhir dituntaskan…

Senin, 20 November 2017 12:26

Dari 3 Undangan Balon Independen, Hanya Satu yang Hadir

TARAKAN – Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Tarakan telah mengeluarkan tiga undang untuk bakal…

Senin, 20 November 2017 12:23

Tiga Titik Jembatan Diprioritaskan

TARAKAN – Banyak yang dikeluhkan warga RT 15, Kelurahan Juata Laut. Namun karena lingkungannya…

Senin, 20 November 2017 10:07

Ditodong Laras Panjang, Speedboat Raib

TARAKAN – HM perlahan menghentikan laju speedboatnya yang mengarah ke Mangkudulis, Kabupaten Bulungan,…

Senin, 20 November 2017 10:05

Investasi PLTU Ditunda

TARAKAN – PT Adani Global sempat menyatakan keinginan berinvestasi membangun Pembangkit Listrik…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .