MANAGED BY:
SENIN
27 MARET
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV

RADAR KALTARA

Jumat, 06 Januari 2017 11:49
Merubah Pahitnya Jamu Menjadi Manis dan Disukai

Geliat Usaha Mikro Dalam Mengharumkan Nama Tarakan (I)

PRODUKSI: Ratna saat mengemas jamu bubuk tradisional buatannya untuk di jual ke masyarakat Tarakan. AGOES SUWONDO / RADAR TARAKAN

PROKAL.CO, Mau sehat? Tentu harus menjaga kondisi tubuh dengan baik. Namun, jika kondisi badan terlanjur drop dan terlanjur sakit. Tentu beristirahat dan pergi ke dokter adalah pilihan bijak. Namun, bagi Anda yang tidak suka dengan obat-obatan kimia, maka dengan meminum ramuan jamu tradisional bisa menjadi alternatif. Jangan takut pada pahitnya, karena salah satu sentra kreatif pembuatan ramuan jamu di Tarakan ini membuat Anda tak lagi merasakan pahitnya jamu seperti umumnya.

AGOES S, Tarakan.

Cuaca pagi hari dengan hamparan kebun seluas kurang lebih 60 meter persegi berisi tanaman obat siap dipanen. Ratna Sugiarti, wanita kelahiran 1965 ini sudah bergumul dengan aroma umbi tanaman jamu di kebunnya. Kebun yang bukan ditumbuhi cabai atau sayur mayur pada umumnya, sengaja ia tanami dengan toga (tanaman obat keluarga). Jahe, kunyit, temu lawak, kencur, lempuyang dan berbagai tanaman obat lainnya tumbuh subur di daerah kelurahan Mamburungan.

Ranta panggilan akrabnya memang sudah jatuh cinta dengan tanaman obat sedari kecil. Almarhum ibunya yang juga peracik ramuan jamu membuatnya akrab dengan umbi-umbian kaya manfaat yang konon hanya tumbuh di Indonesia ini.

“Bagi saya tanaman obat sudah menjadi bagian dari keseharian saya. Dari sini nanti kita buat jamu yang lezat,” terang Ratna sambil membawa beberapa keranjang berisi jahe dan kunyit yang sudah dipanen.

Jamu Lezat?? Sepertinya mendengar kata jamu saja sudah pasti yang terlintas dipikiran adalah rasa pahit. Penasaran dengan yang Ratna ucapkan, beberapa waktu berselang, Radar Tarakan bertandang ke kediaman Ratna dan keluarga di jalan Peningki Laid RT.13 kelurahan Mamburungan.

Dari kejauhan aroma segar khas ramuan jamu-jamuan sudah tercium. Ratna yang dibantu beberapa anggota keluarganya ternyata sedang memasak jamu dalam wajan besar di dapur miliknya.

Adonan berupa cairan berisi ekstrak jahe merah dan gula mulai mengental di wajan berukuran besar dengan menggunakan kompor minyak tanah, Ratna terus mengaduk adonan dengan sangat telaten. Kemudian adonanpun mengeras hingga berbentuk kristal menyerupai pasir. Asap beraroma segar dari penggorenganpun mengepul memenuhi ruangan dapur.

“Dari sini nanti adonan kristal jamu ini kita ayak hingga menjadi bagian yang halus,” terang Ratna.

Dapur belakang rumah miliknya, memang sudah beralih fungsi dari awal kegunaan sebagai pabrik penyulingan minyak wangi. Ketidak jelasan nasib penyulingan membuat ia dan suami Ahmad Syah (62) menjadikan dapurnya berubah menjadi pembuatan jamu tradisional yang kini sudah dijajakan di negara tetangga Jiran, Malaysia.

Usaha Ratna berawal dari 2005 lalu, saat ia mendapat sebuah petunjuk dari Tuhan untuk meneruskan usaha jamu dari almarhum sang ibu Ngatemi yang meninggal pada usia 86 tahun. Ratna adalah generasi ketiga yang meneruskan usaha jamu tradisional. Sebelumnya, jamu turun temurun hanyalah berupa jamu cair seperti jamu-jamu kebanyakan. Dengan mendapatkan ide, Ratna kemudian menciptakan jamu yang nikmat.

Seperti saat ia menyeduhkan kepada Radar Tarakan. Jahe merah dan kunyit yang rasanya pahit bak disulap menjadi minuman hangat yang segar dengan rasa yang bersahabat dilidah.

Jamu cair memang kebanyakan memang sudah familiar di kalangan masyarakat Indonesia. Jamu gendong sebutannya, adalah jamu yang diwariskan dari sang nenek ke ibu dan kini Ratna geluti. Namun, dengan masa konsumsi yang singkat, jamu kebanyakan tidak bisa bertahan lama bahkan saat saat disimpan di lemari pendingin sekalipun. Dengan tantangan tersebut, Ratna kemudian membuat jamu yang bisa bertahan hingga setahun lamanya.

“Jamu yang kami buat ini tanpa bahan pengawet, hanya ekstrak tanaman obat serta gula yang kemudian dimasak dengan sabar hingga menghasilkan serbuk yang mengkristal. Simpan saja di toples dan disimpan di tempat yang kering, jamu bisa tahan sampai setahun,” terang Ratna.

Dalam perjalanannya, usaha kecil yang kini turut mengharumkan nama Tarakan ini bukan tanpa kendala. Ditipu oleh orang dan gagal dalam pembuatan jamu hingga rugi puluhan juta telah mewarnai usaha mikro milik Ratna. Salah satu kesulitan yang hingga kini masih dirasakan bagi usaha kecilnya adalah soal pemasaran.

 Ia mengaku, beberapa kali ditipu oleh tim marketing yang ia percayai untuk memasarkan jamu yang kini telah mendapat sertifikasi halal. Walau ada peran Disperindagkop Tarakan yang turut mencuatkan nama Jamu Ratna. Dan bahkan orang nomor satu di Tarakan pun pernah mengajak prodak buatan Ratna untuk bertandang mengikuti pameran produk asli Indonesia ke Jakarta. Namun tidak dipungkiri, perhatian khusus kepada pelaku usaha kecil seperti dirinya sangat diharapkan keseriusannya.

“Kami juga sudah mengurus segala kelangkapan izin usaha untuk legalitas serta jaminan bagi produk kami ini. Namun, memang kendala pada pemasaran, bahan baku dan juga peralatan masih kami rasakan,” terang Ratna yang prodak jamu bubuk buatannya sudah pernah menjangkau Pulau Bali dan ibu kota Jakarta.

Halaman:

BACA JUGA

Sabtu, 25 Maret 2017 11:34

Keterlaluan!!! Habis Tabrak Ibu Ini, Pengendara Pikap Langsung Kabur

TARAKAN - Kecelakaan lalu lintas lagi-lagi memakan korban, di Jalan Sei Sesayap Kelurahan Kampung Empat.…

Sabtu, 25 Maret 2017 11:24

Sang Petahana Nyatakan Maju

TARAKAN – Wali Kota Tarakan, Sofian Raga yang selama ini belum memberikan keputusan apakah akan…

Sabtu, 25 Maret 2017 11:22

Khairul Mendaftar di Golkar?

TARAKAN – Penjaringan bakal calon kepala daerah yang dibuka Partai Golongan Karya (Golkar) mulai…

Sabtu, 25 Maret 2017 11:17

Seminggu Lagi, Taksi Argo Kembali Beroperasi

TARAKAN – Tindakan tegas telah diambil Pemerintah Kota Tarakan dengan membekukan 10 unit taksi…

Sabtu, 25 Maret 2017 11:12

Bus Sekolah Kurang, Solusi Pakai BRT

TARAKAN – 4 unit bus sekolah yang sudah sejak tahun lalu beroperasi, dinilai sangat kurang untuk…

Sabtu, 25 Maret 2017 11:10

Terkendala Anggaran, Pengelolaan Belum Maksimal

TARAKAN – Pengelolaan cagar budaya di Tarakan yang saat ini berjumlah 31 destinasi masih belum…

Sabtu, 25 Maret 2017 11:06

Kasus PNS Nyabu, Masuk Pledoi

TARAKAN – Sidang oknum Pegawai Negeri Sipil (PNS) Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Koperasi…

Sabtu, 25 Maret 2017 11:04

Disdukcapil Masih Butuh SDM Teknis

MALINAU – Kepala Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Malinau, H Zainal Arifin mengakui…

Sabtu, 25 Maret 2017 10:58

Kali Ini, Agenda Sidang Dengarkan Saksi

TARAKAN – Sidang lanjutan oknum anak anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Tarakan,…

Sabtu, 25 Maret 2017 10:53

Pembangunan Gedung Baru Tunggu Izin Prinsip

TARAKAN – Peninjauan lapangan lokasi pembangunan Polres Tarakan dilakukan Komisi III DPRD Tarakan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .