MANAGED BY:
RABU
26 JUNI
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA
Selasa, 29 September 2015 15:17
Kerajinan Tas Rotan Asal Malinau yang Semakin Populer

Tembus Sampai Paris, Pemilihan Bahan Tak Boleh Sembarang

Agussalam Sanip / Radar Tarakan MADE IN MALINAU : Tas anyaman rotan motif Dayak banyak diminati pelanggan karena unik, khas, dan memiliki seni tinggi.

PROKAL.CO, Berbahan alam, halus, hand made, dan memakan waktu pengerjaan berhari-hari membuat tas anyaman rotan menjadi produk unggulan asal Kabupaten Malinau. Bahkan dilirik warga Paris. Bagaimana keunikan tas tersebut? Berikut ulasannya.

Agussalam Sanip

Anyaman tas rotan Desa Long Sule, Kecamatan Kayan Hilir memiliki nilai estetika dan seni anyamannya sangat tinggi. Ukirannya khas Dayak yang diwariskan dari nenek moyang mereka. Dengan sentuhan kreativitas, perajin perlahan mulai mengombinasikan motif anyaman sesuai permintaan pembeli. Seperti menambah nama pemesan dan motif lain.

Karena nilai estetika dan seninya, tas anyaman rotan itu banyak diminati dan peminatnya. Bahkan peminatnya datang dari Kota Paris, Prancis. Ya, walau masih sekadar cenderamata. Tapi, tidak menutup kemungkinan kelak menjadi komoditas ekspor.

Salah seorang perajin, Jumit Ajo, 39 tahun, mengatakan, dalam membuat tas dirinya harus mengambil sendiri rotan ke hutan dengan menggunakan ketinting (perahu kecil bermesin tempel) menyusuri sungai yang bergiram (jeram). “Jauh pakai ketinting cari rotannya, ambil sendiri ke hutan,” ungkap dia.

 

Dikatakannya, rotan yang dipakai pun tidak boleh sembarangan. Kalau salah memilih, rotan bakal susah dianyam. Pemilihan rotan juga tidak terlalu tua dan juga tidak terlalu muda. “Rotannya harus yang sedang, kalau yang muda cepat putus, kalau terlalu tua juga nggak bisa, karena keras dan susah bikinya,” jelas Jumit.

Setelah rotan diambil di hutan, kata Jumit, rotan tidak bisa langsung dijemur, yang baru diambil dihutan langsung di pecahkan dan baru dijemur selama dua hari. Setelah dijemur, rotan-rotanya pun langsung dibersihkan serta diraut sesuai ukuran dan usai diraut rotannya langsung dianyam.  “Jadi rotannya nggak boleh lama langsung dianyam,” katanya.

Untuk pewarna, mereka menggunakan bahan alami dari hutan berupa daun yang biasa mereka sebut daun kalen dan tigang ngaet. Dikatakan Jumit, mereka tidak memakai sembarang daun, karena turun temurun mereka pakai daun itu. Selain itu, daun dicampur dengan tanah dan tanahnya pun diakuinya tidak sembarang tanah. Setelah dicampur baru direbus bersama rotan yang sudah diraut selama dua hari dengan api yang terus menyala. “Kalau nggak pakai itu (daun) biar seminggu nggak akan hitam dan itupun harus dicampur tanah, kayak tanah liat, namun warnanya agak hitam, dan kualitas tanahnya dicari yang benar-benar bagus,” paparnya.

Perajin lainnya, Buken, 37 tahun, menambahkan, pembuatan anyaman tas memiliki banyak motif. Tergantung kreativitas para perajin. Motifnya sendiri kebanyakan mereka lihat dari hasil anyaman orangtuanya dulu,sementara untuk motif hasil kreativitas mereka yang baru-baru ini hanya sedikit.

Anyaman ini sendiri kata Buken, ilmu menganyam merupakan warisan orang tua mereka. Selain itu, ada anggapan bahwa kalau di kampung mereka seorang (perempuan) harus bisa menganyam, kalau tidak bisa menganyam dianggap seperti laki-laki yang biasanya berburu di hutan. “Ya mamaku lah yang ajarin, nenekku, tanteku juga yang ajarin. Bilang orangtua di desa, kalau perempuan harus bisa nganyam, kalau perempuan itu nggak bisa nganyam malu.  Kayak laki-laki saja nggak bisa buat anyaman,” ujar Buken sambil tersipu.

Kata dia, menganyam dan membentuk tas membuntuhkan waktu yang lumayan lama, karena tingkat kerumitannya lumayan rumit. Ukuran kecil saja butuh waktu 5 hari dan ukuran yang besar dan motifnya yang rumit memakan waktu dua minggu, apalagi kalau anyaman tasnya ditambah tulisan akan memakan waktu yang lebih lama. “Kesulitannya itu saat merautnya, membentuk bawahnya yang susah. Yang agak gampang buatnya ya murah, tapi kalau yang ukiran itu mahal karena susah buat motifnya,” ungkapnya. “ Sebulan saya bisa menghasilkan tiga sampai empat buah anyaman dan bisa menghasilkan uang Rp 2 jutaan,” tambahnya.

Sebagai informasi, menuju desa perajin tas anyaman rotan ini membutuhkan waktu tempuh 1.20 jam dari ibu kota Kabupaten Malinau menuju Desa Long Sule dan Long Pipa, Kecamatan Kayan Hilir itupun harus menggunakan pesawat kecil dan lapangan terbangnya pun masih menggunakan landasan tanah dan rumput.

Sulowati, wanita yang bertempat tinggal di Malinau Kota, dan rumahnya berada di pinggir jalan raya arah Desa Batu Lidung itu sudah setahun lebih memasarkan hasil anyaman rotan berupa tas dari perajin Desa Long Sule.

Diakuinya, dalam sebulan omzet yang dihasilkan bisa mencapai Rp 25 Juta perbulan dengan penjualan rata-rata 50 buah tas perbulannya. “Selama setahun lebih, mungkin ada sekitar seribu buah lebih tas yang saya jual. Kalau dihitung-hitung dalam sebulannya saya bisa jual 50 buah tas dengan omzet mencapai Rp 25 juta,” ujar perempuan yang biasa disapa Sulow ini.

Awalnya, berdagang tas ia mengaku merupakan buah dari inisiatif sesorang yang sangat dia hormati mendorongnya untuk membantu masyarakat Desa Long Sule memasarkan hasil tas yang terbuat dari anyaman rotan tersebut.

Tas ini juga mulai terkenal semenjak tim penggerak PKK Kabupaten Malinau sering memakai di beberapa even daerah bahkan nasional, selain itu dukungan pemerintah Kabupaten Malinau juga sangat banyak untuk mempromosikan tas ini seperti dijadikan bahan cenderamata untuk tamu-tamu yang berkunjung seperti pejabat-pejabat dari provinsi maupun dari pusat.

Diakui Sulow, dulu tas ini hanya seperti anjat (tas anayaman rotan berbentuk bulat dan bisa dipakai seperti ransel), tapi sekarang sudah banyak dibikin seperti tas untuk perempuan dan yang terakhir dibuat untuk tas kerja yang bisa memasukan laptop. “Itu awal ide tas tadi, dan munculah tas dengan macam-macam model. Nah, ternyata masyarakat lebih suka dengan tas dengan kreativitas terbaru ini dengan mengikuti tren pasar,” ungkapnya.

Dikatakan Sulow, cara pemasarannya hanya memosting foto-foto tas melewat media sosial dan dia tidak menyangka baru sebentar saja di posting antusias teman-teman medsosnya untuk membeli sangat tinggi dan tidak hanya itu saja teman dari teman lainnya juga tertarik karena makin tersebar dan terkenal tas anyaman rotan tersebut. “ Pernah didatangkan 200 buah dari sana (Long Sule), tidak sampai satu minggu langsung habis,” ujarnya.

Setelah mulai banyak dicari orang, pembeli tas pun berdatangan ke rumahnya dan yang paling spesial yang langsung datang membeli ke rumahnya adalah salah satu pelawak yang juga pernah menjadi anggota DPR RI yaitu H Qomar. “Itu pembeli yang terspesial, datang tak terduga ke rumah, dan tidak sampai pikir bahwa orang sekelas beliau datang ke rumah,” kenang Sulow.

Selain itu, pembeli yang datang langsung ke rumahnya datang dari berabagia daerah baik dalam daerah, berbagai daerah di Indonesia dan bahkan sampai dar luar negeri “Kalau pembeli dalam negeri, ya dari sini, KTT, Tanjung Selor, Nunukan, Tarakan, Jogja, hingga Manokwari dan daerah lainnya, nah, untuk luar negeri ada yang pernah dari Paris untuk oleh-oleh dibawa pulang kesana,” katanya penuh rasa syukur.

Untuk di Malinau sendiri produk tas anyaman rotan ini  semua pejabat daerah dan istri juga sudah banyak yang beli dan memakainya. Kalau harga, dikatakan Sulow, tergantung motif dan ukuran, harganya mulai dari Rp 250 ribu sampai RP 1,2 juta. “Kalau minta buatkan nama dianyamannya, biasanya lebih mahal. Karena yang buat juga tidak sembarang buat dan harus yang ahlinya yang mengerti tata letak hurufnya,” ungkapnya.

Selain menjual, Sulow juga memberikan tips agar tas anyaman rotan ini bisa tahan lama, dikatakannya, jangan sering kena basah atau lembab, itu akan membuat cepat rusak. “Kalau kena air dikeringkan, tapi jangan dijemur, sering dibersihkan, apa yang ada di dalam tas di keluarkan saja kalau sudah di rumah,” imbuh dia. (asm)

 

loading...

BACA JUGA

Selasa, 08 September 2015 11:13

Persembahkan Tarian Daerah, Berlatih Hingga Empat Bulan

<p>Ada cerita lain pada peringatan Hari Anak Nasional (HAN) yang dilakukan di ruang serba guna…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia | Supported By .
*