MANAGED BY:
JUMAT
19 JULI
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Sabtu, 06 Juli 2019 09:22
Inovasi ‘Sijeruk Madu’, Mampu Tekan Angka Kematian Ibu dan Bayi

Sistem Pelayanan Kesehatan Ikuti Tren Kemajuan Teknologi

LEBIH CEPAT: “Sijeruk Madu” menjadi suatu inovasi terbaru dalam upaya menekan angka kematian ibu dan bayi di Bulungan. Tampak, proses pengenalan dan pemaparan “Sijeruk Madu”./RACHMAD RHOMADHANI/RADAR KALTARA

PROKAL.CO, Masih tingginya angka kematian ibu dan bayi yang terjadi di Kabupaten Bulungan, tak ayal menjadi perhatian serius oleh seluruh jajaran pemerintah setempat. Melalui “Sijeruk Madu” yang merupakan inovasi terbaru ini diklaim dapat menekan angka kematian ibu dan bayi.

RACHMAD RHOMADHANI

BERDASARKAN data pada Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bulungan, angka kematian ibu dan bayi beberapa tahun terakhir terbilang masih sangat tinggi. Yakni, untuk angka kematian ibu (AKI) di 2017 lalu terdapat sebanyak 304 per 100.000 kelahiran hidup atau 8 kasus dan 2018 sebanyak 76 per 100.000 kelahiran hidup atau sebanyak 2 kasus.

Sedangkan, untuk angka kematian bayi, dari data yang ada dalam kurun waktu setahun terakhir mencapai 25 per 1.000 kelahiran hidup. Dan menilik dari jumlah itu, baik kematian ibu dan bayi, diketahui angkanya melebihi dari total atau jumlah target nasional yang ditetapkan. Di mana untuk ibu berjumlah 102 per 100.000 kelahiran hidup dan bayi sebanyak 23 per 1.000 kelahiran hidup dalam kurun waktu setahun.

“Ini tentu menjadi masalah serius soal kematian ibu dan bayi yang terbilang tinggi di daerah ini,” ungkap dr. Widyawati selaku Kabid Pelayanan Medik RSD Tanjung Selor.

Akhirnya, mengaca dari fakta itu semua yang terjadi di lapangan. Inovasi pun mulai tercetuskan, ini dengan tujuan ke depannya dapat menekan angka kematian ibu dan bayi di Bumi Tenguyun ini. Yaitu melalui inovasi “Sijeruk Madu”.

“Ya, “Sijeruk Madu” ini sebenarnya hanya singkatan. Yang mana, jika dijabarkan yaitu sistem jejaring rujukan komprehensif dan manajemen persalinan terpadu,” ujar wanita berhijab ini saat ditemui usai memaparkan tentang “Sijeruk Madu”.

Ditanya mengenai sistem kerjanya, dr. Widya sapaan akrabnya menerangkan bahwa sistemnya itu lebih mengikuti tren perkembangan zaman. Yaitu melalui aplikasi yang dapat diunduh di Play Store.

Dan dari aplikasi itu pun, output-nya nanti akan berdampak pada peningkatan pelayanan kesehatan. Itu tak hanya di perkotaan, melainkan di perdesaan di tingkat puskesmas pun. Sebab, nantinya, semua data yang di input oleh bidan puskesmas akan terkoneksi langsung atau komprehensif dengan rumah sakit daerah (RSD).

Dan dari data tersebut rumah sakit dapat mengetahui semua data kehamilan yang berkunjung ke puskesmas/pustu/poskesdes dan bidan klinik swasta. Artinya, jika ada ibu hamil yang mengalami risiko tinggi akan dengan mudah dipantau oleh semua pihak baik oleh puskesmas maupun rumah sakit.

“Jadi, terkoneksi dan terlaporkan pemeriksaan apa saja yang sudah dilakukan oleh ibu bidan kepada ibu hamil di masing-masing wilayahnya sehingga dapat diketahui pula risiko-risiko yang dialami oleh ibu hamil tadi terutama yang mengalami risiko tinggi, untuk dapat dicegah komplikasi yang menyebabkan kematian ibu tadi. Dan RSD nantinya akan menindaklanjutinya dengan mekanisme yang sudah ditetapkan dalam sistem. Sehingga dari sini menjadi awal upaya penekanan kematian ibu dan anak,” tuturnya.

Di sisi lain, dr. Widya menerangkan kembali bahwa sejauh ini masalah kematian ibu paling banyak karena pendarahan, tekanan darah tinggi saat kehamilan, infeksi dan komplikasi lainnya.

“Sedangkan, secara teori disebabkan oleh 3 Terlambat. Tiga Terlambat di sini yaitu, terlambat dalam mengambil keputusan, terlambat sampai di fasilitas kesehatan dan terlambat mendapat pertolongan yang adekuat. Nah, kejadian seperti ini diupayakan tak akan terjadi lagi pasca “Sijeruk Madu” ini ada,” harapnya.

“Meski juga ada faktor lainnya yaitu 4 Terlalu yaitu karena terlalu rapat jarak kehamilan, terlalu muda, terlalu tua dan terlalu banyak anak,” sambungnya.

Di tempat yang sama, Direktur RSD dr. Soemarno Sosroatmodjo, dr. Suryatan menambahkan, melalui inovasi itu sejatinya memang lebih bertujuan pada percepatan dalam memberikan pelayanan kepada pasien. Sebab, diakuinya sejauh ini koordinasi masih manual dan itu dapat memperlambat dalam pelayanan.

“Apalagi dengan letak geografis di Bulungan ini. Maka, memang sejatinya dengan kemajuan tekhnologi yang ada. Maka, diperlukan inovasi seperti itu,” ungkapnya.

Bahkan, diklaim bahwa sistem atau inovasi “Sijeruk Madu” ini merupakan yang kali pertama ada di Kaltara. Untuk itu, pihaknya berharap inovasi ini dapat terus memberikan suatu manfaat besar bagi masyarakat luas. “Dan perlu memang suatu kolaborasi antara PONED (Pelayanan Obstetri Neonatal Eemergency dasar) di Puskesmas dan PONEK (Pelayanan Obstetri Neonatal Emergency Komprehensif) di Rumah Sakit,” sebutnya.

Di sisi lain, untuk target sendiri kedepan bahwa di 2020 setidaknya angka kematian ibu dan bayi di Bulungan ini sudah dibawah target nasional. “Ini yang memang kita harapkan. Dan cara ini memang satu-satunya yang paling efektif,” pungkasnya.

Sementara, Sekkab Bulungan, Drs. Syafril mengakui bahwa adanya inovasi itu yang merupakan proyek perubahan yang sangat diapresiasinya. Mengingat, memang tingginya angka kematian ibu dan bayi ini kerap menjadi catatan rutin dan PR. “Ini sangat baik. Inovasinya juga mengikuti trend zaman yang serba tekhnologi,” ungkapnya.

Namun, pihaknya berharap dari inovasi ini juga pun mendapat dukungan para stakeholder lainnya. Sehingga proyek perubahan ini dapat terus berjalan dengan maksimal guna menekan angka kematian ibu dan bayi. “Target 2020 angka kematian di bawah target nasional diharapkan dapat tercapai. Kami, tentu akan mendukung sepenuhnya,” ujarnya mengakhiri. (***/eza)

loading...

BACA JUGA

Kamis, 18 Juli 2019 10:26

Dongkrak PAD, Spanduk dan Reklame Ditertibkan

TANJUNG SELOR – Guna mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten…

Kamis, 18 Juli 2019 10:25

Badan POM Diupayakan Berdiri di Kaltara

TANJUNG SELOR – Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) memiliki garis perbatasan…

Kamis, 18 Juli 2019 10:23

Pembangunan Pelabuhan Bunyu Terkendala Lahan

TANJUNG SELOR – Rencana Pemerintah Perovinisi (Pemprov) Kalimantan Utara (Kaltara)…

Kamis, 18 Juli 2019 10:21

Hasil Verifikasi Dilimpahkan ke TAPD

TANJUNG SELOR – Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kalimantan…

Kamis, 18 Juli 2019 10:20

Pemprov Minta Duit Rp 526 Juta Lebih Itu Segera Dikembalikan

TANJUNG SELOR – Gubernur Kalimantan Utara (Kaltara) Irianto Lambrie meminta…

Kamis, 18 Juli 2019 10:19

Meninggal Dunia, CJH Boleh Diganti Keluarga

Beberapa ketentuan baru yang sudah ditetapkan oleh Kementerian Agama (Kemenag)…

Kamis, 18 Juli 2019 10:18

Penyaluran Bansos ke Pedalaman Dikawal

TANJUNG SELOR — Pendampingan Satuan Tugas (Satgas) pengamanan Bantuan Sosial…

Kamis, 18 Juli 2019 10:16

Di Celana Bocah Ada Lendir-Lendir Gitu, Si Ibu Langsung Lapor Polisi

TANJUNG SELOR - Ibu dari MC memilih melaporkan pria berinisial…

Kamis, 18 Juli 2019 09:13

Uyau Abeng Lihan Padan Disematkan ke Kapolri

TANJUNG SELOR - Kapolri Jendral Polisi Muhammad Tito Karnavian tiba…

Rabu, 17 Juli 2019 09:13

Melanggar Perda, Satpol PP Warning PKL

TANJUNG SELOR – Sejumlah pedagang kaki lima (PKL), yang berjualan…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*