MANAGED BY:
JUMAT
19 JULI
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Rabu, 26 Juni 2019 10:22
Kumpul Material Bekas untuk Membangun Gubuk

Kisah Mama Angel, Menggantungkan Hidup dari Memulung

MENANGIS: Petrunaila Inalaini saat ditemui Radar Tarakan di rumahnya, Minggu, (23/6)./Yedidah Pakondo//Radar Tarakan

PROKAL.CO, Petrunaila Inalaini atau lebih dikenal Mama Angel, yang kini membiayai kedua anaknya dengan bergantung pada penghasilan pekerjaan sebagai pemulung. Aroma busuk dia kesampingkan demi bisa mendapatkan rupiah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun, pekerjaan tersebut tidak lagi bisa dikerjakan, karena insiden kecelakaan yang dia alami beberapa waktu lalu. Berikut kisah selengkapnya.

YEDIDAH PAKONDO, Tarakan

Kisah malang Petrunaila Inalaini  (40) bermula ketika dia memutuskan menikah dengan pria yang merupakan tambatan hatinya saat masih muda, hingga akhirnya keduanya memutuskan untuk menikah. Namun kehidupan setelah menikah tak seindah yang dibayangkan.

Mama Angel kerap kali mengalami kekesaran dalam rumah tangga (KDRT). Sang suami dinilai tingan tangan, sering kali menyakiti Mama Angel tanpa pikir panjang. Masih segar diingatan Mama Angel, saat dia mengandung anak terakhir yang harus menjalani operasi caesar. Menurut dokter dia sulit melahirkan secara normal karena penyakit pada bagian pinggul dalam.

“Waktu itu, suami saya sedang bekerja di kilang. Saya tidak punya keluarga, jadi terpaksa saya sendiri yang tanda tangan bahwa saya siap di operasi demi keselamatan saya dan bayi,” kenangnya.

Usai menjalani proses operasi, Mama Angel akhirnya diperbolehkan pulang kembali ke rumah. Namun, lagi-lagi keberuntungan tak menghampirinya,  sang suami kembali ringan tangan, kerap kali memukul tubuhnya yang kurus.

“Jadi kalau salah sedikit saja, itu saya pasti dipukul dan itu sakit sekali. Saya ingat waktu dia memukul bekas operasi sesar saya di bagian perut sampai terbuka jahitan operasi saya. Di situ puncak kesabaran saya habis,” ucap Mama Angel berlinang air mata.

Akhirnya, karena tidak tahan dengan perlakukan sang suami, Mama Angel memutuskan untuk untuk lari dari rumah dan meninggalkan suaminya dua anaknya. Saat lari dari rumah, dia sama sekali tidak mengantongi sepeser uang pun, sehingga dia harus bekerja apa saja agar bisa makan.

“Jadi waktu itu saya berusaha cari penghasilan sendiri. Saya mulai bekerja sana sini untuk mendapatkan uang sewa,” ucapnya.

 “Saya hanya membawa Angel dan Fino, karena anak saya yang tiga orang lainnya ikut suami saya, sedangkan Angel ini saya bawa karena anak pertama sedangkan Fino anak paling terakhir,” jelasnya.

Tepat di tahun 2008 lalu, Mama Angel yang ikut bersama temannya menginjakan kaki ke Bumi Paguntaka. Dia hanya tahu, kota ini jauh dari manta suaminya sehingga bisa bebas dari siksaan dan bisa mengais rezeki demi menghidupi kedua anaknya.

 “Saya tidak tahu Tarakan itu seperti apa, bentuknya bagaimana saya tidak tahu. Yang saya mau hanyalah ketentraman,” bebernya.

Sesampai di Kota Tarakan, Mama Angel sempat menyewa rumah di kawasan Karang Harapan yang berada dekat dengan lokasi TPA. Namun, karena rumah sewa tersebut angker, akhirnya memutuskan untuk pergi dari rumah tersebut.

Namun, karena tidak memiliki sisa uang lagi di dalam dompet, akhirnya Mama Angel memutuskan untuk bekerja sebagai pembantu rumah tangga, pekerjaan tersebut ia tekuni, namun akhirnya harus ia lepaskan karena fisiknya yang sudah tidak mampu untuk bekerja terlalu berat.

Petrunaila juga sempat bekerja di salah satu perusahaan udang Kota Tarakan, namun sama seperti saat menjadi pembantu rumah tangga, Mama Angel berhenti karena tenaganya yang sudah tidak kuat. Sebab dia masih sering mengeluh sakit, lantaran bekas dipukul oleh mantan suaminya yang masih terasa.

Tak menyerah akan hidup, Mama Angel akhirnya mencoba untuk melihat-lihat aktivitas di TPA. Betapa kagetnya Mama Angel, saat melihat banyaknya pemulung di kawasan TPA yang sedang memulung. Karena harus memenuhi kebutuhan Mama Angel memutuskan untuk ikut bekerja sebagai pemulung.

“Jadi situlah saya tertarik menjadi pemulung, sepertinya bisa menghasilkan uang,” katanya.

Tidak banyak yang dihasilkan Mama Angel ketika memulung, setiap harinya dia hanya mampu menghasilkan Rp 10 ribu hingga Rp 20 ribu per hari. Jika menurut orang lain jumlah tersebut terbilang tidak mencukupi, namun menurutnya itu sudah bisa membeli makan 3 kali sehari.

Beberapa waktu lalu, Mama Angel mengalami kecelakaan sehingga tubuhnya juga tidak lagi sanggup berlama-lama mencari barang bekas untuk dijual. Sehingga tugasnya digantikan oleh sang anak bungsu.

“Jadi saya hanya bisa mencari botol, plastik dan besi semampu saja. Untungnya Finno bisa membantu, sedangkan kakaknya membantu saya dengan berjualan kecil-kecila di rumah,” tutur perempuan yang berasal dari NTT.

Karena tidak memiliki keluarga, Mama Angel harus pintar-pintar memanfaatkan barang-barang yang tak terpakai dan sudah dibuang ke TPA, untuk bisa dirangkai menjadi gubuk tempat mereka bertiga berteduh.

Alhasil, gubuk berukuran 3x4 meter yang berda di atas tanah miliki orang yang memperbolehkan mereka tinggal, hingga kini mereka tempati, tepat di RT 20 Kelurahan Karang Anyar Pantai. Gubuk tersebut jauh dari kata layak. Saat hujan turun, mereka harus berjaga karena kondisi dinding dan atap gubuk kerap kali bocor.

 “Jadi awalnya saya mengumpulkan kayu, papan, seng, terpal dan paku bekas untuk membangun gubuk ini. Ini ide dari teman saya, karena saya tidak punya rumah,” ucap Petrunaila kepada RadarTarakan.

Dia sangat berharap uluran tangan pemerintah agar bisa dibangunkan rumah yang layak huni. Apalagi dengan keadaan gubuk yang dibangun di atas tanah orang lain, sewaktu-waktu bisa diusir.

Sementara itu, Wali Kota Tarakan, dr. Khairul, M.Kes yang juga ikut serta dalam kunjungan langsung ke kediaman Mama Angel mengatakan, berencana memindahkan Mama Angel beserta anaknya ke rumah khusus masyarakat miskin yang dapat ditempati selama 2 tahun tanpa biaya sewa.

“Nanti akan kami coba programkan, selama punya KTP Tarakan supaya hidupnya bisa lebih layak,” bebernya. (shy/nri)

loading...

BACA JUGA

Kamis, 18 Juli 2019 10:31

Minim Akses, Penanganan Lantung Tak Dilakukan

TARAKAN – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) mengharapkan adanya penanganan terhadap…

Kamis, 18 Juli 2019 10:30

Tampilkan Seragam Kebanggaan Ekstrakurikuler

TARAKAN – Sudah siapkah Anda dengan pawai pembangunan, yang dilaksanakan…

Kamis, 18 Juli 2019 10:30

Enam Ekor Ikan Napoleon Gagal Diselundupkan

TARAKAN - Selama Mei hingga Juli tahun ini, Balai Karantina…

Kamis, 18 Juli 2019 10:29

Disnaker Target Seribu Lapangan Pekerjaan

TARAKAN - Munculnya informasi terkait formasi pekerjaan yang dibutuhkan dalam…

Kamis, 18 Juli 2019 10:08

Pesta Sabu dengan Teman Wanitanya, ED Diciduk Polisi

TARAKAN – Anggota Satreskoba Polres Tarakan menangkap seorang pria berinisial…

Kamis, 18 Juli 2019 10:08

JPU: Terdakwa Bantah Keterangan Saksi BNNK

TARAKAN – Sidang perkara narkotika atas terdakwa kasus sabu yang…

Kamis, 18 Juli 2019 10:06

Wujudkan Swasembada Pangan, Gandeng Poktan

TARAKAN – Sebagai upaya mewujudkan swasembada pangan di Bumi Paguntaka,…

Kamis, 18 Juli 2019 10:03

Sarankan Penyelenggara Punya Tim Kesehatan Khusus

TARAKAN - Pelaksanaan pemilihan umum (pemilu) yang diselenggarakan pada April…

Kamis, 18 Juli 2019 10:00

Warga Dambakan Jalan Mulus

TARAKAN – Perihal jalan dan drainase tak pernah lepas dari…

Rabu, 17 Juli 2019 09:25

Sembilan Calon Sekkot Tunggu Pengumuman

TARAKAN - Tahapan seleksi calon sekretaris kota (sekkot) Tarakan telah…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*