MANAGED BY:
JUMAT
19 JULI
RADAR KALTARA | TARAKAN | BULUNGAN | NUNUKAN | MALINAU | KTT | KULINER | OLAHRAGA | ADV | GRIYA

RADAR KALTARA

Selasa, 25 Juni 2019 09:42
Keterbatasan Fisik Jadi Motivasi Pelajar SLB

“Aku Cinta Indonesia, Peta Indonesia Ini Aku Suguhkan ke Presiden Jokowi”

PROKAL.CO, Kreativitas pelajar di Sekolah Luar Biasa (SLB) Tanjung Selor ibarat tak ada habisnya.Dengan berbagai keterbatasan fisik, mereka mampu membuat mahakarya berupa peta Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).Uniknya, peta yang dibuatnya itu justru dari bahan wadah telur bekas.

RACHMAD RHOMADHANI

PULAU Sumatera hingga Papua tergambar secara jelas dalam sebuah pigura berukuran sekitar 1x2 meter di salah satu ruang SLB Tanjung Selor. Namun, siapa menyangka peta Indonesia dengan art yang ciamik itu merupakan hasil karya anak-anak disabilitas di SLB Tanjung Selor.

Tak hanya itu, keunikan dari peta Indonesia dengan berbagai corak warna itu, ternyata terbuat dari bahan wadah telur bekas. Padahal, sekilas dari jarak kurang dari 2 meter peta itu laiknya sebuah lukisan yang dikreasikan dari kuas dan cat.

“Ini anak-anak di sini (SLB Tanjung Selor, Red) juga yang buat,” ucap Instruktur di SLB Tanjung Selor, Agustryanti saat berbincang kepada penulis pasca menunjukkan berbagai karya seni sebelumnya.

Adapun, dikatakannya juga, mengenai alasan mengapa kreativitas dari wadah telur bekas itu justru salah satunya dijadikan peta Indonesia. Hal itu dimaksudkan agar mereka sekalipun tergolong sebagai anak berkebutuhan khusus. Namun, tetap memiliki hak yang sama seperti manusia normal pada umumnya.

“Mereka membuatnya itu secara berkelompok. Bahkan, dapat dirasakan bagaimana saat dulu mereka membuat begitu antusiasnya,” ujarnya.

“Saya sebagai instruktur mereka pun dapat merasakannya. Dan seolah sembari mereka merangkai pulau-pulau Indonesia itu pun berkata, aku cinta Indonesia, peta Indonesia ini aku suguhkan ke Presiden Jokowi,” sambungnya.

Lebih jauh dikatakannya, mengenai Presiden RI Jokowi sendiri memang dalam beberapa pembelajaran di ruang kelas, mereka diajarkan juga untuk mengenal para pemimpin negara. Termasuk pemimpin di Indonesia sendiri, sehingga beberapa pelajar termotivasi akan sosok orang nomor satu di Indonesia itu.

“Mungkin, salah satu cara yang dapat dituangkan dengan membuat peta Indonesia itu,” kata wanita yang akrab disapa Yanti ini.

Di sisi lain, pihaknya cukup kagum juga dari hasil bimbingannya sejauh ini ke pelajar SLB. Mereka mampu menghasilkan berbagai karya seni yang mengesankan. Tak hanya, karya seni itu memiliki nilai jual. Melainkan karya seni yang ada itu justru bernilai yang lebih dari sekadar rupiah.

“Peta Indonesia ini, tidak dijual. Termasuk, beberapa karya seni lain yang memang dalam metode pembuatanya terbilang cukup rumit dan butuh waktu berbulan-bulan,” jelasnya.

Adapun, wanita berhijab yang sudah tiga tahun menjadi instruktur di SLB Tanjung Selor ini tak menampik, dalam pembuatan peta Indonesia ini waktunya cukup panjang. Setidaknya, ada 1 bulan lebih baru benar-benar pelajar SLB dapat menyelesaikannya.

“Ya, seperti apa yang saya katakan sebelumnya. Anak berkebutuhan khusus ini memang memiliki tingkat kejenuhan yang tinggi hingga 70 persen. Artinya, tinggal bagaimana kita bersabar dalam membimbing mereka,” tuturnya.

Namun, ia bersyukur lantaran adanya dukungan para guru lain di SLB Tanjung Selor. Sehingga dari puluhan pelajar yang ada dapat diarahkan dengan baik. “Mereka sebelumnya dikelompokkan pada potensinya masing-masing. Nah, setelah para guru ini mendapatinya, baru pengajaran kreativitas dan umum dilakukan,” jelasnya.

Ditambahkannya juga, khusus mengenai kendala dalam pembuatan peta Indonesia hingga berbulan-bulan. Ia menyebutkan bahwa perkara bahan yang ada. Sebab, untuk membuat peta Indonsia itu setidaknya membutuhkan lebih dari 50 wadah piring telur bekas.

“Namanya barang bekas, kita harus membantu mereka mencarinya. Sasaran sama seperti lainnya, di pasar atau toko-toko,” bebernya.

Diketahui juga, keterbatasan yang mereka miliki ini memang sejauh ini secara umum tak menjadi kendala berarti. Mereka, dengan pengarahan yang baik, ternyata mampu dalam menyusun pulau–pulau di Indonesia ini.

“Tapi, kreativitas sepenuhnya tetap kami bebankan ke mereka. Sehingga mereka mampu menghasilkan mahakarya yang luar biasa menurut pandangan kami. Alasannya, mereka yang dengan segala keterbatasan fisik mampu berkarya demikian,” urainya.

Ditanya mengenai cara pembuatan bahan dari wadah telur bekas? Yanti menerangkan bahwa sebelumnya bahan–bahan itu wajib untuk direndam terlebih dahulu dalam kurun waktu minimal satu hari. Kemudian, bahan itu ditiriskan untuk selanjutnya dilakukan penjemuran dengan terik matahari yang cukup selama dua hari.

“Tapi, sebelum menempel pada pigura. Ada campuran bahan lain sejenis lem sebagai perekat dari bahan utamanya. Dan dari situ menjadi titik awal mereka untuk mengkreasikannya,” rincinya.

Sejauh ini, ia mengatakan, karya seni yang berhasil dibuat hingga sempurna dari bahan wadah telur bekas itu peta Indonesia dan miniatur candi Borobudur. Hanya, untuk candi Borobudur sendiri pembuatannya jauh lebih lama yakni dua bulan.

“Dua karya seni itu memang tidak dijual. Itu khusus untuk dijadikan pameran-pameran,” tuturnya seraya berkata pameran yang pernah disertakan dari karya seni itu salah satunya saat HUT Kaltara.

Di tempat yang sama, Martha salah seorang Guru Kelas Down Sindrome SLB Tanjung Selor menambahkan, dengan adanya kreativitas anak disabilitas seperti ini. Maka, ini dapat menjadi aset pemerintah ke depannya. Mengingat, dengan tingginya kreativitas yang ada dapat membawa nama baik daerah akhirnya.

“Kami sebagai guru memang harus jauh bersabar. Karena memang ada pelajar yang harus secara berulang-ulang pengajarannya,” ungkapnya.

Dikatakannya juga, ia mengaku akan terus berupaya untuk membangkitkan semangat dan motivasi mereka dalam belajar. Sehingga semangat hidup bagi mereka pun ada dengan segala keterbatasannya. Meski, diakuinya juga tetap sembari belajar sebelum terjun langsung dalam mengajari pelajar SLB.

“Sebagai guru juga harus belajar sebelum mengajarkan ke mereka. Apalagi, saya terbilang guru baru, jadi juga harus banyak-banyak menimba ilmu pada guru lainnya yang lebih dahulu di sini,” ujarnya.

Senada dikatakan Siti Aisyah guru lain di SLB Tanjung Selor bagian Kelas Tuna Grahita. Sebagai guru memang setidaknya membutuhkan waktu juga untuk belajar. Sehingga saat berhadapan dengan para pelajar, maka materi yang disampaikan pun dapat diserap dengan baik.

“Tidak bisa secara langsung memaksakan mereka langsung memahami terhadap apa yang disampaikan. Untuk itu, memang perlu pembelajaran dahulu sembari menerapkan ilmu yang didapat pada saat menempuh pendidikan perguruan tinggi dahulu,” ungkap guru berhijab ini.

Dari pantauan penulis sendiri saat berada di tengah para pelajar SLB Tanjung Selor kala itu, mereka memang memiliki berbagai jenis kekurangan fisik. Namun, semangat dalam menghasilkan sebuah karya seolah tak pernah surut.

Bahkan, saat berlangsungnya perbicangan antara penulis dan instruktur serta para guru, beberapa pelajar SLB itu tetap fokus dalam membuat kerajinan tangan. Baik, itu dalam bentuk bros, tas, tempat tisu, bunga dan masih banyak lagi.

Sedangkan, untuk peta Indonesia yang telah dibuat mereka dan dipajang. Mereka saat itu mengakuinya telah membuatnya. Dan saat penulis memintanya untuk kembali secara langsung melihat hasil karyanya. Mereka dengan bahasa isyarat dan komunikasi lainnya seraya mengingat tatkala membuatnya dahulu yang membutuhkan waktu berbulan-bulan. “Ini saya yang buat,” ucapnya menggunakan bahasa isyarat.

Untuk diketahui, SLB tanjung Selor memiliki sebanyak 52 anak didik. Dengan berbagai macam tingkatan dan kebutuhan, mulai dari autis, tuna rungu wicara, tuna daksa, dan tuna grahita yang didik oleh 20 guru. Selain pendidikan formal, sekolah ini juga memberikan pendidikan vokasi yang ditentukan sesuai dengan minat dan bakat masing-masing siswa. (***/eza)

loading...

BACA JUGA

Kamis, 18 Juli 2019 10:34

Sejumlah Kandidat Masih Malu-malu

TANJUNG SELOR – Beberapa nama tokoh politik di Provinsi Kalimantan…

Kamis, 18 Juli 2019 10:26

Dongkrak PAD, Spanduk dan Reklame Ditertibkan

TANJUNG SELOR – Guna mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten…

Kamis, 18 Juli 2019 10:25

Badan POM Diupayakan Berdiri di Kaltara

TANJUNG SELOR – Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) memiliki garis perbatasan…

Kamis, 18 Juli 2019 10:23

Pembangunan Pelabuhan Bunyu Terkendala Lahan

TANJUNG SELOR – Rencana Pemerintah Perovinisi (Pemprov) Kalimantan Utara (Kaltara)…

Kamis, 18 Juli 2019 10:21

Hasil Verifikasi Dilimpahkan ke TAPD

TANJUNG SELOR – Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Kalimantan…

Kamis, 18 Juli 2019 10:20

Pemprov Minta Duit Rp 526 Juta Lebih Itu Segera Dikembalikan

TANJUNG SELOR – Gubernur Kalimantan Utara (Kaltara) Irianto Lambrie meminta…

Kamis, 18 Juli 2019 10:19

Meninggal Dunia, CJH Boleh Diganti Keluarga

Beberapa ketentuan baru yang sudah ditetapkan oleh Kementerian Agama (Kemenag)…

Kamis, 18 Juli 2019 10:18

Penyaluran Bansos ke Pedalaman Dikawal

TANJUNG SELOR — Pendampingan Satuan Tugas (Satgas) pengamanan Bantuan Sosial…

Kamis, 18 Juli 2019 10:16

Di Celana Bocah Ada Lendir-Lendir Gitu, Si Ibu Langsung Lapor Polisi

TANJUNG SELOR - Ibu dari MC memilih melaporkan pria berinisial…

Kamis, 18 Juli 2019 09:13

Uyau Abeng Lihan Padan Disematkan ke Kapolri

TANJUNG SELOR - Kapolri Jendral Polisi Muhammad Tito Karnavian tiba…
Sitemap
  • HOME
  • HOT NEWS
  • NEWS UPDATE
  • KOLOM
  • RAGAM INFO
  • INSPIRASI
  • FEATURE
  • OLAHRAGA
  • EKONOMI
Find Us
Copyright © 2016 PT Duta Prokal Multimedia.
*